---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: Doni Skenario Dialog Segi Empat " Gus Dur " Manuver " atas nama pribadi " Gus Dur, saat ini sedang in dibicarakan . Sebagai pemerhati politik rasanya saya ingin ikutan untuk sedikit memperkaya wacana diskursus dengan mencoba melihat peristiwa ini dari sudut lain. Kondisi "Gus Dur" saat ini 1. Keadaan Perekonomian Gus Dur - Tumbangnya pilar-pilar ekonomi para pendukung Gus Dur, ( Pengusaha CSIS yang tekabung dalam Prasetya Mulya ) telah mengakibatkan hancurnya pula bisnis yang dibangun Gus Dur. Proyek- proyek bisnis yang pernah dibanggakan saat ini sudah tidak ada lagi, (Pabrik pengalengan nanas, Air mineral "Moya" , dan NU Suma) semuanya bangkrut. Upaya Gus Dur untuk menggandeng keluarga Soeharto sejak menjelang pemilu yang lalu , dikandaskan oleh reformasi. - Tumbangnya kekuatan-kekuatan militer ( yang memiliki perusahan-perusahaan besar ) yang selama ini dekat dengan Gus Dur (LB Moerdani, Tri Sutrisno, Edi Sudrajat). - Karena "tongpes" tersebut sampai saat ini untuk merampungkan pesantren Ciganjur Gus Dur tak memiliki dana. - Disamping itu dalam menghadapi pemilu mendatang untuk memacu PKB, dibutuhkan dana sangat besar untuk itu Gus Dur juga demikian. 2. Posisi Politik Di Jawa Timur - setelah gagalnya Basofi Soedirman , Gus Dur kehilangan pendukung dalam memelihara basis masanya ( Basofi sangat banyak membantu Aktivitas Gus Dur di Jatim ) - Pangdam Joko Subroto , juga dianggap tidak kondusif Internal NU antara lain ; - Kepemimpinan Gus Dur hanya direpresentasikan dengan aktivitas kaum mudanya ( yang diistilahkan "NU-merah" oleh Pak Ud / Yusuf Hasyim ) a.l; * AMNU, GMNU, PMII : mereka aktif di dalam demonstrasi-demonstrasi radikal (Forkot, FKSMJ, Komrad, dll). Para kader Gus Dur ini saat ini banyak yang dididik di STF Driyakara, milik ordo Jesuit ( katolik ) - Para Kiayi yang bermaqom tinggi saat ini sudah tidak mau mendampingi Gus Dur, tapi kekesalan mereka terhadap Gus Dur ini tidak mau dimunculkan, karena khawatir umat Jam'iyah akan pecah belah. - Saat ini yang masih mau mendampingi Gus Dur hanya ; Said Agil Siraj, KH. Nur Iskandar - Partai PKB yang diharapkan memayungi warga NU; di Jatim disaingi oleh PKU pimp. Yusuf Hasyim, di Jakarta meskipun kecil lahir partai PNU - Terpilihnnya Hamzah Haz sebagai ketua Umum P3, betul-betul menghancurkan prospek PKB. Warga / kader NU yang sebelumnya mencoba menyebrang ke PKB saat ini berbondong-bondong kembali ke P3. Nasional - Koalisi PKB - PDI perjuangan, mendapat pukulan yang keras dengan dibukanya aib Mbak mega dalam hal keimanan ( acara sembahyangan-nya di Pura ) dan kisah kawin-cerainya ( seperti pernah diungkap di majalah "Tempo" tahun 1974 ). Hal ini sangat berpengaruh di warga NU yang sangat menghargai kemurnian agama dan akhlaqul karimah, sehingga telah menghilangkan semangat para Kyai-kyai untuk mendukung PKB. - Para purnawirawan ABRI yang selama ini runtang-runtung datang ke rumah Gus Dur ternyata lebih memilih PDI perjuangan daripada PKB. Sebagian dari mereka ( yang berasal dari GKPB ) bahkan memilih membuat partai baru daripada masuk PKB. - Posisi Gus Dur, yang selalu bersebrangan dengan para reformis dan mahasiswa , misalnya ; @ 4 hari sebelum Soeharto lengser, Gus Dur , para reformis & mahasiswa yang sedang menduduki Ged. DPR dengan menyerukan agar Demo segera diakhiri karena hanya melahirkan kekacauan. @ Ketika mahasiswa menuntut MPR (SI yang lalu) agar mencabut Dwi Fungsi ABRI, Gus Dur malah mencoba merangkul-rangkul ABRI. @ Ketika Presiden & MPR menyepakati pengajuan jadwal SU MPR ke bulan Agustus, Gus Dur malah minta dimundurkan pada bulan Oktober. - Dalam wawancaranya dengan radio " Nederland " Gus Dur mengungkapkan kekhawatirannya, saat ini generasi baru Masyumi ( Adi Sasono, Amin Rais, - Pen ) sudah mulai memasuki pintu kekuasaan, hal ini terjadi di birokrasi. Di ABRI saat ini bahkan lebih 50 % sudah dikuasai. - Saat ini ketika semua kelompok bersiap berlomba di Pemilu, Gus Dur melihat peluang partainya sangat tipis (lihat penjelasan sebelumnya). Berdasarkan hal diatas, Gus Dur mau tidak mau harus mengambil langkah terobosan. Dalam kondisi hingar bingar saat ini "dia" melihat Pak Harto adalah orang yang dapat membantunya, dan dia sendiri (Gus Dur) punya tawaran-tawaran yang sangat dibutuhkan Pak Harto. Skenario Gus Dur 1. PENGAMBIL ALIHAN SAHAM BANK PAPAN SEJAHTERA Tgl 30 November 1998 yang lalu Gus Dur mengambil alih saham BPS dari SWC Warburg Hongkong dan Somers Nominees far East. Gus Dur mengambil alih saham tsb. Atas nama Grup Harawi Sekawan. Dengan pengambil alihan ini Grup Harawi memegang saham mayoritas. Posisi saham Grup Harawi 19,98 % yang berarti 0,08 % diatas PT Tunas Mas Paduarta ( milik Hasyim Joyohadikusumo ) Grup Harawi membeli saham ini dengan harga yang cukup kontroversial. Saham yang di pasar hanya dihargai Rp 75,- ( lebih murah dari sebatang rokok ) dibeli seharga Rp 1200,- / lembar saham ( atau kurang lebih 30 Milyar untuk 25.000.000 lembar saham ). Seorang sumber di lantai bursa berseloroh , tansaksi ini dapat terjadi karena Gus Dur sudah buta. Di dalam jangka waktu 1 minggu harga saham ini melonjak dengan harga yang sangat spektakuler menjadi Rp 500,-. ( 7 x lipat ). Keanehan lain dari peningkatan harga saham ini juga terletak pada keberadaan Edward Suryajaya. Orang ini adalah mantan pemilik Bank Summa, yang sekitar 5 tahun lalu terlibat kasus penyalah gunaan ( ngemplang ) uang nasabah trilyunan rupiah, sampai saat ini kasus tersebut belum juga tuntas. Akibat kejadian tersebut Edward S. masuk di dalam daftar hitam Bank Indonesia sebagai orang yang tidak boleh masuk ke dunia perbank-kan Indonesia. Keberadaan Edward S. ini dalam keadaan normal seharusnya memperpuruk harga saham , bukan malah menaikkan seperti keanehan yang saat ini terjadi. Keanehan lain dalam pengambilalihan ini ialah posisi saham BPS itu sendiri. Saham BPS selama ini merupakan saham mati ( tidak aktif ) sama seperti saham-saham yang berbasis pada properti lainnya. Adalah aneh jika Grup Harawi yang tidak punya pengalaman dengan bisnis pembiayaan properti tiba-tiba terjun ke dalam bisnis yang sangat terpuruk ini. Lebih lagi saat ini BPS merupakan salah satu pasien BPPN ( Badan Penyehatan Perbankan Nasional ). Hasyim Joyohadikusumo sendiri sebagai pemegang saham mayoritas sebelum ini sebetulnya sudah menawarkan saham miliknya ke berbagai pihak namun sampai sekarang belum juga ada peminat. Banyak orang juga heran darimana Grup Harawi ( yang hanya mengurus bisnis-bisnis kecil ) tiba-tiba saja memiliki dana besar untuk mengambil alih sebuah bank ? Dalam pengambil alihan saham BPS ini, Gus Dur menunjuk Syarifudin Harahap ( SH ). SH adalah seorang pengusahanya Mba' Tutut. Dia juga adalah pimpinan Partai Republik yang sejak awal bersuara lantang menentang diseretnya mantan Presiden Soeharto ke pengadilan. Dari analisa diatas tak heran jika banyak orang curiga ada sesuatu hal yang disembunyikan dalam pengambil alihan saham ini. Karena Gus Dur adalah tokoh politik adalah wajar orang lalu menghubungkan pengambil alihan ini dengan aktivitas politik Gus Dur. Beberapa pihak curiga transaksi ini hanyalah cara halus yang dirancang pihak-pihak tertentu untuk menjadikan BPS sebagai basis engineering ( pemutihan ) segala bantuan uang yang diterima Gus Dur. Sudah rahasia umum berbagai aksi demonstrasi yang tidak ada henti-hentinya saat ini sangat membutuhkan dana besar. Tidak mungkin dana sebesar ini bisa diperoleh hanya dengan dasar kepentingan moral ( apalagi tokoh-tokoh moral seperti Arifin Panigoro, Meiliono Suwondo, dll, bisnis mereka saat ini juga sangat terpiruk ). Dengan rangsangan dana besar tersebut tak heran jika Gus Dur terpincut, dan memprakarsai tekanan kepada pemerintah . Tanggal 6 Desember lalu sebagai langkah awal di kediamannya Gus Dur memimpin pertemuan dengan berbagai pihak. Pertemuan tersebut meminta kepada Habibie untuk segera berdialog dengan Gus Dur, jika Habibie tidak mau Gus Dur memperingatkan ( mengancam ) bangsa kita akan dilanda Revolusi Sosial yang dahsyat. 2. Memaksa Habibie untuk berdialog melalui rekayasa opini, dengan dibantu media-media massa dan pakar-pakar yangselama ini memang di kubunya dan dengan dukungan Agum Gumelar (Jendral yang mantan ajudan Ali Murtopo) Gus Dur meneriakkan keharusan Dialog Nasional dalam rangka menghindarkan negara dari Revolusi Sosial. Gus Dur mendesak Habibie dan mengancam jika tidak, akan segera timbul revolusi! Dan sikap ini diamini oleh semua media massa dan para pengamat (suatu pendapat yang aneh, pada waktu yang sama para pengamat ini menolak dibentuknya "Ratih", dengan alasan saat ini tidak ada satupun musuh yang mengancam negara.) 3. Ancaman Gus Dur ini rupanya termakan oleh Habibie. Dengan alasan ingin berdialog, akhirnya (dengan diawali oleh Jendral Wiranto) Habibie bertemu dengan Gus Dur. 4. Di luar dugaan Habibie, setelah berjumpa dengannya, Gus Dur melanjutkan manuvernya bertemu dengan Soeharto. Gus Dur juga mempertemukan LB Moerdani dan Soeharto. Orang-orang inilah yang mampu menghentikan kasus-kasus kerusuhan seperti Banyuwangi, Ketapang dan Kupang, Gus Dur memberi alasan tentang upayanya tersebut. 5. Sambil tetap bersikap sebagai begawan, Gus Dur terus mendesak Habibie untuk mau berdialog segiempat dengan Soeharto, Wiranto dan dirinya. 6. Pada pertemuannya dengan Soeharto, 19/12/98, (tidak jelas siapa yang mengundang) hadir pula Yorris Raweyai, Ketua PP (Organisasi preman yang selama ini mengawal rezim Soeharto). Apa maksud keikutsertaan ini, kiranya kita semua mafhum. 7. Yang paling aneh , seiring dengan upaya Gus Dur ini, tokoh-tokoh dan media-media massa yang selama ini terus meminta mahasiswa untuk konsisten berdemo menuntut pemerintah menyeret Soeharto ke pengadilan (sedang dilakukan oleh Jaksa Agung), tiba-tiba meminta kepada mahasiswa untuk menghentikan demo, berharap agar upaya dialog (bukan upaya pengadilan) yang sedang dilakukan Gus Dur berhasil !. Di majalah DR edisi terbaru ( group TEMPO ) pada rubrik Perspektif meminta kita semua untuk memaafkan kesalahan Soeharto agar dialog yang sedang dirintis Gus Dur dapat terwujud. Aneh !!! Melihat langkah-langkah dan menghubungkannya dengan kondisi realitas sekeliling Gus Dur saat ini, patut kita bertanya, motif apa yang ada dibalik ini semua ??? - Motif ekonomi-kah ? - Motif dendam lama-kah ? - Apa maksud Gus Dur menampilkan kembali koalisi otoritarian / premanisme lama ( Soeharto, LB moerdani, Pemuda Pancasila ) ??? - Terakhir, dari semua hal diatas, ..Betulkah saat ini Gus Dur sedang berbuat sesuatu yang bermanfaat, malapetaka atau iseng-iseng saja ??? Marilah kita menunggu apa episode akhir dari langkah Gus Dur ini ???... ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Dec 1998 jam 07:18:29 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
