----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: Michael Bastian

Sedih rasanya membaca dan mengamati pertentangan didalam tubuh bangsa
kita. Yang satu merasa super sehingga menunjukkan ke-superioritas-nya
dengan menindas yang lemah. Baik mengenai SARA, politik maupun dalam
kehidupan sosial.
Seringkali tanpa disengaja kita menghujat si Super tetapi kita sendiri
menjadi si Super (ingat, kalau kita menunjuk seseorang dengan telunjuk,
maka tanpa sadar ketiga jari yang lain menunjuk kita), saya berdoa
semoga saya tidak melakukan hal itu.

Ada sebuah cerita nyata yang mungkin agak lucu dan mengenaskan tentang
keadaan bangsa kita.

Dulu waktu saya masih kecil, saya bermain dengan teman-teman, baik dari
suku Jawa, suku Ambon maupun yang lainnya. Pernah suatu hari, ketika
saya berada didepan rumah saya, lewat tetangga (dari suku Jawa) menyapa
(nada mengolok) saya dengan mengatakan, "Hei Cino !" lalu saya jawab,
"Cino dhewe !" dengan polos. Mendengar hal itu tetangga saya pun
melongo, termasuk mama saya, yang lalu menjelaskan kalau saya itu dari
suku Cina. Saya jawab mama saya, "Tapi, Ma, Sinyo itu orang Indonesia,
wong Nyo lahir di Jawa kok, yo podo Jowo'ne." Sambil tertawa mama saya
mengelus kepala saya.

Pernah juga suatu ketika ada yang mengatakan, "Kamu itu siapa ? Ini
bukan negaramu, nggak pernah melu perang ?" Mendengar pernyataan itu
saya jadi melongo, saya jelaskan bahwa saya adalah seorang WNI (yang
katanya pemerintah) keturunan Cina/Tionghoa dan beragama Kristen (maaf
kalau saya mengakibatkan SARA - jelas sekali dalam pandangan beberapa
orang, saya ini mempunyai predikat minoritas ganda).
Tapi kalau mengenai nasionalisme (ini mungkin yang agak diobok-obok sama
"wiseman") saya nggak kalah. (Almarhum) kakek saya seorang tentara
TNI-AL (purn.) dan mendidik anak-anaknya dengan pendidikan gaya militer,
disiplin, penuh tanggung jawab, selalu merasa sebagai orang Indonesia
asli. Hal ini juga yang diturunkan ayah saya pada saya. Saya teringat
cerita ayah saya yang selalu mengantarkan nenek saya ke Tanjung Perak
dengan naik sepeda (pinjaman) untuk sama-sama antri mengambil beras
jatah.
Sehingga akhirnya ayah saya pun berniat jadi AL, tapi terbentur dengan
syarat fisik (berkacamata), saya yang ingin jadi pilot (AU) pun
terbentur dengan syarat fisik (kurang tinggi).

Mengapa negara kita menjadi seperti ini ? Bukan saat ini saja,
pertentangan itu sudah ada sejak jaman dulu cuma saat ini saja menjadi
lebih gila dan berani. Siapakah kita, manusia yang dihadapan Tuhan sama,
menjadi sombong dan meninggikan diri. Marilah kita jaga negara kita,
dengan meningkatkan rasa nasionalisme kita (jangan mau diobok-obok
dengan propaganda murahan, provokator-provokator yang menyebabkan kita
terpecah belah, kita harus berdoa buat mereka) sambil terus berdoa buat
negara kita agar menuju keadaan yang lebih baik.

Semoga sedikit cerita unik ini membuat kita lebih bersatu.

Kepada saudara-saudara yang beragama Nasrani saya ucapkan Selamat Natal
dan kepada saudara-saudara yang beragama Islam saya ucapkan Selamat
menunaikan ibadah puasa. Semuanya Selamat Tahun Baru.
Tuhan memberkati Indonesia dan kita semua.

orang yang sedih, memimpikan hidup yang lebih baik

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Dec 1998 jam 07:24:17 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke