----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


AGUM GUMELAR TUDING KOMUNIS ADA DI BALIK KERUSUHAN

        JAKARTA (SiaR, 9/2/99), Gubernur Lemhanas Letjen TNI Agum Gumelar buat
kejutan baru. Menurutnya, pihak komunis berada di balik kerusuhan-kerusuhan
yang terjadi di Indonesia selama ini. Demikian pernyataan Agum di Jakarta,
Senin (8/2) kemarin seusai pelaksanaan sebuah seminar internasional di Lemhanas.

        "Kalau saya sebut komunis, saya yakin banyak orang, termasuk kalian
(wartawan Red.) akan mencibir. Ini memang (pernyataan) tidak populer, tapi
begitulah kenyataannya," katanya.

        Menurut Agum, provokator-provokator kerusuhan adalah kelompok-kelompok
radikal, dengan pendanaan yang cukup besar. Ketika didesak para wartawan
untuk menyebut kelompok radikal tersebut, Agum mengelak dan segera
meninggalkan kerumunan wartawan.

        Pernyataan Agum ini, tentu berbeda dengan pernyataan Pangab Jenderal TNI
Wiranto, dan Menko Polkam Feisal Tanjung, yang belum lama ini, menyebutkan
belum ditemukan adanya pihak yang dicurigai sebagai perekayasa
kerusuhan-kerusuhan itu, terkecuali sebagai "murni kriminal". Tapi, Kapolri
Jenderal Pol Roesmanhadi mengakui adanya kelompok ekstrem terorganisir di
balik berbagai kerusuhan, meski sulit untuk mengungkap, apalagi menangkapnya.

        Tudingan Agum terhadap "komunis" sebagai pihak yang berada di balik
berbagai kerusuhan yang terjadi, menurut sejumlah tokoh ormas pemuda dan
mahasiswa merupakan upaya pihak pemerintah, terutama ABRI untuk mengalihkan
dari isu yang dipercaya masyarakat selama ini. Bahwa kerusuhan tersebut,
diakibatkan konflik kepentingan di tingkat elit politik, dan kegagalan
aparat intelijen dalam melakukan tugasnya.

        "Terus berlangsungnya aksi-aksi melawan hukum membuktikan adanya kegagalan
aparat intelijen dalam melakukan tugas," ucap Ketua Umum GP Ansor Iqbal
Assegaf, seusai Rakornas GP Ansor, Senin (8/2) kemarin.

        Senada dengan Iqbal, aktivis Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan
Demokrasi (Famred) Ucok, mensinyalir, bahwa apa yang dilontarkan Agum
tersebut merupakan pola lama yang kerap dipraktekkan rezim Soeharto. Menurut
Ucok, dirinya dan rekan-rekannya di Famred, malah yakin perekayasa kerusuhan
selama ini merupakan buah konspirasi para aktor politik pro-status quo.

        "Bisa jadi aliansi kaum Soehartois, pengikut Habibie, dan sudah tentu,
militer. Mereka semua berkepentingan dengan status quo untuk membendung
kekuatan pro reformasi total. Di lapangan, preman macam Yorrys bisa
bergandengan tangan dengan militer tak berseragam untuk merekayasa
kerusuhan-kerusuhan," tegasnya.

        Berdasarkan analisisi demikian, lanjutnya, jadi tidak ada yang istimewa
jika Agum Gumelar berkata seperti itu.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 10 Feb 1999 jam 06:00:56 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke