---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- From: syarif hanoum Bapaknya kabur, anaknya jadi korban. Memang sudah nasib, kalau orang tua kacau, korbannya sang anak juga. Contohnya ada di Bank Mandiri. 18.000 orang dari 25.000 pegawai 4 bank yang bergabung bakal kena PHK. Berapa mulut yang jadi korban? 100.000 kira- kira sama dengan kumpulan orang se-stadion utama Senayan. Empat bank yang bergabung ini sudah hancur habis-habisan. Lihat saja Bapindo, sewaktu dipimpin Subekti Ismaun diobok-obok oleh Eddy Tanzil. Namun Bekti sempat mendekam di Salemba juga. BDN, diobok- obok Prayogo Pangestu, meskipun ia menyanggah karena yang pakai kreditnya si babe orang dari desa Kemusu, untuk mberesin Bank Duta. Namun kemudian di zaman Salahuddin Nya Kaoy BDN nekat jadi lead bank proyek mobnas, maklum keluarganya sudah terlanjur ngumumin mau masuk keluarga Cendana, dengan menjadi besannya mbak Tutut. BBD, sudah sejak zaman dahulu sudah beken keberengsekannya. Minta kredit ya ada taripnya. Tapi Direksinya tergolong awet karena kedekatannya dengan Cendana. Berapa kredit yang telah dikucurkan ke Cendana dan kroninya? Bisa-bisa yang terbesar dari seluruh Bank Pemerintah. Lihat juga tingkah Dirutnya yang lama, pak Soerasa, habis mantu saja dia jual kadonya di salah satu rumahnya di daerah Halim, termasuk beberapa sedan. Kayak garage sale saja. Bagaimana Exim? Menurut tabloid Kontan terakhir, per September 98 posisi modal Exim terparah di antara seluruh Bank pelat merah. Padahal tahun 1991 ditinjau dari sudut modal Exim masih terbagus diantara Bank- Bank besar di Indonesia. Artinya? Sejak 1992 s/d 1998 selama dipimpin oleh Salahuddin Nya Kaoy Bank ini langsung masuk jurang. Kenapa? Lihat saja kreditnya. Kredit yang rusak malah diobok-obok sang Dirut bersama kroninya, misalnya si Santo alias A Hong dari Medan itu. Tekniknya? Santo dikasih kredit baru untuk mengambil oper kredit rusak. Setelah diambil oper kredit itu lalu dikasih bunga 1% saja per tahun, jangka waktu diperpan- jang 20 tahun. Si Santo nyerocos ke temen-temennya di Medan bahwa taripnya gila-gilaan: 50% saham! Tentu pendapatan Banknya anjlok, mana peduli Nya Kaoy? Kan mau jadi besan si Tutut, jadi aman? Ini pikirannya waktu itu. Belum lagi soal valas US$ 2.3 milyar itu. Konon total ruginya sampai Rp 20 trilyun, lantas berkat koneksinya dengan Menteri Keuangan Bawazier, Exim masih terselamatkan dengan tambahan modal Rp 20 trilyun yang buru-buru ditanda tangani Soeharto sebelum lengser. Di Polri Nya Kaoy juga selamat karena ada anak buahnya Hedi yang mau pasang badan dan Nya Kaoy tentu keluarkan upeti tidak kecil. Ini bisa ditelusuri di Exim, kalau mau. Di Kejakgung Nya Kaoy juga selamat karena melalui salah satu pejabat tinggi Kejakgung di suatu rumah di Kebayoran dia sudah diskusi dan kasih upeti. Celakanya sang pejabat tinggi barusan dipindah. Maka Hedi sudah nyerocos: sekarang giliran Nya Kaoy, sang dalang yang mau dipanggil Kejakgung. Yah, begitulah nasib preman berdasi dan penyogok. Mau nyogok lagi? Bisa, tapi jangan pakai uang Bank lagi ya, kan kekayaan pribadinya masih melimpah ruah, tinggal call A Hong saja. Sementara anak buahnya pegawai ex Bank terbagus ini tiap hari jantungan takut kena PHK ! Oh nasib rakyat kecil yang punya pemimpin brengsek. Tapi, siapa yang tadinya memilih Nya Kaoy jadi pemimpin? ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 10 Feb 1999 jam 09:10:24 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
