---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 05/II/11-17 Februari 99 ------------------------------ LAGU LAMA (LUGAS): Gus Dur kembali mengingatkan kemungkinan munculnya revolusi sosial. Ia telah menunjukkan gejala-gejala yang sudah mulai muncul. Misalnya saja kondisi masyarakat yang sudah semaunya sendiri, orang ditodong di tempat-tempat umum, orang tidak mengindahkan aturan, aparat negara tidak mempunyai wibawa. Law lessness! Kondisi tersebut muncul salah satunya adalah akibat dari seringnya pemerintah mengingkari aturan yang sudah dibuatnya sendiri. Sejumlah contoh buruk sering mereka (baca: aparat negara) tampilkan. Sejumlah kasus yang oleh masyarakat sudah dianggap terang, tiba-tiba hilang tanpa jejak. Contoh yang masih hangat adalah tidak dilanjutinya dugaan sejumlah kalangan tentang adanya keterlibatan orang-orang yang dekat Cendana di berbagai kerusuhan. Dengan alasan kurang bukti, isu itu menjadi hilang tanpa bentuk. Belum lagi sejumlah teror dan pembunuhan yang dilakukan oleh anggota ABRI semakin merusak citra dan wibawa mereka sendiri. Oleh sebab itu penggunaan senjata sebagai satu-satunya pamungkas dalam menghadapi gejolak masyarakat belakangan ini bukanlah tindakan yang tepat. Apalagi mengaburkan persoalan pokoknya seperti yang dilontarkan Gubernur Lemhanas Letjen TNI Agum Gumelar dengan mengalihkan isu dalang kerusuhan selama ini ke komunis bukanlah sikap yang arif atau justru semakin memperlemah wibawa mereka. Masyarakat sudah tahu kebenaran sesungguhnya. Misalnya, baru-baru ini kalangan militer melontarkan tuduhan bahwa pelaku pembunuh para kiai dan tokoh masyarakat di Banyuwangi dan sekitarnya dengan dalih dukun santet itu adalah sisa-sisa komunis. Tidaklah dianggap oleh masyarakat. Bahkan sebaliknya, belakangan ini masyarakat menemukan indikasi kuat bahwa pelaku pembantaian itu adalah sebuah jaringan yang melibatkan birokrasi dan militer setempat. Memang sekarang pemerintah dan militer sedang diuji. Apakah mereka akan ikut berpolitik dengan mengorbankan rakyat dan mengabaikan aturan main. Misalnya dengan tetap beraliansi dengan kaum pro-status quo dan menjegal barisan reformasi. Atau benar-benar ingin menjadi pelindung dan pengayom rakyat. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 11 Feb 1999 jam 22:13:06 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
