----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 05/II/11-17 Februari 99
------------------------------

TUAN ALATAS EMOH REFERENDUM?

(PERISTIWA): Indonesia lebih suka melepas Timtim ketimbang referendum. Ada
tekanan apalagi terhadap Indonesia. Atau itu sekedar gertakan atau memang
karena takut kalah?

Xanana Gusmao menantang. Kalau referendum diselenggarakan dan dimenangkan
pendukung integrasi, ia dengan senang hati akan ikut Indonesia. Tantangan
Xanana ini bukan sekali ini dikemukakannya. Tahun lalu kepada Xpos, Xanana
sudah melancarkan tantangannya itu. Mengapa Xanana begitu yakin?

"Bukan soal yakin. Masalahnya, referendum adalah jalan keluar yang paling
demokratis," ujar Xanana.

Semua orang Timtim memang tak ingin merdeka. Ada sebagian, dan jumlahnya tak
sedikit, yang ingin tetap bergabung dengan Indonesia. "Kami menyadari itu,
mereka juga punya hak untuk menentukan pilihan," tambah Xanana.

Ramos Horta, Wakil Presiden Dewan Nasional Perlawanan Rakyat Timor (CNRT)
pun sadar, orang-orang prointegrasi tak sedikit jumlahnya. Bahkan ia
menganjurkan agar pemerintahan Timor merdeka kelak juga mengikutsertakan
tokoh-tokoh pro-integrasi kendati nantinya referendum dimenangkan oleh
pro-kemerdekaan.

Horta pun nampak bersikap amat demoktaris. Nah, dalam suratnya yang kini
beredar di Dili, Horta mengatakan ia akan memperhatikan masa depan
orang-orang Timtim prointegrasi. "Saya akan membela hak-hak mereka,
sebagaimana layaknya sebuah negara demokratis," tulis Horta.

Bagi Horta, siapapun nanti yang memimpin Timtim, harus membela hak-hak
seluruh masyarakat Timtim, termasuk orang-orang prointegrasi. Horta pun,
mengimbau penduduk pendatang agar tak panik dan meninggalkan Timtim, karena
hak-hak merekapun akan dilindungi Pemerintah Timor Timur. Pernyataan Horta
ini mungkin saja hanya sekedar kampanye membentuk citra bahwa orang-orang
Timor pro-kemerdekaan bukanlah orang-orang anti demokrasi. Dalam soal citra,
Indonesia jelas kalah.

Keyakinan Horta dan Xanana, referendum akan dimenangkan pro-kemerdekaan,
bukannya tanpa dasar. Kenyataannya, sebagian besar rakyat Timtim,
sebagaimana umumnya rakyat negeri jajahan, memang menghendaki kemerdekaan.
Ini yang membuat Xanana tak takut referendum.

Soal referendum, yang justru takut malah Indonesia. Ini nampak dari sikap
Indonesia yang menolak referendum namum malah setuju memerdekakan Timtim.
"Referendum malah akan menimbulkan perang saudara," kata Ali Alatas, Menteri
Luar Negeri Indonesia.

Alasan Alatas bahwa referendum justru akan menimbulkan perang saudara memang
sulit diterima. Begitu pula logika bahwa melepas Timtim akan meredam perang
saudara, sama sekali membalik logika akal sehat. Logika itu sebenarnya
justru terbalik. "Dengan referendum, pihak yang kalah bisa menerima dengan
sukarela," kata Xanana. Sebaliknya, jika tiba-tiba pasukan ABRI dan aparat
pemerintah Indonesia ditarik begitu saja, kemudian pro-integrasi diwarisi
senjata, bahaya perang justru akan muncul.

Nah, ini akan mengulang apa yang dilakukan Portugis pada 1975. Portugis
meninggalkan Timtim dan membagi-bagikan senjatanya kepada UDT, partai yang
mendukung pendudukan kolonial Portugis. Di pihak lain, Fetilin pun punya
senjata warisan dan perang saudara tak terhindarkan. "Indonesia takut
kehilangan muka karena kalau dilakukan referendum akan kalah," ujar seorang
pengamat Timtim.

Benar, seorang pensiunan brigadir jendral pernah menuturkan kepada Xpos,
bahwa tak ada peluang bagi Indonesia untuk menang jika referendum dilakukan.
Mengapa? Bagi orang Timtim Indonesia adalah kolonial, tak ubahnya seperti
Portugis, meskipun dalam hal pembangunan, Indonesia memang berbeda dengan
para penjajah Eropa. Alatas nampaknya sadar akan kalah, sehingga melepas
Timtim menjadi negara sendiri merupakan pilihan yang baik.

Alatas sendiri bahkan tak berani melakukan pemungutan suara di Timtim untuk
mengetahui apakah otonomi luas yang ditawarkan Indonesia sebagai solusi
akhir diterima atau tidak. Indonesia menggertak, jika otonomi luas ditolak
maka Timtim akan dilepas. Nah, dalam pertemuan segitiga,
Portugal-Indonesia-PBB pekan lalu, Menteri Luar Negeri Portugal, Jaimie
Gama, menawarkan untuk mengetahui sikap rakyat Timtim diperlukan pemungutan
suara. Namun, bagi Alatas, untuk mengetahuinya cukup dilakukan dengan jalan
konsultasi dengan tokoh-tokoh Timtim. Lagi-lagi, cara Alatas untuk
mengetahui sikap seluruh orang Timtim dengan hanya membicarakan dengan para
tokoh Timtim sulit diterima dan menimbulkan kesan, Indonesia memang takut
dengan pemungutan suara atau referendum. Soalnya, pemungutan suara untuk
mengetahui tawaran otonomi ini pun bisa mempermalukan Indonesia jika
mayoritas rakyat Timtim ternyata menolak opsi itu.

Soal Timtim belakangan ini menyedot hampir sebagian besar perhatian
masyarakat Indonesia. Sebagai cara untuk mengalihkan perhatian pada
soal-soal politik dalam negeri, heboh Timtim ini berhasil. Televisi dan
media-media cetak ramai-ramai memberitakan Timtim. TVRI, televisi milik
pemerintah, bahkan tiap hari, tak satu mata acara berita pun yang tak
menayangkan soal Timtim. Heboh pemindahan Xanana Gusmao, dari Lembaga
Pemasyarakatan Cipinang ke lembaga pemasyarakatan khusus yang lebih longgar,
juga tambah menyedot semua perhatian publik Indonesia. Malah, antara DPR dan
pemerintah ribut sendiri soal ini. DPR memprotes pemindahan itu tak memiliki
dasar hukum. DPR juga bersikeras, Xanana adalah narapidana kriminal bukan
politik hingga tak pantas memperoleh perlakuan khusus. Untuk sementara,
publik memang melupakan RUU Susunan dan Kedudukan MPR/DPR yang menguntungkan
ABRI, publik tak cukup punya banyak waktu bahwa Golkar tengah melancarkan
politik uang secara besar-besaran, dan Habibie tengah menyusun strategi
untuk kembali menduduki kursi kepresidenan. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Feb 1999 jam 01:54:10 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke