----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 05/II/11-17 Februari 99
------------------------------

SELAMAT JALAN ROMO
Oleh: Siti Anisa

(OPINI): Sebetulnya, saya tak mengenal Romo YB Mangunwijaya secara pribadi.
Paling-paling pernah  ketemu beberapa kali di seminar, itupun tak pernah
bercakap-cakap dengan khusus. Satu kali, memang, ketika masih mahasiswa,
saya pernah secara khusus berkunjung ke rumah Romo Mangun, di pinggir Kali
Code, Yogya. Tetapi, beliau sedang tak ada di tempat. Saat itu, pertengahan
tahun 80-an, saya sempat lesehan saja, menikmati suasana pemukiman pinggir
kali yang teduh itu. Anak-anak bermain, tak hirau pada orang asing.  Mungkin
mereka sudah terbiasa. Banyak orang berkunjung, bukan cuma mengagumi
arsitektur yang mendapat penghargaan Aga Khan itu, tetapi lebih-lebih,
banyak aktivis menengok pemukiman Kali Code, untuk menghormati komitmen Romo
Mangun yang rela tinggal di tengah tengah kaum miskin yang senantiasa jadi
obor pengabdiannya.

Tetapi, kenapa saya ikut merasa kehilangan, ketika seorang kawan mengabarkan
bahwa Romo Mangun meninggal dunia, Rabu, 10 Februari lalu? Kabar itu, memang
terasa mendadak. Romo baru saja selesai jadi pembicara dalam seminar tentang
Indonesia baru, yang digelar Yayasan Obor Indonesia.

Bergabung dengan puluhan pelayat, yang sore itu menengok jenasah Romo Mangun
di RS Carolus, mungkin, saya bukan satu-satunya orang yang datang ke tempat
itu; meskipun selama hidup Romo yang hampir 70 tahun itu, kami sebetulnya
tak saling mengenal. Apa sebetulnya yang menghubungkan kami. Sehingga saya
merasa begitu kehilangan, karena wafatnya orang tua yang selalu "berjiwa
pemuda" itu?

Beberapa waktu lalu, saya membaca buku terbaru Romo Mangun: "Menuju Republik
Indonesia Serikat" Di tengah kesibukan dan kepenatan kerja di Jakarta, buku
itu menjadi semacam penghiburan. Bahwa berpolitik sebetulnya bisa menjadi
tugas yang sangat mulia. Uraian Romo Mangun yang jauh ke depan, seperti
menawarkan tantangan, bahwa kita mempunyai kewajiban-kewajiban penting yang
mesti dituntaskan. Seperti tak ingin lepas, saya menghabiskan buku Romo
Mangun itu dalam sehari. Dari komunikasi lewat halaman-halaman bukunya, dan
tulisannya yang tersebar itulah, barangkali saya merasa dekat dengan Romo
Mangun. Dan, merasa kehilangan, ketika ia pergi mendadak. Sepertinya, tanpa
pernah dikatakan, saya masih menunggu tulisan-tulisan Romo Mangun yang
berikutnya.

Salah satu impian Romo Mangun yang mempesona saya adalah tentang Negara
Serikat. Ia memang pendukung gigih terhadap bentuk negara yang lebih banyak
memberi keleluasaan dan wewenang pada daerah itu. "Bila kita ingin kesatuan
dan persatuan dalam arti yang benar dan damai sejati tanpa represi besi,
maka Republik Indonesia Serikat untuk abad ke-21 sudah menjadi keharusan
situasional kondisional." Ia membuat ancer-ancer simbolis. Bentuk Negara
serikat itu akan tercapai tahun 2045. Atau 100 tahun setelah kemerdekaan
kita. Seperti membuat nubuat untuk dirinya sendiri, Romo Mangun berkata:
generasinya mungkin tak akan melihat negara serikat itu. Ia meninggal jauh
sebelum negara serikat itu terwujud.

Jangankan terwujud, idenya saja ditentang beramai-ramai oleh banyak politisi
kolot, yang salah faham bahwa seolah negara serikat akan menuju pada
perpecahan bangsa.

Tetapi, Romo telah menyemai benih di hati banyak generasi muda, bahwa
cita-cita itu tak layak dikubur. Tak dapat dicegah. Gagasan-gagasan yang
lebih detail, penelitian-penelitian, dan penerbitan buku, tampaknya akan
makin bermunculan di seputar masalah negara serikat ini.

Konsekwen dengan obsesinya untuk mengadakan perubahan mendasar, Romo Mangun
termasuk sedikit diantara tokoh yang mengutamakan reformasi UUD 1945,
sebagai prasyarat perubahan yang sesungguhnya. Baginya, mukadimah UUD 45,
masih perlu dilestarikan -atau kalau mungkin dimekarkan- sebagai identitas
negara proklamasi 45. Tetapi batang tubuh UUD 45 yang mendorong presiden
jadi otoriter, mestilah dirombak total. Agar lebih menghargai kedaulatan
rakyat, menghormati hak asasi manusia.

Dalam jangka pendek, kebutuhan memodifikasi batang tubuh UUD 45 juga timbul,
karena pemilihan umum Juni 1999 diperkirakan tidak akan menghasilkan
pemenang mayoritas. Bagaimana bentuk koalisi antar partai, dan mekanisme
kerja antar parlemen dan eksekutif harus diatur? Sistem presidensiil yang
diatur UUD 45, memang tidak mengandaikan  kabinet parlementer yang biasa
muncul dari pemerintahan koalisi. Partai-partai mesti bersiap menyusun
koalisi yang kukuh, dalam arti didukung rakyat, dan tidak cakar-cakaran
sendiri. Sebab pertengkaran antar partai yang tak berkesudahan, hanya
menjadi pintu bagi munculnya kekuatan otoriter yang baru.

Dan, mengenang Romo Mangun, mau tak mau, kita akan teringat Timor Timur.
Sepenggal pulau di bagian Timur Indonesia itu, sebentar lagi boleh jadi akan
merdeka. Adalah Romo Mangun, satu diantara sedikit orang Indonesia yang
sejak awal jujur berkata: kolonialisme kita di Timor Timur adalah kekeliruan
yang memalukan. Tindakan itu mengingkari amanat proklamasi kita sendiri,
yang menentang penjajahan di muka bumi. Surat pribadi Romo Mangun kepada
Presiden BJ. Habibie, beberapa waktu lalu, bukan tak mungkin, menjadi
inspirasi buat Habibie menawarkan dua opsi tentang Timor Timur yang sekarang
jadi perdebatan publik.

Sayang, Romo Mangun tak sempat melihat Timor Timur merdeka. Apalagi
terwujudnya negara serikat. Bila mengingat begitu banyak hal yang masih
harus dikerjakan, rasanya, Anda pergi terlalu cepat.

Namun, biarlah yang masih hidup menuntaskan mimpi-mimpi itu. Selamat jalan,
Romo....

(*) Penulis tinggal di Jakarta

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Feb 1999 jam 01:40:20 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke