----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Reaksi keras muncul dari warga Singapore, terutama dari media massa dan
politikus Singapore, sebagai akibat dari pernyataan Presiden B.J.
Habibie, yang tak ada hujan tak ada angin menyerang negara pulau itu
sebagai negara rasialis. Bahkan tanpa risih mengatakan keadaan di
Indonesia lebih baik daripada di Singapore. Salah satu berita tentang
reaksi tersebut saya paste-kan di bawah tulisan ini (berasal dari CNN
On-Line, Kamis, 11 November 1999).

Pernyataan B.J. Habibie itu muncul ketika dia ditanya wartawan Taiwan
tentang masalah diskriminasi ras di Indonesia. Khususnya yang menyangkut
warga negara keturunan Cina. Terhadap pertanyaan ini Habibie bukannya
menjelaskan tentang Indonesia yang menjadi fokus pertanyaan, tetapi
malah menyerang Singapore, sebagai negara yang jauh lebih buruk masalah
diskriminasi rasnya daripada Indonesia. Singapore yang "tidak tahu
apa-apa" malah menjadi sasaran Habibie ketika menjawab pertanyaan itu.

Media Taiwan bertanya: "Apakah di Indonesia tidak ada masalah
diskriminasi ras terhadap etnik Tionghoa."

Habibie menjawab: "Kenyataannya, di Singapore masalah ras ini jauh lebih
buruk. Di Singapore, apabila Anda ras Melayu, Anda tidak bisa menjadi
perwira militer. Mereka benar-benar diskriminatif, tidak seperti di
Indonesia. Silakan Anda mengeceknya sendiri!"

Yang ditanya masalah ras di Indonesia, kenapa Singapore yang menjadi
sasaran?

Ada kesan kuat di sini, diam-diam Habibie ada menyimpan rasa antipati,
atau cemburu (?) terhadap Singapore. Apakah ini ada kaitannya dengan
sikapnya yang sebenarnya  anti-Cina? Sedangkan pernyataan-pernyataannya
yang bernada demokratis dan anti-diskriminasi ras (Cina) selama ini
hanya pemanis bibir, atau bagian dari move politiknya? Mungkin saja
begitu. Sebab dulu juga Habibie juga pernah mengatakan (semasa masih
sebagai Menristik) bahwa merosotnya ekonomi Indonesia, penyebab utamanya
adalah pengusaha etnis Cina.

Sebagai presiden RI, sikap Habibie yang kontroversial sekaligus
memalukan seperti ini, juga pernah dikemukakan ketika pemerintah
Singapore menunda bantuannya kepada Indonesia, karena melihat kondisi
politik Indonesia yang chaos, termasuk diwarnai dengan penyerangan
terhadap etnis Cina di Indonesia. Ketika itu tanpa mau tahu dengan
latar-belakang penundaan itu, Habibie mengatakan -- yang juga diikuti
Tanri Abeng --  bahwa saat ini (saat waktu itu) hubungan pemerintah
Indonesia dengan Singapore tidak berada pada kondisi yang baik.

Tabloid  The New Paper dari Singapore,  merasa heran dengan sikap
Habibie tersebut. Tabloid sore itu dalam edisi Rabu, 10 Februari, antara
lain menulis: "Jelas ada sesuatu yang membuat Habibie merasa jengkel
terhadap Singapore. Tetapi apakah yang sebenarnya yang membuat Habibie
marah terhadap Singapore?"

Untuk meng-counter pernyataan Habibie itu The New Paper juga memasang
foto seorang letnan kolonel dan seorang pilot angkatan udara Singapura
beretnis Melayu, serta data-data yang menunjukkan semakin bertambahnya
personil perwira militer beretnis Melayu.

Selanjutnya The New Paper juga mengomentari seperti ini: Dia (Habibie)
seharusnya kagum ketika melihat bagaimana tetangga dekatnya bisa relatif
tanpa cacat dalam menghadapi krisis ekonomi. "Kagum karena hal itu? Tak
apa-apa. Membicarakan mengenai hal itu? Tidak apa-apa. Tetapi kalau
merusak, atau cemburu karena hal itu? Well, kami berharap tidak seperti
itu."

Tabloid itu juga menyatakan rasa herannya, dari mana Habibie mendapat
informasi tentang personil militer Singapore, sehingga bisa berkomentar
seperti itu. Bahkan seorang anggota parlemen beretnis Melayu, bernama
Ahmad Magad, menantang secara terbuka agar Habibie mau datang ke negara
itu untuk membuktikan pernyataannya itu. (Baca juga kutipan berita di
bawah).

Sikap Habibie ini jelas seperti bumerang yang menampar muka sendiri.
Sekaligus mempermalukan negara sendiri. Terasa ada nuansa kebencian
terhadap Singapore. Entah apa yang membuat Habibie begitu membenci
Singapore? Apakah karena merasa cemburu melihat negara pulau itu relatif
bisa mempertahankan diri dari badai krisis ekonomi, sebagaimana
dicurgigai The New Paper? Kalau ya, apakah kita tidak malu melihat
presiden kita iri terhadap negara lain yang jauh lebih sukses daripada
Indonesia?

Seperti yang saya katakan di atas, apabila sikap ini berlatar belakang
sikap anti-Cina (karena penduduk Singapore mayoritas beretnis Cina
dengan kendali pemerintah berada di tangan etnis yang sama), maka
jangan-jangan sikap yang sama juga diam-diam ada pada Habibie terhadap
negara seperti RRT (termasuk Hongkong), dan Taiwan, karena negara-negara
beretnis Cina itu juga relatif bertahan terhadap badai krisis ekonomi?
Tidak seperti Indonesia yang nyaris kiamat ekonominya?

Atau sikap Habibie ini diam-diam tanpa sadar menonjolkan perilaku
sebenarnya yang rasialis. Karena pandangannya yang rasialis, maka dia
melihat pihak lain (dalam hal ini Singapore) juga mempunyai pandangan
(sikap) yang sama dengan dia.

Selain itu, lepas dari apakah benar Singapore itu rasialis, ataukah
tidak, apakah layak dalam konteks di atas Habibie bersikap menyerang dan
menuduh negara itu sebagai negara rasialis? Tak berlebihan apabila
dikatakan sikap itu merupakan suatu bentuk campur tangan pemerintah
Indonesia yang bermaksud merusak hubungan antar-etnis di negara tersebut.

Perilaku Habibie seperti ini merupakan bukti kesekian bahwa dia tidak
layak menjabat sebagai presiden RI. Apalagi jika diharapkan sebagai
presiden yang becus membawa negara ini keluar dari kemelut yang
berkepanjangan seperti sekarang ini. Termasuk masalah etnis di negara ini.

Mungkin lebih tepat jika dia menjadi badut saja, untuk menghibur rakyat
yang lagi stres. Hal ini lebih cocok mengingat gerak-gerik dan ekspresi
wajahnya yang kocak. Apalagi inisial namanya yang berhuruf B.J.
(Habibie), yang bisa saja berasal dari kepanjangan: Badut Jempolan
Habibie. Atau ke Bali saja menjadi Penari Kecak (mata dan gerak-gerik
kepala, serta kedua tangannya sangat mendukung untuk itu).***

Salam
Lion

--------------------------------------

S'pore politicians hit Habibie 'racists' comment
February 11, 1999
Web posted at: 1:33 AM EST (0633 GMT)
SINGAPORE, Feb 11 (Reuters) - Ethnic Malay politicians in Singapore have
lashed out at remarks by Indonesian President B.J. Habibie alleging
racism in the city-state, saying the comments were baseless and
interference in its internal affairs.
Singapore Minister-in-Charge of Muslim Affairs Abdullah Tarmugi said the
remarks, coming when Singapore was trying hard to foster racial and
religious harmony, were unfortunate and baseless, the daily Straits
Times newspaper said on Thursday.
Habibie was quoted as saying in an interview with Taiwan media published
and broadcast this week: "In Singapore, if you are a Malay, you can
never become a military officer.
"They are the real racists, not here. You can go and check it out."
If Habibie came to Singapore to check on his own charges, said Abdullah:
"He will, contrary to his view, see that there are Malay officers in the
Singapore Armed Forces."
Five other Malay parliamentarians also criticized Habibie for his
comments, the Straits Times said.
Yatiman Yusof said he suspected Habibie's remarks were aimed at
"undermining the stability of multiracial Singapore" because they came
during the region's current economic difficulties.
"We do not need outsiders, including people like President Habibie, to
interefere," he said.
Ahmad Magad said: "I think we should not succumb to any proposition by
foreign elements who will try time and again to test our style of
democracy.
Habibie made the comments while defending Indonesia's treatment of
ethnic Chinese, saying there was no discrimination against them as
racist policies had been abolished.
Chinese are a small minority in Indonesia but have been repeated targets
of mob attacks over their perceived wealth.
In Singapore, Chinese account for about 77 percent of citizens and
Malays about 14 percent.
Habibie was also taken to task on Wednesday by the tabloid New Paper,
like the Straits Times part of the government-linked Singapore Press
Holdings publishing monopoly.
The New Paper ran a commentary, pictures of a Malay lieutenant-colonel
and air force pilot and data showing increasing numbers of Malay
officers in the Singapore military.
Indonesian Education Minister Juwono Sudarsono, visiting Singapore for a
conference, defended Habibie on Wednesday.
"I think Singaporean leaders understand that President Habibie has a lot
of learning and unlearning to do about Singapore," Singapore state
television quoted Juwono as saying.
Copyright 1999 Reuters. All rights reserved. This material may not be
published, broadcast, rewritten, or redistributed.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Feb 1999 jam 08:03:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke