----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

LEBIH LANJUT DENGAN REVOLUSI KULTUR
MENUJU KULTUR KESETARAAN (8)

Oleh : Ki Ageng Mangir

Budaya Jawa dan Kultur Kesetaraan.

Kurang  lengkap  rasanya  apabila dalam seri tulisan ini
kita   tidak   membahas   prospek   Kultur   Kesetaraan
terhadap  Kultur Jawa yang bagaimanapun berpengaruh
sangat  kuat  dalam  Kultur Indonesia yang dicoba ingin
dibangun dalam negara kesatuan Republik Indonesia.

Budaya Jawa merupakan suatu budaya yang unik yang
Prof.  Dannys  Lombard  dengan  bukunya  'Nusa  Jawa
Silang     Budaya'    mencoba    menyimpulkan   bahwa
walaupun   Budaya  Jawa  adalah   merupakan  budaya
yang   terbuka   terhadap  pengaruh    dari    luar,    tapi
didalamnya tersembunyi suatu 'resistensi' yang  sangat
kuat terhadap perubahan akan nilai-nilai 'asli jawa' yang
berumur sangat tua dengan bukti-bukti :

- walaupun   dijajah   oleh  Belanda  selama  350 tahun,
dalam   satu  periode  generasi  - periode  pemerintahan
Bung Karno - saja  tidak  ada  tanda-tanda yang tersisa
pengaruh  budaya  Belanda  dalam  masyarakat Jawa /
Indonesia.
- Islam  traditional  yang  disebarkan  oleh  Wali Sanga,
walaupun    tidak   mengurangi   kadar   Islamnya  telah
menunjukkan  ciri  khas  Islam  Jawa  yang lebih mistis
dan tanpa harus menghilangkan ciri budaya Jawa.
- Hindu  dan  Budha di Jawa berbeda dengan Hindu dan
Budha dari India.
- agama  Kristen  pun  juga  demikian,  adalah   rahasia
umum  bahwa Pastur2  di Jawa lebih  banyak menyerap
kebatinan  Jawa dalam  melakukan  penyebaran Kristen
di Jawa.

Budaya Jawa  mempunyai kekenyalan dalam menyerap
budaya  dari   luar   dengan   tetap    menunjukkan   ciri
'ke-jawa-annya'  yang  berbeda dengan budaya asal dari
pihak  yang  mempengaruhi  dan semua penyerapan ini
berjalan secara natural tanpa suatu pemaksaan.

Walaupun  banyak  sisi  positif dari budaya Jawa dalam
kontribusi  membangun  budaya  Indonesia,  tetap  saja
ada beberapa kelemahan yang  mendasar  yang apabila
tidak    dilakukan   perubahan   kultural   akan   menjadi
penghambat  utama  dalam  cita-cita bangsa  mencapai
suatu   masyarakat   yang   adil  dan  makmur.  Karena
budaya Jawa -seperti pada umumnya budaya Indonesia
- yang  masih berciri  feodal  maupun  subkultur  negatif
lainnya yang selama ini telah menghasilkan :

- masih  banyaknya manusia  Jawa  menjadi 'pembantu
rumah   tangga'    yang     pada     hakekatnya    adalah
merupakan     sisa-sisa    'budaya    perbudakan'   yang
seharusnya tidak  ada   lagi  dimuka  bumi  ini  -  akibat
langsung masih adanya subkultur  budak  (ada  baiknya
apabila   pengiriman   pembantu  rumah   tangga  keluar
negeri diberhentikan sama  sekali  -  yang   tidak    saja
merendahkan   martabat  bangsa   Indonesia  tapi   juga
merendahkan  martabat kemanusiaan dengan apa yang
kita  dengar  tentang  perlakuan  terhadap  mereka  baik
oleh  agen  pengirim,  maupun  pemakai  jasa  mereka -
dan tentunya harus dicarikan alternatif penyelesaiannya
bagaimana   sumber   daya  manusia   yang   ada  bisa
mendapatkan penghasilan yang memadai untuk hidup).
- masih   banyaknya    manusia   Jawa   yang   menjadi
'pengemis'  yang  sebagai  refleksi  dari kemiskinan dan
tidak  adanya  suatu   budaya  kerja  atau  kata  lainnya
adalah subkultur hidup santai (miskin dan santai adalah
kombinasi  yang menyuburkan  manusia  Jawa memilih
jadi  pengemis  dari  pada   bekerja   apa   saja, karena
sebagai   pengemispun  mereka   bisa  hidup  walaupun
dengan sangat minim  -  bisa  hidup  miskin  dan santai
tanpa tekanan).
- kemerdekaan telah  membawa  kesetaraan bagi siapa
manusia Jawa/Indonesia  untuk memperoleh pendidikan
tinggi, dibandingkan dengan  jaman penjajahan Belanda
hanya   kaum   bangsawan  yang   bisa  menikmatinya.
Banyak   anak   petani   maupun   anak  pegawai  kecil
berhasil    mendapatkan   pendidikan  perguruan  tinggi,
cuma     sangat     disayangkan      setelah    mendapat
kedudukan   dalam   masyarakat   banyak   diantaranya
berubah   bersikap    feodal    yang   adigang,   adigung,
adiguna  (mentang-mentang)  sebagai  akibat  langsung
budaya   feodal  yang  masih  pekat  terpengaruh dalam
masyarakat Jawa.

Jelas  gejala-gejala  diatas  merupakan  tantangan yang
sangat   besar   kalau  kita  ingin  merubah  Kultur Jawa
menjadi       KULTUR     KESETARAAN     yang    lebih
menyeluruh dalam masyarakat Jawa.

Ada   dua  cara  yang menurut, pendapat penulis, untuk
merubah secara kultural, budaya  Jawa menjadi budaya
yang lebih menghargai KESETERAAN manusia :

1. melakukan  gerakan  'rationalisasi'   terhadap dasar -
dasar  filosopi   ataupun  nilai-nilai  kehidupan  manusia
Jawa - walaupun  tidak  mudah  melakukan definisi  apa
dan bagaimana sebetulnya nilia-nilai filosopi Jawa  asli -
yang  masih  berciri mistis atau melakukan kajian ulang
yang   lebih  'rational' terhadap prinsip2 dasar kehidupan
manusia Jawa  (sifat-sifat  mistis ini yang menyebabkan
manusia  Jawa   masih   percaya   dengan  perdukunan,
santet,   ramalan - ramalan,  dan  ketergantungan  yang
sangat terhadap pihak lain-kurang bersikap  'independen
yang individual' - maupun alam sekitarnya. Note: kondisi
ini  kurang   lebih   sama  dengan  keadaan  Eropa pada
abad ke 14 yaitu masa pra-renaissance).
2. melakukan   pemilihan   ataupun   'interpretasi'   ulang
terhadap  seni  budaya  -  yang  punya  pengaruh  besar
terhadap perilaku  manusia  Jawa  - yang  lebih bersikap
kepemihakan   terhadap  KULTUR  KESETARAAN  dan
merelakan  seni  budaya  traditional yang menganjurkan
sikap    feodal     untuk   tidak   dikembangkan  maupun
dilestarikan  lebih  lanjut. Harus  ada  kajian dan seleksi
yang lebih 'rational'  terhadap  seni  budaya  yang punya
pengaruh   melestarikan  budaya  feodal  dan merelakan
seni - budaya   yang    punya   pengaruh  menganjurkan
perilaku negatif ditinggalkan untuk se-lama-lama-nya.

Untuk contoh butir 1,penulis mencoba untuk melakukan
intepretasi   ulang   suatu  sikap   dasar  filosopi   dasar
manusia  Jawa   yang  ter-refleksi   dalam  kepercayaan
'jumbuhing  kawulo  gusti' atau dalam  bahasa Indonesia
'menyatunya   abdi  dan  tuannya'  yang   ada  beberapa
interpretasi   yang   lebih   bersifat   'spiritual'  dan  lebih
bersifat 'rational' :

1. Bahwa  secara 'spritual' pengertian 'jumbuhing kawulo
gusti'  diartikan menyatunya   manusia  sebagai   'abdi /
kawulo'  dengan 'Gusti Allah' penciptanya. Manusia atau
'kawulo'  dipercayai  berasal  dari  zat 'Gusti'  atau  Allah
Sang   Pencipta  yang  dalam  kehidupan  di dunia pada
suatu   saat    akan    kembali   pada-Nya. Seperti yang
diceritakan    dalam    cerita   'Waringin  Sungsang' atau
'Beringin Terbalik' roh manusia  yang  berasal dari 'Gusti
Allah'  waktu  turun  memberi  kehidupan  pada manusia
adalah   mudah,    tapi   kebalikannya  pada waktu akan
kembali sangat  sulit karena roh-nya sudah dikotori oleh
dosa dari  pengaruh nafsu-nafsu-nya   dalam   menjalani
kehidupan  didunia.  Tetapi   ada   juga   manusia  yang
mampu mengatasi  semua  nafsu2  jahat  dalam dirinya
sehingga   berhasil   pada   saat   masih   hidup didunia
menyatukan   roh-nya   dengan   sang  'Gusti'-nya yang
secara   spirituil  dikatakan  sebagai  'jumbuhing kawulo
Gusti'. Bahkan  pada  penganut  kepercayaan 'Syeh Siti
Jenar'   pada  masa  Wali  Sanga  menyebarkan agama
Islam  di  Jawa,   pengertian   kalau  seseorang mampu
mencapai    tingkatan    spirituil    menyatukan   rohnya
dengan  'Gusti  Allah'  maka  dia sendiri  bisa dikatakan
sebagai  Allah  itu  sendiri  (secara   logika  'rational' hal
ini bisa dimengerti) - yang sudah barang tentu ditentang
oleh Wali  Sanga yang  berpendapat  bahwa zat kawulo
dan  zat  Gusti  adalah tidak bisa disamakan sama lain
karena 'Gusti Allah' adalah Sang Pencipta  dan 'kawulo'
atau  manusia  adalah  yang diciptakan - yang  berakhir
dengan  'Syeh  Siti  Jenar' dianggap sesat dan dihukum
mati  oleh  mereka  (walaupun faham  spirituil ini  masih
hidup  dalam   kalangan  terbatas  di Jawa). Jadi secara
umum  pengertian  spirituil   'jumbuhing   kawulo  Gusti'
diartikan   sebagai  kemampuan   secara  spiritual  bagi
seseorang   untuk   mengatasi   nafsu-nafsu-nya  dalam
kehidupan  ini  sehingga   kehidupannya  adalah cermin
dari  keberadaan   dari  Gusti  Allah  Yang  Maha   Suci
walaupun ia adalah  tetap  manusia  yang  'kawulo'  dari
'Gusti   Allah'    sehingga    bisa      dikatakan   sebagai
'jumbuhing kawulo Gusti'.
2.Pengertian 'jumbuhing kawulo Gusti' dalam pengertian
tata kerajaan  yang  feodal dengan pengertian hubungan
raja sebagai  'Gusti'  dalam pengertian sebagai Tuannya
dan   rakyat    adalah     'kawulo'-nya    atau    'abdi'-nya.
'Jumbuhing kawulo  Gusti'  disini  diartikan  terjadi suatu
hubungan  yang  serasi  antara  Raja   dan   Rakyaknya
sehingga  Raja  mengetahui  keinginan   rakyatnya, dan
rakyat  pun  sangat  loyal  pada  rajanya - suatu kondisi
ideal  yang  ingin dibina dalam  hubungan  antara rakyat
dan  rajanya - pengertian  ini  yang melahirkan beberapa
konsep yang lain :
- bahwa   raja   harus   menerima   'wahyu'   untuk   bisa
menjadi   raja  sebagai  manifestasi  Raja sebagai Gusti
dan  'wahyu'   adalah  legitimasi   dari  'Gusti' yang lebih
tinggi   tingkatan - nya  atau 'Gusti  Yang  Maha Kuasa'
bahwa  Raja  tersebut   se-olah-oleh  dengan  menerima
'wahyu'   telah  direstui  oleh 'Gusti Yang  Maha  Kuasa'
(Note:  konsep   bahwa   Raja   se-olah-olah   wakil  dari
Tuhan  didunia untuk mengatur rakyatnya)
- konsep 'satria  pinandita' yang  berarti  bahwa seorang
raja  disamping  punya  sifat  ksatria  yang  tegar dalam
membela  rakyat  dan  kebenaran   tapi  dia  juga  harus
bermoral seperti pendeta agar tidak berbuat se-wenang2
dengan   kekuasaan  yang  ada ditangannya  (Sikap  ini
yang ingin disikapi oleh Soeharto tapi yang tidak pernah
berhasil   dijalankan   secara   nyata).    Dalam kerajaan
Mataram ini  terfleksi  nama  gelar  kebesaran raja2-nya
yaitu 'Senopati Ing Ngalaga Panata Gama'  yang  berarti
disamping  'Panglima  Tertinggi'  dia  juga harus mampu
menjadi  'Penata  Agama'  yang  diartikan harus mampu
sebagai 'Pemimpin Para Ulama' atau juga bisa diartikan
harus bermoral baik.
Dalam kenyataanya  kondisi   ideal   'jumbuhing  kawulo
Gusti'  dalam pengertiaan  keserasian antara rakyat dan
rajanya dalam  sistim  feodal  tidak  pernah bisa dicapai
kecuali   dominasi   'Gusti'   atau  sang   Raja   terhadap
'kawulo'   atau  rakyatnya   dengan  menciptakan  mitos
tentang    raja    yang   pada   hakekatnya   membodohi
rakyatnya agar tetap loyal jadi budak dari sang Raja.
3. Rationalisasi dari pengertian 'jumbuhing kawulo gusti':
Kawulo  disini  bisa  diartikan  'yang dipimpin'  dan gusti'
adalah  'yang  memimpin'.  Jadi   pengertian  'jumbuhing
Kawulo  Gusti'   ini   juga   bisa  diterjemahkan  sebagai
keserasian antara  'yang dipimpin' dan 'yang memimpin'
yang  bisa  juga  berarti   'KESETARAAN'  antara  'yang
dipimpin' dan 'yang memimpin' yang berarti bahwa 'yang
dipimpin' maupun 'yang  memimpin'  punya hak-hak dan
kewajiban yang  SETARA   satu  sama   lain   sehingga
memungkinkan  suatu   hubungan  yang  SERASI  atau
'jumbuh' satu sama lain   yang   bisa  diartikan  sebagai
'Jumbuhing Kawulo GUSTI'. Pengertian secara  'rational'
ini yang harus  lebih disebarluaskan yang bisa merubah
persepsi dan kemudian juga perilaku manusia Jawa.

Untuk contoh butir  ke  2  yaitu  'rationalisasi'  dari  seni
budaya   traditionil  yang   kurang    menunjang   kearah
kepemihakan    atau   paling   tidak    kurang   mendidik
masyarakat  luas untuk menyadari  KESATARAAN  diri
mereka terhadap siapa saja :

1. Seni  budaya  'ketoprak'   sepenuhnya   adalah   seni
budaya   yang    sangat   berorientasi   kepada  konsep
budaya   feodal   dengan  menceritakan kembali kisah -
kisah raja di  Jawa  presis dengan  contoh-contoh sikap
raja maupun  dengan menggunakan  bahasa Jawa yang
masih mengenal tingkatan-tingkatan yang pengaruhnya
lebih menganjurkan  kepada  sikap   feodal.  Barangkali
perlu   dipertanyakan   apakah  seni-budaya   traditional
semacam ini masih perlu kita pertahankan.
2. Sikap  yang  lebih   'rational'   terhadap  seni  budaya
'wayang-kulit'  sebagai  seni-budaya  yang sangat besar
pengaruhnya terhadap manusia Jawa yang sepenuhnya
masih   bertema   'feodal'    yaitu   kisah  kepahlawanan
Mahabarata  dan Ramayana yang ciri 'feodal' nya masih
sangat  kental. Sebagai suatu  karya kesenian  'wayang
kulit'  adalah  suatu   kesenian  traditional  yang  sangat
indah dan  mempunyai  banyak nilai-nilai  filosofis  yang
bisa  diserap. Yang  menjadi  masalah  bagaimana agar
'wayang-kulit'  ini bisa dijadikan suatu seni-budaya yang
tidak    menganjurkan     sikap      feodal    atau     lebih
menganjurkan   sikap   kultur   KESETARAAN'  (dan ini
adalah  sesuatu  yang  sangat  sulit )   walaupun  unsur
KESATARAAN' ada didalam 'wayang kulit' yaitu :
- adanya unsur 'panakawan' yang merupakan bagian tak
terpisahkan - bahkan bagian yang  sangat penting - dari
pementasan  'wayang  kulit'  yang   interpretasi 'rational'
- nya  kurang  lebih  adalah sebagai  berikut :  dari  dulu
masyarakat  traditional   di   Jawa   sangat  menghargai
unsur  'rakyat   jelata'   yang   terefleksikan  pentingnya
peranan   'panakawan'  dalam  pewayangan - 'goro-goro'
atau   'kemelut'    ditengah   malam   pada  pementasan
'wayang   kulit'  adalah  disebabkan  karena keberadaan
raja   (kaum    elite    kekuasaan)    tidak   disertai  para
'panakawan'    atau   tidak    mendengarkan    pendapat
rakyatnya  - pada masa sebelum 'goro-goro' panakawan
tidak    terlibat     samasekali     dalam     kisah    cerita
pementasan 'wayang  kulit'.  'Goro-Goro'  atau  'kemelut'
hanya  bisa  diredam  apabila 'panakawan' muncul yang
bisa  diartikan  'suara  rakyat' diperhatikan dan masalah
hanya  mungkin  diselesaikan   apabila   para  raja (elite
kekuasaan) melibatkan  para  'panakawan'  yang berarti
'suara    rakyat'     ataupun     para     pemimpin     yang
menyuarakan suara  rakyat  yang  murni  (selama  para
penyuara suara rakyat yang  murni  tidak  diajak  bicara
atau  dilibatkan untuk mengatasi masalah  -  'goro-goro'
atau  'kemelut'  di  Indonesia  tidak  akan pernah surut  -
wayang kulit sebagai budaya asli Jawa tidak akan salah
membuat   suatu  'gambaran'  atau   'wayangan'   dalam
kehidupan nyata kehidupan manusia Jawa / Indonesia).
- panakawan selama ini selalu diartikan  sebagai  'batur'
atau  'abdi'  atau 'budak' adalah interpretasi yang sangat
salah karena  seperti kata-kata-nya 'pana' bisa diartikan
sebagai  'pengatur', 'pemimpin', atau  juga  bisa   berarti
'raja',  sedangkan kawan adalah  teman   atau  sahabat.
Jadi 'panakawan' berarti kawan, teman, bahkan sahabat
para  'pengatur',  'pemimpin', ataupun   'raja'.  Jelas para
cendikiawan    Jawa    pada    masa    lalu   mempunyai
pemikiran  yang  lebih  'progressive'  atau maju dari  kita
saat  ini  yang   menganjurkan  'rakyat'   adalah sebagai
'teman'  atau  'kawan'   dari    para   'pemimpin'   apalagi
kalau  ini   bukan  konsep  KESETARAAN  antara yang
'dipimpin' dan  yang  'memimpin'.

Jadi   jawaban   prospek   budaya   Jawa    dalam   bisa
menerima     kultur    KESETARAAN    sebagai    kultur
alternatif dari budaya feodal yang negatif saat ini adalah
sangat mungkin yang kuncinya  adalah   melaksanakan
'rationalisasi'    dari    prinsip - prinsip    atau  nilai - nilai
kehidupan manusia Jawa - dan ini hanya  dimungkinkan
dengan   yang    namanya    pemerataan     'pendidikan'
sehingga keanehan gejala-gejala alam tidak begitu saja
dipercayai     sebagai     kejadian    mistis.    Walaupun
'rationalisasi'  adalah   bukan   jawaban   untuk   semua
masalah,  penulis  masih   percaya  bahwa   kita  harus
mulai  dari  sini, hal-hal yang bersikap 'spirituil' mungkin
saja  masih  bisa  kita percayai, hanya kalau kita sudah
menggunakan  akal  kita   secara   'optimal'   dan   tidak
mudah menyerah.

Kesimpulan.

Tulisan  ini merupakan  tulisan terakhir dari seri ini yang
penulis  harapkan menjadi tulisan yang bermanfaat bagi
kita   sebagai     bangsa    untuk     mencoba  menggali
permasalahan  bangsa Indonesia kepada akar-nya yaitu
kultur   atau   budaya  yang  membelenggu masyarakat
dalam kegelapan keterbelakangan tanpa disadari.

Ringakasan analisa SWOT budaya Indonesia adalah:

Kekuatan (Strength) :

- Persatuan  Indonesia yang mulai dicetuskan pada hari
Kebangkitan   Nasional   20   Mei   1908   dan   Sumpah
Pemuda 28 Oktober 1928.
- Kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945.
- Ideologi Pancasila.

Kelemahan (Weakness) :

- Budaya Feodal dengan subkultur budaya paternalistic,
birokrat bersikap sebagai priyayi  /  feodal, fungsi ganda
dari 'ksatria' alias dwifungsi ABRI.
- Budaya 'abdi dalem' alias budaya budak.
- Budaya hidup santai.

Prospek (Opportunity) :

- Melihat  keberadaan  sumber daya alam, luas teritory,
dan  sumber  daya  manusia,  bangsa  Indonesia  tetap
punya   prospek  untuk  menjadi   negara   besar setara
dengan  negara   maju   yang   lainnya   yang    penting
adalah  kemampuan kita sebagai bangsa menggunakan
kekuatan yang ada, merubah kelemahan yang ada, dan
keyakinan  bahwa  bangsa  Indonesia  mampu dan bisa
mencapai  cita-cita   masyarakat   adil   dan   makmur -
keyakinan adalah penting karena kita  tidak  akan  bisa
mencapai   sesuatu  yang  kita sendiri tidak yakin akan
bisa mencapainya.

Threat (Ancaman) :

- Melunturnya   kekuatan  yang  ada  dengan terjadinya
disintegrasi bangsa (yang gejalanya nampak pada saat
ini).
- Ketidak mampuan  melakukan transformasi dari kultur
yang negatif menjadi kultur yang lebih  kondusif dengan
cepat sebagai  pra-syarat  menuju  kepada  pencapaian
cita-cita bangsa.
- Adanya faktor structur  'status quo' yang menghambat
perubahan karena  diuntungkan  dengan  kultur  bangsa
saat  ini  yaitu  struktur  pemerintahan  saat ini  dengan
ABRI sebagai back-up-nya.
- Faktor-faktor pengaruh kultural dari luar Indonesia.

Lebih  lanjut,  perubahan  hanya  dimungkinkan  dengan
kesadaran 'kaum terpelajar' ataupun 'kaum cendikiawan'
Indonesia  maupun  organisasi  sosial  politik  yang ada
yang  harus  mampu  menjadi  'agent  of  change'  untuk
melaksanakan   transformasi   dari   masyarakat  feodal
saat   ini   menjadi   masyarakat  dengan  ciri  'KULTUR
KESETARAAN'  dengan    melaksanakan   'REVOLUSI
KULTUR' ,  sebagai   pra-syarat    menuju   masyarakat
Indonesia  yang  adil   makmur   yang  kita cita-cita-kan
bersama. Gerakan  berpikir   lebih  'RATIONAL'   adalah
salah    satu   cara   bagaimana    kita    melaksanakan
perubahan. Sehingga    dasar-dasar   filosopi  traditional
yang  diterima  begitu  saja  yang  kebanyakan  bersifat
'mistis'  dapat  dikaji   kembali   dan  dilahirkan kembali
(RENAISSANCE)   dalam   bentuk   yang    lebih   bisa
diterima oleh akal.

(Tamat)

Februari 1999.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Feb 1999 jam 08:08:48 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke