----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


ARTI RUANGAN "NYOBLOS YO!" BAGI PENDIDIKAN POLITIK

Oleh: Sulangkang Suwalu

        Harian Merdeka kini halaman depannya menyediakan ruangan "Nyoblos Yo!"
Dalam keterangan redaksi Merdeka mengenai ruangan "Nyoblos Yo!" dikatakan:
"Ruangan ini disediakan untuk para pimpinan partai politik, kader, anggota,
simpatisan, dan pakar politik untuk "berkampanye" tentang sebuah parpol.
Silakan mengirimkan tulisan tentang kehebatan partai agar rakyat jadi
tertarik dan siap mencoblosnya pada pemilu mendatang".
        Meski baru PPP, PDKB dan PKP yang telah menggunakan ruangan ini, kiranya
sudah dapat ditarik arti ruangan "Nyoblos Yo!" ini bagi pendidikan politik.
PPP (Partai Persatuan Pembangunan) adalah partai yang dilahirkan Orba dan
menjadi bagian dari Orba; PDKB (Partai Demokrasi Kasih Bnagsa) adalah partai
yang lahir setelah Soeharto lengser. Sementara PKP (Partai Keadilan dan
Persatuan) banyak yang mengatakan sebagai partai sempalan dari Orba.
        Ruangan "Nyoblos Yo!" ini sesungguhnya merupakan ruangan pendidikan politik
bagi rakyat. Terutama, tentu saja bagi yang dapat membacanya. Pembacanya
akan dapat mengetahui mana partai yang sesuai kata dengan perbuatannya dan
mana partai yang hanya sekadar menjual kecap atau koyok. Pembaca kemudian
akan menilainya dan menentukan sikap: akan mencoblosnya atau tidak dalam
pemilu mendatang.

PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

        Karena terbatasnya ruangan, tentu penulis hanya akan mengutip kehebatan
atau keunggulan yang dikampanyekan partai tersebut, dibandingkan dengan
partai yang lain. Marilah kita mulai dengan apa yang ditonjolkan M Hoesni
Thamrin tentang kehebatan atau keunggulan PPP dari yang lain.
        Menurut M Hoesni Thamrin, "PPP dalam menjalankan fungsi pengawasan di DPR,
maupun sidang-sidang MPR anggota PPP selalu kritis. Mengapa? Sebab, prinsip
yang dianut PPP adalah amar ma'ruh nahi munkar. Artinya, jika melihat
sesuatu kemunkaran atau korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), PPP tidak dapat
kompromi."
        Benar kah dalam prakteknya, PPP menegakkan amar ma'ruf nahi munkar di
dalam sidang-sidang MPR/DPR? Sebelum menjawab pertanyaan itu, baiklah
dikemukakan lebih dulu pengerti "amar ma'ruf nahi munkar" tersebut.
        Menurut Hawari Aulia melalui tulisannya "Dakwah melalui Partai" (Sabili, No
15 th VI) bahwa substansi dakwah Islam adalah menegakkan nilai-nilai ma'ruf
dan mencegah yang munkar. Ma'ruf mencakup semua hal yang disukai dan
diridhai Allah, baik perkataan, perbuatan lahir maupun batin. Amar ma'ruf
berarti memotivasi, menyeru, memantapkan landasan tegaknya segala yang
ma'ruf. Sedang munkar adalah kebalikannya, semua yang dibenci dan yang
dimurkai Allah, baik perkataan, perbuatan lahir maupun batin. Dan nahyul
munkar, upaya memberi peringatan, menjauhkan dan menghilangkan semua sebab
yang dapat memunculkan kemunkaran.
        Dalam penjelasannya lebih lanjut Hawari Aulia mengatakan, bahwa kemunkaran
tidak boleh dipandang secara sempit, misalnya sebatas pelacuran, penghalalan
minuman keras, perjudian, pencurian dan sebagainya. Menginjak-injak hak
rakyat, pelanggaran HAM, monopoli, menyerahkan urusan pada yang bukan
ahlinya, sogok menyogok, jilat menjilat, loyal terhadap musuh umat dan
hal-hal lain yang sangat terkait dengan kehidupan politik dan pengelolaan
negara, semuanya merupakan kemunkaran.
        Bertolak dari pengertian amar ma'ruf nahi munkar seperti yang dikemukakan
Hawari Aulia di atas, maka ternyata PPP selama Soeharto berkuasa tidak
sungguh-sungguh menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Malah PPP adalah salah
satu pendukung kekuasaan Suharto dalam merampas kedaulatan dari rakyat
sehingga menjadi kedaulatan penguasa, melakukan pelanggaran HAM sepert
pembantaian di Aceh, di Tanjung Priok, di Lampung dan sebagainya, melakukan
KKN untuk kepentingan pribadi, anak cucunya dan kroni-kroninya. PPP terkenal
dengan sikap politiknya yang membikin sejuk kekuasaan Soeharto.
        Apalagi bila persoalannya diamati dari ayat-ayat Al Quran akan lebih
kelihatan lagi PPP tidak menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Misalnya. Surat
Al-Humazah (ayat 1 dan 2) dengan tegas mengatakan: "Celakalah (azablah)
untuk tiap-tiap orang pengumpat dan pencela. Yang menumpuk-numpuk harta
benda dan menghitung-hitungnya". Yang menumpuk-numpuk harta itu kaum
kapitalis. Kapan PPP mengutuk sistem kapitalis yang dikutuk Al Humazah
tersebut?
        Juga kapan PPP memerangi kaum yang zalim, yang aniaya terhadap
penduduknya, seperti aniayanya rezim Soeharto? Padahal surat Annisa ayat 75
dengan tegas mengatakan: "Mengapa kamu tiada mau berperang pada sabilillah dan
untuk (membebaskan) orang-orang yang lemah diantara laki-laki,
perempuan-perempuan dan anak-anak, sedang mereka itu berdoa: Ya, Tuhan kami,
keluarkanlah kami dari negeri yang aniaya penduduknya dan adakanlah untuk kami
seorang Wali dari sisiMu dan adakanlah untuk kami yang mengurus pekerjaan
dari kamu".
        Tegasnya PPP selama ini tidak menegakkan amar ma'ruf nahi munkar dalam
arti yang sesungguhaya. Padahal menegakkan amar ma'ruf nahi munkar telah
diperintahkan Allah diantaranya melalui Surat Ali Imran, yang ayat 104-nya
berbunyi: "Dan hendak lah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar.
Dan merekalah orang-orang yang beruntung." Sedang pada ayat 110 dikatakan:
"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada
yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah."
        Hal itu lebih dipertegas oleh Nabi Muhammad dengan mengatakan: "Barang
siapa diantara kalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaklah dia
mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu dengan lidahnya, jika tidak
mampu hendaklah dengan hatinya. Namun yang demikian itu adalah
selemah-lemahnya iman" (HR Muslim).
        Karena selama Soeharto berkuasa PPP tidak pernah berusaha mengubah
kemunkaran yang dilakukan Orde Baru dengan tangannya, itu menunjukan tidak
kuatnya iman didada PPP. Sebab, kalau imannya kuat tentu akan diubahnya
kemunkaran itu. Kadang kala memang PPP menggunakan lidahnya dalam hal-hal
tertentu, tetapi yang tidak akan sampai menghilangkan kemunkaran itu. Dan
hal ini menunjukkan lemahnya iman didada PPP.
        Sebagai suatu partai yang katanya berazaskan Islam, yang katanya
diwariskan para ulama, seharusnya PPP dengan teguh menegakkan amar ma'ruf nahi
munkar. Rasul juga dengan tegas mengecam orang yang takut menyuarakan kebenaran
dihadapan orang zalim. Sabda beliau: "Jika kulihat umatku gentar berkata
kepada orang zalim!" Hai orang zalim!" maka mereka tidak layak lagi untuk
hidup" (HR Ahmad).
        Tampaknya bagi PPP simbol Islam lebih penting dari aqidah islamiah. Hal
ini dibuktikan dengan ucapan Hamzah Has, Ketua Umum baru PPP bahwa lambang
ka'bah yang akan dipakai menggantikan tanda bintang hanya sebagai faktor
pengikat saja. Mengomentari ucapan Hamsah Has tersebut, Wahyu melalui Sabili
(No. 15 th VI) mengatakan: "perlu ditegaskan lagi bahwa aqidah islamiyah
sajalah yang layak dijadikan faktor pengikat antara pengikut-pengikut
partainya, bukannya ka'bah yang merupakan simbol Islam, sebab Islam itu
sendiri bukan sekadar simbol."
        Dengan mengetahui praktek sosial PPP yang demikian, maka pemilih dalam
pemilu mendatang dapat menentukan sikap: akan memilih PPP yang lebih
mementingkan simbol daripada aqidah islamiyah, yang imannya lemah atau akan
memilih yang lain. Masing-masing punya kebebasan untuk memilih.

PARTAI DEMOKRASI KASIH BANGSA

        Berbeda dengan PPP, maka PDKB ini adalah partai yang muncul setelah
Suharto lengser. Jadi, apa yang dikatakan pemimpinnya, tak dapat diuji dengan
apa yang terjadi di masa Suharto berkuasa secara langsung. Karena PDKB memang
belum lahir ketika itu.
        Marilah kita dengar apa yang dikemukakan PDKB melalui kampanyenya di
harian Merdeka ini. Tentu saja mudah di mengerti bila yang mereka kemukakan
masih bersifat umum, meski sesungguhnya ada hal-hal yang bisa mereka tentukan
sikapnya.
        "PDKB ingin menghilangkan perbedaan, menciptakan rasa tenteram dan rasa
aman di masyarakat serta menghapuskan diskriminasi di segala bidang. PDKB
cinta perdamaian. Tiga program partai prioritas yang akan kita tawarkan
dalam pemilu adalah menegakkan HAM, pemantapan demokrasi, dan pelestarian
lingkungan hidup". Demikian diantaranya yang dikatakan Sekjen PDKB tersebut.
        Entah karena pertimbangan apa, mungkin supaya pembacanya jangan mengetahui
bagaimana sikap PDKB yang sesungguhnya antara gerakan reformasi dengan
status quo, maka PDKB sama sekali tidak mengemukakan tanggapannya tentang
pemerintahan Soeharto yang anti demokrasi, yang memperlakukan berbagai
tindakan diskriminatif di lapangan politik, dan juga tidak mengemukakan
tanggapanya terhadap pemerintahan Habibie yang menerima operan dari Suharto
yang juga melanjutkan tindakan diskriminatif Suharto dalam mengangkat 38
anggota MPR/DPR dari ABRI.
        Seperti diketahui dalam Pemilu 1999 telah ditetapkan sebanyak 38 orang
anggota ABRI akan diangkat menjadi anggota DPR/MPR. Tanpa melalui pemilu.
Sedang bagi partai-partai politik, termasuk bagi PDKB, untuk mendapat 1
kursi saja di MPR/DPR harus memobilisasi kekuatannya. Dan itu belum tentu
akan diperoleh. Sedang bagi ABRI dengan goyang-goyang kaki saja, secara
gratis mendapat 38 kursi.
        Pemberian gratis 38 kursi di MPR/DPR bagi ABRI ini jelas sekali suatu
tindakan diskriminatif terhadap sementara warga dan itu bertentangan dengan
Pasal 27 UUD 1945 yang menetapkan semua warga negara bersamaan kedudukannya
di depan hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan
itu dengan tiada kecualinya.
        Bukankah bila PDKB benar-benar hendak menghapuskan diskriminasi dalam
segala bidang, seperti yang dikatakan Seto Harianto, harus menolak
pengangkatan 38 anggota ABRI di DPR/MPR itu. Dan suara yang demikian belum
terdengar dari PDKB. Sikap PDKB terhadap pengangkatan gratis 38 kursi bagi
ABRI tersebut tentu akan menjadi pertimbangan pemilih: layak atau tidak
layaknya PDKB dipilih dalam pemilu mendatang itu.
        Begitu pula PDKB tidak mengemukakan penilaiannya terhadap pelanggaran
HAM yang dilakukan pemerintahan Soeharto dan kemudian pelanggaran HAM itu masih
terdapat dalam pemerintahan Habibie. Faktor itu pun akan turut mempengaruhi
sikap para pemilih dalam menentukan pilihannya pada pemilu mendatang.

PARTAI KEADILAN DAN PERSATUAN

        Meutia Hatta pertama-tama menyangkal kalau PKP dikatakan partai
sempalan. Kami adalah partai yang memperjuangkan hak-hak keadilan rakyat demi
terciptanya persatuan Indonesia yang kokoh. Meski di antara kami banyak
yang bekas pejabat Orba, jangan dianggap pikiran kami ini tidak berubah.
        Tentang sistem politik di masa depan, ujar Meutia, kita akan dukung
sepenuhnya proses demokratisasi di negara ini. Kita adalah partai yang
benar-benar ingin keadilan ditegakkan di negara ini. Keadilan selama ini
sangat sulit diperoleh rakyat, apalagi terhadap kalangan bawah. Karena itu
kita ingin ikut memperjuangkan hak-hak rakyat yang selama ini dipasung,
diinjak-injak atau dibabat oleh penguasa sebelumnya.
        Meutia juga mengatakan kita akan ikut berusaha menciptakan terwujudnya
demokrasi, kebebasan bicara, kebebasan berserikat atau berkumpul serta
kebebasan lainnya yang selama ini terpasung dengan dalih stabilitas. Tetapi
bukan berarti kami mendukung kebebasan yang tanpa batas. Kita tetap dukung
kebebasan yang bertanggungjawab. Demikian antara lain Meutia.
        Adalah menarik pernyataan Meutia "bukan berarti kami mendukung kebebasan
yang tanpa batas. Kita tetap mendukung kebebasan yang bertanggungjawab".
Kalimat itu merupakan slogan Orba dibawah kekuasaan Suharto. Rupanya masih
dilanjutkan oleh PKP. Di masa Soeharto itu berarti "kebebasan
bertanggungjawab pada Soeharto". Kalau Soeharto menganggap itu membangkang,
penjara tantangannya. Atau di dunia pers "kebebasannya bertanggungjawab pada
Harmoko". Bila Harmoko menilai "kebebasan itu tanpa batas", SIUUP pun
dicabut. Apakah tafsiran "kebebasan bertanggungjawab." PKP akan seperti itu
pula, praktek sosial nanti yang akan menjawabnya. Jika prakteknya nanti
menunjukkan sama, maka PKP adalah melanjutkan politik Orbanya Soeharto.
        Apakah PKP benar-benar akan ikut berusaha menciptakan terwujudnya
demokrasi, seperti yang dijamin Pasal 28 UUD 1945 dan Pancasila, akan dapat
diketahui apakah PKP akan menjamin pula hak warga negara yang hendak
mendirikan PKI. Hak hidup PKI dijamim oleb VUD 1945 dan Pancasila dan hal
itu dibuktikan sampai munculnya kekuasanaan fasis Orde Baru Suharto di tahun
1966. Suharto dengan memanipulasi Supersemar sebagai "pelimpahan kekuasaan"
telah melarang PKI. Padahal cukup tegas Presiden Sukarno mengatakan bahwa
Supersemar bukan pelimpahan kekuasaan, melainkan pelimpahan tugas
pengamanan. Dan pelarangan atau pembubaran PKI itu adalah tidak sah, kata
Presiden Sukarno.
        Ucapan Meutia (PKP) yang akan ikut berusaha menciptakan terwujudnya
demokrasi, masih ditunggu pembuktian di lapangan. Maklumlah kebanyakan
pemimpin PKP adalah mantan pejabat Orba, yang turut memasung demokrasi dan
menginjak-injak hak rakyat di masa Soeharto berkuasa. Apakah memang mereka
telah benar berubah, atau belum, praktek nanti akan menjawabnya. Apakah akan
sesuai kata dengan perbuatan.

KESIMPULAN

        Ruangan "Nyoblos Yo!" Merdeka turut membantu memberi pendidikan politik
pada rakyat, terutama bagi pembaca Merdeka. Pembacanya akan dapat mengetahui
mana partai politik yang sungguh-sungguh memihak demokrasi rakyat, yang
benar-benar hendak menegakkan keadilan dan kebenaran dan mana pula partai
yang tak sesuai kata dengan perbuatannya, yang dalam kata-kata seakan-akan
menunjukkan cintanya pada rakyat, tapi dalam praktek jauh panggang dari api.
        Adalah keliru bila masih ada yang menduga atau memperkirakan bahwa rakyat
atau massa pemilih masih bisa dikibulin, masih bisa diperdayakan dengan
kata-kata manis oleh seorang pembicara atau pemimpin. Pengalaman pahit,
terutama selama 52 tahun dibawah kekuasaan rezim Soeharto yang zalim, telah
"mendidik" rakyat menjadi kritis.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Feb 1999 jam 04:23:11 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke