----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


MARHAENIS GADUNGAN BERNAMA PROBOSUTEDJO

Oleh: Sulangkang Suwalu

        Jawa Pos (1/2) memberitakan bahwa rezim Soeharto memang benar-benar#
masih kuat. Buktinya, kerabat dekatnya, Probosutedjo, masih bisa dikukuhkan
menjadi Ketua PNI, setelah sukses menggulingkan putri Bung Karno, Rachmawati
Soekarnoputri, dalam Kongres PNI di Jakarta yang berakhir kemarin.
        Perebutan kekuasaan di PNI ini memang cukup menarik. Pasalnya Probo
maupun Rachmawati masing-masing menggambarkan rezim Soeharto-Bung Karno.
Perseteruan terjadi sejak kongres dimulai, bahkan karena serunya perseteruan
itu, kongres yang mestinya ditutup 30 Januari, terpaksa molor sehari.
        Namun kemenangan Probo ini menimbulkan desas-desus yang terkesan
negatif. Misalnya muncul tuduhan bahwa Probo menggunakan money politics demi
mengalahkan Rachmawati.
        Tapi sasus itu langsung dibantah Probo. Menurut Probo, dirinya tidak
pernah menggunakan uang hanya untuk kepentingan kekuasaan. "Memang saya
memberikan uang dalam kongres. Tapi pemberian itu bukan bertujuan agar saya
dipilih. Saya sering memberikan uang kepada rakyat miskin dan kepada siapa pun.
Bahkan Amien Rais pernah saya bantu. Apanya yang salah, kalau sekarang saya
bantu PNI," katanya.
        Menurut sumber di PNI Probosutedjo bakal menemui kesulitan menjalankan
amanat kongres menyangkut penyatuan PNI, yang kini terpecah menjadi tiga
PNI, yang dibangkitkan 21 Mei 1998 lalu, yaitu PNI yang di Ketuai Ny.
Supeni, PNI yang di Ketuai Bachtiar Oacha Chalik dan PNI yangt di Ketuai
Maruli Pardede. PNI Maruli Pardede inilah yang kini memilih Probosutedjo.
        Memang benar, PNI harus bersatu kata Probo. Para kader PNI harus
bercita-cita mengembalikan kebesaran PNI. Jangan sampai PNI hancur karena
perebutan kekuasaan sesama anggotanya. Sifat seperti ini bukan sifat kader
marhaen sejati.
        Selain itu Probo mengingatkan para kader PNI agar memperhatikan ajaran
Bung Karno. Ajaran Bung Karno yang perlu diingat adalah ajaran yang pro-aktif
membela wong cilik. Sejak berdiri 1927 yang lalu, PNI hendak mewujudkan
ajaran itu melalui karya nyata membela nasib wong cilik dan meningkatkan
kesejahteraan rakyat miskin.
        Ajaran Bung Karno sebagai Bapak Marhaen, itu masih relevan kecuali
ajaran Nasakom yang memang menyimpang.
        Ajaran marhaenisme Bung Karno yang ingin menyelamatkan wong cilik itu,
lanjut Probo sebenarnya telah dilakukan pemerintahan Orde Baru. Hal itu
dibuktikan saat Orde Baru dengan bertahap mampu mengentas masyarakat miskin.
Sayang tutur Probo, prestasi Orba ini justru mandek pada zaman reformasi.
Nasib rakyat miskin malah makin terpuruk.
        Dari berita tersebut, terutama dari pernyataan Probosutedjo tentang
ajaran Bung Karno menimbulkan beberapa pertanyaan. Di antaranya: Apa kah
Probosutedjo itu seorang marhenis? Apa kah tanpa ajaran Nasakom, masih dapat
dikatakan ajaran Bung Karno? Apa kah Orba melaksanakan ide menyelamatkan wong
cilik dari Bung Karno?

PROBOSUTEDJO BUKAN MARHAENIS

        Karena Probosutedjo membawa-bawa nama ajaran Bung Karno dan Marhaenisme,
maka ada baik diketahui lebih dulu apa yang dimaksud dengan Marhaen dan
Marhaenisme oleh Bung Karno.
        Bung Karno dalam tulisannya "Marhaen dan proletar", yang dimuat dalam
Pikiran Rakyat tahun 1933 (DBR, 1963, hal: 253-254) mengemukakan bahwa dalam
Konferensinya di Kota Mataram baru-baru ini, Partindo telah mengambil
putusan tentang Marhaen dan Marhaenisme, yang punt-punt antara lain sebagai
berikut:

1. Marhaenisme, yaitu sosio nasionalisme dan sosio demokrasi.
2. Marhaen, yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat
dan kaum melarat
   Indonesia yang lain-lain.
3. Partindo memakai perkataan Marhaen, dan tidak proletar, olehl karena
perkataan proletar itu bisa juga diartikan bahwa kaum tani dan lain-lain
kaum yang melarat tidak termaktub didalamnya.
4. Karena Partindo berkeyakinan, bahwa didalam perjuangan, kaum melarat
Indonesia lain-lain itu yang harus menjadi elemen-elemennya
(bagian-bagiannya), maka Partindo memakai perkataan Marhaen.
5. Didalam perjuangan Marhaen itu, maka Partindo berkeyakinan, bahwa kaum
proletar mengambil bagian yang besar sekali.
6. Marhaenisme adalah azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan
negeri yang didalam segala halnya menyelamatkan Marhaen.
7. Marhaenisme adalah pula cara perjuangan untuk mencapai susunan masyarakat
dan susunan negeri yang demikian itu, yang oleh karenanya, harus suatu cara
perjuangan yang revolusioner.
8. Jadi marhaenisme adalah cara perjuangan dan azas yang menghendaki
hilangnya tiap-tiap kapitalisme dan imperialisme.
9. Marhaenis adalah tiap-tiap orang bangsa Indonesia, yang menjalankan
Marhaenisme.

        Menurut Bung Karno sembilan kalimat dari putusan ini sebenarnya sudah
cukup terang menerangkan apa artinya Marhaen dan Marhaenisme. Memang
perkataan-perkataannya disengaja perkataan-perkataan yang populer, sehingga
siapa saja membacanya, dengan segera mengerti apa maksud dan dimaksudnya.
        Berpegangan kepada 9 kalimat diatas kita bertanya: apakah Probosutedjo
termasuk kaum Marhaen dan karena itu jadi Marhenis? Dan apakah Probosutedjo
juga menjalankan Marhaenisme?
        Yang pasti, Probosutedjo bukan seorang proletar, bukan seorsng kaum tani
yang melarat atau kaum melarat lainnya. Probosutedjo seorang kaya-raya,
seorang kapitalis (konglomerat). Dia tidak termasuk dalam sub (2) kaum
Marhaen dan Marhaenisme. Jadi, Probosutedjo bukan seorang Marhaen atau
Marhaenis.
        Seorang Marhaenis menurut ajaran Bung Karno diatas, ialah seorang yang
menjalankan Marhaenisme. Yang berarti, yang berjuang menghilangkan tiap-tiap
kapitalisme dan imperialisme. Bila Probosutedjo menjadi seorang Marhaenis,
dia harus berperang melawan dirinya yang kapitalistis. Itu satu hal yang
tidak mungkin. Atau kesadaran Probosutedjo sudah demikian tingginya,
sehingga ia persetankan dirinya yang kapitalistis itu.
        Tampaknya Probosutedjo tidak mengetahui ajaran Bung Karno tentang
Marhaen dan Marhaenisme, atau mengetahui, tapi tak mempedulikannya.
Probosutedjo
mencoba memanipulasi ajaran Bung Karno untuk kepentingan pribadi dan Orde Baru.

PROBOSUTEDJO MARHAENIS GADUNGAN

        Menurut Probosutedjo ajaran Bung Karno itu masih relevan, kecuali ajaran
Nasakom yang memang menyimpang. Apa artinya ucapan Probosutedjo yang
mengecualikan Nasakom dan Nasakom itu dianggapnya menyimpang dari ajaran
Bung Karno?
        Untuk menjawabnya baiklah kita kutip apa yang dikatakan Bung Karno
tentang dirinya tidak menyebutkan "Nasamarx", atau "Nasasos" melainkan
"Nasakom", seperti yang beliau kemukakan ketika memperingati ulang tahun ke-45
PKI di Jakarta.
        Menurut Bung Karno ada orang yang bertanya pada beliau: kenapa politik
Bung Karno menggabungkan semua tenaga anti imperialis, semua tenaga
revolusioner
dalam perkataan Nasakom? Kenapa "Kom"? Kenapa kok tidak seperti tahun dua
puluh enam, waktu Bung Karno pertama kali mencetuskan ide persatuan dari
tenaga-tenaga revolusioner ini? Nasionalis, Islam dan Marxisme atau
Nasionalis, Agama, Marxisme, kenapa Bung Karno tidak memakai kata Nasamarx?
Kok pakai perkataan Nasakom? Kenapa "Kom"? Kenapa tidak "sos"? Kenapa tidak
"marx"? Nasamarx atau nasasos? Kok Bung Karno memakai perkataan Nasakom?
        Jelaslah saudara-saudara, dengarkan perkataan yang paling dicatut,
dicatut oleh pencoleng-pencoleng politik, oleh coro-coro politik, perkataan
yang
paling dicatut oleh pencoleng dan coro-coro ini ialah perkataan marxisme
saudara-saudara.
        Saudara-saudara mengetahui bahwa misalnya PSI, Partai Sosialis Indonesia
yang sudah saya bubarkan itu. PSI itu selalu menepuk-nepuk dada: kami
marxis, kami marxis, kami marxis! Saya berkata mereka bukan marxis! Mereka
pencoleng daripada marxisme. Karena itu aku tidak mau memakai perkataan
Nasamarx, kalau aku memakai perkataan nasamarx, jangan-jangan nanti orang
PSI ikut-ikut dalam nasamarx ini. Padahal mereka adalah kontra revolusioner
tulen, padahal mereka adalah pencoleng marxisme!
        Kecuali itu saya dengan sengaja memakai perkataan "Kom", Nasakom, oleh
karena di Indonesia ini banyak orang yang phobi kepada Kom, artinya takut
pada "Kom", khususnya takut kepada PKI, benci kepada PKI, hendak menghancur
leburkan PKI, terus terang saja, di kalangan Nas ada yang komunisto phobi,
di kalangan agama ada yang komunis phobi, di kalangan Angkatan Bersenjata
dulu ada yang komunis phobi, nah penyakit phobi ini hendak saya berantas.
        Maka oleh karena itu dengan sengaja didalam penggabungan nationale
revolusioner krachten ini saya pakai perkataan "Kom", sekali lagi "Kom". Kom
benar, lho. Karena ada juga "kom" gadungan, marhaenis gadungan, marxis
gadungan. Padahal didalam perjuangan kita anti imperialis, tidak boleh
mempersatukan tenaga-tenaga gadungan tenaga-tenaga gadungan itu malahan
lebih membahayakan, lebih berbahaya dari imperialisme itu sendiri, itulah
sebabnya tempo hari saya perintahkan bubarkan BPS dan antek-antek BPS (Media
Dakwah, No 289 Rabiul Awal 1419/Juli 1998, hal: 30-31).
        Dengan keterangan Bung Karno ini menjadi jelas bahwa perkataan Nasakom
itu tidak menyimpang. Yang mengatakan menyimpang, sesungguhnya mereka itulah
yang gadungan. Jadi, Probosutedjo adalah Marhaenis gadungan. Ia hendak
menyunat sebagian ajaran Bung Karno yang memang bisa merugikan pribadinya
sebagai konglomerat.

PROBOSUTEDJO HENDAK MENGHIDUPKAN ORBA KEMBALI

        Yang sangat menarik adalah perkataan Probosutedjo bahwa ajaran Marhaenisme
Bung Karno yang ingin menyelamatkan wong cilik itu telah dilakukan Orde
Baru. Probosutedjo nampaknya hendak mengatakan: jangan lupa pada jasa-jasa
Orde Baru di bidang pembangunan yang telah mengentas masyarakat miskin.
Benarkah demikian?
        Apa yang dikatakan jasa-jasa pembangunan Soeharto yang disebutnya berhasil
tersebut, menurut Subadio Sastrosatomo adalah karena kehadiran beberapa faktor:

1. Tumpah-darah Indonesia, bumi, tanah dan airnya melimpah ruah kekayaannya,
sehingga dirampok dan diperas oleh selurh elit Orde Baru bersama seluruh crony
kapitalisnya, Indonesia tetap tidak habis-habis sumber-sumber kekayaan.
2. Boom minyak yang terjadi di awal tujuh puluhan akibat embargo minyak oleh
negeri-negeri Arab. Dan juga sangat penting: kondisi ekonomi yang sedang
kiprah di negeri-negeri Pasifik Barat, seperti Jepang, Korea, hongkong,
Taiwan dan Singapura, kesemuanya itu mempunyai dampak positif yang ikut
mengakselerasi perkembangan ekonomi Indonesia.
3. Pintu terbuka bagi investasi modal asing dan bantuan masif luar negeri
terus menerus yang setiap tahun mengalir dan meningkat jumlahnya. "Bantuan"
yang ternyata adalah utang dollar yang sekarang ditagih dan sulit atau tidak
mampu membayar kembali.
4. Support politik negeri-negeri kapitalis Barat yang sangat berterima kasih
kepada Soeharto yang telah menyingkirkan Sukarno, menghancurkan PKI dan
komunisme di Indonesia. Kaum kapitalis asing ini pun ramai-ramai menikmati
kekayaan sumber alam Indonesia dan murahnya upah buruh Indonesia.
5. Last but not least, tangan besi Suharto menegakkan stabilisasi politik
tak peduli korban apa pun yang harus dibayar untuk itu. Depolitisasi total,
represi kejam terhadap kebebasan-kebebasan demokratis rakyat, merebut
kedaulatan rakyat demi pembangunan ekonomi.

        Dengan secara mengejek Soebadio Sastrosatomo mengatakan prestasi
sedemikian hebat yang diraih Soeharto tak mungkin dilakukan oleh seorang
pemimpin seperti Soekarno-Hatta atau Sjahrir. Sebab orang yang mau mencapai
"sukses" seperti itu, harus tidak mempunyai hati nurani, harus sanggup
menginjak-injak kedaulatan rakyat, harus tegar menyingkirkan warganya
sendiri, mengisi padat penjara, menggusur petani dari tanah dan sawahnya
baik untuk lapangan golf, hotel, office building puluhan tingkat, maupun
industri-industri yang dibangun dengan pinjaman luar negeri. Jelas, founding
fathers kita sebagai politisi berbudaya, yang sudah berkenalan dengan
Aufklarung, mengerti demokrasi dan hak-hak azasi manusia, tidak akan sanggup
menginjak-injak kedaulatan rakyat seperti itu. Hanya Suharto yang mampu
melakukannya (Soebadio Sastrosatomo "Manifes Kedaulatan Rakyat", 1998, hal:
13-14).
        Jelas kiranya, bahwa apa yang dilakukan Orde Baru bukan melaksanakan ajaran
Marhaenisme guna menyelamatkan wong cilik, justru menjerumuskan wong cilik
ke lembah kesengsaraan, demi kepentingan kaum kapitalis keluarga Cendana
(termasuk Probosotedjo) dan kroni-kroninya.

PROBOSUTEDJO SUPAYA MINGGIR

        Menurut harian Padang (4/2) Dr Maruli Pardede, Ketua Umum PNI akan
mengaajukan Probosutedjo ke pengadilan. Alasannya karena Probosutedjo telah
mengkudeta kursi Ketua Umum PNI melalui politik murahan, alias suap di arena
Kongres PNI beberapa hari yang lalu.
        Maruli menuntut supaya Probosutedjo secepatnya meninggalkan PNI. Pertama
kata Maruli, dia datang ke PNI bukan atas landasan ikhlas menganut ajaran
Marhaen. Dia datang sengaja untuk mengobok-obok PNI. Kedua, Probosutedjo
telah melukai kader-kader PNI, massa Marhaen dengan cara menerapkan politik
kotor di tengah Kongres. Demi terpilihnya sebagai Ketua Umum PNI, dia
membeli ideologi massa marhaen dengan kekayaan yang dimilikinya.
        Bagaimana cara Probo membeli ideologi marhaen? Dr Maruli menceritakan
bahwa pada saat kongres berlangsung di Hotel Wisata Ancol 28-31 Januari yang
lalu, Probo meneror peserta kongres melalui tangan panitia kongres yang
diketuai
oleh Sadar Sibarani. Saat itu, Probo telah mentransfer dana taktis ke
rekening pribadi Sadar Sibarani sekitar Rp. 900 juta.
        Oleh Sadar Sibarani uang taktis itu langsung digunakan untuk membeli suara
kader marhaen. Sebelum itu panitia menakut-nakuti peserta kongres agar
memilih Probo, panitia tidak akan memberi makan peserta dan tidak akan
memberi sangu pulang ke daerah masing-masing se Indonesia.
        Teror ini cerita Maruli awalnya tidak efektif mempengaruhi semua peserta.
Buktinya, hingga pukul 03.00 dini hari pada 31 Januari persaingan antar
calon Ketua Umum tidak dapat juga diputuskan rapat paripurna. Maka atas nama
Ketua Umum PNI, Maruli mensekors rapat paripurna hingga waktu tidak ditentukan.
        Beberapa jam kemudian, pada saat semua kader PNI sudah kelelahan, ketua
panitia Sadar Sibarani membuka rapat paripurna yang hanya diikuti oleh 20
orang pendukung Probo. Otomatis secara alamiah, rapat itu memilih Probo
sebagai Ketua Umum
        Keputusan ini cacat hukum. Maka saya minta kepada Probo untuk segera
minggir dari PNI. Jangan sampai mengganggu PNI, apalagi ingin memecah belah.
Demikian Dr Maruli.
        Jadi, bantahan desas-desus Probo melakukan money politics untuk bisa
dipilih sebagai Ketua Umum PNI ternyata, adalah bantahan yang sesungguhnya
tidak membantah. Karena Probo memang mengakui memberikan dana bagi kongres
PNI tersebut.

KESIMPULAN

        Cukup gamblang bahwa Probosutedjo bukanlah marhaenis seperti marhaenis yang
dimaksud Bung Karno. Probosutedjo adalah marhaenis gadungan, yang tak
segan-segan menyunat Nasakom dari ajaran Bung Karno dan atas nama
marhaenisme, ia mencoba mengelabui masyarakat bahwa Suharto dengan Orde
Barunya mengamalkan ajaran marhaenisme Bung Karno. Padahal justru
sebaliknya. Padahal justru sebaliknya. Dengan demikian Probosutedjo hendak
menegakkan kembali Orde Baru dan menentang reformasi.
        Mengecualikan Nasakom dari ajaran Bung Karno, seperti yang dicoba oleh
Probosutedjo melakukannya, adalah dalam rangka usaha Probosutedjo untuk
membunuh ajaran Soekarno. Sebab, Nasakom merupakan inti ajaran Bung Karno.
Apa yang dilakukan Probosutedjo ini, juga telah dilakukan dalam bentuk BPS
(Badan Pendukung Sukarnoisme) di masa lalu, yang kemudian dibubarkan oleh
Presiden Sukarno, karena BPS itu sesungguhnya atas nama BPS hendak membunuh
ajaran Bung Karno itu sendiri.
        Ya, Probosutedjo sebagai konglomerat dan saudara tiri Suharto, telah
menghalalkan segala cara demi kepentingan tegaknya kembali Orde Baru
Suharto. Dengan tidak mengenal malu dimanipulasinya ajaran Bung Karno supaya
masyarakat mendukungnya sebagai Ketua PNI yang dipilih kongres PNI,
yang dibiayainya sendiri.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Feb 1999 jam 04:43:42 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke