----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

14/02/99 15:25 WIB
Pidato Lengkap Megawati: "Kita Bukan Seperti Bunglon"

Assalaamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Para deklarator, segenap pengurus partai yang terhormat, serta Keluarga
Besar PDI Perjuangan yang saya cintai. Para simpatisan dan pendukung
demokrasi yang saya banggakan; Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah
air.

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Khalik, karena
kehendakNya kita dapat berkumpul bersama-sama di tempat yang baik ini
dengan selamat sentausa.

Perkenankanlah saya, atas nama Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan dan
segenap jajaran partai, mengulurkan salam hangat serta dengan ikhlas
Mohon Maaf Lahir dan Bathin Minal Aidin Wal Faidzin 1419-Hijriah; kepada
saudara-saudaraku yang berbahagia yang hadir disini, terlebih pula
kepada segenap warga bangsa yang kukasihi dimanapun berada.

Perayaan Halal Bi Halal kali ini bermakna khusus bagi kita sekalian,
karena pada hari ini sekaligus menjadi titik awal yang bersejarah bagi
perjalanan partai kita, mengingat pada hari pula, 14 Pebruari 1999, kita
sekalian akan menampilkan wajah baru serta nama dan semangat baru dari
partai yang kita cintai bersama ini.

Walau partai kita ini, oleh sementara pihak dikategorikan sebagai partai
baru, kita semua jangan berkecil hati. Sebab, siapapun di muka bumi ini
mengetahui bahwa perjuangan kita bukanlah peristiwa baru. Bukanlah
sebuah partai yang lahir atau berubah bentuk seperti bunglon, tapi
melewati suatu proses panjang yang berliku, penuh hiruk pikuk serta
gegap gempitanya semangat perjuangan demi tegaknya demokrasi,tegaknya
hukum dan keadilan,serta dihormatinya Hak Asasi Manusia di negeri
tercinta ini.

Ketiga pemahaman perjuangan universal yang kita suarakan tersebut,
ternyata oleh rejim yang berkuasa di masa lalu dirasa sangat mengganggu,
dan mereka hadapi walau dengan kekerasan sekalipun. Tragedi berdarah 27
Juli 1996 hingga berbagai peristiwa dan perlakuan kontra produktif oleh
pihak-pihak yang lebih mengedepankan sikap arogan dan memihak bagi
kepentingan status quo kekuasaan, merupakan bukti yang telah menjadi
catatan kita semua.

Begitu pula, sangat disayangkan bahwa kesadaran, sikap patriotik serta
jiwa besar kita ini, ternyata masih dipahami secara keliru oleh mereka
yang memilih jalan pintas yang senantiasa menutup mata hatinya terhadap
kenyataan serta aspirasi yang berkembang di dalam masyarakat bangsa saat
ini.

Ditandai dengan masih berlangsungnya praktek-praktek diskriminasi
politik, dimana partai politik yang diragukan eksistensinya di
masyarakat namun tidak perlu mendaftar dan langsung bisa ikut Pemilu,
serta praktek "money politics" yang secara angkuh diakui sebagai hal
yang biasa saja, dan berbagai manuver politik yang mengabaikan
kepentingan Nasional yang lebih besar.

Hal ini menunjukkan masih dipertahankannya budaya politik orde baru yang
berorientasi pada kepentingan kelompok dan golongan sebagaimana sering
dipraktekkan di masa lalu menjelang Pemilu.

Alangkah sedihnya hati ini ketika mendengar ucapan, bahwa saudara
kandung kita, Timor Timur, dikategorikan sebagai beban bangsa, dan akan
dilepasnya beban itu 1 Januari 2000 mendatang. Dimana letak kebenaran
dan substansi dari pernyataan itu?

Bagi saya, Timor Timur adalah saudara kita sendiri, sama dengan propinsi
lainnya di negeri tercinta ini; senasib sepenanggungan dan seperjalanan
di dalam mengisi kemerdekaan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945. Tidaklah
pantas kita menyebut rakyat dan tumpah darah ini sebagai beban, tidaklah
juga terhormat kalau kita menempatkan warga bangsa sebagai objek dari
sebuah kepentingan. Apalagi kalau kepentingan itu hanyalah untuk
melarikan diri dari sebuah tanggung jawab.

Beban yang sesungguhnya bukanlah Rakyat itu sendiri,bukan
saudara-saudara kita yang di Aceh itu, bukan pula saudara-saudara kita
yang di Irian Jaya itu, dan juga bukan saudara-saudara kita di Timor
Timur atau di Jakarta sekalipun. Tetapi beban itu sesungguhnya ada;
ketika kedaulatan rakyat dikalahkan oleh kekuasaan.

Beban itu semakin membesar ketika hukum dan keadilan dinistakan demi
melayani kepentingan sekelompok orang tertentu saja, dan beban itu akan
semakin berat ketika Hak Asasi Manusia dilecehkan demi mempertahankan
status quo kekuasaan.

Oleh karenanya, yang menjadi beban sesungguhnya adalah penguasa itu
sendiri. Ada pada pemerintahan,ada pada legislatif,ada pada yudikatif,
berikut kebijakan dan produk yang dilahirkannya. Sekali lagi saya
nyatakan; beban itu bukanlah Rakyat Indonesia,--dan pasti bukan.

Oleh karena itu, melalui mimbar ini perkenan pula saya menghimbau kepada
segenap warga bangsa untuk tetap istiqomah, berserah diri serta elingo,
sesadar-sadarnya, bahwa negeri yang indah dan telah memberi kehidupan
dan penghidupan ini, adalah karunia serta berkah dari Allah SWT.

Begitu pula kemerdekaan, kesejahteraan dan keamanan negeri ini, bukanlah
ciptaan ataupun hak manusia orang-perorang untuk merekayasanya secara
sembrono. Sepantasnyalah negeri merdeka ini diisi oleh keindahan,
kedamaian yang berperadaban dan berkeTuhanan,bersih dari hal-hal yang
kotor,terbebas dari kedengkian antar sesama warga bangsa,dan sangatlah
tidak pantas dipakai sebagai tempat untuk menghujat terlebih untuk
saling menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa kita.

Begitu pula, ketika kita menghadapi berbagai persoalan dan krisis yang
tengah mendera bangsa saat ini,semangat dan sikap Kebangsaan lah yang
sepatutnya lebih dikedepankan, wajah kenegarawananlah yang mestinya
ditampilkan oleh para pemimpin bangsa ini, dan bukan sebaliknya.

Kesimpangsiuran pernyataan yang tujuannya hanya untuk mengaburkan
berbagai soal dan tanggung jawab, serta membiarkan merebaknya berbagai
kabar angin yang membuat Rakyat semakin bingung; semua ini justru hanya
akan memicu kekacauan dan melahirkan masalah-masalah baru yang jauh
lebih pelik untuk diselesaikan.

Saudara-saudara seluruh warga bangsa, simpatisan serta segenap jajaran
partai yang saya hormati. Sebagaimana telah saya kemukakan di awal
sambutan ini, bahwa perjuangan kita telah menempuh jalan panjang
berliku, dan kadangkala harus menaruh pilihan pada sesuatu yang tidak
mengenakkan. Namun saya percaya, bahwa gemblengan pengalaman selama ini
serta ketegaran iman perjuangan kita, telah memberi kekuatan luar biasa
bagi partai untuk senantiasa berdiri tegak dan melangkah maju.

Kongres V partai di Bali, 9-11 Oktober 1998 lalu, ternyata tidak hanya
menyemangati kita untuk semakin yakin dan tegar, bahkan lebih daripada
itu mengamanatkan; demi tercapainya reformasi total yang konstitusional
dan damai, kesertaan kita dalam Pemilu 1999 menjadi keharusan.

Untuk mengamankan kesertaan kita dalam Pemilu nanti, Kongres V partai
telah pula memberikan wewenang penuh kepada Ketua Umum terpilih untuk
menentukan langkah-langkah yang dianggap perlu dan strategis. Artinya,
termasuk memutuskan segala sesuatu yang mendasar sekalipun yang akan
dipertanggungjawabkan pada Kongres yang berikutnya.

Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, perlu diketahui, walau saya
sebagai Ketua Umum terpilih dalam Kongres V di Bali telah diberi
wewenang serta keleluasaan penuh, bukanlah berarti saya boleh dengan
leluasa memutuskan segala sesuatunya menuruti kehendak saya pribadi. DPP
partai selama ini telah menerima begitu banyak masukan dan desakan
berikut segala argumentasi yang datang dari warga dan simpatisan partai
maupun masyarakat luas, yang intinya agar partai yang saya pimpin ini
segera merubah nama dan memperbaharui tanda gambar partai kita.

Setelah melalui kajian yang matang serta telah disahkannya Undang-undang
bidang Politik, khususnya tentang Partai Politik dan Pemilihan Umum,
maka demi penghormatan kita terhadap konstitusi, tampaknya tak ada
alasan bagi saya untuk menunda hal ini, yakni melakukan perubahan nama
dan lambang partai dan segera mendaftarkannya pada Departemen Kehakiman
Republik Indonesia.

Saudara-saudara, warga partai yang saya banggakan, perlu rasanya saya
menguraikan segala perubahan yang berkaitan terhadap nama dan lambang
partai kita. Sebagaimana yang telah kita serahkan kepada Departemen
Kehakiman itu, nama partai kita adalah : PDI Perjuangan.

PDI Perjuangan, dimana kata PDI itu tidak perlu dipanjangkan ataupun
diuraikan, tetapi merupakan satu kesatuan PDI. Sedangkan kata Perjuangan
yang mengikutinya tidak dapat disingkatkan.

Hal ini harus saya jelaskan disini, mengingat banyak pihak yang
menuliskan nama partai kita secara keliru, dan hal ini dapat saya
maklumi karena mungkin masih menjadi sesuatu yang baru bagi mereka.
Sekali lagi saya tegaskan PDI Perjuangan, ya PDI Perjuangan dan bukan
yang lain-lain itu.

Dari nama ini, kalau ditelusuri penekanannya, maka kekentalan kita
justru pada kata Perjuangan itu. Karena Perjuangan itulah telah menjadi
pilihan kita selama ini, sebagai akibat dari tantangan yang sedang kita
hadapi serta tanggung jawab kita memperjuangkan tegaknya kedaulatan
Rakyat, mempertahankan keutuhan tumpah darah Negara Kesatuan Republik
Indonesia sepenuh dan seutuhnya, dan komitmen kita pada Undang-Undang
Dasar 1945.

Selanjutnya, lambang partai kita yang sekarang ini menempatkan wajah
Banteng yang gagah dan lebih sempurna dalam satu lingkaran utuh. Banteng
adalah simbol kedaulatan Rakyat Indonesia, yang dijamin kebebasannya
dalam mengemukakan pendapat dan pikirannya secara demokratis tanpa
membedakan suku, asal usul, agama maupun tingkatan sosialnya. Banteng
PDI Perjuangan ini, telah disempurnakan untuk menegaskan wajah serta
menunjukkan kinerja PDI Perjuangan yang spesifik dari yang lainnya.

Warna hitam dan merah yang ditampilkan Banteng PDI Perjuangan ini,
menunjukkan keberanian dalam mengungkapkan kebenaran, kejujuran dan
keadilan serta keteguhan untuk mempertahankannya. Sedangkan warna putih
yang menghiasi mulut Banteng ini, merupakan simbol ketulusan dan
keikhlasan PDI Perjuangan dalam menyuarakan Amanat Penderitaan Rakyat.

Lingkaran hitam yang menyentuh sebagian tubuh Banteng PDI Perjuangan
ini, menggambarkan perjuangan kita tumbuh dari semangat Persatuan dan
Kesatuan Perjuangan yang tiada henti.

Saudara-saudara segenap warga PDI Perjuangan yang saya banggakan, Saya
yakin sekarang semuanya menjadi jelas, dan seluruh persyaratan
perundang-undangan telah kita penuhi, sekarang ini yang menjadi
persoalan adalah kesiapan kita sekalian. Sekarang saya mau bertanya,
apakah saudara-saudara sekalian sudah siap memasuki Pemilihan Umum 1999
nant? (Pertanyaan ini kontan dijawab serempak oleh lebih dari seratus
ribu massa PDI Perjuangan dengan "Siappppppp" Apakah kita sekalian rela
dan ikhlas menyukseskan amanat Kongres V di Bali itu? (Dijawab massa
dengan "Siappppppp,")

Oleh karenanya, kalau jawaban saudara-saudara sekalian, aiap dan ya,
maka konsekuensinya kita semua harus berjuang dan bekerja keras dengan
penuh disiplin, senantiasa menjaga martabat dan wibawa partai, serta
menjunjung tinggi konstitusi dan engedepankan kepentingan Nasional
bangsa Indonesia di atas segala kepentingan lainnya.

Maka, dengan mengucapkan Bismillahhirrahmanhirrahim, saya nyatakan
penggunaan nama dan lambang PDI Perjuangan dengan resmi mulai hari ini
14 Pebruari 1999, sebagai pegangan seluruh warga partai dan masyarakat
luas di dalam kiprahnya bekerja, mendukung serta menyukseskan perjuangan
ini.

Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih, senantiasa melimpahkan rahmat dan
hidayahNya kepada kita sekalian. Selamat berjuang ! Sekian dan terima
kasih. Merdeka ! Wassalaamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Feb 1999 jam 09:12:26 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke