---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- From: Dayan Salam sejahtera ! Perkenankan saya untuk menanggapi pendapat-pendapat mengenai Timtim yang secara beruntun dilancarkan oleh Bapak Hidayat Supangkat. saya berbicara sebagai seorang warga negara Republik Indonesia, yang tidak bersikap sok tahu apalagi menganggap tahu semua persoalan. At 05:03 02-02-1999 -0700 INDONews Editors said: > <beberapa baris dihapus> >Apakah karena "hakkulyakin" bahwa kita akan kalah mutlak dalam referendum >oleh Ramos Horta lalu "coute que coute" mendobrak referendum dan langsung >masuk kewilayah "point of no return": politik mutung ancaman kemerdekaan >tanpa referendum? Saya pernah bertugas di Timtim, ketika masih menjadi mahasiswa. Setelah melihat sendiri bagaimana keadaan di sana dan bergaul dengan masyarakat di pedalaman -yang merupakan mayoritas penduduk- maka saya yakin bahwa jika diadakan referendum, hasilnya adalah meyakinkan kita bahwa mereka tetap ingin menjadi bagian Indonesia Lama, sebutan mereka untuk RI. Saya tidak ingin menjadi hakim mengenai bagaimana cara aparat sipil dan militer menangani masalah ini. Saya yakin mereka memantau forum ini, namun tidak mempunyai niat atau mungkin kemampuan membantu Tanah Air untuk melawan berbagai nistaan keji terhadap segenap warga RI. Tidak heran jika orang munafik semacam Ramos Horta -seorang diri- bisa "mengalahkan" pasukan diplomat kita, yang cuma bisa iri, mengapa kebanyakanpejabat bukan karir yang didudukkan sebagai duta besar. Maaf, jika saya berbicara agak keras. Adalah hak saya untuk demikian, karena kesal melihat cara kerja mereka. Masakan orang awam politik semacam saya yang musti memberanikan diri -dan mengeluarkan uang untuk berinternet dalam menunjang hal itu- melakukan tugas kehumasan ? Kembali kepada Timtim, saya akan sangat bergembira jika orang-orang semacam bapak Supangkat juga berbicara dalam kerangka yang adil. Kalau cuma berbicara dari balik meja atau cuma mendengar kasak-kusuk dari kiri dan kanan, sebaliknya diam saja. Saya cenderung untuk mempunyai prasangka bahwa pendapat-pendapat yang mereka keluarkan hanya untuk mengeruhkan suasana. >Oh, poor Indonesia, poor foreign policy makers, Lordie, have mercy on them! Seyogyanya mintakan itu untuk kita semua, untuk Anda dan saya. Selama ini apa yang telah dilakukan, sehingga sekarang berani mencela orang lain ? Pada waktu pemilu siapa yang kita pilih ? Jika ada yang tidak ikut memilih, apakah kita sekalian sudah memberi teladan kepada keluarga dan masyarakat, mengenai bagimana menjadi warga negara yang baik ? Jangan munafik. Jangan merasa paling tahu sendiri. Bagi saya sendiri, lebih baik warga Timtim menyelesaikan masalah mereka sendiri terlebih dulu, dalam Negara Timor Timur. Setelah itu -jika mereka merasa memerlukannya- baru mereka putuskan apa yang akan mereka lakukan, melalui suatu refendum. Bukannya saya menghitunghitung apa yang telak diberikan, namun karena capek. Capek karena harus menjelaskan kepada masyarakat di daerah saya mengapa Timtim mendapatkan terlalu banyak. Mereka sudah ikhlas memberikan banyak dari dana pembangunan yang seharusnya menjadi hak mereka. Dan kini mereka kesal, karena kerelaan itu dibalas dengan polah yang menurut mereka menjengkelkan hati. Sharif Dayan Pernah bertugas di Lequedoe, Kab. Aileu (Timtim) Palembang-Indonesia ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 16 Feb 1999 jam 09:12:09 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
