----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Habibie - Guterres Berpeluang Cairkan Hubungan RI-Portugal

Lisabon, 11/2 (Antara) - Presiden Indonesia BJ Habibie dan Perdana
Menteri (PM) Portugal Antonio Guterres berpeluang mencairkan
hubungan diplomatik kedua negara dengan mengutamakan pembicaraan
langsung guna memudahkan proses pengambilan keputusan bagi
kepentingan rakyat.

"Saya sangat senang jika kedua pemimpin negara ini saling bertemu
dan mendiskusikan pemulihan hubungan baik Indonesia-Portugal. Ini
jauh lebih baik dan akan membawa masa depan yang positif bagi
masing-masing negara," kata tokoh Perhimpunan Persahabatan
Indonesia-Portugal, Jenderal (Purn) Carlos Galvano de Melo kepada
Antara, di Cascais-Lisabon, Rabu.

Mantan anggota Parlemen Portugal itu menilai, Presiden Habibie dan
PM Guterres sama-sama pemimpin yang cerdas dan progresif dalam
menyelesaikan permasalahan. "Buktinya, kini telah terbuka
perwakilan kedua negara di masing-masing ibukota negara. Hal ini
perlu segera ditingkatkan," ujarnya.

Kedua negara sejak akhir Januari 1999 membuka Seksi Kepentingan
(Interest Section) dengan menempatkan dua pejabat, Rezlan Ishar
Jenie dan Arief Havas Oegrosono, dari Indonesia di Kedutaan
Thailand di Lisabon, dan Ny. Ana gomes dan Alfonso Malheiro dari
Portugal di Kedutaan Belanda di Jakarta. Hal itu menjadi
kesepakatan kedua negara melalui wakilnya di PBB pada 27 November
1998.

De Melo berpendapat, Guterres yang kini menjadi kandidat kuat
menjadi PM Portugal untuk masa kedua kalinya itu memiliki wawasan
positif terhadap pencairan hubungan diplomatik dengan RI, bahkan
berkeinginan menuntaskan permasalahan Timor Timur. Guterres
menjadi PM Portugal masa empat tahun pertama tahun 1995.

Namun demikian, ia menegaskan, kedua pemimpin tersebut jangan
sampai terpengaruh dengan adanya "mafia politik internasional"
atau kelompok yang didukung oleh sejumlah politisi yang ingin
memanfaatkan isu Timtim sebagai "komiditi dan ajang petualangan
politik" mereka.

"Salah seorang yang terlibat dalam kelompok ini adalah Ramos
Horta. Ia senantiasa mengatasnamakan rakyat Timtim, padahal sudah
puluhan tahun dia tidak mengadakan kontak langsung dengan Timtim,"
kata De Melo.

Selain itu, Pemerintahan Habibie dan Pemerintahan Guterres
berpeluang pula mencairkan hubungan kedua negara dengan tidak
hanya membicarakan permasalahan Timtim sebagai hal penting, karena
kerjasama bisnis dan kebudayaan jauh lebih penting lagi.

"Sudah waktunya pula kita tidak dikekang oleh isu Timtim saja,
karena saya melihat peluang bisnis terbuka lebar bagi Indonesia
maupun Portugal. Dari kerjasama kebudayaan, Indonesia dan Portugal
sudah saling mengenal selama berabad-abad. Bahkan, generasi saya
sangat mengenal Soekarno sebagai pejuang kemerdekaan dari negara
eks-kolonial," katanya.

Faktor Xanana

De Melo mengemukakan pula, Xanana Gusmao dapat menjadi salah satu
faktor yang mendukung penyelesaian Timtim dari sudut pandang
kepentingan Portugal. "Lebih baik melibatkan Xanana Gusmao sebagai
salah satu faktor penyelesaian Timtim dibandingkan Ramos Horta,"
katanya menegaskan.

Ia menilai, Xanana dalam garis perjuangannya lebih dekat dengan
rakyat Timtim, terutama Kelompok Fretilin. Sementara itu. Ramos
Horta lebih banyak memanfaatkan rakyat Timtim sebagai "komiditi
politik" guna mendapatkan pengaruh masyarakat internasional.

"Xanana dan Horta sama-sama mengaku sebagai Pemimpin Fretilin,
maka sudah seharusnya mereka ikut bertanggungjawab atas
permasalahan Timtim, termasuk kesalahan menciptakan perang sipil
di tahun 1975. Namun, saat ini saya melihat Xanana lebih dapat
menjadi salah satu faktor dalam menyelesaikan masalah Timtim,"
katanya.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Komunikasi dari Universitas Merdeka
(IUJ) di Lisabon Prof. DR Nuno Rocha menilai bahwa hingga saat ini banyak
politisi di Portugal yang memperhitungkan faktor Xanana
sebagai salah satu bahan penyelesaian isu Timtim karena status
tokoh Fretilin itu sebagai narapidana.

"Bagi sebagian besar pemerintahan Portugal adalah generasi yang
pernah merasakan sulitnya menjadi politikus yang dipenjara
sehingga mereka punya ikatan moral dengan apa yang dialami Xanana
dalam statusnya sebagai tahanan. Mereka secara moral menilai
Xanana adalah tahanan politik, seperti status yang juga pernah
mereka alami," katanya.

Oleh karena itu, politisi Portugal menanggapi positif atas
dipindahkannya Xanana ke rumah secara terpisah di luar penjara.
"Bahkan, akses yang diberikan kepada Xanana saat ini telah
menunjukkan perubahan sikap politik pemerintah Indonesia dalam
menuntaskan isu Timtim," ujarnya.

Rocha mengemukakan, tatanan birokrasi di Portugal menetapkan bahwa
dalam menuntaskan isu Timtim diperlukan kesepakatan politik dari
Presiden, Perdana Menteri, dan Parlemen. Ketiga lembaga tersebut
secara politis memiliki kekuatan untuk menetapkan undang-undang
tentang status Timtim yang hingga kini diklaim menjadi bagian
wilayah administrasi Portugal.

Selain itu, Portugal selama lima tahun terakhir ini memiliki
Komisi Permasalahan Timtim yang memiliki lobi ke Pemerintahan dan
Parlemen. "Hanya saja belakangan ini kegiatan komisi ini cenderung
vakum. Bahkan, mereka cenderung terlambat dalam memberikan reaksi
atas perubahan kebijakan dari Indonesia terhadap Timtim," tambah
Rocha.

(U.RKH1/12:56 10/2/99/JT/11/02/99 08:38/tb01)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Feb 1999 jam 09:18:01 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke