----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


ISTIQLAL (16/2/99)# PERAN BUKU DEMI KEARIFAN DALAM IPTEK (1/3)

Oleh: YB MANGUNWIJAYA

====================

CATATAN REDAKSI:
        Seperti diketahui, Romo YB Mangunwijaya PR meninggal di tengah acara
simposium "Meningkatkan Peranan Buku Dalam Upaya Membentuk Masyarakat Baru
Indonesia" yang diselenggarakan Yayasan Obor Indonesia di Hotel Le Meridien,
Jakarta, pada Rabu 10 Februari 1999.
        Tulisan ini merupakan makalah terakhir almarhum yang sempat dibacakannya.
Redaksi sengaja menurunkannya sebagai sebuah kenangan manis.

Redaksi Istiqlal
====================

        Bila kita menyinggung IPTEK, maka kita menghadapi suatu fenomen mengagumkan
yang serba amat cepat berubah dan berkembang. Apalagi dengan mekarnya sektor
teknologi dan industri perangkat lunak yang penuh inovasi dan
kejutan-kejutan baru. Sehingga kita dapat bertanya diri, apa mungkin benda
buku dapat mengikuti lomba kemajuan yang begitu cepat? Buku, (yang sudah
berusia lebih dari 600 tahun sejak Johann Gutenberg menemukan teknik cetak
buku, dan lebih kuna lagi bila kita ingat pada seni cetak di kertas oleh
bangsa Cina), pada dasarnya benda mati, terbuat dari papirus atau bahan
serat aneka jenis; yang dicetaki tanda-tanda, huruf-huruf atau gambar-gambar
dengan tinta; dan yang bila tidak sedang dibaca, tersimpan dalam rak almari
atau tergeletak di meja.
        Benda buku inersinya alot sekali bila dibanding dengan dinamika kelincahan
huruf-huruf tanda-tanda atau gambar-gambar pada layar elektronik; dengan
disket-disket atau piringan CD yang amat tipis dan ringan. Buku, bila sudah
menjadi perpustakaan, ternyata sarana baca yang lebih berat dan lebih tidak
praktis daripada komputer-komputer generasi awal yang raksasa dan mengambil
tempat terlalu banyak bagi orang moderen. Terlalu mammut atau kuda Nil
dibanding si kancil alat-alat elektronik. Dan kapasitasnya pun terlalu
terbatas. Apakah buku sebagai sarana informatip masih punya harapan bersaing
dengan perangkat-perangkat lunak dan keras dari dunia chips dan silikon?
Apalagi bila menyangkut ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi yang juga sama
dinamikanya, cepat menginovasi diri tiada henti?

BUKU DAN MEDIA ELEKTRONIK
        Memang, buku menikmatkan pembaca dalam kursi malas di samping secangkir
kopi dan kue keripik. Tanpa terikat oleh kursi kaku yang mengharuskan orang
duduk tegak dengan mata yang pedas karena dibom terus-menerus oleh
elektron-elektron yang beterbangan dari layar kaca. Buku bagaikan andong
atau dokar yang ditarik kuda dengan lonceng-lonceng kecil yany berdenting
merdu bagi orang yang sedang bernostalgia ke tempo dulu van voor de oorlog,
ketika nasi gudek seperseratus rupiah sudah berlauk seiris telur rebus,
ketika sepeda rakyat hanya 25 rupiah harganya; dan negeri serba tenteram dan
damai, maling pasti tertangkap, dan barang curian pasti ditemukan polisi dan
dikembalikan tanpa tebusan satu sen pun kepada pemilik. Elok dan antik,
artinya berharga, akan tetapi kini dokar mustahil dipakai sebagai kendaraan
antar-kota.
        Oleh karena itu, jika kita ingin berkembang dalam IPTEK, rupa-rupanya
saranna pengembangannya atau saluran informasinya tentulah paling efisien
bila kita memakai alat-alat elektronik. Komputer masa kini dengan
kemampuan-kemampuan grafisnya, akan tetapi terutama dengan jaringan-jaringan
lintas batas-batas nasional maupun samudera sudah begitu canggih dan serba
bisa, sehingga sarana buku sungguh merana serba kurang praktis bila
dibandingkannya. Perpustakaan buku dan ensiklopedia acuan dalam
deretan-deretan rak dan almari bagaikan rimba jilid-jilid yang terlalu
berbelit bagi para inovator laboratorium yang harus bekerja cepat dengan
ratusan acuan ilmiah yang disebar di seluruh dunia; sehingga rasanya si buku
sudah harus merasa tahu diri bila ditinggalkan.
        Namun apakah sesuram itu kedudukan dan peran buku dalam dunia informasi
iptek moderen dan paska-moderen dengan pusat-pusat ganda yang serba
terpencar itu? Ya dan tidak.
        Memang para pakar profesional sudah lebih suka memakai sarana-sarana yang
serba dinamis dan cepat. Memang kadang-kadang informasi dapat dicari dalam
buku, akan tetapi seumumnya perpustakaan klasik hanya digunakan okasional
saja. Bukan sarana sehari-hari dan sesaat-saat. Hanya apabila kita
berhadapan dengan iptek yang sederhana saja, yang konvensional tradisional,
yang mungkin hanya setingkat pengetahuan popular atau buku-buku pegangan
setingkat montir atau ibu-rumah tangga, buku tentang IPTEK masih praktis.
Sama juga bila ingin pergi ke pasar, kita pun tidak akan memakai sarana
canggih pesawat terbang.
        Namun para ibu rumah tangga di hari depan akan lebih menggunakan PC
daripada repot-repot pergi ke perpustakaan kota atau bila memesan barang
pribadi dari super-market. Lalu apa yang dapat diperankan oleh buku?
Khususnya demi pengembangan yang sebaik mungkin dari IPTEK di Indonesia?
Sebelum menjawab itu, perlulah kita mengingat ulang dulu dunia
ilmu-pengetahuan dan teknologi, sikap perangai bahkan koderatnya di dalam
kehidupan konkret.

ILMU PENGETAHUAN DAN SAINS
        Ilmu pengetahuan lazimnya dibagi dalam dua wilayah besar, ilmu pengetahuan
dalam arti umum, yakni segala yang diihtiarkan dan diraih manusia secara
sistematis dalam wilayah tahu dan paham secara nalar. Sedangkan yang khusus
yang oleh dunia profesional disebut sains (dari bahasa Inggris science),
menuntut aturan-aturan kerja yang ketat berdasarkan metodologi
eksperimentasi eksak; tidak boleh berspekulasi sedikit pun.
        Semua kesimpulan sains memerlukan pembuktian menurut aturan-aturan
pengukuran yang metodis dan sanggup diungkapkan adekuat dalam bahasa
matematika. Langkah demi langkah harus dilalui agar jangan sampai ada satu
mata-rantai argumentasi sedikit pun lemah pembuktian kebenarannya. Di sini
jalan empiris-lah (pengamatan, pengukuran, dan pencatatan fakta dari fase
belum tahu ke tahu sesuatu) yang dilalui; jadi tidak berdasarkan kewibawaan
dari apa dan siapa pun. Dengan kuantifikasi lewat prosedur induktip: dari
pengetahuan konkret khusus yang jelas dan nyata ke pengetahuan umum yang
lebih abstrak. Eksperimen, pengukuran kuantitatip matematis bergerak dari
yang lebih khusus ke yang lebih umum.
        Metode sains amat ketat dijalankan dalam ilmu-ilmu eksakta, fisika, kimia,
farmasi, astronomi, biologi dsb. jadi yang berhubungan dengan benda terutama
wadaq. Semakin masuk ke dalam dunia yang hidup, unsur kuantifikasi semakin
dibarengi dengan hal-hal yang kualitatip kurang eksak, karena semakin sulit
ditangkap oleh pengukuran matematis. Sebab, lalu mulailah masuk unsur
kebebasan subyek dan terutama obyek yang tidak dapat diramal sebelumnya.
Misalnya perilaku orang-utan jauh diwarnai unsur kebebasan daripada perilaku
rayap atau kambing. Sampai sains bersua dengan manusia, masyarakat dan
kehidupan dan peri-laku manusia.
        Di sini unsur kualitas dan kemerdekaan begitu luas dan mendalam, sehingga
prediktibilitas mekanis amat kecil. Maka metodologi ilmu-ilmu pengetahuan
yang menyangkut manusia sudah tidak dapat lagi melulu mengandalkan observasi
dan pengukuran matematika belaka. Oleh karena itu sains nisbi lebih
berfungsi dalam ilmu-ilmu pengetahuan alam daripada dalam ilmu-ilmu manusia
dan sosial. Apalagi bila orang sudah masuk dalam sastra, musik, filsafat,
teologi dst., yang tetap ilmu pengetahuan juga karena dilaksanakan secara
rasional lagi sistematis, tetapi sudah sulit dikategorikan dalam sains dalam
arti ketat, yang digenangi oleh metode pengukuran kuantifikasi matematis.
        Namun kedua-duanya, ilmu-ilmu sains (terutama tentang alam) maupun
ilmu-ilmu tentang manusia, masyarakat, filsafat ataupun teologi punya
kesamaan, yakni: yang dominan ialah peran pemikiran, nalar, otak, rasio.
Jika yang dominan hanya perasaan, intuisi, atau ketentuan-ketentuan a-priori
dari Wahyu atau perintah agama, mistik sufi misalnya atau
spekulasi-spekulasi, dogma ataupun khayalan, maka itu tidak tergolong ilmu
pengetahuan lagi apalagi sains. Mungkin masih disebut ngelmu, tetapi lainlah
isi, fungsi, watak, wilayah operasionalnya serta nilai kebenarannya.
        Selain itu ilmu pengetahuan harus dikerjakan sistematis, tidak acak-acakan,
dan harus konsisten. Sistematis, dengan menggunakan metode berdisiplin yang
sesuai dengan obyek yang diilmukan itu.
        Dan ke tiga, sains harus mengupayakan kadar obyektivitas tinggi; bukan
hanya ujaran-ujaran subyektip melulu yang setiap kali dan setiap ada kasus
baru, kesimpulannya berubah pula, apalagi tergantung selera atau perasaan
sesaat. Obyektip artinya, tidak ditentukan oleh kehendak atau selera
perasaan orang, namun berakar pada realitas benda atau peristiwa nyata di
luar manusia; lagi mempunyai hukum-hukumnya sendiri yang sedikit banyak
dapat diandalkan teratur dalam hukum sebab (cause) dan akibat (effect)nya.
Dapat dipastikan suatu akibat selalu akan terjadi jika sesuatu penyebab atau
prasyarat tertentu dipenuhi.
        Obyektivitas dapat berkadar tinggi ataupun tidak. Misalnya (sedikit banyak)
obyektip orang yang merasa pusing dapat sembuh bila dikeroki atau ditempeli
koyuk. Tetapi pengetahuan mengenai sebab-akibat gejala kerokan atau koyuk
tergolong pengetahuan pra-sains atau
pra-ilmu-pengetahuan-dalam-artian-moderen. Walaupun begitu tidak perlu
diremehkan. Hampir semua pengetahuan tentang obat-obat tradisional atau
acuan gugusan bintang demi navigasi kapal maupun irama waktu bertani secara
tradisional adalah pra-sains, akan tetapi sangat berguna. (BERSAMBUNG)


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Feb 1999 jam 12:32:00 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke