---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk MEGAWATI TUDING PEMERINTAH TAK BERTANGGUNGJAWAB SOAL TIMTIM JAKARTA (SiaR, 15/2/99), Ketua Umum PDI Perjuangan menuding pemerintah sebagai tak bertanggung-jawab setelah mendengar pidato Presiden BJ Habibie beberapa waktu lalu yang menyebutkan Timor-Timur (Timtim) sebagai beban bangsa, dan beban itu akan dilepaskan pada 1 Januari 2000. "Di mana letak kebenaran dan substansi dari pernyataan itu," tegas Megawati dihadapan lebih 120.000 pendukungnya yang memadati Stadion Utama Senayan, ketika membacakan pidato politiknya dalam kaitan pendeklarasian nama dan lambang PDI Perjuangan, Minggu (14/2) kemarin. Menurut Megawati, tidak lah pantas menyebut rakyat sebagai beban, karena sesungguhnya yang jadi beban adalah pemerintah sendiri. Masih menurut Megawati, bukan rakyat yang ada di Aceh, Irian Jaya, maupun Timtim yang menjadi beban, tapi pada pemerintahan, legislatif dan yudikatif berikut kebijakan dan produk yang dilahirkannya -- berkaitan dengan kasus-kasus pelanggaran HAM di ketiga wilayah tersebut, beban yang sesungguhnya. "Bagi saya, Timtim adalah saudara kandung kita sendiri. Tidak pantas kita menyebut rakyat dan tumpah darah ini sebagai beban. Tidak terhormat kalau kita menempatkan warga bangsa sebagai objek dari sebuah kepentingan. Apalagi kalau menempatkan kepentingan itu hanya lah untuk melarikan diri dari sebuah tanggung-jawab," tegasnya disambut gegap-gempita ratusan ribu pendukungnya yang memerah-totalkan Stadion Utama Senayan yang diklaim PDI Perjuangan sebagai bernama Gelora Bung Karno itu. Ini kali ke dua tokoh PDI Perjuangan melakukan semacam klarifikasi terhadap statemen sebelumnya tentang Timtim yang dinilai berbagai kalangan sebagai kontroversial itu. Sebelumnya, tokoh deklarator PDI Perjuangan, Sabam Sirait, pekan lalu dalam sebuah diskusi tentang Timtim yang diprakarsai "Fortilos", mengkritik media-massa yang dinilainya sebagai memenggal pernyataan resmi DPP-PDI Perjuangan tentang Timtim sehingga mengaburkan substansi dari pernyataan resmi tersebut. Dalam kesempatan itu, Sabam Sirait membacakan secara lengkap butir-butir pernyataan resmi DPP-PDI Perjuangan yang pada bagian akhirnya menyebutkan, "�mengakui hak rakyat Tim-tim untuk menentukan nasibnya sendiri dengan cara referendum." "Pers mengutip, dan memenggal butir terakhir sehingga mengaburkan substansi," ucap Sabam itu. "Perlu saya tegaskan lagi, pernyataan resmi PDI Perjuangan itu ditujukan kepada pemerintah Indonesia, tidak kepada rakyat Timtim, karena bagaimana pun PDI Perjuangan sangat mencintai rakyat Timtim, dan bersimpati terhadap perjuangan rakyat Tim-tim," ujar Sabam Sirait. Pernyataan Megawati di hadapan ratusan ribu massa pendukungnya tersebut, mengingatkan kepada kritik tokoh Fretelin, Kay Rala Xanana Gusmao yang juga menyebutkan, pemerintah Indonesia untuk tidak lepas tangungjawab atas duapuluhdua tahun aneksasi Timtim, meskipun pada prinsipnya ia setuju dengan kemerdekaan bagi Timtim. Selain soal Timtim, Megawati juga menyoroti tentang praktek-praktek "money politics" menjelang pelaksanaan Pemilu pada Juni 1999 mendatang, serta masih dipertahankannya budaya politik Orde Baru yang berorientasi kepada kepentingan kelompok dan golongan. Acara pendeklarasian nama PDI Perjuangan itu sendiri berlangsung meriah. Ratusan ribu massa lainnya yang tak tertampung di dalam stadion terpaksa memenuhi parkir Timur Senayan, menunggu dengan tertib sehingga acara usai. Suasana di dalam stadion didominasi dengan warna merah, baik dari pakaian yang dikenakan pendukung, maupun segala atribut, dan bendera yang dikibar-kibarkan, hingga memberi suatu pemandangan tersendiri yang menarik. Dalam defile pun, memperlihatkan nuansa PDI Perjuangan sebagai partainya "wong cilik", ditilik dari para partisipan defile yang hadir. Mulai dari rombongan sopir taksi, pengelola warung-tegal, ojek sepeda ontel, korban kekerasan pelanggaran HAM rezim Soeharto, serta rombongan mahasiswa-pemuda. Tapi, sejumlah simpatisan yang hadir menyayangkan tidak adanya rombongan burut dan petani dalam defile tersebut, padahal kedua komponen itu tak sedikit yang menjadi pendukung setia PDI Perjuangan. Seusai acara, ribuan kendaraan dari berbagai jenis yang mengangkut massa simpatisan PDI Perjuangan secara tertib berangsur-angsur meninggalkan kawasan Senayan. Tak kurang 5 ribu satgas membantu aparat keamanan menjaga ketertiban. Tak ada insiden, sehingga salah seorang Wakil Sekjen PDI Perjuangan Mangara Siahaan kepada SiaR menandaskan, acara itu membuktikan bahwa masyarakat sipil mampu untuk menertibkan dirinya sendiri. "Kata siapa, sipil tak dapat berlaku dewasa dalam berpolitik? Setelah kongres di Bali, ini ke dua kali, PDI Perjuangan punya hajatan dihadiri ratusan ribu pendukungnya, berlangsung tertib tanpa kerusuhan. Mungkin benar teori yang menyebutkan, bahwa dalang kerusuhan itu kelompok status-quo," tandasnya.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 17 Feb 1999 jam 00:52:07 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
