---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk ISTIQLAL (17/2/99)# PERAN BUKU DEMI KEARIFAN DALAM IPTEK (2/3) Oleh: YB MANGUNWIJAYA TEKNOLOGI, INDUSTRI, BISNIS BESAR Ilmu pengetahuan dan sains berkarya dalam wilayah tahu dan saudaranya, yakni interpretasi. Sedangkan teknologi berkarya dalam wilayah memanfaatkan apa yany diketahui secara sains itu ke dalam penerapannya yang paling metodis dan paling efisien. Teori relativitas Einstein itu sains. Tetapi mengutak-atik membuat modul untuk mendarat di bulan atau di planet-planet dengan memanfaathan teori yang diketahui berkat genius Einstein tadi adalah teknologi. Einstein sebagai ahli sains yang berkualitas wahid sekali pun tidak mampu menyamai para insinyur teknologi dalam pembuatan roket ke bulan. Teknologi adalan terapan sains dalam salah suatu proyek secara sistematis dan seefisien mungkin, sedangkan teknik adalah terapan pengetahuan pra-sains. Teknik dapat serius, tetapi dapat juga dilakukan sebagai hobi atau iseng. Lagi pula relatip tidak terlalu canggih dan dapat murah. Misalnya membuat perahu layar, bahkan apa yang dikerjakan oleh generasi perintis yang mencipta pertama alat telefon atau mesin jahit, mengutak-atik mobil atau pesawat terbang, belum termasuk tingkat teknologi. Baru teknik. Teknologi tidak pernah bergaya hobi atau iseng. Amat sangat serius, canggih, bahkan sering kejam dan tega, dan memerlukan modal besar. Teknologi dalam bentuk proses produksi konkretnya disebut industri tinggi. Lain dari industri rumah tangga membuat tempe misalnya. Dengan hukum-hukumnya yang khas teknologi adalah suatu dunia baru tersendiri yang sebentar saja sudah berwujud raksasa. Demikian pun sains dan ilmu pengetahuan dalam fase perintisan pertama. Marie dan Pierre Curie misalnya meneliti gejala radiasi di dalam gudang reot dalam halaman rumah pribadi mereka. Begitu juga Marconi ketika bereksperimen mencipta telegrafi-tanpa-kawat alias radio atau Edison ketika mengutak-atik bolam listrik. Tetapi sekarang? Teknologi sudah begitu canggih dan memerlukan puluhan ribu sarjana dan organisasi raksasa, sehingga menjadi terlalu mahal untuk dikerjakan orang perorangan. Begitulah secara alamiah suatu permasalahan besar timbul, karena dalam dunia manusia, apa pun yany berukuran raksasa pagi atau petang selalu merupakan ancaman bagi sekian banyak orang yang bukan raksasa, relatip lemah dan tak berdaya; mudah dimanipulasi dan dininabobokan untuk ditipu; meskipun tidak sengaja; namun tetap real. Tidak hanya teknologi, induknya pun, sains juga, sudah begitu canggih dan memerlukan tenaga sarjana, modal serta organisasi begitu besar, sehingga keseluruhannya, IPTEK, di bagian akhir abad ke-20 sudah menjadi raksasa-raksasa yang kecenderungannya berjalan dengan kedaulatan dan hukum-hukum raksasa itu sendiri. Jika dulu raksasa-raksasa berwujud para ningrat dan kaum bersenjata, kemudian para kapitalis yang bermodal besar, Kini dunia IPTEK-lah yang menyusul. Atau lebih tepat: konvergesi bergerak dan akhirnya kolusi lah yang terjadi, antara raksasa kapital kekuasaan bisnis besar, dunia penguasa politik serta birokrasinya, ditambah seluruh kompleks militer, yang berkongsi dengan para pakar sains dan teknologi serta segala perangkat, perabot dan lasyakar-lasyakar pelayanan yany mereka perlukan; termasuk yang sebetulnya non-teknis, namun tersedot ke dalam konglomerat ganda mereka. APAKAH MAMPU OTOMATIS BERARTI BOLEH? Sebenarnya munculnya kaum sains dan teknologi sejak kelahirannya sudah mendapat kritik yang tidak sedikit, meskipun dengan alasan-alasan yang berlainan. Kita kenal dikhotomi-dikhotomi antara kaum ilmu pengetahuan dan para pemimpin agama; antara kaum empiris eksperimental dengan kaum dogma dan ilmu spekulatip, antara kaum pragmatis dan kaum etika, insinyur dan seniman, antara para penganut filsafat Aristoteles yang realis dan Plato yang idealis; semua itu akhirnya menyangkut pemahaman mengenai kehidupan dunia dan manusia. Antara yang amat mementingkan hal-hal yang dapat dipakai praktis (terpaksanya dengan jalan yang tidak halal atau tak bermoral) dan mereka yang lebih menomorsatukan moral dan perilaku manusiawi yang terhormat dan bermartabat, sehingga tegas mengghendaki garis-garis batas kepada segala praksis real, termasuk sains dan teknologi. Maka berkatalah yang satu: "Segala apa yany manusia mampu mengerjakannya, pada prinsipnya juga boleh dikerjakan". Sains tidak kenal batas, dan karena itu bagi manusia yang mengolah sains juga tidak ada batas aktivitas sainsnya. Sedangkan kubu yany lain berkata: mampu mengerjakan sesuatu tidak dengan sendirinya berarti boleh mengerjakannya. Karena manusia terbatas, maka wilayah sains pun terbatas. Dan yang menentukan batas itu ialah etika, moral, Wahyu, agama, peri-kemanusiawian dsb. Pada saat manusia mulai dirugikan, di saat itulah pula sains harus berhenti. Bom nuklir misalnya. Oppenheimer pun, ketua tim pakar pembangun bom atom yang pertama, yang pada awalnya tidak sadar akan konsekuensi dari karyanya yang ambisius itu, akhirnya, sesudah melihat kekejaman akibat bom yang ia buat dilempar di Hiroshima dan Nagasaki tanpa cukup alasan obyektip, akhirnya menolak untuk diajak membuat bom penerusnya, bom hidrogen. Sehingga menderita karena oleh birokrasi A.S. dicap pro Komunis, dikucilkan dan difitnah tidak semestinya. Einstein, Szilard dan banyak sarjana fisika nuklir pagi-pagi merasa terpanggil, atas nama Moral dan Peri-Kemanusiaan yang Beradab, untuh membuat petisi kepada Presiden Roosevelt, agar tidak gegabah meneruskan eksperimentasi pembuatan senjata-senjata nuklir itu, dan meminta kontrol internasional yang serius. Di sini para pakar sains dan teknologi yang paling top di seluruh dunia de facto mengakui prinsip, bahwa wilayah kerja sains dan teknologi harus diberi batas. Bukan lagi atas dasar agama tertentu, akan tetapi atas dasar universal kemanusiaan yang beradab dan garis logika self-defence terhadap pemusnahan diri bangsa manusia. Tidak semua produk IPTEK terang-benderang kejam dan menakutkan seperti persenjataan nuklir. Kebanyakan tampak netral-netral saja, bahkan anugerah dan berkat. Tetapi bila diteliti lebih cermat, misalnya soal sederhana susu kaleng, produk dunia kaya: tampaknya susu kaleng menolong para ibu untuk membuat bayi-bayi mereka menjadi lebih sehat dan lebih kekar. Akan tetapi pernah dari kalangan UNICEF dilancarkan kampanye besar-besaran untuk menentang "imperialisme dan kolonialisme susu kaleng", yang diam-diam menggusur ASI yang jauh lebih sehat bagi bayi-bayi di kalangan bangsa-bangsa negara berkembang yang seumumnya masih normal belum "dikeringkan" oleh kebudayaan IPTEK dan industri serta stress budaya teknologis negara-negara maju. Dikhawatirkan susu-kaleng pada jangka jauh justru membenihkan sumber-sumber penyakit baru yang dulu tidak pernah diderita bayi-bayi negara berkembang. Sama dengan hasil IPTEK moderen lain, pupuk pabrik dan pestisida, yang seolah-olah memperganda produksi padi dan seolah-olah menolong kaum tani, tetapi dengan akibat fatal: petani semakin melupakan pupuk kandang dan pupuk organik lain. Muncullah gerakan Petani Organik yany mengajak rekan kawan kaum petani untuk radikal maupun sistematis bertahap meninggalkan pupuk pabrik yang merusak tanah pertanian, dan memperganda kegiatan membuat pupuk kandang dan organik. Kini bahkan pihak pemerintah pun mulai sadar; dan dengan politik menghentikan subsidi pupuk pabrik, mengkatalisasi pemakaian pupuk-pupuk organik dan alami lain. JIKA SUATU SISTEM INHEREN MEMINTA TUMBAL Tetapi dalam banyak sektor konsumsi imperialisme dan kolonialisme industri dan bisnis (ingat segala produk kosmetik, mode, serta kemewahan lain yang konsumtip) lewat dunia periklanan dan media massa semakin membuat konsumen dan rakyat kebanyakan yang tak berdaya kehilangan orientasi diri serta keteguhan sikap untuk mempertahankan kehidupan-yang-bebas-manipulasi yang bermartabat. Sebab cepat ataupun pelan kehormatan dan martabat pun cenderung didikte oleh dunia industri dan bisnis, dengan IPTEK di belakangnya. Khususnya IPTEK yang mengabdi kepada industri perang sangat memperkuat dugaan yang berkembang menjadi tuduhan, bahwa pada prakteknya, konkret faktual, IPTEK tidaklah netral, akan tetapi lebih mengabdi kepada para penguasa ekonomi, politik, sosial, dan kultural daripada melaksanakan yang sudah lama digembar-gemborkan oleh para filsuf utilitarian dan pragmatis, serta para pemuja liberal sains dan teknologi: "the greatest good for the greatest number". Memang slogan kaum kapitalis liberal tentang suatu "Invisible Hand" yang akan mengatur penyelenggaraan kesejahteraan umum secara adil bagi orang kebanyakan lewat sistem free enterprise, free fight, free competition dalam pertarungan survival of the fittest, terdengar merdu dan logis rasional meyakinkan. Bahkan seolah-olah diperteguh oleh bukti-bukti empiris kemajuan teknologi dan kemakmuran dalam negara-neyara yang menganut sistem kapitalis liberal. Apalagi sesudah Uni Soviet ambruk dan negara-negara komunis berpaling ke sistem kapitalisme (termasuk Ordo Baru), semakin bertambahlah keyakinan banyak orang akan benarnya sistem liberal itu yang praktis identik dengan dunia Barat dan Jepang. Namun orang lupa, bahwa segala sistem liberal dan kapitalisme hanya dapat bermekar dan menghasilkan surplus dan prestasi yang mengagumkan dengan tumbal. Apabila kapitalisme sejak abad ke-17 sampai tahun 50-an lewat kolonialisme dan imperialisme lama langsung membuat tumbal rakyat di Asia, Afrika dan Amerika Kuna (dan jangan lupa di Eropa Barat dan Amerika Utara sendiri juga), maka sekarang kapitalisme liberal paska Perang Dunia II (terkenal sebagai Utara) tetap juga meminta tumbal dari negara-negara berkembang (terkenal sebagai Selatan), namun secara tidak langsung lewat kaum elit pribumi negara-negara berkembang itu sendiri. Memang harus diakui, kemajuan IPTEK yany berkembang di negara-negara maju dalam sistem kapitalisme apa pun adalah hasil kecerdasan bangsa-bangsa itu dalam evolusi budaya mereka, berkat keberanian menempuh risiko dan sikap dasar yang paling vital, yakni mental petualang eksploratip (simbol: Prometheus) yang suka menjelajahi terrae incognitae (daerah-daerah yang belum diketahui); dan benar, sungguh mengagumkankan daya inovasi mereka. Akan tetapi tidak kalah benar juga, bahwa modal untuk merealisasi sikap-sikap eksplorasi serta inovasi tersebut hanya mungkin dengan permodalan besar yang mereka himpun selama sekian abad sistem penjajahan dan penghisapan bangsa-bangsa yang mereka kalahkan. Apalagi bila kita ingat pada sekian abad eksploitasi jutaan budak-budak belian, baik dari Afrika yang dianghut ke benua Amerika maupun budak-budak belian lain yang tetap tinggal di Asia dan Amerika Latin, khususnya di Indonesia pun, dalam bentuk heerendiensten (pengabdian kepada para tuan) atau rodi yang memungkinkan semua itu berfungsi. Belum dibicarakan politik penciptaan paksa pasaran-pasaran baru untuk menyerap hasil-hasil industri mereka. Ditambah penguasaan bahan-bahan mentah yang murah serta keuntungan waktu, informasi dan daya inteligensi yang bersinambung mengakumulasi. Begitulah kolonialisme dan imperialisme lama maupun baru menjadi suatu codition sine qua non untuk sistem yang penuh eksplorasi, inovasi dan produktivitas yang mengagumkan itu. PRAKSIS LAMA DAN BARU Demikianlah, sesudah proses dekolonisasi paska-Perang Dunia ke-II membuat para kolonisator berkulit putih mundur sedikit, maka mereka diganti dengan para kolonisator berkulit berwarna, terutama para elit nasional. Dengan segala dalih pembangunan dan kemajuan yang pola serta prinsip-prinsip kapitalisme yang sama dengan para mantan tuan-dan-puan mereka dahulu. Akan tetapi kini lebih buruk lagi lewat kapitalisme-kroni yang sebenarnya adalah percampuran antara feodalisme pribumi, sistem koloni (di Indonesia) Hindia Belanda dan Jepang, serta banditisme Asia/Nusantara yang bertradisi bajak laut bajak darat, mungkin sudah ribuan tahun. Oleh karena itu semoga kita sadar, bahwa perkara IPTEK ternyata tidak semudah dan senetral yang lazim orang bayangkan; sebab IPTEK tidak tumbuh dalam suatu vakum, akan tetapi punya tanah-tumbuh, lingkungan, dan iklim tersendiri. Seperti gandum tidak bisa tumbuh begitu saja di daerah tropika selain dalam ruang-ruang AC khusus yang sebenarnya asing. Walaupun gandum sejenis tanaman padi. IPTEK seperti yang konkret kita kenal sekarang sebagian terbesar masih yang sering disebut hard technology, hanya dapat tumbuh dalam suatu iklim dan linghungan asing juga yang keras dan minta tumbal, dengan metodologi politis, ekonomis, sosial, dan budaya yang khas diimpor dari iklim aslinya, kapitalisme yang mutlak memerlukan korban sekian ratus juta orang tak bersalah. MENCARI SISTEM TANPA TUMBAL Apakah ada kemungkinan diciptakannya suatu sistem dan iklim IPTEK tinggi tanpa tumbal? Tentu saja tidak mustahil, akan tetapi selama dominasi imperial negara-negara maju plus para kroni pribuminya di segala benua masih begini, maka tentulah itu masih suatu utopia yang jauh. Namun utopia atau realisme, perjuangan ke arah itu harus dimulai, bahkan sudah dimulai di Barat sana sendiri, dan sedikit di negara-negara berkembang (antara lain lewat LSM yang bukan LSM gadungan). Namun kita tahu bahwa liberalisme dan kapitalisme yang sudah berumur 500 tahun dan yang merasa berhasil gilang-gemilang (dengan mengabstraksi tumbal-tumbal yany dibuatnya) tidak begitu saja mudah diganti oleh sesuatu yany lebih baik dan lebih adil. Di sinilah kesulitan kita dalam diskusi tentang IPTEK tsb., dan juga kesulitan bagaimana nanti peran pendidikan, pengajaran, dan khususnya buku harus mendampingi dan "mendukung" perkembangan IPTEK. Ternyata tidak bisa naif kita boleh memekikkan slogan: Hidup IPTEK! Majulah maju IPTEK! Marilah kita cetak buku sebanyak-banyaknya demi perkembangan IPTEK! Dsb. (BERSAMBUNG) ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 17 Feb 1999 jam 17:58:35 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
