----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


UTAK-ATIK KKN KELUARGA SOEHARTO,  DJALAL DIKANDANGKAN

        JAKARTA (SiaR, 17/2/99), Malang benar nasib Jaksa Agung Muda bidang
Intelejen (Jamintel) Mayjen TNI Syamsu Djalal; belum lima bulan menjabat
sudah "dikandangkan". Pasalnya mantan Danpuspom ABRI ini dinilai para
koleganya, termasuk atasannya, Jaksa Agung Andi Muhammad Ghalib terlalu
berani mengutak-utik pengusutan kasus-kasus korupsi-kolusi-nepotisme (KKN)
keluarga mantan Presiden Soeharto.

        Syamsu Djalal dikandangkan, karena belum lama ini mengajukan semacam
disposisi kepada Jagung Ghalib agar kasus mobil nasional (mobnas) yang
menyangkut diri Hutomo Mandala Putra, anak keempat Soeharto, segera
ditingkatkan dari status penyelidikan menjadi penyidikan. Demikian ungkap
sumber SiaR, seorang pejabat teras di lingkungan Kejagung, Selasa (16/2)
kemarin.

        Akibat kelancangannya tersebut, maka Syamsu Djalal yang dikenal terbuka
dalam menangani kasus penculikan aktivis semasa menjabat Dan Puspom ABRI
itu, dikenakan ganjaran dicopot dari jabatan berdasarkan Keppres tertanggal
11 Februari 1999. Serah terima jabatan dari Syamsu Djalal kepada Letjen
(Purn) Yusuf Kartanegara dilakukan Rabu (17/2) pagi ini di Kejagung.

        Pemberhentian Syamsu Djalal mulanya melahirkan dugaan disebabkan dengan
keterlambatan dirinya melakukan pencegahan atas diri pengusaha Arifin
Panigoro. Tapi sumber di Kejagung tersebut mengungkap, Syamsu Djalal sempat
berbeda pendapat dengan Jagung Andi Ghalib soal status kasus-kasus KKN
keluarga Soeharto.

        Namun sebuah sumber SiaR menyebutkan bahwa pencopotan Syamsu dikaitkan
dengan bocornya rekaman pembicaraan lewat telepon antara Jaksa Agung Andi M
Ghalib dengan Presiden BJ Habibie. Dalam pembicaraan telepon tersebut
presiden menanyakan kelanjutan pemeriksaan mantan presiden Soeharto juga
sejumlah kasus lainnya. Dari rekaman tersebut, kedua pekabat tinggi
menyiratkan persetujuan mereka untuk membelokkan persoalan ke masalah KKN
pengusaha Arifin Panigoro, Sofyan Wanandi dan Johanes Sukotjo.

        "Syamsu sendiri menolak kiat menyeret sejumlah pengusaha sebagai taktik
pengalihan isu KKN Soeharto," ujar sumber tersebut.

        Reaksi bermunculan akibat pemberhentian terhadap Jamintel yang berlangsung
mendadak itu. Para praktisi hukum seperti Adnan Buyung Nasution, RO
Tambunan, dan Hendardi menilai ada sesuatu di balik pemberhentian yang
mendadak itu. Tambunan menyebutkan, tindakan pencopotan tersebut justru
berdampak memperlambat proses pengusutan KKN Soeharto. Menurutnya,
Kertanegara sebagai pejabat baru tentu butuh orientasi lebih dahulu untuk
menyesuaikan diri.

        "Bukan tidak mungkin ini dimaksudkan agar penyelesaiannya mundur, sehingga
tugas itu dibebankan kepada pemerintahan produk Pemilu Juni 1999 mendatang,"
ucap Tambunan.

        Senada dengan Tambunan, Hendardi menduga pencopotan ini terkait dengan
keengganan pemerintahan Habibie agar kasus KKN Soeharto diselesaikan di masa
pemerintahannya. "Pencopotan yang mendadak ini jelas melahirkan sejumlah
pertanyaan di masyarakat, karena terjadi di saat tuntutan masyarakat
terhadap pengusutan KKN Soeharto begitu gencar-gencarnya," ujarnya.

        Sementara itu, Syamsu Djalal sendiri menolak khabar yang menyebutkan
dirinya akan ditarik kembali oleh Mabes ABRI untuk posisi atau jabatan
tertentu. "Ah, kalian dengar dari mana. Saya tak tahu khabar itu," tukasnya
pendek kepada para wartawan yang mengerubunginya.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Feb 1999 jam 18:42:05 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke