---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- LEBIH LANJUT DENGAN REVOLUSI KULTUR MENUJU KULTUR KESETARAAN (4) Oleh : Ki Ageng Mangir Ancaman terhadap Kultur Indonesia. Secara kultural, menurut pendapat penulis, ancaman utama bagi masa depan bangsa Indonesia untuk bisa dengan cepat mencapai cita-cita bangsa menuju masyarakat yang adil dan makmur, adalah lebih kepada ancaman dari dalam tubuh bangsa Indonesia sendiri dibandingkan dengan adanya suatu pengaruh negatif dari kultur diluar Indonesia - walaupun mungkin juga ada pengaruh kultur dari luar Indonesa yang secara negatif / positif mempengaruhi kultur bangsa Indonesia. Ancaman tersebut adalah : 1. Kecenderungan melemahnya kekuatan kultur persatuan maupun makna kemerdekaan yang telah dibina susah payah oleh para perintis kemerdekaan yaitu: - bahaya kearah disintegrasi bangsa dengan bangkit- nya kembali rasa kesukuan maupun bangkitnya aksi yang sifatnya separatis. - kecenderungan mulai adanya konflik antar agama. - kecenderungan adanya konflik minoritas versus mayoritas. - pemahaman yang tidak tuntas tentang makna kemerdekaan. 2. 'Resistance to change' atau 'hambatan untuk berubah' untuk melakukan transformasi dari kelemahan kultur pada saat ini (kultur feodal, kultur budak, dan kultur hidup santai) yaitu : - Yang sifatnya 'kedalam' yaitu berupa akar budaya yang terlalu kuat mengakar yang untuk merubahnya diperlukan suatu daya dobrak yang luar biasa. - Yang sifatnya 'fisik keluar' yaitu struktur 'vested interest' yang sengaja menghambat perubahan karena merasa diuntungkan dengan kondisi bangsa dengan kultur yang ada sekarang dan dengan sengaja maupun segala daya upaya menjaga 'status quo'. - Faktor pendidikan yang kurang merata sehingga terjadi intelektual gap yang terlalu jauh antara pemimpin dan yang dipimpin. 3. Pengaruh kultur dari luar Indonesia yang negatif : - Kultur fundamentalis Islam - Kultur dekadensi moral Barat - Kultur Cina yang cenderung ingin mendominasi Untuk mengatasi ancaman pada butir pertama hanyalah dengan salah satu cara yaitu apakah dengan adanya figur pimpinan nasional yang kuat yang punya kewibawaan nuansa persatuan yang kuat - seperti halnya Bung Karno dimasa yang lalu - atau dengan adanya pemerintahan yang bersih dan berwibawa sehingga semua lapisan masyarakat mendukung dan diperlakukan secara adil yang akan memperkecil keinginan untuk melakukan pemisahan diri maupun memperkecil konflik kepentingan antar golongan - dengan kewibawaan yang tinggi, pemerintah mempunyai kredibilitas yang tinggi untuk menyelesaikan konflik tanpa dicurigai mempunyai kepemihakan terhadap suatu pihak dan golongan tertentu (yang sungguh disayangkan tidak terdapat pada pemerintahan transisi aliansi Habibie + Wiranto) Sedangkan untuk mengatasi kelemahan kultur bangsa pada butir 2, yang telah penulis kemukakan pada tulisan terdahulu, yaitu kombinasi kultur feodal, kultur budak, dan kultur hidup santai tidak ada jalan lain selain kita harus mencanangkan suatu Revolusi Kultur untuk melakukan dobrakan yang kuat kearah perubahan menuju kultur kesetaraan atau kita akan jatuh dalam 'status quo' yang perubahan akan berjalan sangat lamban, dengan kemungkinan cita2 kearah masyarakat Indonesia yang adil dan makmur tidak akan pernah bisa dicapai. Penulis juga bisa menambahkan disini bahwa kelemahan kultural saat ini (kultur feodal, kultur budak, dan kultur hidup santai) yang menghasilkan suburnya kultur korupsi dalam masyarakat Indonesia yang mula-mula dipelopori kalangan pegawai/pejabat pemerintahan baik ABRI atau sipil (jangan heran pelopor utama tidak tanggung - tanggung adalah pimpinan tertinggi nasional maupun panglima tertingi ABRI saat itu - Soeharto) yang bagaikan penyakit menular juga menjangkiti rakyat jelata. Karena ingin hidup senang dan tidak mau kerja keras (kultur hidup santai), dengan jabatan / kekuasaan ditangan (kultur feodal) dimanfaatkan untuk memperkaya diri sendiri dan karena tidak ada yang protes (kultur budak) - malahan rakyat awampun dalam skala untuk 'survival' ikut-ikutan korupsi - korupsi merajalela dengan suburnya bagaikan bola salju yang makin lama makin besar sehingga membuat bangsa Indonesia terpuruk dalam kancah resesi ekonomi yang terparah diantara seluruh bangsa-bangsa di dunia saat ini. Memang secara sporadis pernah ada gerakan untuk protes (seperti peristiwa Malari 1974) tapi karena kaum Militer (kultur feodal) menggunakan kekerasan untuk membungkam, dan rakyat (karena masih kental kultur budaknya) tidak berani melanjutkan tuntutannya. Seperti yang juga terjadi saat ini dimana kaum militer mem-back-up pemerintahan yang korup, dan kalau rakyat berhenti melakukan reformasi / revolusi yang terjadi adalah 'status quo' yang memang diinginkan oleh pemerintah yang korup untuk melanjutkan korupsinya dan rakyat jelata juga yang akan hidup lebih sengsara (pemberian komisi dalam penandatangan kontrak maupun transaksi pembelian dengan lembaga pemerintahan, dan berbagai bentuk korupsi dalam rangka perizinan dan jasa pelayanan umum yang dilaksanakan oleh pemerintah masih berjalan dengan aman dalam pemerintahan). Penulis sangat setuju dengan pengamatan dari Majalah Swa akhir2 ini bahwa dalam keadaan krismon ada golongan yang tak terpengaruh dengan meneruskan gaya hidup seperti sebelum ada krismon - dan ini adalah kalangan menengah keatas yang adalah kalangan profesioanal yang memang tetap punya penghasilan yang cukup dan tentunya pejabat pemerintahan yang terus melanjutkan kebiasaan korupsi dengan dukungan para pengusaha kroninya. Yang jauh terpuruk adalah rakyat jelata dengan makin mekarnya jumlah kaum miskin, pengemis, anak jalanan, kriminal dijalan - dan kondisi ini tentunya kalau tidak cepat ditanggulangi kemungkinan Revolusi Sosial akan terjadi sangatlah besar (mohon dibedakan antara Revolusi Sosial dengan Revolusi Kultur - yang akan penulis bahas dalam tulisan selanjutnya dalam seri tulisan ini). Note:salah satu bentuk korupsi yang secara kebetulan penulis ketahui dengan memanfaatkan kurs dollar yang melambung tinggi. Caranya : pejabat pemerintah negosiasi kurs dollar yang akan dibayar dalam rangka kontrak pembelian. Katakan kita punya kontrak senilai USD 100,000,- . Kurs dollar saat itu katakan 10,000 rupiah per USD. Pejabat pemerintah minta agar kontraktor bersedia hanya dibayar dengan kurs 5,000 rupiah per USD. Kontraktor setuju dengan pembayaran itu (daripada tidak dibayar samasekali), sedangkan sang pejabat tetap membudgetkan dengan kurs10,000 atau bisa saja dengan 8,000 rupiah per USD dan perbedaan budget dan aktual pembayaran masuk kantong dengan aman. Kalau tetap dibudgetkan 10,000 berarti (100,000 x 10,000) - (100,000 x 5,000) rupiah = 500 juta rupiah masuk kantong pribadi. Kalau dibudgetkan 8,000 rupiah per USD berarti (100,00 x 8,000) - (100,000 x 5,000) = 300 juta rupiah masuk kantong pribadi. Dan inilah hasil kreatifitas kultur hidup santai (Penulis menemukan satu kasus dengan 'spread' 30 % dari nilai kontrak, dan penulis yakin bahwa 'modus operandi' korupsi model ini terjadi dalam lingkungan lembaga pemerintahan ditempat lain, bahkan mungkin juga dikalangan swasta). Sedangkan ancaman pengaruh kultur dari luar Indonesia walaupun effect negatifnya tidak sebesar kelemahan kultur didalam tubuh bangsa Indonesia sendiri yang tetap juga harus diwaspadai : - pengaruh fundamentalis Islam yang terus bermimpi mendirikan Negara Islam Indonesia hanya karena bangsa Indonesia mayoritas beragama Islam dan mempunyai kecenderungan memperuncing konfilk antar agama dan menggunakan teror dan kekerasan untuk mencapai tujuannnya - pengaruh kultur dekadensi moral Barat dengan kebebasan yang diartikan salah (kebebasan sex, pengaruh kekerasan dalam film Barat, budaya pemakain ekstasy dan sejenisnya) walaupun tentunya banyak budaya barat yang punya pengaruh positif seperti budaya berpikir kritis, pengormatan terhadap HAM, dan juga kultur kesetaraan, dan konsep demokrasi. - kultur Cina yang sedang mulai bangkit dengan keberhasilan ekonomi dikawasan Asia Timur seperti Taiwan, Hongkong, dan Cina sendiri (mereka menyebut dirinya Greater Cina) kemudian juga Singapura (orang Taiwan menyebut Singapura sebagai 'the second Cina Republic' - Taiwan yang pertama, sedangkan Cina masih dianggap komunis, dan Hongkong adalah koloni) sehingga harus diwaspadai keinginan meluaskan pengaruhnya kenegara lain di kawasan ASEAN termasuk Indonesia yang sudah jelas suatu target yang tentunya akan memanfaatkan Cina perantauan yang ada di Indonesia - kultur Cina yang bersifat kontinent tentunya sangat berbeda dengan kultur kepulauan dari bangsa Indonesia dan kultur kontinen yang cenderung mendominasi akan selalu merupakan sumber konflik dengan kultur kepulauan yang lebih komunal (konflik akan sangat minimal apabila secara kultural - sebagai pendatang - Cina perantauan bisa melakukan penyesuaian dengan kultur Indonesia dan bukannya sebaliknya ingin merubah kultur yang ada di Indonesia untuk meyesuaikan dengan kultur Cina - dengan maraknya berbagai protes dari Cina perantauan diseluruh dunia dengan apa yang terjadi di Indonesia pada tanggal 13-14 Mei 1998 ada indikasi yang kuat bahwa Cina perantauan di Indonesia bukan / belum merupakan bagian yang integral dari bangsa Indonesia tapi lebih merupakan bagian yang integral dari 'International Chinese Society' yang melakukan gerakan menuju 'Chinese concur the world' suatu obsesi dari bangsa Cina untuk menguasai dunia). Dalam kita menyikapi ancaman kultur Indonesia yang merupakan akar kelemahan kultural selama ini yang menyulitkan bangsa Indonesia dalam mencapai cita2 masyarakat adil dan makmur walaupun dari kacamata fisik luas negara, jumlah penduduk, kekayaan sumber alam mempunyai banyak kekuatan. Kelemahan yang ada tidak lain ada dalam tubuh bangsa Indonesia sendiri, untuk itu kita baik sebagai per-orangan, organisasi kemasyarakatan baik dibidang sosial maupun dibidang politik, bisa punya beberapa alternatif sikap : 1. Mempertahankan 'status quo' : untuk apa diadakan perubahan karena dengan keadaan yang sekarang tetap bisa menikmati hidup yang senang, tidak peduli apakah kesenangan yang didapat menyengsarakan rakyat jelata. Kultur feodal, dan kultur budak untuk sebahagian bangsa Indonesia adalah sesuatu yang tidak perlu dirubah karena selain susah dirubahnya juga sangat menguntungkan bagi para pejabat / penguasa negara untuk melanggengkan kekuasannya. Ini secara umum saat ini diwakili oleh para pendukung rezim Soeharto, Habibie, dan ABRI-nya Wiranto (sungguh disayangkan yang pada saat revolusi fisik kemerdekaan, ABRI adalah pahlawan, dengan pimpinan saat ini dibawa sebagai penjaga 'status quo' yang lebih mementingkan kepentingan korps ABRI-nya sendiri yang berseberangan sisi dengan rakyat). 2. Diadakan perubahan secara evolusi atau reformasi bertahap : beri kesempatan masa transisi katakan enam tahun (kata para pencentus deklarasi Ciganjur, takut ABRI-nya marah dan ngamuk, rakyat juga yang akan susah - dan ini nyata-nyata masih tebalnya kultur feodal dimana ABRI diperbolehakn marah pada rakyat- nya sendiri, dan suatu bukti bahwa ABRI adalah klas istimewa diatas rakyat jelata yang harus dijaga oleh rakyatnya supaya jangan marah - bagaimana kalau kondisinya rakyat yang marah pada ABRI yang fasis ?). Perubahan secara radikal akan memakan banyak korban - termasuk para pemegang hak istimewa untuk korupsi tidak bisa korupsi lagi - dan jangan sampai orang-orang ini juga marah sehingga uang hasil korupsi dipakai untuk membeayai PAM- SWAKARSA ataupun RATIH untuk membunuhi / memusuhi rakyatnya sendiri. Termasuk golongan ini adalah para kompromis yang masih berharap bahwa pemilu akan berjalan dengan mulus, adil, dan jujur sehingga pemerintahan yang baru hasil pemilu yang demokratis akan diserahi melakukan reformasi bertahap itu sehingga pada suatu saat nanti - entah kapan - kultur kesetaraan akan berada dalam lingkungan masyarakat bangsa Indonesia menuju masyarakat yang adil makmur. Pada saat ini diwakili oleh kelompok empat Ciganjur dengan semua partai politik pendukungnya yang masih percaya akan meraih kemenangan dalam pemilu yang diselenggarakan oleh pemerintahan pemegang 'status quo' (ada suatu indikasi kearah penundaan konflik, yang ngamuknya akan terjadi kalau PEMILU dijalankan tidak adil, dan dengan kredibilitas pemerintahan saat ini yang masih kental 'orde baru' apakah mampu melaksanakan PEMILU YANG ADIL tanpa ada usaha-usaha untuk memenangkan diri sendiri seperti PEMILU2 yang lalu). 3. Perubahan sekarang juga: apakah belum cukup bangsa Indonesia dijajah oleh bangsanya sendiri selama 32 tahun dan minta tambah lagi ? Jawabannya: NO ! REVOLUSI KULTUR menuju KULTUR KESETARAAN harus mulai saat ini juga apapun harga yang harus dibayar - sedapat mungkin secara damai (dalam banyak hal menegakkan kebenaran tidak selalu bisa dengan jalan damai, pada titik tertentu pengorbanan fisik selalu mungkin terjadi - seperti contoh dalam pewayangan Rama terpaksa berperang melawan Rahwana dan akhirnya berhasil membunuhnya, Pandawa terpaksa berperang melawan Kurawa dan berhasil membasminya - untuk melenyapkan angkaramurka dimuka bumi ini). Kalau para pemegang 'status quo' diberi kesempatan / waktu untuk kembali berkuasa sama saja rakyat minta dijajah kembali oleh para feodal dan para fasis, dan rakyat tetap akan menjadi budak dinegaranya sendiri yang katanya merdeka. Penulis rasa para mahasiwa ada dalam barisan ini yang dibantu oleh organisasi LSM, sebagian kaum intelektuil, maupun sebagian para profesional yang istilah mereka melakukan REFORMASI TOTAL terhadap orde baru dan istilah penulis REVOLUSI KULTUR menuju KULTUR KESETARAAN. Indonesia is a free country (apakah betul ?). Sehingga kita bebas menentukan pilihan kepemihakan kita kepada golongan yang mana dari katagori diatas dengan segala risiko yang harus dihadapi. Generasi muda sebagai generasi yang terdidik tentunya lebih mampu untuk menentukan pilihan dengan sadar, yang sangat rawan adalah rakyat jelata yang masih awam yang secara kultural masih terpengaruh sangat kuat secara pasif dengan kultur feodal maupun kultur budak, yang bisa begitu mudah dipengaruhi untuk mendukung suatu golongan tertentu yang sebetulnya bertujuan untuk menjajah mereka. Dengan subkultur kebapakan yang masih sangat tebal ketergantungan mereka kepada para pemimpin sangat tebal - kecuali kultur kesetaraan memang sudah merupakan kultur yang mengakar dalam budaya masyarakat bangsa Indonesia - dalam masa transisi menuju kultur kesetaraaan, bangsa Indonesia memerlukan pemimpin yang secara moral bersih dan tulus untuk membawa / meningkatkan / mentransformasi kultur rakyat jelata menuju lebih kultur setara dengan siapapun sebagai warganegara yang dihormati hak-hak maupun kewajibannya sehingga mampu berpartisipasi menentukan pilihan secara lebih 'rational' (bisa saja mereka memilih pemimpin dengan pilihan yang salah yang justru membawa mereka untuk sebaliknya justru mempertahankan 'status - quo' dan disini letaknya 'etika moral' yang akan menguji integritas pemimpin yang apakah mampu membawa pengikutnya kearah perbaikan atau sebaliknya hanya sekedar memanipulir rakyat demi kelangsungan kekuasaan dirinya dan membawa mereka menuju ke-kehancuran). Lebih Lanjut Dengan Kultur Kesetaraan (Bersambung...) 1 Januari 1999. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Feb 1999 jam 02:40:28 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
