----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

HAK  ISTIMEWA BIROKRAT/PEJABAT UNTUK
KORUPSI DAN REVOLUSI KULTUR (0)

Oleh : Ki Ageng Mangir

Kalau penulis tidak salah Bung Karno almarhum pernah
mengatakan bahwa komunisme adalah anak kandung dari
kapitalisme. Pendapat ini saya kira berdasarkan logika
bahwa apabila alat produksi dikuasai oleh para pemodal
atau kaum kapitalis sedangkan sebaliknya kaum pekerja
atau kaum buruh tidak punya akses maupun kemampuan
untuk menguasai alat produksi, dalam kurun waktu
tertentu akan terjadi suatu kesenjangan sosial antara klas
pemodal dan klas pekerja/buruh yang dimana ada
kecenderungan dengan makin menguatnya modal
ditangan kaum kapitalis yang bisa dipergunakan untuk
menekan kaum buruh dengan upah yang minim dan
kondisi kerja yang buruk yang pada suatu saat tidak
tertahankan lagi dimana gap yang terjadi makin
menganga dan kaum pekerja cenderung melakukan
revolusi sosial untuk merebut dan menguasai alat
produksi dengan kekerasan dan lahirlah komunisme.

Amerika telah belajar menjinakkan kapitalis sehingga
tidak berbalik menjadi komunisme setelah mendapat
pelajaran resesi hebat pada tahun tiga puluhan dan
mengadapsi sebahagian ide komunisme dalam porsi
menjaga kesejahteraan sosial kaum pekerja dan buruh
sehingga gap yang ada tidak terlalu menganga lebar tapi
tetap kaum pekerja bisa merasakan kehidupan dan
kondisi kerja yang terjamin dengan pengetrapan sistim
perpajakan yang progresif dan pengetrapan konsep
negara kesejahteraan dimana negara akan menjamin
pekerja yang oleh satu hal tidak mendapat pekerjaan
maupun kesejahteraan sosial lainnya seperti perlindungan
asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan kerja, termasuk
jaminan pensiun di hari tua.

Dalam hal negara komunis dimana kaum pekerja atau
kaum buruh berbalik memegang kuasa, kita sendiri sudah
menyaksikan keruntuhannya karena beban yang terlalu
berat bagi pemerintah untuk melakukan kontrol semua
kegiatan produksi bahkan juga perdagangan yang semua
dilaksanakan oleh birokrat / pekerja pemerintah tanpa
suatu motivasi persaingan maupun tidak dipacu untuk
peningkatan kwalitas produk dengan 'insentif individual'
sehingga dalam pasaran international tidak mampu
bersaing dengan produk yang berasal dari negara dengan
konsep pasar bebas yang dimotori oleh Amerika, Jepang,
maupun negara yang kita kenal dengan negara G-7.
Dalam jangka periode kurang lebih dua puluh tahun terjadi
ketidak seimbangan kekuatan ekonomi negara2 komunis
bersaingan dengan kekuatan pasar bebas yang dimotori
oleh Amerika dan negara G-7 dengan sektor swasta yang
sangat kuat dengan produk yang berkwalitas tinggi dan
mau tidak mau negara raksasa komunis Cina dan Rusia
terbuka untuk beradaptasi dengan sistem pasar bebas
yang meruntuhkan mitos konsep tertutup komunisme.

Apa sebetulnya relevansinya dengan kondisi kita saat ini
di Indonesia ?

Di Eropa telah terjadi dua Revolusi Besar melawan kultur
feodal, yang berbaur dengan perkembangan kapitalisme
didalamnya yang disebabkan oleh revolusi industri, yang
keduanya menghasilkan dua hasil yang berbeda :

- Revolusi Perancis tahun 1789 yang melawan feodalisme
Raja Louis XVI yang menghambur-hamburkan kekayaan
kerajaan tanpa melihat kondisi rakyat yang kesulitan yang
akhirnya dengan melalui beberapa tahapan revolusi
menghasilkan penerapan sistim demokrasi dengan
konsep 'trias politica'.
- Revolusi Oktober Rusia 1917 melawan kultur feodalisme
dari Tzar Rusia yang menghasilkan Rusia yang komunis.

Revolusi itu sendiri hanyalah istilah yang berarti suatu
perubahan dan perombakan dengan cara yang cepat.
Dan tidak selalu Revulosi berarti menuju suatu konsep
komunis. Barangkali karena kaum komunis yang lebih
banyak menggunakan kata-kata revolusi sehingga apa
yang diistilahkan sebagai Revolusi selalu diasosiasikan
dengan gerakan komunis.

Di Indonesia belum pernah terjadi suatu Revolusi terhadap
kultur feodal. Revolusi yang terjadi di Indonesia adalah
melawan penjajahan Jepang / Belanda. Karena kultur
feodal tidak pernah terjadi perombakan / perubahan yang
radikal, feodalisme masih sangat kental sampai saat ini.
Yang telah terjadi, begitu kemerdekaan bisa didapat,
yang muncul adalah pemerintahan para 'priyayi' - priyayi
adalah bahasa Jawanya bangsawan - dan ini tidak bisa
disalahkan karena para pelopor / perintis kemerdekaan
kebanyakan dari kalangan 'priyayi' disebabkan konsep
pendidikan pada zaman penjajahan Belanda hanya
memperbolehkan kaum priyayi saja yang bisa menikmati
pendidikan tinggi dan secara otomatis kaum terpelajar di
Indonesia pada saat itu kebanyakan adalah kaum 'priyayi'.
Setelah proklamasi kemerdekaan, dikarenakan mayoritas
pemimpin saat itu dari kalangan 'priyayi' dengan
sendirinya kultur feodal atau kultur priyayi berkembang
dengan sendirinya tanpa mengalami perubahan yang
radikal.

Apa sebetulnya kelemahan kultur feodal / kultur priyayi ?

Seperti konsep kebangsawanan, kalangan feodal atau
priyayi merasa diri mereka suatu kelas tersendiri yang
lebih istimewa dari golongan rakyat biasa hanya karena
mereka dilahirkan dari kalangan priyayi. Jadi yang paling
pokok dari feodalisme adalah tidak mengenal kesetaraan
atau persamaan status. Kaum feodal atau kaum priyayi
merasa punya status lebih tinggi, oleh karena itu punya
hak-hak istimewa yang lebih dari kalangan rakyat biasa.

Kultur feodal yang tadinya terbatas pada kalangan para
priyayi yang punya status keturunan para raja, sebagai
kultur diapdatasi begitu saja oleh para birokrat penguasa
pengelola negara. Memerintah suatu negara, konotasi
kepala pemerintahannya adalah raja, dengan para aparat
pembantunya adalah abdi dalem dalam tata rangking
kebangsawanan seperti laiknya suatu kerajaan ataupun
konsep istana suatu kerajaan yang mereka merasa
punya status yang lebih tinggi dan hak-hak istimewa
melebihi rakyat biasa termasuk hak-hak istimewa untuk
korupsi (kata lunaknya adalah 'upeti' - sudah selayaknya
sebagai 'priyayi' mendapatkannya 'upeti' apakah dari
pedagang, bawahannya, atau siapa saja).

Bahkan rakyat biasapun akhirnya terjerumus dalam
kultur feodal, salah satu gejalanya membanggakan gelar
kesarjanaan sebagai pengganti gelar kebangsawanan
yang tidak mungkin diperoleh pada saat zaman Belanda.
Dan dengan mudahnya rakyat biasa berubah menjadi
sangat feodal begitu dia menduduki kedudukan sebagai
birokrat / pejabat tinggi pemerintahan.

Perkembangan feodalisme dan kapitalisme di Indonesia.

Pada fase pemerintahan Bung Karno dengan ide
Marhaenisme, sebetulnya ada suatu keinginan untuk
melakukan perombakan kultur feodal dengan yang
dikatakan oleh Bung Karno sebagai sosialisme ala
Indonesia yang dalam prakteknya sikap tersebut tidak
bisa berjalan dengan baik, bahkan oleh PKI dicoba untuk
dibelokkan kearah ide komunis yang lebih radikal.
(Note: Sebetulnya ide sosialis tercermin juga dalam UUD
'45 yaitu pada Pasal 33). Pada kenyataannya Bung Karno
tidak bisa melepas dari pengaruh mitisme Jawa yang
hakekatnya adalah warisan kultur feodal. Pada fase ini
kapitalisme tidak bisa berkembang di Indonesia dan
sosialismepun gagal karena secara kental kulturnya
masih kultur feodal.

Sedangkan pada fase Soeharto serta merta kultur feodal
berlanjut dan dikombinasi dengan model DWIFUNGSI
ABRI yang tidak lain adalah konsep fasisme terselubung
dan tumbuhnya kapitalisme tanpa kendali, karena
kapitalisme yang dikembangkan bukan murni
pengembangan 'enterprenuership' tapi semata-mata
adalah kapitalisme perkoncoan yang para birokrat ikut
asik bermain didalamnya sehingga menumbuh suburkan
kultur korupsi dimana para birokrat/penjabat punya hak
istimewa untuk berkorupsi dan berkolusi dengan para
kapitalis. Dan dengan Nepotisme para birtokrat/pejabat
bahkan mencoba merangkap menjadi kaum kapitalis.
Kombinasi kultur feodalisme, fasisme, dan kapitalisme
perconcoan atau kapitalisme birokrat yang korup tanpa
kendali dalam periode tertentu akan mengakibatkan
kesenjangan klas. Dan kalau kita menengok kembali
teori Bung Karno bahwa komunisme adalah anak
kandung kapitalisme, maka jangan salahkan bahwa pada
saat ini timbul suatu generasi yang radikal yang ingin
keluar dari belenggu ketimpangan sosial. Kalau hal ini
terjadi pada saat Rusia dan Cina masih kuat sebagai
idola negara komunis yang terjadi adalah revolusi sosial
kaum komunis (dan ini yang dituduhkan oleh kalangan
ABRI kepada para mahasiwa demonstran saat ini).Yang
sebetulnya terjadi, menurut pendapat penulis pribadi,
fase yang sedang berjalan pada saat ini oleh bangsa
Indonesia adalah satu fase dimana kultur feodal, maupun
fasisme yang sudah 'outdated' - sebagai suatu konsep.
feodalisme dan fasisme adalah konsep yang kedaluwarsa
yang seharusnya tidak ada lagi dimuka bumi ini - sedang
di reformasi / di revolusi menjadi kultur kesetaraan yang
melindungi hak-hak kesetaraan rakyat kecil dan bagaimana
agar kapitalisme yang berkembang menjadi kapitalisme
yang jinak yang memasukkan unsur proteksi kesejahteraan
sosial bagi rakyat kecil ataupun klas pekerja / buruh
yang kemungkinan besar tidak akan mampu bersaing
dalam penguasaan modal maupun penguasaan alat
produksi.

Apakah kultur feodal para birokrat/pejabat bisa dirubah ?

Kalau mau meniru Eropa yaitu dengan Revolusi Perancis
tahun 1789 yang akhirnya dengan melalui tahapan yang
alot menjadi negara yang demokratis dengan konsep2
perlindungan HAM dan pelaksanaan trias politika secara
lebih konsekwen. Atau memakai model Revolusi October
Rusia tahun 1917 yang walaupun berhasil melakukan
transformasi kultur feodal yang akhirnya pada saat ini
konsep komunisme ternyata hancur berantakan.

Bagaimana dengan prospek cara Indonesia ?

Kebiasaan-kebiasaan kultur feodalisme para birokrat /
pejabat pada saat ini yang selalu mendapat hak-hak
yang istimewa :

- Birokrat harus selalu didahulukan dari rakyat biasa.
- Birokrat harus mendapat tempat duduk didepan dan
lebih besar dari rakyat biasa dalam setiap kesempatan
'public event'.
- Birokrat harus punya rumah yang 'megreng-megreng'
(besar).

- Birokrat harus selalu dihormati (kalau bisa bahkan
maunya disembah).
- Birokrat harus mendapat 'first class' di pesawat
terbang kalau toh tidak ada 'first class' paling tidak
duduk dibangku paling depan.
- Birokrat berhak mengcancel ticket pesawat terbang
rakyat yang sudah confirm (penulis pernah mengalami
sendiri ticket pesawat terbang GARUDA yang sudah
confirm dicancel gara-gara ada rombongan menteri
yang mendadak akan terbang)
- Birokrat harus punya mobil yang hebat - untuk pejabat
tertentu bisa lebih dari sepuluh (bahkan ada yang
punya lebih dari lima belas mobil).
- Birokrat tidak boleh didebat.
- Birokrat harus diberikan prioritas dijalan dengan
pengawalan.
- Birokrat tidak perlu mentaati lampu merah.
- Birokrat punya hak untuk korupsi tanpa konsequensi
hukum.
- Biroktrat berhak minta sumbangan kepada pengusaha.
- Birokrat harus diberikan pelayanan VIP dimanapun dia
berada.

Dengan segudang hak-hak istimewa, siapa yang tidak
mau menjadi pejabat tinggi pemerintahan dan membayar
satu miljar rupiahpun bersedia untuk suatu jabatan
tertentu yang nantinya akan kembali lebih banyak lagi.

Apakah konsep feodalisme seperti ini bisa dirubah
dengan begitu saja?

Mungkin akan terjadi apa yang dinamakan 'Future Shock'
- salah satu judul buku dari Alvin Toffler. Bagaimana
secara tiba-tiba semua birokrat bisa menjadi setara
dengan rakyat biasa dimuka hukum? Secara tiba-tiba
para birokrat harus merasakan kemacetan lalu lintas
Jakarta karena tidak dikawal. Dan sebagainya ....dan
sebagainya.

Bagaimana Habibie dan Wiranto tidak akan mengangkat
senjata untuk mempertahankan segala macam status
istimewa dirinya sendiri maupun para kroninya, termasuk
status istimewa untuk bisa berkorupsi dengan aman.
Dan hak-hak istimewa (privilege) adalah penyakit yang
menyebabkan orang bersikap feodal dan merasa lebih
istimewa dibandingkan dengan rakyat biasa (Padahal,
secara konsep demokrasi, yang mengangkat mereka
adalah rakyat)

Jawabannya adalah 'REVOLUSI KULTUR'. Nonsense
kalau kita berkata tentang demokrasi tanpa ada suatu
konsep KULTUR KESETARAAN bagi seluruh manusia
bangsa Indonesia tanpa kecuali. Selama ada pihak yang
dibenarkan punya hak istimewa dibandingkan oleh orang
lain hanya karena dia pejabat pemerintah, kita tidak siap
untuk demokrasi. KULTUR FEODAL harus di-revolusi
menjadi KULTUR KESETARAAN (EQUALITY) - yang
dimaksud dengan kesetaraan disini adalah bukannya
konsep sama rata sama rasa komunis :
- setiap warga negara punya hak dan kewajiban yang
sama tanpa membeda-bedakan ras, golongan, agama,
maupun jabatan
- setiap warga negara punya kesetaraan mengemukakan
pendapat
- setiap warga negara punya keseteraan dimuka hukum.
- setiap warga negara punya kesetaraan untuk dihargai
dan dilindungi.
- setiap warga negara punya kesetaraan dalam berserikat
dan berkumpul.
- setiap warga negara punya kesetaraan mendapatkan
pendidikan yang memadai.
- setiap warga negara punya kesetaraan dalam
memperoleh pekejaan dan kesejahteraan sosial yang
memadai.

Revolusi kultur harus dimulai dengan menghilangkan
semua peraturan ataupun perundang-undangan yang
memberikan hak-hak istimewa kepada para pejabat.
Pejabat adalah professional manager yang mengelola
suatu fungsi atau department yang harus dijalankan
dengan konsep management modern, sehingga terjalin
suatu hubungan kerja dengan bawahan dalam rangka
mencapai suatu sasaran atau objective fungsi atau
department dengan peningkatan kwalitas secara terus
menerus dan menjalankan hubungan dengan bawahan
dengan penilaian prestasi hasil kerja secara objective
dengan pengukuran produktivitas kerja.

Bahwa kultur feodal menjadi tetap subur dengan
kombinasi konsep fasisme dan kapitalisme tanpa kendali
yang dipraktekkan selama 32 tahun oleh rezim Soeharto.
Sudah sewajarnya DWIFUNGSI ABRI yang menjadi
biang dari fasisme terselubung dihapuskan samasekali
dalam rangka reformasi kultur ataupun revolusi kultur.

Bisakah kita melakukan Revolusi Kultur tanpa kekerasan?

Revolusi kultur feodal selalu terjadi dengan kekerasan
seperti yang terjadi baik di Perancis ataupun di Rusia,
juga di Cina. Terus terang penulis ingin mengatakan
bahwa perubahan dari KULTUR FEODAL (feodalisme)
menjadi KULTUR KESETARAAN bisa dilaksanakan
secara damai. Tapi dalam kenyataannya setiap orang
yang telah menikmati hak-hak istimewa selama dalam
kurun waktu yang relatif lama secara alamiah akan
bereaksi sangat keras dan tidak begitu saja menyerah
untuk tidak punya hak apa2 atau mempunyai hak yang
setara dengan rakyat lainnya. Ini berarti 'suatu sikap
yang memaksa atau reinforcement' harus diterapkan agar
hak-hak istimewa para pejabat dikurangi atau bahkan
dihapuskan samasekali dan ini bisa menjadi suatu
'revolusi' yang bersifat perjuangan secara keras yang
seperti telah terjadi dalam sejarah baik di Perancis,
di Rusia, maupun di Cina (dan ini adalah inti perjuangan
gerakan mahasiswa Indonesia saat ini).

Sudah waktunya kita merubah KULTUR FEODAL yang
membelenggu & tertutup dengan KULTUR KESETARAAN
yang lebih terbuka dalam menghargai harkat kemanusian
setiap warga negara dan hal ini sedapat mungkin
diperjuangkan tanpa kekerasan dan harus dilaksanakan
secara cepat karena itu dinamakan REVOLUSI. Kalau
diadakan secara 'alon-alon asal kelakon' rakyat kecil
akan terus menderita dan kemungkinan kultur feodal
untuk dirubah sangat tipis kemungkinannya karena kita
akan membiarkan para birokrat dan pejabat mendominasi
banyak hal yang cenderung menghilangkan hak-hak
rakyat kecil dan menyimpan hak-hak istimewa untuk
dirinya sendiri, keluarganya dan kroni2-nya.

Mudah-mudah-an REFORMASI yang sedang digulirkan
adalah bagian dari REVOLUSI KULTUR dari KULTUR
FEODAL menjadi KULTUR KESETARAAN dan
Indonesia akan maju satu fase dalam ketertinggalannya
dengan negara Barat dalam transformasi sosial dari KULTUR
FEODAL menjadi KULTUR KESETARAAN dalam
menghargai harkat kemanusiaan.

November '98.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Feb 1999 jam 02:41:01 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke