----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

LEBIH LANJUT DENGAN REVOLUSI KULTUR
MENUJU KULTUR KESETARAAN (1)

Oleh : Ki Ageng Mangir

Generasi Muda dalam menjalankan peranan sejarah
mempunyai peranan yang lebih radikal (penulis lebih
cenderung mengartikan radikal sebagai suatu

keinginan menyelesaikan masalah sampai ke
akarnya atau intinya) atau lebih revolusioner
dibandingkan dengan generasi yang lebih tua yang
terlalu banyak perhitungan. Dalam sejarah Indonesia
Generasi Muda selalu mempunyai peran penting
sebagai pendobrak.

Sejarah proklamasi 17 Agustus 1945 adalah salah
satu contoh. Jalannya sejarah mungkin akan lain bila
Sukarni Cs. sebagai golongan generasi muda waktu

itu tidak menculik Sukarno ke Rengasdengklok untuk
memaksa memproklamirkan Republik Indonesia pada
tanggal 17 Agustus 1945. Adalah tugas generasi yang

lebih mature (dewasa) untuk bisa menangkap aspirasi
generasi muda dan menjalankan dalam bentuk nyata
'move politik' menuju ke perubahan yang diinginkan.

Pada tahun 1966, sekali lagi peranan pendobrak
generasi muda / mahasiswa saat itu untuk melakukan
perubahan telah ditangkap dengan baik oleh ABRI pada
saat itu untuk melaksanakan perubahan dengan
membentuk 'orde baru' walaupun akhirnya telah
memyimpang menjadi 'orde' yang melestarikan kultur
feodal, dikombinasikan fasisme dengan selubung
dwi-fungsi, dan kapitalisme perkonconan yang
menumbuh suburkan KKN yang menyengsarakan
rakyat dan memberikan hak-hak istimewa para birokrat
dan pejabat untuk hidup lebih enak dengan
menyalahgunakan wewenang ataupun kekuasaan untuk
memperkaya dirinya sendiri, kroni2-nya, maupun
keluarganya.

Reformasi tahun 1998 tidak lepas dari gerakan dobrakan
dari generasi muda / mahasiswa yang dalam satu sisi
telah berhasil menjatuhkan Soeharto, cuma yang
sayangnya dobrakan yang ada tidak mampu ditangkap
oleh para oposan praktisi politik yang menghendaki
reformasi total terhadap 'order baru', justru yang lebih jeli
adalah Soeharto untuk melakukan manuver agar 'order
baru' masih bisa bertahan untuk sementara waktu
dengan secara cepat mendelegasikan wewenang
kepada wakil presiden B.J.Habibie sehingga 'order baru'
punya kesempatan untuk menyulap dirinya sendiri
menjadi 'orde reformasi' padahal pada masa rezim
Soeharto mereka adalah para pendukung yang militan
dari Golkar, dan Dwi Fungsi ABRI yang merupakan
komponen penting 'order baru', dan menghindarkan diri
dari tangungjawab tuntutan KKN (bahkan banyak
indikasi approach / sistim KKN ini berlanjut dengan
aman-aman saja saat ini) yang telah menyengsarakan
rakyat. Pada saat ini yang hidup sulit bukanlah kaum
menengah keatas - tapi betul2 rakyat kebanyakan yang
berpenghasilan rendah yang rentan terkena PHK, karena
itu sangat diragukan kaum menengah keatas yang
terwakili oleh para birokrat pemerintah, para pengusaha,
dan profesional secara serius ikut dalam rangka
perubahan/reformasi/revolusi yang kemungkinan akan
menggulung mereka sendiri).

Dimana salahnya ? Moment politik tidak mungkin
berulang, kesempatan kadang2 hanya datang sekali dan
bila tidak dimanfaatkan akan lewat begitu saja dan
jalannya sejarah menjadi lain samasekali. Tetap saja
sampai saat ini kemenangan masih ada dipihak penjaga
status quo - BJ Habibie plus Wiranto dan 'order baru'
bahkan Soeharto pun tidak tergoyahkan. Gagalkah
tujuan reformasi ? Paling tidak sementara ini bisa
dikatakan demikian. Dan ini berarti status feodalisme
dan fasisme masih bercokol dengan megahnya dan
belum tergoyahkan dan yang lebih menyedihkan tokoh
empat Ciganjur memberikan pernyataan yang
kompromistis melalui pernyataan Ciganjur yang
memberikan masa enam tahun untuk masa transisi.

Ini justru suatu kelemahan dari pihak yang lebih
'mature' untuk bisa menangkap moment politik dan
tidak mampu menangkap bola perubahan yang telah
dicoba didobrak oleh mahasiswa (dan 'moment'
ini telah menyebabkan perubahan akan lambat dan
korban akibat anarki akan makin banyak tumpah
disebabkan kredibilitas alat keamanan / ABRI yang
sangat rendah dimata rakyat apalagi kalau ABRI jadi
membentuk Ratih yang pasti akan 'overacting' dan
cuma satu musuhnya yaitu rakyatnya sendiri /
mahasiswa yang sedang berjuang untuk membangun
kultur kesetaraan dan tawuranpun tidak akan
mungkin bisa dihindarkan - mohon diingat rakyat
bisa mempersenjatai dirinya dengan apa saja
seadanya.

Kelompok empat Ciganjur yang diharapkan menjadi
tokoh panutan reformasi telah menunjukkan sikap
feodal yang tidak mampu menangkap dobrakan
mahasiswa yang apabila memberi dukungan nyata
kepada para mahasiswa mestinya mampu menggulung
keberadaan 'orde baru'. Sudah waktunya kita mencari
pemimpin oposisi 'layer 2' karena pemimpin oposisi
'layer 1' ternyata melempem. Siapa pemimpin oposisi
Indonesia 'layer 2', mungkin Bintang Pamungkas,
Cak Nur, Budiman Sujatmiko (sayangnya masih
dipenjara,  walaupun kita tahu sepak terjang PRD
yang agak ke-kiri2-an - paling tidak sikapnya
konsisten dan berani ambil risiko).
Ini sebetulnya yang sangat memprihatinkan, karena
kultur feodal tidak saja berada dikalangan elite yang
berkuasa tapi juga berada dikalangan elite yang ingin
melaksanakan reformasi, jadi reformasi tidak lebih
hanyalah suatu estafet kekuasaan dari satu golongan
'elite' kepada golongan 'elite' yang lain. Kenapa
dinamakan 'elite' ? Karena kaum intelektual Indonesia
cenderung mengelompokkan dirinya sebagai suatu
elite yang ekslusif yang merasa dirinya 'linuwih', yang
merasa dirinya lebih istimewa lebih dari rakyat biasa,
yang bisa mengatas-namakan dirinya mewakili rakyat
seperti halnya 'ksatria pembela kebenaran' dan ini
adalah nyata-nyata sikap feodal dari akibat kultur
feodal ang sulit diubah.

Karena itu apabila Bung Karno adalah raja pertama
dari kerajaan Republik Indonesia, Soeharto adalah
raja kedua, Habibie adalah raja ketiga, dan kita
sedang menantikan raja ke empat (kalau mampu
mengalahkan raja ketiga), jadi kapan Negara
Kesatuan Republik Indonesia punya seorang
presiden ?

Jawabannya: sampai kiamat-pun apabila KULTUR
FEODAL bangsa Indonesia tidak ditransformasi menjadi
KULTUR KESETARAAN, kita tidak akan punya
presiden yang dipilih secara demokratis (yang terjadi
hanyalah se-olah-olah demokratis padahal hanyalah
melalui pemilu yang sangat rentan dimanipulir).

Jelas saat ini ada suatu gap antara 'common people'
(orang kebanyakan) dengan elite intelektual yang
cenderung feodal. Bahasa 'common people' atau orang
kebanyakan adalah sangat sederhana oleh karena itu
apabila tidak ada pemimpin yang betul-betul dipercayai
yang timbul adalah bahasa yang paling sederhana /
paling primitif yaitu 'kekerasan'.

Elite intelektual asik dengan analisanya sendiri dengan
kebanggaannya sendiri bahwa dirinya lebih pandai
sehingga tidak mampu mempertejemahkan kemauan
'common people' sehingga 'common people' mencari
jalannya sendiri yang sangat sederhana. 'Common
people' punya kekuatan 'irrational' yang sangat besar,
dan apabila kekuatan 'rational' para pimpinan tidak
mampu mengendalikan yang muncul adalah gerakan
yang cenderung 'irrational' dan mungkin ini yang
mendasari kekhawatiran dari Gus Dur - Revolusi Sosial.

Dari mana gerakan menuju kultur kesetaraan bisa dimulai ?

(Bersambung)
Desember 1998.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Feb 1999 jam 02:51:00 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke