----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 06/II/18-24 Februari 99
------------------------------

KONSPIRASI PECAT SJAMSU DJALAL

(PERISTIWA): Jaksa Agung Muda Intelijen, Mayjen (Purn) Sjamsu Djalal dipecat
digantikan Letjen (Purn) Jusuf Kertanegara. Ia dipecat karena terlalu lurus
sehingga membahayakan keluarga Cendana, Presiden Habibie dan Kajagung AM Ghalib.

Orang jujur itu ternyata tidak selamanya enak. Buktinya, Mayjen TNI Sjamsu
Djalal yang belum lima bulan menjabat Jaksa Agung Muda Intelijen (JAM
Iintel), kini harus meninggalkan kursinya digantikan Irjen Dephankam Letjen
(Purn) Yusuf Kartanegara. Alasan resminya, memang mantan Danpuspom ABRI ini
akan ditarik ke Mabes ABRI lantaran diperlukan tenaganya di lembaga induknya
itu. Tapi, alasan tersebut menjadi tidak berarti, setelah diketahui bahwa ia
dipecat lantaran ada konflik antara dirinya dengan atasannya, terutama
mengenai  pengusutan KKN Soeharto dan kroninya.

"Tidak benar kalau ada yang mengatakan saya dibutuhkan Mabes ABRI. Buktinya
sekarang kan tidak dibutuhkan, tapi jangan berprasangka yang tidak-tidak,"
katanya kepada wartawan.

Semula orang menduga dipecatnya Sjamsu dikarenakan lolosnya Arifin Panigoro
dan Sofyan Wanandi ke luar negeri. Namun isu ini kembali pupus lantaran
lolosnya Arifin dan Sofyan ke luar negeri bukan lah kesalahan Sjamsu. Sebab
selain tidak dicekal, Arifin juga sudah memberitahukan kepergiannya ke Kejagung.

Beberapa sumber Xpos menyebutkan, "pelanggaran" Sjamsu di mata penguasa
selama lima bulan di Kejaksaan Agung, dinilai sudah terlalu banyak. Salah
satu kasus yang membuat marah, Jaksa Agung Andi Muhammad Ghalib adalah
ulahnya yang belum lama ini berani mengajukan usulan agar meningkatkan
status Hutomo Mandala Putra dalam kasus mobil nasional (mobnas). Karena
sudah terdapat sejumlah bukti, ia berharap anak bungsu Soeharto itu segera
dijadikan tersangka.

"Itu hanya salah satu saja. Spekulasi lain juga menyebutkan bahwa Syamsu
merupakan salah seorang yang diangap tahu atas beredarnya rekaman
pembicaraan antara Jaksa Agung Andi M Ghalib dengan Presiden BJ Habibie dan
tidak melakukan tindakan apapun. Sehingga harus diberi sanksi," kata sumber
Xpos.

Dalam rekaman pembicaraan telepon tersebut, menurut sumber yang sempat
membaca transkripnya berisi tentang dialog Habibie-Ghalib ketika pemeriksaan
terhadap Soeharto beberapa waktu lalu. Dalam transkrip dialog itu terlihat
jelas adanya permainan dibalik pemanggilan Soeharto.

Sumber ini menyebutkan, Ghalib dalam dialog itu sempat mengatakan kepada
Habibie bahwa perlu waktu 3 jam untuk memeriksa Soeharto. "Sebab kalau cuma
sebentar, nanti masyarakat semakin curiga," kata sumber menirukan jawaban
Ghalib.

"Dosa" lain yang tak bisa diampuni lagi oleh Ghalib adalah penolakan Sjamsu
terhadap perintah Ghalib dan Habibie untuk "menggarap" sejumlah konglomerat.

Konon, ketika istri Ghalib berobat di Singapura beberapa waktu silam, semua
biaya rumah sakitnya ditanggung oleh Robby Tjahyadi. Tapi dasar  pengusaha,
ternyata bantuannya tidaklah sumbangan gratis. Setelah berhasil mendekati
Ghalib, Robby minta supaya Kejagung "menggarap" Johanes Kotjo yang selama
ini menjadi seteru bisnis Robby. Target operasi ini adalah untuk memasukkan
Kotjo ke penjara dengan tuduhan korupsi. Sehingga dengan begitu bisnis Kotjo
bangkrut. Tetapi, ketika perintah itu oleh Ghalib diteruskan ke Sjamsu, JAM
Intel ini ogah-ogahan menjalankannya, karena merasa ada interes atasannya
yang juga bekas pembela Soeharto itu.

Perintah kedua Ghalib yang tidak dilakukan Sjamsu konon adalah perintah
untuk mengusut bos Artha Graha, Tommy Winata. Untuk yang ini, ceritanya
menyangkut keluarga Habibie. Kasusnya sendiri bermula dari penyerobotan
lahan HPH milik keluarga Habibie di Kalimantan oleh Grup Artha Graha itu.
Entah bagaimana ceritanya Habibie sempat minta Ghalib untuk mengerjain Tommy
Winata. Tetapi ketika perintah itu dilimpahkan ke Sjamsu, lagi-lagi Sjamsu
tidak menjalankan perintah itu dengan baik. Tapi sayangnya, untuk yang
terakhir ini, ada interes pribadi Sjamsu ketika enggan "mengerjain" Tommy.
Konon, hal itu karena anaknya yang sekolah di Amerika dibiayai oleh bos Grup
Artha Graha itu. Ruwet memang.

Tetapi lepas dari keruwetan itu, dalam catatan aktivis HAM di Indonesia,
Sjamsu Djalal merupakan salah satu perwira ABRI yang sedikit bagus
prestasinya dibanding yang lain. Ketika menjabat Kepala Puspom ABRI,
gebrakan jenderal berbintang dua ini sempat membuat khawatir kalangan
pimpinan militer, terutam kegetolannya dalam mengungkap kasus penculikan
sejumlah aktivis. Sebagian masyarakat waktu itu sempat berharap pengusutan
kasus penculikan akan sampai gembongnya, yaitu Komandan Jenderal Kopassus
Letjen Prabowo atau jajaran yang lebih tinggi.

Namun, belum selesai menyidik pelaku penculikan, ia dipindahkan ke Kejaksaan
Agung. Dan lagi-lagi, di lembaga barunya ini orang banyak berharap akan
membawa perubahan besar, terutama menambah nyali kejaksaan dalam melakukan
pengusutan terhadap Soeharto. Tetapi harapan itu pun pudar juga. Karena
ketika ia belum bisa berbuat banyak, jabatannya sudah dicopot lebih dulu
dengan alasan diperlukan oleh Mabes.

Sementara itu, di jajaran ABRI, Syamsu juga dikenal sering aneh-aneh, tidak
seperti perwira lainnya. Ia tak jarang turun langsung ke lapangan ketika
operasi-operasi untuk menjaring keterlibatan anggota ABRI dalam perdagangan
obat bius.

Sjamsu barangkali juga orang POM ABRI yang paling dekat dengan wartawan.
Sambutannya kepada wartawan kadang tanpa harus melalui protokoler kantor
militer. Wartawan dengan mudah ke luar-masuk ruangannya, walau sekadar
ngobrol untuk tukar menukar informasi. Pendek kata, dihadapan wartawan,
Sjamsu adalah sumber berita yang baik.

Tetapi memang begitulah politik. Baik di mata masyarakat belum tentu baik di
pihak penguasa. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Feb 1999 jam 08:38:25 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke