---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk GUS DUR, DUA BANK, DAN TEKA-TEKI Oleh: Fauzan Johar Mustopha Seperti diberitakan oleh Bisnis Indonesia, Dow Jones Newswire, Tempo dan Warta Ekonomi, K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur telah membeli dua buah bank. Yang pertama adalah Bank Papan Sejahtera dan yang kedua Bank Ficorinvest. Langkah Gus Dur itu telah menimbulkan sejumlah spekulasi, dan memang merupakan teka-teki yang menarik. Soal Bank Papan Sejahtera, yang semula di tangan SBC Warburg Hong Kong dan Sommers Nomineen Far East. Bank ini adalah bank yang sedang dalam keadaan payah. Menurut laporan Tempo (22 Februari), berdasarkan laporan keuangan per 30 September 1998, bank ini harus beroperasi dengan kerugian hampir Rp 380 milyar. Modalnya terkikis sehingga sudah negatif Rp 180 milyar lebih. Simpanan dana masyarakat tak sampai Rp 140 milyar. Bank ini hidup kembang kempis dengan sana pinjaman senilai Rp 2,3 trilyun lebih. Menurut hasil audit terakhir, Bank Papan masuk "golongan C", yang terancam kehidupannya jika tak disetor modal ratusan milyar. Untuk membeli Bank Papan yang payah ini, Gus Dur tentu memerlukan dana yang amat besar. Dari mana? Tidak jelas. Yang jelas, Gus Dur adalah presiden komisaris PT Harawi Sekawan yang didirikan sejak 1994 (Harawi bisa berarti "Haji Abdurrahman Wahid", kata presiden direktur PT itu, Mustafa Zuhad Mughni kepada Warta Ekonomi). Gus Dur membeli sebanyak 25 juta saham dengan harga Rp 1.200 per unit. Padahal ketika itu harga pasarnya yang tertera di Bursa Efek Jakarta cuma Rp 125. Pertanyaan pertama: kenapa membeli bank yang runyam? Padahal selain membeli, juga Gus Dur harus menyediakan dana untuk rekapitalisasi, dan seterusnya. Analis perbankan Rijanto Sastroatmodjo bertanya, sebagaimana dikutip Warta Ekonomi (14 Desember 1998): "Kok dalam situasi seperti ini orang membeli saham bank yang tidak bagus (negative spread)?" Pertanyaan kedua: kenapa semahal itu, sementara Papan Sejahtera -- dengan beberapa kelebihannya -- tetap tidak menunjukkan prospek yang istimewa? Harga yang dibayar oleh PT-nya Gus Dur "kemahalan", seperti kata Ferry Josia Hartoyo, analis riset dari Vickers Ballas Tamara. Pertanyaan ketiga: dari mana uang Harawi Sekawan? "NU banyak uang", kata Syarifuddin Harahap, yang kemudian diangkat jadi Presiden Komisaris Bank Papan. Pertanyaan kelima: apa dan siapa Syarifuddin Harahap? "Saya bukan NU. Saya bukan pengurus PT Harawi", kata tokoh ini kepada Warta Ekonomi. Tapi ia merasa kenal Gus Dur. "Kami sama-sama aktivis", katanya. Yang tidak ditulis dalam wawancara itu ialah bahwa Syarifuddin Harahap adalah Ketua Umum Partai Republik. Adapun Partai Republik ini mendukung Soeharto untuk dicalonkan sebagai presiden lagi. Dana partai ini diduga juga tidak jauh datangnya: dari Cendana. Sekarang soal Ficorinvest. Yang membeli 19% saham dari bank itu adalah PT Adhikarya Sejati Abadi. Dengan demikian PT itu menguasai mayoritas saham, atau 53,2 juta saham dalam bank itu, seperti dikatakan Yanda Mohammad, Direktur Utama Adhikarya Sejati Abadi (ASA). Ficorinvest juga bank yang sedang dalam keadaan berat. CAR (capital adequacy ratio)-nya mendekati minus 25%. Makin rendah CAR, makin sakit bank itu. Untuk membeli saham mayoritas dalam bank itu, serta mengadakan dana buat rakapitulasi, diperlukan dana yang amat besar. Tidak disebutkan berapa besar dana tersebut. Harga pembelian itu juga sampai sekarang masih dirahasiakan, suatu hal yang mungkin dilakukan dalam "block sale". Pertanyaan yang sama bisa dimajukan di sini seperti halnya pertanyaan di dalam kasus Bank Papan. Tambahannya ialah: dalam PT ASA ada dua nama "Tanusudibyo" (dengan ejaan yang bebeda). Harry Tanusudibyo adalah partner bisnis Titiek Prabowo. Putri Soeharto dan isteri mantan Pangkostrad yang dicopot itu punya sejumlah saham di dalam PT ASA, meskipun Januari yang lalu saham itu dikabarkan sudah dijual dan dibeli oleh Harry Tanusudibyo. Apakah jual beli itu benar terjadi, dan tak ada perjanjian di bawah tangan, tidak diketahui. Teka-teki tentang Gus Dur menjadi bertambah. Apakah Gus Dur dapat dana dari partner bisnisnya yang lama, Edward Suryajaya? Dalam pembelian Papan Sejahtera, tidak. Pertama, Edward sendiri dalam keadaan sulit, sebagaimana dikatakan oleh sebuah sumber yang dekat dengan Astra. Kedua, Edward sendiri membantah. Demikian juga dikatakan oleh Mustafa Zuhad Mughni, sang prediden direktur PT Harawi Sekawan,orang kepercayaan Gus Dur dalam dunia perbankan yang juga presiden direktur Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Nursumma Utama. Tetapi Mustafa tidak memberitahukan dari mana dananya. "Uang 'kan bisa dari pinjam meminjam", katanya kepada Warta Ekonomi. Bahwa Gus Dur punya bisnis, itu tidak ada salahnya. Yang mengkhawatirkan ialah bahwa dengan masuknya Gus Dur ke dalam persaingan politik, kelak akan terjadi kolusi antara si pemberi dana (baik itu keluarga Cendana atau bukan) dengan Gus Dur sebagai tokoh politik. Maka diperlukan transparansi. Kalau tidak, teka-teki tentang Gus Dur, dengan langkah-langkahnya yang mendekati Soeharto, akan membayang terus dalam percaturan politik di masa depan. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 19 Feb 1999 jam 06:38:46 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
