----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


ISTIQLAL (22/2/99)# REVOLUSI SOSIAL BEDA DENGAN KERUSUHAN SOSIAL

Oleh: Sulangkang Suwalu

        Gus Dur mengatakan, "Perintah tembak ditempat yang dikeluarkan
Menhankam/Pangab membuat saya ngeri. Daya tidak tahu apakah pernyataan itu
bisa mengantisipasi atau menangkal apa yang tidak kita inginkan". Kata-kata
tersebut diucapkannya dalam dialog nasional "Menangkal Revolusi Sosial" yang
diselenggarakan Forum Dialog Wartawan Politik (FDWP) dengan Ika-Unpad di
Jakarta.
        Terlepas dari perdebatan apakah revolusi sosial ini bakal terjadi atau
tidak, Gus Dur menyatakan bahwa revolusi sosial sangat berbahaya dan masalah
ini sekarang telah menjadi momok yang menakutkan. "Yaitu hilangnya semua
aturan dan struktur. Tiap orang berbuat semaunya sendiri hingga akhirnya
terjadi law lessnes atau keadaan tanpa hukum".
        Itu rumusan yang terbaru dari Gus tentang revolusi sosial. Sedang melalui
Kompas (7/12/98) Gus Dur mengatakan revolusi sosial itu ialah: "Satu keadaan
dimana rakyat akan berontak terhadap segala-galanya dan tidak ada lagi
pemerintahan serta penguasa".
        Apa kah memang demikian pengertian revolusi sosial? Yaitu suatu
keadaantanpa pemerintahan serta penguasa?
        Untuk menjawabnya baik lah kita kemukakan pengertian revolusi dari Prof
Sarbini Sumawinata dalam bukunya "Revolusi 1998".

REVOLUSI BUKAN KERUSUHAN
        Menurut Prof Sarbini melalui karyanya di atas bahwa pada hakikatnya
revolusi adalah perobahan-perobahan besar dan mendasar dari keadaan yang ada
(hal:2). Revolusi bukan lah kekacauan, hancur-hancuran atau kerusakan.
Revolusi semata-mata merupakan perubahan besar mengenai hal-hal yang
mendasar dalam waktu yang singkat (hal:5).
        Prof Sarbini sebelumnya mengemukakan bahwa revolusi pada umumnya, diartikan
sebagai suatu gejolak yang mengacaukan, adanya kerusuhan-kerusuhan bahkan
pembunuhan. Itulah pengertian dan penghayatan revolusi vang sama sekali
salah. Pengertian demikian menyesatkan dan menyimpang dari inti dan hakekat
revolusi.
        39 tahun yang lalu, ketika Bung Karno sebagai Presiden, didalam pidato
"Jalannya Revolusi kita" (l7 Agt 1960) mengatakan revolusi itu ialah
"menjebol dan membangun". Menjebol yang lama dan membangun yang baru. Kalau
menjebol saja, itu bukanlah revolusi. Itu kerusuhan.
        Revolusi adalah pergantian kekuasaan dari kekuasaan lama dengan kekuasaan
baru yang lebih maju.
        Bertolak dari pengertian revolusi dari Prof Sarbini serta Bung Karno
tersebut, maka yang dimaksud dengan revolusi sosial ialah perobahan besar
dan mendasar dalam waktu yang singkat di bidang sosial ekonomi, dari sistem
sosial ekonomi Orba kepada sistem sosial ekonomi reformasi. Dan perobahan
itu memang berbahaya bagi pihak yang hendak mempertahankan status quo.
Sebaliknya sangat menguntungkan bagi kaum reformis.
        Menangkal revolusi sosial berarti menentang dilakukannya reformasi di
bidang sistem sosial ekonomi Orba menjadi sistem sosial ekonomi reformasi.
Menangkal revolusi sosial berarti hendak mempertahankan status quo.

REVOLUSI SOSIAL BELUM TENTU REVOLUSI SOSIALIS
        Adalah juga menarik tulisan Bung Karno tentang pengertian revolusi sosial
dalam buku "Sarinah". Bung Karno mengemukakan: apakah fase-fase revolusi
kita? Kita mengalami fase nasional dan akan mengalami fase sosial; fase
nasional dalam mana kita mendirikan negara nasional, dan fase sosial kita
mendirikan sosialisme... Dua fase ini sendiri-sendiri harus ada, dan fase
ini yang satu mendahului yang lain dan yang lain mengikuti yang satu, tetapi
tidak dapat dua fase ini terjadi berbareng sekaligus... Fase nasional dan
fase sosial daripada revolusi kita ini dua-duanya sendiri-sendiri, harus
ada, tidak dapat fase sosial terjadi berbareng sekaligus (Hal: 264-265).
        Pengertian Bung Karno tentang fase-fase ini, karena beliau menganggap fase
sosial itu ialah mendirikan "sosialisme". Dengan kata lain beliau menganggap
revolusi sosial sama dengan revolusi sosialis. Fase sosial Bung Karno ialah
fase sosialis. Memang revolusi sosialis terjadinya tentu sesudah revolusi
nasional dan tidak mungkin berbarengan atau sekaligus revolusi nasional
dengan revolusi sosialis.
        Fase sosial dalam arti revolusi sosial (bukan revolusi sosialis) tidak
hanya terJadi dalam Revolusi Sosialis (pergantian kekuasaan dari kaum
burjuis kepada kaum proletar), tetapi juga terdapat dalam revolusi dari
sistem pemilikan budak ke sistem feodal, bergantinya kekuasaan dari
tuan-tuan budak ke raja-raja. Revolusi sosialnya ialah bergantinya sistem
sosial ekonominya dari sistem pemilikan budan ke sistem feodal. Revolusi
sosial juga terdapat dalam revolusi burjuis yang mengggulingkan raja-raja.
Revolusi sosialnya ialah bergantinya sistem sosial ekonomi feodal menjadi
sistem sosial ekonomi kapitalis. Revolusi sosial juga terdapat dalam
revolusi nasional, yaitu bergantinya kekuasaan dari pihak asing ke pihak
bangsa Indonesia. Revolusi sosialnya ialah bergantinya sistem sosial ekonomi
kolonial menjadi sistem sosial ekonomi nasional.
        Bila pergantian sistem sosial ekonomi kolonial menjadi sistem sosial
ekonomi nasional dirintangi, dihambat didalam revolusi nasional, maka itu
berarti menggagalkan revolusi nasional itu sendiri. Pergantian kekuasaan
dari pihak asing kepada bangsa Indonesia tidak akan berarti apa-apa, bila
sistem sosial ekonomi kolonial masih berjalan terus. Revolusi nasional itu
jadi gagal.
        Revolusi sosial belum tentu revolusi sosialis, sebaliknya revolusi sosialis
pasti revolusi sosial secara mendasar.

KESIMPULAN
        Jelas kiranya bahwa revolusi sosial bukanlah kerusuhan sosial seperti yang
dikemukakan Gus Dur. Menangkal revoluLi sosial, berarti menangkal
dilaksanakan reformasi secara total, berarti hendak mempertahankan status
quo. Revolusi sosial memang berbahaya bagi pihak yang hendak mempertahankan
status quo. Sebaliknya revolusi sosial merupakan sebuah kemajuan bagi kaum
reformasi dan rakyat. Karena demokratisasi akan berjalan di segenap bidang
kehidupan.
        Gus Dur yang mengatakan revolusi sosial adalah kerusuhan sosial, berarti
satu diantara dua: Gus Dur tidak memahami apa artinya revolusi sosial dalam
arti yang sesungguhnya, atau memahami dengan baik, tetapi dengan sadar atau
tidak telah memanipulasi pengertian revolusi sosial sebagai kerusuhan
sosial, supaya masyarakat menghentikan gerakan reformasinya secara total,
agar kekuasaan tetap pada yang berkuasa sekarang.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Feb 1999 jam 11:17:30 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke