---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk PRD TERGANJAL GARA-GARA DEPKEH GUNAKAN PARADIGMA ORBA JAKARTA (SiaR, 24/2/99), Memang benar sulit membedakan Orde Baru-nya Soeharto dengan Orde "Reformasi"-nya Habibie. Hai ini tercermin ketika Panitia Pendaftaran Partai Politik Departemen Kehakiman (P-4 Depkeh) menunda pensahan Partai Rakyat Demokratik (PRD), Selasa (23/2) hanya karena penggunaan istilah-istilah yang dipakai -- menurut P-4 Depkeh -- di jaman Orde Lama (Orla). Beberapa istilah yang dipersoalkan antara lain "Demokrasi Sosial Kerakyatan", dan "Progresif Revolusioner" yang dinilai P-4 Depkeh sebagai "kekiri-kirian". Oleh sebab itu, Rabu (24/2) siang ini pukul 11.00 WIB tim P-4 Depkeh akan melakukan konsultasi dan koordinasi dengan pihak Direktorat Jenderal Politik Depdagri dan Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin). Menurut seorang anggota P-4 Depkeh H Mohammad Zein, sebenarnya PRD telah memenuhi persyaratan administratif, namun karena berbagai istilah itu, pensahan di Berita Negara RI menjadi tertunda, karena P-4 Depkeh butuh "berkonsultasi" dengan beberapa instansi berkompeten. "Kan lebih baik, misalnya kalau pakai istilah asas musyawarah sesuai Pancasila," ujarnya. Tindakan P4 Depkeh ini mengecewakan para aktivis PRD. Menurut aktivis PRD, Faisol Reza, argumentasi yang digunakan P-4 Depkeh untuk menolak pensahan PRD sebagai menggunakan paradigma dan pola pikir Orde Soeharto yang menyangkut istilah-istilah "Orba" dan "Orla". "Ini membuktikan paradigma rezim Habibie dalam mengelola negara masih seperti rezim Soeharto," ucapnya. Selain PRD, kasus serupa dialami Partai Indonesia (Partindo) yang memakai istilah "New Emerging Forces" (Nefo) dalam AD/ART-nya. Sementara itu, pakar sosiologi linguistik, Dr Dede Oetomo menyatakan secara prinsipil P-4 Depkeh tidak dapat menjadi semacam badan sensor yang mempermasalahkan istilah-istilah yang dipakai parpol-parpol yang mendaftar. Jika mempermasalahkan istilah-istilah, lanjutnya, artinya Depkeh secara sepihak telah melakukan interpretasi pemaknaan bahasa. "Ini khas pemerintah Orde Baru dalam memberangus aktivitas politik dan pemikiran kritis para aktivis pro-demokrasi. Apa anggota tim tersebut masih merasa hidup di era Soeharto?" tandasnya.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Feb 1999 jam 19:24:43 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
