----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------
Precedence: bulk
HASAN TIRO PUNYA OBSESI BESAR
BANDA ACEH, MeunaSAH (26/2/1999) Hasan Tiro berniat akan kembali ke
Aceh. Masyarakat Aceh menyambutnya dengan baik. Gubernur Aceh sendiri bersedia
menjemput Tiro di Belgia, di mana ia kini tinggal bersama keluarganya. Harian
Serambi Indonesia yang terbit di Banda Aceh mewawancarai Prof. James P. Siegel,
pakar etnograf asal Cornell University AS, tentang Tengku Hasan Muhammad di
Tiro. Menurut Siegel, Tiro punya obsesi yang besar dalam hidupnya. Kenangan yang
tidak bisa dilupakan Siegal adalah ketika dia bertemu Hasan Tiro, awal tahun
1970-an.
Pertemuan tersebut berlangsung di salah satu gedung mewah di Fifth
Avenue, Manhattan, New York, satu kawasan yang dikenal sebagai pusat
perbelanjaan mantel bulu cerpelai. "Fifth Avenue adalah tempat yang paling mewah
di New York," ujar Siegel.
"Hasan Muhammad Tiro orangnya cukup pintar, serius sekali, dan tidak
main-main. Dia seolah tidak pernah bisa lepas dengan masa kecilnya yang sangat
dihormati orang-orang di Tiro pada masa itu," kata Siegel. Dan dalam beberapa
hal, tambahnya, Hasan Tiro amat menarik, tapi terkesan aneh. Menurut Siegel,
ketika mereka bertemu, Hasan Tiro tampak sangat gagah, ganteng, dan bahkan
seperti orang Amerika. Hasan Tiro juga terlibat dengan kalangan pengusaha sukses
di AS. Setelah pertemuan itu, hubungan keduanya putus sama sekali. Masing-masing
sibuk dengan pekerjaan. Hingga kemarin, Siegel tak pernah berkomunikasi lagi
dengan Hasan Tiro. Dan ia sangat ingin bertemu lagi.
Siegel (62) --yang pernah sangat dekat dengan ulama pejuang karismatik
Tgk Muhammad Daud Beureueh-- banyak bercerita soal "sepak terjang" Hasan Tiro,
terutama mengenai pertemuan mereka dan buku Unfinished Diary yang ditulis
proklamator Aceh Merdeka itu, pada 4 Desember 1976 silam. Buku setebal 225
halaman tersebut merupakan cacatan harian Hasan Tiro, sejak dia pulang ke Aceh
pada 4 September 1976.
Berikut petikan wawancara Harian Serambi Indonesia dengan Siegel.
Bagaimana Anda bisa bertemu dengan Hasan Tiro?
Itu lama sekali, awal tahun 70-an. Kala Beliau mendirikan Aceh Merdeka, kalau
saya tidak salah. Pada waktu itu, buku saya "Pertalian dengan Tuhan" baru
keluar. Buku itu tentang Aceh yang saya teliti di sini tahun 1962-1964. Saya
tidak tahu bagaimana ia dapat buku itu. Entah saya kirimkan atau dia dapat
sendiri. Lalu, ia tulis satu surat kepada saya. Saya terkesan. Jadi, saya
gembira bertemu dia. Saya terkesan lagi pada dia. Dia ... dia, saya kira seorang
yang punya dua sifat. Dia cukup pintar dan serius sekali. Dia tidak main-main.
Artinya, grafiknya tinggi sekali. Saya bisa bicara sama dia. Yang kita bicarakan
seputar keadaan Aceh pada waktu itu.
Proses pertemuan itu sendiri?
Saya di tempat mengajar, di Cornell University. Kira-kira 600 km dari kota New
York. Saya datang ke Manhattan, New York. Cukup aneh juga pertemuan itu. Saya
diberi satu alamat di Fifth Avenue. Tahu Anda ya. Fifth Avenue itu tempat yang
paling mewah di New York. Sewanya luar biasa. Bagi saya yang baru saja mengajar,
dengan gaji kecil, ke tempat itu bagai diajak pergi ke istana.
Ha..ha...ha....ha.....
Lalu...
Ada satu gedung kira-kira berhadapan dengan 'World Trade Centre'. Berdasarkan
alamat yang diberi kepada saya, tapi saya tidak ingat lagi lantai berapa. Di
gedung itu ada tulisan-tulisan nama kantor. Tapi, ada satu lantai yang kosong.
Nah, itulah dia tempatnya. Itu gedung besar sekali.
Ada yang menunggu Anda di depan gedung?
Tidak. Tapi langsung masuk lobi, saya naik elevator. Tidak ada tanda apa-apa.
Saya bertemu sekretaris, seorang wanita. Saya katakan siapa saya sama orang itu,
dan tujuan saya mau ketemu Hasan Muhammad Tiro. Ia jawab 'boleh'. Ia mengetuk
pintu satu ruangan. Lantas, Hasan Muhammad Tiro keluar. Ia bawa saya ke sebuah
kantor.
Kantornya masih di lantai kosong itu?
Ya, masih di lantai itu. Kantor itupun sama sekali tidak ada nama.
Misterius, ya?
Ya, misterius sekali, ha..ha...ha.... Di dalam kantor ada kursi, meja, hiasan.
Tidak ada sesuatu yang bisa diduga dari hiasan itu. Kita bicara. Kami bicara
lama sekali. Saya lupa berapa jam. Saya senang sekali bicara sama dia. Sebab,
masalah saya tertarik tentang Aceh. Tak satupun bisa diajak bicara tentang Aceh,
tapi ada orang yang tahu banyak Aceh yaitu Hasan Muhammad Tiro. Itu menarik,
Waktu itu Anda berbicara dengannya menggunakan bahasa apa?
Saya tidak ingat. Tapi, saya kira pakai bahasa Aceh. Kemudian, dia mengajak saya
ke rumahnya.
Anda memenuhi undangannya?
Ya, tentu saja. Saya tidak ingat lagi apakah makan siang atau makan malam.
Rumahnya juga cukup mewah dan cantik. Masih di Manhattan. Tepatnya, saya sudah
lupa. Tapi, yang pasti ada pemandangan sangat indah untuk dinikmati dari rumah
itu.
Anda bertemu dengan istri atau keluarganya?
Ya. Istrinya seorang Belgia. Dia cantik sekali. Rambutnya kuning. Orangnya
sangat manis. Saya terkesan juga. Yang kita bicarakan juga sama seperti tadi.
Tentang anaknya saya sudah lupa. Mungkin ada, tapi anaknya masih kecil.
Setelah undangan makan itu, ada pertemuan lagi?
Saya lupa. Tapi, seingat saya tidak ada kontak lagi antara kami.
Kembali ke kantor tadi, Anda ada melihat orang lain?
Saya tidak melihat ada orang lain di situ. Dia bilang itu kantor. Tapi di New
York banyak gedung yang bisa disewa per jam. Artinya, orang yang perlu kantor
buat sementara boleh pakai itu. Dia pakai alamat itu. Dia ada kartu nama dengan
alamatnya di gedung itu. Saya kira dia pakai kantor itu per jam. Pada waktu itu,
banyak orang bilang dia akrab dengan CIA.
Menurut informasi, Hasan Tiro pernah melobi Presiden Nixon?
Saya tidak tahu karena saya tidak ada di sana. Tapi, saya kira itu sangat tidak
mungkin. Tapi, kalau hubungan dengan CIA kemungkinannya betul. Tapi, kita perlu
melihat surat-suratnya. Sebab, waktu itu (sebelum Orba) CIA banyak memakai
orang-orang Indonesia untuk kepentingannya.
Katanya, dia juga sering melobi PBB agar memasukkan masalah Aceh dalam agenda
Majelis Umum?
Saya kira, lobi di PBB sangat sukar sekali. Apalagi ingin bertemu dengan Sekjen
PBB. Misalnya Kofi Annan sekarang. Kalau kirim surat mungkin. Saya juga bisa
kirim surat pada Kofi Annan. Tapi, kalau ingin bertemu, sangat sulit. Saya bisa
katakan, lebih mudah bertemu presiden. Misalnya, Anda datang ke istana dan
bilang "saya ingin bertemu presiden sebentara saja". Itu bisa. Sedangkan dengan
Sekjen PBB sulit sekali prosesnya.
Bagaimana kehidupannya?
Dia selalu hidup mewah. Katanya di Swedia juga. Dalam buku Unfinished Diary
disebutkan bahwa dia menjadi penasihat pengusaha-pengusaha besar. Jadi, ada
hubungan erat dengan orang-orang the top fifty (50 orang hebat, red). Mungkin
uangnya dari mereka. Dia cukup uang. Asalnya dari mana, dia tidak mau bilang.
Walaupun banyak uang, tapi uang nomor dua buat dia. Bukan nomor satu. Saya kagum
sama dia. Perjuangannya buat Aceh bisa disatukan.
Mengapa Anda kagum?
Buat saya, dia aneh. Aneh bukan saja dalam sejarah Indonesia, tapi juga Aceh.
Hidupnya, menurut saya, terobsesi oleh masa kecilnya ketika di Tiro. Itu bisa
kita baca dalam buku yang dikarangnya sendiri, yaitu Unfinished Diary tadi.
Ditulis dalam bahasa Inggris yang tak sempurna. Itu menarik buat saya, karena
ditulis sendiri. Buku itu catatan hidupnya yang belum siap. Bagi saya penting
sekali sebab selalu dikaitkan dengan pengalaman saat ia masih kecil. Seterusnya
hal-hal itu, diungkapkan dengan cara berbeda-beda.
Bagaimana garis besarnya?
Dalam buku itu ditulis, pada waktu ia kecil, ia pergi sekolah selalu terlambat.
sebab orang-orang yang naik sepeda selalu hormat dia. Ia merasa terganggu dan
pernah mengadu pada ibunya. Tapi, ibunya bilang bahwa dia harus menerima
kenyataan karena itu terhormat. Ia selalu ingat apa yang dikatakan ibunya. Dan,
orang begitu setia pada dia sebab ia orang Tiro, keturunan Tgk Chik di Tiro.
Ketika ia turun gunung, dia selalu terharu kepada orang yang setia padanya.
Sebab mereka selalu mencium tangannya.
Bentuk perjuangannya sendiri?
Ia bukan hanya berjuang dengan cara fisik tapi mensosialisasikan sejarah Aceh.
Supaya orang kampung, orang dusun mengerti. Lantas dengan itu ia yakin orang mau
merdeka. Baginya yang sudah berlalu bukan sejarah, tapi contoh. Dan itu akan
kembali. Baginya, saya kira, orang di Tiro pewaris Aceh. Ketika sultan kalah,
yang berjuang orang Tiro, Teuku Cik di Tiro, dan ia pewaris mereka. Nanggroe
Aceh, saya kira, adalah nanggroe Tiro. Itu dalam pikiran dia. Tapi, bagi saya
dia menarik sekali. Misalnya, orang yang kenal Tgk Hasan Muhammad Tiro sedikit
sekali. Orang hanya tahu namanya. Itu buat saya aneh. Saya ingat Abu Daud
Beureueh, walaupun di gunung, semua orang Aceh waktu itu kenal beliau. Jadi
hubungannya dengan yang diperjuangkan jelas. Dia tetap di Aceh. Dia sama sekali
tidak mau keluar dari Aceh. Ia dikasih rumah, kendaraan, sama sekali tidak mau.
Walaupun dia menyerah, tapi tak boleh dibilang kalah.
Anda mengetahui kabar Hasan Tiro sekarang?
Banyak orang yang bilang sama saya bahwa dia sakit. Tapi, saya tidak tahu pasti
apakah dia sakit atau tidak.
Apa pendapat Anda dengan rencana Pemda Aceh yang ingin mengundang Hasan Tiro
dalam Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh, April mendatang?
Saya kira sulit. Sebab untuk mempertemukan pikiran antara Hasan Muhammad Tiro
dan Syamsuddin Mahmud sangat sulit. Sebab, saya kira, Hasan Muhammad Tiro tidak
tahu bagaimana perkembangan di Aceh saat ini.
Anda mau kalau diminta untuk menghubungi Hasan Tiro?
Ya, saya sangat mau sekali. Bilang sama Pak Syamsuddin, saya bersedia
menghubungi Hasan Muhammad Tiro.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 26 Feb 1999 jam 12:32:49 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++