----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 07/II/25 Februari-3 Maret 99
------------------------------

INTRIK ICMI-KAHMI MAKAN KORBAN

(PERISTIWA): Sofyan Wanandi dan Arifin Panigoro akan diseret ke pengadilan
atas saran ICMI dan KAHMI. Mengapa mereka dianggap berbahaya?

Isi percakapan telepon antara Jaksa Agung, Andi M. Ghalib dan Presiden B.J.
Habibie  kian terbukti kebenarannya. Pemeriksaan mantan Presiden Soeharto
memang hanya gula-gula untuk rakyat, akan halnya dua konglomerat: Sofyan
Wanandi dan Arifin Panigoro, serius dibawa ke pengadilan. Fokus utama
rekaman percakapan telepon, yang diakui kebenaranya oleh Habibie, sebenarnya
soal pemeriksaan Panigoro dan Sofyan, sedang soal Soeharto, hanya hal kedua.
Coba kita simak lagi percakapan itu.

Habibie: Begini, saya mau tanya mengenai orang itu, seperti e... apa
namanya, Panigoro dan Jusuf eh apa, Wanandi dan yang saya kasih
bahan-bahannya itu, gimana?

Ghalib: Jalan terus, Pak.

Habibie: Jalan ya, karena orang tanya-tanya itu.

Ghalib: Cuma, (kita) khawatir kalau tindakan kita kontra produktif.

Habibie: Soalnya, dia gerak orang itu, dia gerak.

Ghalib: Ya, tapi kita pegang terus, ya. Pegang tapi kita mau mengarahkan
kepada suatu...

Habibie: Coba deh, begini, tolong saya diberikan laporannya deh. Bagaimana
keadaannya, sampai sejauh mana itu.

Ghalib: Ya, dan ini kebetulan itu bersamaan dengan kasus-kasus penanganan
Pak Harto.

Habibie: Ya, ya, saya mengerti, ya. Tidak bisa cepat juga karena ada kasus
Pak Harto.

(Dilanjutkan percakapan soal pemeriksaan Soharto)

Habibie: Jadi tolong itu ya sekarang diisi dengan ketiga orang itu
(maksudnya: Sofyan, Panigoro dan Soeharto)

Ghalib: Insya Allah, Pak.

Habibie: Heeh, karena tadi saya dapat feedback dari Pak Achmad Tirto (Achmad
Tirto Sudiro, Ketua Harian Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia/ICMI)). Pak
Achmad Tirto tadi dia datang sama saya en dia baru, kan ICMI. Ha, dia dari
ICMI terus juga dari KAHMI (Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam). En,
itu mereka (maksudnya Panigoro dan Sofyan) udah-udah mulai bergerak. Jadi,
ditanya, kok kenapa nggak... nggak ada yang Panigoro dan Cs itu... Padahal
dia sekarang mulai bergerak dia finance-finance yang lain.

Jelas, ihwal terpenting dari percakapan telepon yang berlangsung 9 September
1998 itu adalah penindakan terhadap Sofyan dan Panigoro. Soeharto
disebut-sebut karena, pengusutan terhadap kedua pengusaha itu terhambat
karena kinerja Kejaksaan Agung tersebut untuk memeriksa kasus Soeharto. Nah,
kalau Ghalib tak menyebut soal Soeharto, nampaknya Habibie juga tak akan
membicarakannya.

Apa sih alasan Habibie menindak kedua konglomerat itu? Kalau kita cermati
lagi percakapan itu, Habibie menyebut ada orang yang menanyakan soal
pengusutan Sofyan dan Panigoro. Dan, orang yang menanyakan itu Achmad Tirto
Sudiro, Ketua Harian ICMI yang juga anggota Dewan Pertimbangan Agung.
Selain, ICMI, yang menuntut agar kedua pengusaha itu, yang satu keturunan
Cina, yang satunya lagi pribumi, diseret ke pengadilan adalah KAHMI.

Sofyan dan Panigoro nampak ancaman serius bagi kedudukan politik Habibie,
setidaknya menurut orang-orang di seputarnya. Habibie bahkan memberi
bahan-bahan yang diperlukan Ghalib untuk melakukan pengusutan. Habibie juga
cemas, karena Sofyan dan Panigoro, setidaknya dalam kaca mata politik
Habibie, sudah bergerak untuk menghentikan laju gerbong politik Habibie.

Panigoro, harus diakui memang membuat keder Habibie dan orang-orangnya.
Panigoro beberapa waktu lalu mengaku bahwa ia mengeluarkan uang yang tak
sedikit untuk membiayai aksi-aksi mahasiswa. Nah, aksi-aksi yang dibiayainya
bukan hanya ketika mahasiswa menjatuhkan Soeharto, namun juga membiayai
aksi-aksi anti Habibie.

Tentu saja, pengakuan itu membuat berang, apalagi Panigoro amat dekat dengan
kalangan oposisi, seperti Amien Rais dan tokoh-tokoh Partai Keadilan dan
Persatuan yang terdiri dari para pensiunan jendral dan mantan menteri itu.

Jadilah. Ia kena sodok. Comercial Paper (CP) senilai triliunan rupiah, yang
diterbitkan Medco yang belum terbayar, yang dulu dibeli PT Jasindo, jasa
asuransi milik pemerintah, dijadikan soal pidana. Panigoro dijerat
pasal-pasal korupsi. Panigoro sendiri membantah melakukan korupsi. CP itu
belum bisa terbayar karena krisis moneter dan sebelum ini PT Jasindo sudah
bersedia melakukan penundaan jatuh tempo. Kalau toh PT Jasindo tak mau
ditunda pembayarannya, sebenarnya soal ini cuma soal perdata, soal
utang-piutang atau bisa diselesaikan di peradilan niaga. PT Jasindo cukup
melakukan gugatan pailit dan CP-nya bisa dicairkan dengan penjualan
aset-aset Medco.

Pemerintah tak peduli argumentasi itu. Panigoro dan Sofyan pun dicekal.
Hebohnya, kedua orang ini bisa pergi ke luar negeri. Keduanya izin
meninggalkan Indonesia untuk berobat di Amerika Serikat. Kendati dicekal,
Sjamsu Djalal, JAM Intel mengijinkan kedua orang itu pergi. Menurut sumber
Xpos di Kejagung, lolosnya Panigoro dan Sofyan ini yang membuat mantan
Komandan Pusat Polisi Militer ABRI itu dipecat dari jabatannya.

Kalau Panigoro segera kembali setelah Menteri Pangan dan Holtikultura, A.M.
Saefuddin mengatakan ia buron, Sofyan tak kunjung kembali kendati tiga surat
panggilan Kejagung sudah dilayangkan. Sofyan kini tengah berada di AS,
mengobati penyakit jantungnya di sebuah klinik kesehatan. Sofyan dikenai
tuduhan menyalahgunakan kredit dari BNI dan BRI sebesar US$16 juta dan resmi
dinyatakan sebagai tersangka. Juga seperti halnya Panigoro, tuduhan ini ngawur.

Menurut Mulya Lubis, kuasa hukum Sofyan, kredit itu bukan diterima untuk
pribadi Sofyan, melainkan diterima PT Gemala Sarana Upaya. Namun pada
perusahaan itu, Sofyan bukan pemegang saham, direksi atau komisaris. Kalau
soal pinjaman bermasalah di bank pemerintah, itu bukan monopoli Sofyan namun
juga terjadi pada sejumlah konglomerat seperti Ciputra dan The Nin King
yang kreditnya macet di BRI triliunan rupiah. Apa dosa politik Sofyan? Tak
lain, karena ia salah seorang pendiri CSIS dan anggota Opsus bentukan Ali
Moertopo. Sofyan dinilai amat berdosa di kalangan Islam garis keras yang
dulu jadi korban Opsus. Ini memang cerita lama.

Namun, cara-cara Habibie dan kelompoknya, menggunakan institusi negara untuk
kepentingan politik mereka, sama sekali tak bisa dibenarkan dan melawan
hukum. Benar kata Matori Abdul Jalil, Ketua Partai Kebangkitan Bangsa,
Habibie harus mundur. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 26 Feb 1999 jam 14:55:01 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke