---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 07/II/25 Februari-3 Maret 99 ------------------------------ KALAU REZIM TAK TUMBANG (POLITIK): Bisa jadi "kekuatan politik lama" akan tetap dominan dalam pemilu nanti. Bisakah kekuatan pro-reformasi terima seandainya kalah dalam pemilu? Tampaknya, takkan ada pemenang mayoritas dalam pemilu Juni nanti. Ini menurut pendapat para pakar, termasuk mereka yang tergabung dalam Panitya Persiapan Pembentukan Komisi Pemilihan Umum (P3KPU) atau lebih dikenal dengan "Tim Sebelas". Longgarnya persyaratan pendaftaran, kemungkinan akan banyak partai politik (parpol) yang lolos dari seleksi. Hingga hari terakhir pendaftaran parpol di Departemen Kehakiman, Senin lalu (22/2), sudah 146 parpol yang mendaftarkan diri. Memang dari sekian banyak yang mendaftar, baru sekitar 18 yang mengembalikan formulir untuk diverifikasi oleh Tim Sebelas. Tapi berbagai pihak yakin -termasuk dari parpol- jumlah tersebut bakal melonjak menjadi puluhan dalam waktu dekat. Yang hingga kini telah mengembalikan formulir antara lain: Partai Umat Islam, Partai Rakyat Indonesia, Partai Amanat Nasional, Partai Suni, Partai NU, Partai Umat Muslim Indonesia, Partai Mencerdaskan Bangsa, Partai Republik, PDI Perjuangan, Partai Nasional Demokrat, Partai MKGR, Partai Bulan Bintang, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Demokrasi Kasih Bangsa, Partai Keadilan serta Partai Keadilan dan Persatuan. Dengan banyaknya parpol yang berlaga, maka dengan sendirinya perolehan suaranya dalam pemilu pun akan lebih terbagi. Bisa jadi, parpol-parpol besar seperti PDI Perjuangan, PAN dan PKB tidak akan meraih persentase suara seperti yang mereka harapkan. Bahkan mungkin, juga tidak sebanyak yang diperkirakan sejumlah lembaga penelitian yang terpercaya. Dalam hitungan Econit, PDI Perjuangan akan meraih 20 persen suara, sama dengan PAN. Golkar meraih 15 persen suara, sedangkan partai lainnya kurang dari 20 persen. Ada lagi perhitungan lebih pesimistis yang memperkirakan, parpol-parpol besar itu takkan mampu merebut lebih dari 12 persen suara. Sisa suara yang lain, akan terbagi oleh parpol-parpol kecil. Jika komposisinya memang demikian, bisa dibayangkan, kemungkinan terbentuknya pemerintahan koalisi hasil pemilu mendatang. Ini bisa berarti berita baik, bisa juga tidak. Kalau asumsinya Golkar (baca: kekuatan politik lama) tak akan memperoleh suara yang berarti, mungkin ini bukan soal besar. Tapi, kalau ternyata Golkar bisa meraih suara lebih besar dibandingkan parpol lain, bakal ada masalah yang timbul. Mengapa? Secara psikologis, sejak mantan Presiden Soeharto lengser di bulan Mei tahun lalu, tuntutan terhadap reformasi total tidak lagi dapat dibendung. Kalau saja pemerintahan BJ Habibie, tidak menjanjikan akan menyelenggarakan pemilu lebih cepat, mungkin juga ia sudah terdepak. Umumnya masyarakat, dan khususnya mahasiswa, memang tidak menginginkan orang-orang yang pernah terkait dengan pemerintahan Orde Baru untuk tetap berada dalam kursi kekuasaan. Karena itu, bagi mereka, pemilu nanti semestinya menjadi batas akhir kekuasaan Habibie yang dulu dikenal merupakan orang terdekat Soeharto. Kalau ternyata "kekuatan politik lama" masih dominan, ketidakpuasan rakyat bisa kembali meledak. Dan ledakannya bakal makin dahsyat, karena kemungkinan didukung gerakan-gerakan yang sejak awalnya sudah menolak pemilu. Parpol yang ikut pemilu sekalipun sudah wanti-wanti soal ini. Seperti dikemukakan oleh Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan, Edi Sudradjat, bahwa bangsa Indonesia akan ambruk bila tampuk kepemimpinan nasional dipegang oleh orang-orang yang keabsahannya diragukan. "Apalagi kalau mereka memiliki rekor dalam soal pengembangan budaya kolusi, korupsi dan nepotisme." Mantan Menhankam di masa pemerintahan Soeharto ini menekankan, "PKP sangat menentang munculnya tokoh-tokoh seperti itu, kita juga tidak mau memunculkan lagi budaya Orba yang membangkrutkan bangsa." Celakanya, "kekuatan politik lama" kelihatannya bisa saja terus dominan. Setidaknya, begitu, menurut pendapat Amien Rais. Mengambil asumsi perkiraan Econit bahwa Golkar bisa meraih 15 persen suara atau sekitar 75 kursi, sepertinya kekuatan lama ini tidak akan dominan. Tapi, jangan lupa, untuk menjadi presiden dibutuhkan dukungan dari MPR sebanyak dua pertiga suara atau sekitar 467 suara. Dan dalam kenyataannya, anggota MPR dari utusan golongan sebanyak 65 orang dipilih oleh presiden. Sementara 135 orang utusan daerah yang dipilih DPRD sekarang, akan cenderung mendukung Habibie. "Ini masih ditambah 38 suara ABRI dan tambahan dari Golkar," ujar Amien seperti dikutip Kompas. Dalam perhitungan Amien, sekitar 300 suara dipastikan akan mendukung Habibie sebagai presiden. Seandainya ia sendiri dengan PAN-nya, Megawati dengan PDI Perjuangan-nya, Yusril Ihza Mahendra dengan Partai Bulan Bintang-nya atau Nurhmahmudi Ismail dengan Partai Keadilan-nya mau menyaingi Habibie, dibutuhkan 310 suara tambahan. "Itu sangat tidak mungkin," tandasnya. Untuk itu Amien menyarankan agar parpol-parpol yang menghendaki reformasi harus memikirkan langkah melakukan koalisi. "Kalau mau kalahkan status quo, kita harus lakukan koalisi," ujarnya lagi. Koalisi yang dibayangkan Amien bukan saja terbatas antara dua partai, misalnya PAN dan PDI Perjuangan. Tapi harus melibatkan seluruh kekuatan yang dianggapnya pro-reformasi seperti PKB, PBB, PK bahkan PPP. Tak masalah kalau dengan koalisi ini kekuatan pro-reformasi bisa tetap memenangkan pertarungan. Masalahnya, kalau koalisi ini kalah, kendati pemilunya berlangsung jujur, maukah mereka menerima kekalahan? Bagi pengamat politik Dr. Hermawan Sulistyo, "Ini sungguh ujian berat bagi demokrasi." Yang terbayang adalah kerusuhan yang kembali terjadi -padahal, banyak pihak berharap pemilu bisa meminimalisir kerusuhan. Nah, berharaplah -dan berusahalah- supaya hal-hal buruk tidak kembali terjadi. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 26 Feb 1999 jam 18:18:52 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
