----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 07/II/25 Februari-3 Maret 99
------------------------------

DI HUTAN JUGA ADA KOLUSI

(INVESTIGASI): Sedikitnya 4000 hektar hutan penyangga di Jember telah habis
dijarah. Diperkirakan total putaran uang hasil penjarahan mencapai 600
juta/hari. Aparat keamanan terlibat?

Iring-iringan sepeda dengan muatan balok jati dengan santainya melintas di
jalan. Mereka berhenti tepat di depan balai Desa Curangnongko. Sebentar
kemudian mereka terlihat menaikkan balok-balok terseut ke dalam truk yang di
parkir. Dari arah mereka datang, dapat dipastikan mereka keluar dari kawasan
Taman Nasional Meru Betiri. Lho kok dari sana?

Kawasan Taman Nasional Meru Betiri saat ini merupakan salah satu taman
nasional yang berfungsi sebagai lahan konservasi sumber daya alam terutama
sebagai benteng terakhir bagi pelestarian harimau Jawa (Pantera Tigris
Sondaica). Areal yang dimilikinya seluas 58.000 ha di wilayah perbatasan
Jember dan Banyuwangi. Kawasan konservasi ini memiliki kekayaan 70 jenis
fauna dan 290 jenis flora. Satu kekayaan alam yang sangat berarti. Namun
saat ini kawasan yang seharusnya dilindung ini justru menjadi kawasan yang
sangat potensial bagi penjarahan kayu jati.

Sampai saat ini luas areal yang telah habis dijarah adalah kawasan penyangga
(buffer zone) menyampai ribuan hektar di tiga desa di Kab. Jember. Bahkan
untuk wilayah penyangga di desa Andongrejo Kec. Tempurejo, 4.000 hektar
hutan penyangga telah habis dijarah, demikian pula dengan kawasan penyangga
di tiga desa yang lain. Meski beberapa waktu yang lalu kawasan penyangga ini
mengalami tanah longsor akibat habisnya tanaman di kawasan ini. Tetapi
penjarahan jaln terus. Bahkan saat inipun  penjarahan telah memasuki wilayah
rimba.

Penjarahan yang telah berlangsung sejak bulan Juli tahun 1998 ini melibatkan
tidak kurang dari 400 tenaga kerja/hari. Dengan upah berkisar antara
Rp40.000-Rp50.000 perhari/orang menjadikan profesi pengempleng (penebang
kayu jati) sebagai pilihan kerja yang cukup menggiurkan bagi penduduk di
sekitar lokasi taman nasional ini. Dari upah yang diberikan kepada para
pengempleng, putaran uang untuk penjarahan ini berkisar pada Rp160 juta
sampai Rp200 juta perhari. Apalagi kalau ditambah dengan biaya transportasi
dan uang tempel kepada petugas jagawana. Seorang aktivis lingkungan Jember
memperkirakan total putaran uang mencapai Rp600 juta/hari. Dengan harga jual
Rp750.000 perkubik di pasar gelap, dapat dihitung berapa kubik kayu yang
dilang dalam sehari. Dan tinggal berapa pohon lagi yang akan ditebang sampai
kawasan ini benar-benar habis.

PELAKU TERORGANISIR
Rata-rata pengempleng berasal dari desa sekitar kawasan penyangga. Mereka
sebenarnya masih punya pilihan kerja di bidang lain, namun tawaran upah yang
menggiurkan membuat para pengempleng ini beralih profesi. Sedang dalam tata
kerjanya, para pengempleng ini memiliki majikan yang disebut blandong. Satu
blandong biasanya membawahi 10-15 pengempleng. Diatasnya lagi ada pengepul
yang bertugas mengkoordinasi para blandong dan membawa keluar kayu jarahan ini.

Jangan heran kalau kayu jarahan ini sampai ke Surabaya, bahkan ke Bali.
Seorang sumber bahkan mengatakan kayu jarahan ini sebagian diekspor. Siapa
eksportirnya? " Itu, kiai yang selama dikenal sangat dengan MbakTutut itu.
Semua orang tahu kalau dia mendapat kayu jarahan yang dia ekspor " kata
sumber dari Curahnongko ini.

Ir. Indra Arinal, Kepala Taman Nasional Meru Betiri mengakui bahwa
keterlibatan penduduk di sekitar kawasan penyangga merupakan masalah yang
sangat kompleks diatasi. Apalagi dalam suasana euphoria seperti sekarang
ini. "Upaya pencegahan sebenarnya telah kami lakukan, tetapi saat ini  kami
harus dihadapkan pada kondisi masyarakat yang sudah tidak percaya lagi pada
wibaba aparat keamanan. Bagi mereka saat ini ngempleng itu sudah menjadi
masalah hidup mereka" kata alumni IPB ini.

Sebenarnya dengan upah yang tinggi itu para pengempleng harus berhadapan
dengan berbagi resiko, termasuk ancaman terhadap jiwanya. Tidak jarang pula
penjarah kelas teri ini yang sering menjadi sasaran tembak, seperti yang
tertera dalam laporan rutin kepolisian. "Sampai saat ini sudah ada 23 orang
yang diproses ke pengadilan," kata Lettu Winarto, Kasat Serse Polres Jember.
Dari 23 orang itu tidak ada satu blandong ataupun pengepul yang terjerat.
"Semuanya pengempleng yang tertangkap tangan," kata Lettu Winarto
menambahkan. Tak heran vonis yang dijatuhkan pun berkisar hanya 3-5 bulan
penjara. Anggota militer? "Ada, tetapi mereka bukan bagian dari kawanan
penjarah, kayu yang dia ambil untuk keperluan mereka sendiri," kata perwira
pertama ini buru-buru memberikan alasan. Mengapa blandong dan pengepul
selalu lolos dari sergapan? Apakah sudah demikian canggih kawanan penjarah ini?

APARAT KEAMANAN TERLIBAT
Keterlibatan aparat Jagawana maupun militer membuat semakin maraknya
penjarahan kayu. Sulit diterima akal, ribuan kubik kayu jati selalu lolos
dari portal penjagaan di pintu masuk kawasan koservasi ini. Kolusi antara
kawanan penjarah dan jagawana demikian kentara. Indikasi ini tidak ditampik
oleh Indra Arinal, tetapi buru-buru dia menambahkan bahwa anak buahnya tidak
berdaya berhadapan dengan orang di balik para pengepul. "Berapa sih
kemampuan anak buah saya? Kalau hanya mereka saja yang terlibat saya sanggup
menggencetnya. Seperti Widianto yang Anda sebut. Saat inipun tengah diproses
secara administratif kepegawaian. Anggota militer itu yang membuat kawanan
penjarah semakin meraja lela," katanya. Widianto yang dimaksud adalah Kepala
Seksi Regional Ambulu yang selama ini dikenal sebagai blandong sekaligus
perantara antara pengepul dengan aparat keamanan.

Tentang leluasanya truk keluar masuk di pintu portal Indra menanggapi dengan
dingin, bagi dia pintu portal itu bukan wilayah kewenangannya, jadi bukan
tugas dia untuk menertibkan. "Tanya saja pada Perhutani, mengapa pintu
portal selalu kosong? Kemana petugas jaga itu pergi?" katanya dengan sinis.

Dari beberapa sumber diperoleh informasi bahwa anggota militer yang terlibat
berasal dari beberapa kesatuan di Jember. Anggota polisi yang bertugas
mengamankan transportasi di luar wilayah Jember ke tempat tujuan. Sedang
untuk pengamanan dikawasan taman nasional melibatkan anggota militer dari
Koramil Tempurejo maupun Ambulu. Apalagi beberapa anggota militer dari
satuan Raipur Armed 8 Ambulu juga aktif menjadi beking. Bahkan markas
instalasi militer ini diyakini banyak pihak sebagai salah satu tempat
penggergajian kayu jarahan sebelum dipasarkan.

Namun hal ini disanggah oleh Komandan Sub Denpom V/3-2 Jember, Lettu (CPM)
Sumino. Bahkan perwira ini menyatakan keheranannya atas beberapa
keberhasilan kawanan penjarah kayu jati lolos dari sergapan aparat militer.
Lettu (CPM)Sumino menambahkan sepertinya kawanan ini selalu mengetahui
rencana operasi yang akan dilakukan oleh militer. Lho kok begitu? "Tetapi
saya jamin anggota saya tidak terlibat," katanya dengan semangat.

Tetapi Lettu Sumino tidak membantah informasi adanya keterlibatan anggota
militer dari beberapa kesatuan yang selama ini ikut secara aktif dalam
penjarahan kayu jati. Termasuk dari satuan Armed 8 Ambulu. "Ya... saya
mendengar informasi itu. Tunggu saja, pasti akan kami tindak," katanya
dengan pasti. Menunggu sampai kapan. Sampai habis kayu jati di kawasan
konservasi ini?

Agaknya melihat ganasnya kawanan penjarah ini serta lambatnya tindakan dari
aparat, kita tinggal menunggu waktu saja melihat gundulnya kawasan rimba,
bahkan kawasan inti Taman Nasional Meru Betiri Tidak usah dalam hitungan
bulan, cukup dalam hitungan minggu saja, hutan konservasi ini akan berubah
menjadi padang tandus. Akibatnya? Siap-siap saja menghadapi bencana longsor
setiap tahun. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 26 Feb 1999 jam 17:50:04 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke