----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

INFO-PEMBEBASAN
================

"TIM SEBELAS" ADALAH PENGKHIANAT REFORMASI TOTAL
(MITOS "PARTAI BESAR" HANYALAH OMONG KOSONG)

Oleh :  Lani Cahyani, anggota PRD

Usaha  membangun demokrasi yang benar-benar bebas bukan hanya terhambat
oleh militer, Habibie dan Soeharto, namun juga terhambat oleh tokoh-tokoh
yang pernah menjadi aktivis pro-demokrasi atau oleh media massa
disebut-sebut sebagai tokoh reformis. Mereka antara lain adalah Nurcholis
Madjid, Mulyana W. Kusuma, Adi Andoyo Sucipto, Andi Rizal Malarangeng, Anas
Urbaningrum, Rama Pratama, dan para petualang politik lainnya.  Mereka yang
karena dukungan media massa banyak diekspose sebagai pro-demokrasi atau
"reformis", kini dimanfaatkan Menteri dalam negeri dan musuh besar
Demokrasi di Indonesia, Majen. TNI Syarwan Hamid. Mereka rela membudak pada
Syarwan Hamid untuk menyelewengkan Pemilu 1999 yang seolah-olah multipartai
ini.

Tim ini bertugas memverifikasi partai-partai calon peserta pemilu, lalu
memberikan rekomendasi kepada menteri dalam negeri Syarwan Hamid untuk
selanjutnya diputuskan apakah partai-partai tersebut layak ikut pemilu atau
tidak. Ini jelas praktek politik yang sangat bertentangan dengan demokrasi.
Semua orang tahu bahwa tidak ada yang berhak menseleksi suatu partai
apakah ia berhak ikut pemilu atau tidak.  Satu-satunya seleksi tersebut
adalah pemilu itu sendiri. Apapun alasannya tidak boleh ada seleksi,
lebih-lebih adalah alasan tehnis, seperti terlalu banyak partai, partai
tersebut dianggap kecil, tidak punya skretariat, dan lain-lain.

Jelas, ini adalah bukti praktek politik orde baru  yang otoriter. Adanya
seleksi ini adalah politik Orde Baru untuk menjegal partai-partai yang
radikal. Biasanya partai-partai radikal memang tidak punya skreatriat megah
karena ia tidak mendapat bantuan dana dari pemerintah, pengusaha dan
imperialis.  Praktek politik ini juga membuktikan, bahwa kata "multipartai"
dalam pemilu 1999 ini hanyalah semu belaka. Bagaimanapun, tetap ada usaha
menjegal  beberapa partai secara administratif maupun dengan alasan lain
seperti asas dan ideologi.

Mitos Partai "Besar"

Memang benar banyak partai yang masih kecil, karena pendirian baru beberapa
bulan yang lalu. Ini berbeda dengan partai yang sudah mapan, seperti Golkar
dan PDI Perjuangan, atau juga dengan partai "jelmaan" organisasi lama
seperti PKB yang merupakan jelmaan NU dan PAN yang merupakan jelmaan
Muhammadiyah, atau PKP yang merupakan jelmaan elemen Golkar, atau PBB yang
merupakan jelmaan Masyumi atau juga partai Keadilan yang merupakan jelmaan
beberapa organisasi dakwah di kampus-kampus. Mereka mapan, karena sepanjang
Soeharto berkuasa hanya menjilat Soeharto dan mereka mendapat dana dari
pemerintahan Seoharto. Golkar, PKP dan PBB jelas mereka adalah elemen Orde
Baru yang turun menindas rakyat. PKP bahkan kumpulan mantan para jenderal
yang berlumuran darah,  seperti  Kemal Idris (PKP) yang bersama-sama
Seoharto turut membantai jutaan Rakyat pada tahun 1965.  Edi Sudrajat (PKP)
juga banyak menindas demokrasi selama ia menduduki jabatan tinggi selam
Seoharto berkuasa. Haryono Isman (PKP) juga telah dikenal khalayak luas
sebagai orang yang terus-menerus menjilat Soeharto. Yusril Mahendra (PBB)
adalah orang kepercayaan Soeharto bahkan ia adalah penulis naskah
pidato-pidato Seoharto, ia masih setia dengan Soeharto sampai detik-detik
menjelang Seoharto lengser.

PKB, adalah parti jelmaan NU, organisasi konservatif yang dalam sejarahnya
tidak berani melawan Soeharto. Bahkan NU adalah organisasi yang juga
mendapat bantuan dana dari pemerintahan Seoharto. Sampai sekarang pun, Gus
Dur, tokoh yang dicalonkan PKB sebagai presiden dan sesepuh PKB, justru
melakukan manuver politik yang menguatkan posisi Habibie, militer dan
Seoharto.  Ia bersama-sama Amien Rais, Megawati, Hemengku Buwono X dan
tokoh-tokoh yang disebut "Ciganjur Plus"  mengendorkan tuntutan pencabutan
Dwi Fungsi ABRI, mengakui pemerintahan Habibie dan mengendorkan tuntutan
pengadilan terhadap Seoharto. Padahal tuntutan itu sedang memuncak
sementara Habibie, Militer dan Seoharto sudah terdesak karena jutaan massa
mahasiswa dan rakyat di Jakarta, serta mahasiswa di berbagai kota di
seluruh Indonesia serentak mendesakkan tuntutan yang seragam  pada saat SI
MPR November tahun lalu. Karena melihat para elit politik sudah berkhianat
terhadap tuntutan mahasiswa dan rakyat, maka militer berani menembaki para
mahasiswa, akibatnya belasan mahasiswa gugur dan ratusan mahasiswa dan
rakyat luka parah  hingga rumah-rumah sakit di Jakarta kewalahan. Gus Dur
justru tidak setuju kalau Soeharto diadili dan mengusulkan rekonsiliasi
dengan Soeharto, Habibie dan Wiranto. Bahkan Gus Dur memfitnah,  dengan
mengatakan bahwa aksi-aksi mahasiswa tersebut didalangi oleh CIA, agen
intelenjen imperialis Amerika. Semua orang tahu bahwa PKB adalah partai
yang meneruskan tradisi budaya politik feodal dan patronase, yang tentu
jauh dari budaya politik demokratis.

Begitu juga dengan PAN. PAN adalah jelmaan Muhammadiyah, organisasi yang
dalam sejarahnya tak pernah berani menentang Soeharto dan juga mendapat
dana dari pemerintahan Soeharto.  Ketuanya, Amien Rais, telah dikenal
sebagai politikus yang tidak konsisten dan oportunis.  Amien Rais baru
berani kritis terhadap pemerintah sekitar satu setengah tahun terakhir ini
(sejak Kasus Busang), sebelumnya ia adalah dosen perguruan tinggi
pemerintah  (UGM) yang tidak pernah kritis dan berusaha cari selamat. Pada
saat Soeahrto terpilih lagi menjadi presiden pada SU MPR Maret lalu, ia
megatakan bahwa perlu memberi kesempatan Seoharto selama 6 bulan untuk
menangani krisis ekonomi. Tapi ketika dua bulan berikutnya (Mei) massa
mahasiswa dan rakyat turun ke jalan-jalan menuntut Soeharto mundur, dan
Soeharto/militer sudak tak berdaya, akhirnya  Amien Rais menjilat ludahnya
sendiri dan ikut-ikutan menuntut agar Soeharto turun.  Dan iapun diekspose
media massa sebagai tokoh yang memimpin massa. Padahal, ia bersama ketua
PBB (Yusril) pernah diusir oleh mahasiswa ketika hendak tampil pada sebuah
demonstrasi besar di salah satu kampus besar di Jakarta. Ketika menjelang
Soeharto jatuh, mahasiswa di Jakarta menduduki gedung DPR/MPR dan mahasiswa
di berbagai kota terus-menerus melakukan demonstrasi, dan mereka menyiapkan
aksi besar menuju Monas dan aksi serentak di seluruh Indonesia pada tanggal
20 Mei, maka pada tanggal 19 Mei Amien Rais datang ke DPR dan mengklaim
bahwa ia akan menggerakkan aksi 1 juta massa pada tanggal 20 Mei. Lalu
militer siap-siap untuk melakukan represi, serta Amien Rais diundang oleh
Pangdam Jaya untuk bernegosiasi. Dan Akhirnya, tanggal 20 Mei pagi Amien
Rais berkhianat, dengan diberi fasilitas siaran televisi, ia menyerukan
untuk membatalkan aksi tersebut dan meminta rakyat yang sudah turun ke
jalan tersebut pulang ke rumah. Namun, ratusan ribu mahasiswa turun ke
jalan. Karena gagal menuju Monas (Istana), maka keesokan harianya, tanggal
21 Mei Soeharto dengan sukses mewariskan kursinya kepada Habibie ? (Coba
bayangkan, jika pada tanggal 20 Mei Amien Rais tidak berkhianat : tentu
massa sukses menduduki istana dan Soeharto tidak sempat mewariskan kursinya
kepada Habibie!) Apa sikap Amien Rais ? Ia mengakui Habibie sebagai
presiden yang sah, dan ia mengatakan memberi waktu Habibie selama 6 bulan.
Tapi, sekarang Habibie hampir satu tahun berkuasa, dan Amien Rais diam
saja.  Media massa memuji-muji Amien Rais sebagai "Bapak Reformasi" dan
mencitrakan dirinya seolah-olah sebagai pimpinan massa dan gerakan
reformasi. Padahal itu tidak teruji dalam kenyataan.  Aksi-aksi mahasiswa
bulan November lalu, misalnya telah membuktikan bahwa Amien Rais dan
tokoh-tokoh Ciganjur lain tak pernah dihiraukan massa, ketika itu
tokoh-tokoh Ciganjur menerima Sidang Istimewa, setuju pengurangan peran
Sospol ABRI dengan waktu 6 bulan; sementara para mahasiswa di Jakarta dan
berbagai kota seluruh Indonesia dengan dukungan massa rakyat yang jumlahnya
mencapai jutaan melakukan demonstrasi-demonstrasi menolak Sidang Istimewa,
menunut pencabutan Dwi Fungsi ABRI (termasuk kursi di DPR), menuntut
pengadilan Soeharto dan menyerukan pembentukan pemerintahan transisi. Ini
adalah bukti nyata, bahwa mereka yang dimitoskan sebagai "pimpinan massa"
sama sekali tidak punya pengaruh di massa.  Hal ini sesungguhnya bukan
terjadi pada Bulan November lalu, tapi sejak jauh-jauh sebelumnya. Baik
Amien Rais, Megawati maupun Gus Dur sama sekali tidak punya peran dalam
aksi-aksi menentang Soeharto, baik ketika aksi-aksi tersebut baru berupa
aksi-aksi kecil sampai aksi-aksi besar menjelang Seoharto jatuh. Aksi-aksi
tersebut diorganisir para aktivis mahasiswa, yang selama bertahun-tahun
secara tertatih-tatih menggerakkan massa; yang mulanya jumlahnya cuma
belasan, lalu perlahan-lahan meningkat menjadi ratusan, lalu ribuan, lalu
puluhan ribu lalu ratusan ribu dan seterusnya. Mereka mengorganisir aksi
tersebut secara tertatih-tatih, bahkan banyak diantara mereka yang
mengorbankan kualiah mereka untuk menjadi aktivis full-time atau
setidak-tidaknya kuliah mereka menjadi tersendat-sendat, karena komitmen
mereka pada perjuangan menegakkan demokrasi.

Bagaimana dengan partai lain, partai Keadilan misalnya ? Partai Keadilan,
beriku aktivis dan pimpinannya seola-olah datang dari langit. Mereka sama
sekali tidak ada perannya dalam menumbangkan Soeharto bahkan mengkritik
Soeharto sekalipun tidak pernah. Bahkan ketuanya adalah seorang pejabat di
BPPT, lembaga elit pimpinan Habibie.  Nampaknya, orang-orang di partai ini
hanyalah mereka yang 'nanggok', yang diuntungkan, dengan terdesakkan rejim
sehingga mengijinkan paratai-partai berdiri.

Benarkan Mereka Punya Basis Massa Besar ?

Selama ini media massa dan para intelektual memitoskan beberapa partai
tertentu sebagai partai "besar" yang punya "massa riil". Partai-partai
tersebut antara lain adalah PDI Perjuangan, PAN, PKB, PBB, Partai Keadilan
dan Partai Bulan Bintang. Pemitosan ini memang seolah-olah realistis, pada
hal jauh dari kenyataan.  Tidak aneh jika media massa memitoskan beberapa
partai tertentu, sebab bagaimanapun tidak ada media massa yang netral.
Semua orang sudah tahu, bahwa para pimpinan redaksi dan pemilik media massa
tersebut juga punya kepentingan. Bahkan beberapa pimpinan media massa
menjadi anggota partai politik itu sendiri.  Pemeimpin Redaksi Kompas dan
Pemimpin Redaksi Suara pembaharuan misalnya, mereka menjadi anggota PAN.
Harian Merdeka misalnya, sudah diketahui umum sebagai pendukung PDI
Perjuangan. Jawa Pos, misalnya, dikeathui sebagai fasilitator penernitan
Amanat  (Terbitan PAN) dan sebuah tabloid terbitan PKB. Dan lain-lain,
semua orang tahu media massa tidak pernah bersikap netral. Memang banyak
wartawan yang independen dan punya komitmen profesional yang tinggi dan
dikenal punya integritas terhadap kejujuran, namun bagaimanapun para
pemimpin redaksi dan pemilik modal yang menentukan isisnya.

Pemitosan tersebut menjadi seolah-olah benar dan masuk akal karena
dilapangan didukung oleh banyaknya benderadan spanduk beberapa partai
"besar" tersebut, masih lagi ditambah beberapa praktek mobilisasi massa
dengan jumlah besar pada acara-acara tertentu.  Tentunya siapapun tahu,
bahwa bagi mereka yang punya dana besar dapat memenuhi jalan-jalan dengan
bendera partainya dan mengadakan acara dengan mobilisasi massa besar.
Sebab, untuk membuat sat bendera saja membutuhkan dana setidak-tidaknya
Rp.5.000,00. Dengan memasang bendera di tepi-tepi jalan dengan jarak setiap
50 meter dengan panjang 10 km meter saja, berarti membutuhkan  biaya
sebersar Rp. 1 juta. Coba hitung, berapa biaya untuk memenuhi satu kota
kecil saja ? Sudah menjadi rahasia umum, bahwa banyaknya bendera belum
menverminkan bahwa penduduk di wilayah merupakan basis pendukung partai
tersebut. Sebab juga sudah menjadi rahasia umum bahwa bendera yang
jumlahnya begitu banyak dipasang oleh tidak lebih dari 10 orang. Juga
posko-posko PDI perjuangan, sudah diketahui umum bahwa posko tersebut hanya
kosong alias papan nama belaka.

Bagaimana dengan acara mobilisasi massa yang mereka lakukan. Siapapun juga
bisa memobilisasi massa besar jika punya dana. Acara mobilisasi massa yang
berkali-kali dilakukan oleh PDI, PAN, Partai Keadilan, dan PKB adalah acara
mobilisasi yang  dilakakukan dari berbagai kota, tentu ini membutuhkan
biaya yang sangat besar.

Ini jelas sama sekali tidak mencerminkan seberapa besar basis pendukungnya.
Sementara, partai yang tidak punya dana besar --PRD misalnya-- walau punya
banyak pendukung tidak mampu memasang banyak bendera dan memobilisasi massa
besar, sebab semua itu membutuhkan dana yang besar. PRD tidak punya dana
besar, karean komitmen PRD yang 100% berpihak kepada buruh dan sering
mengorganisir pemogokan buruh, tentu akibatnya tidak ada kapitalis yang mau
menyumbang dana kepada PRD, bahkan para kapitalis terancam oleh PRD. Bagi
PRD, memang lebih baik miskin daripada berpihak kepada penindas. Walau
miskin, PRD punya dukungan sangat kuat dari buruh dan mahasiswa.

Jejak pendapat yang dilakukan oleh beberapa lembaga pada waktu yang berbeda
dan metode yang berbeda, semakin meyakinkan kita bahwa beberapap partai
yang dimitoskan sebagai "partai besar' adalah jauh dari kenyataan.
Contohnya adalah Survey yang dilakukan oleh Laboratorium Ilmu Politik FISIP
UI dan Soegeng Sarjadi
Syndicated pada tanggal 5-11 Agustus 1998.  Jumlah Sampel : 4.925 responden
di 9 kota besar (DKI
Jakarta, Surabaya, DI Yogyakarta, Banda Aceh, Medan, Ujung Pandang,
Pontianak, Denpasar, Kupang). Menado, sebelumnya termasuk kota yang di
survei, namun karena keterlambatan transportasi menyebabkan kuesioner 75
responden tidak dimasukkan dalam analisis. Metodologi : (1) Waktu : Dari
tanggal 5 - 11 Agustus 1998, (2) Teknik Sampling : Pengambilan sampel
dilakukan dengan metode probabilita acak sistemis berdasarkan buku petunjuk
telepon. Responden berusia 17 tahun keatas diwawancarai melalui telepon.

Apa hasil jejak pendapat tersebut ? Hanya 15,6 % yang memilih PDI Megawati,
5,0 % memilih Golkar, hanya 4,2% yang memilih PAN, hanya 4,2% yang memilih
PPP, hanya 1,5% yang memilih PKB, hanya 0,6% yang memilih PBB. Sementara
itu sebanyak 4,3 %  menyatakan GOLPUT ! 2,5 % mengatakan melihat dulu
programnya. Yang lebih spketakuler lagi adalah 43,7 % menyatakan tidak tahu
akan memilih apa dan 15, 8% tidak menjawab !

Artinya :  Jumlah pemilih yang belum tahu akan memilih partai mana sebanyak
43,7%, jelas ini adalah mayoritas mutlak ! Julah yang Golput adalah lebih
besar dari yang memilih PPP atau PKB atau PBB. Jumlah yang tidak menjawab
masih lebih besar dari jumlah yang memilih PDI Perjuangan, GOKKAR atau PAN,
atau partai manapun !

Sedangkan hasil jelak pendapat  oleh Kompas pada tanggal 15 Februari 1999
mendapatkan hasil yang mirip. Jejal pendapat ini diikuti dilakukan dua kali
pada bulan November 1998 (diikuti oleh 815 responden) dan pada bulan
Januari 1999 (diikuti oleh 893 responden) .  Hasilny adalah : Pemilih PDI
Megawati hanay 17,1% (Nov'98) dan hanya 7,1% (Jan'99); pemilih PPP hanya
3,3 % (Nov'98) dan hanya 3,1% (Jan'99); Pemilih PAN hanya 6,3% (Nov'98) dan
hanya 2,8 (Jan'99); Pemilih Golkar hanya 1,7% (Nov'98) dan hanya 1,0%
(Jan'99); pemilih Partai Keadilan hanya 0,6% (Nov'98) dan turin menjadi
0,1% (Jan'99); pemilih PBB hanya 0,3% (Nov'98) dan turun menjadi 0,1%
(Jan'99). Sementara itu yang tidak memilih sebesar 2,1% pada bulan November
98 dan meningkat menjadi 3,1% pada Januari 1999. Yang tidak tahu harus
memilih partai apa sebesar 43 % pada November 1998 dan meingkat menjadi 47%
pada bulan Januari 1999. Ini berarti mayoritas mutlak ! Sementara itu yang
menjawab rahasia sebesar 24,5 % pada November 1998 dan meningkat menjadi
35,6% pada Januari 1999.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh Detikcom, suatu media massa yang terbit
di internet, juga menunjukkan hasil yang mirip. Jejak pendapat ini
dilakukan melalui internet, para responden dipersilakan memilih
partai-partai yang ada. Namun tidak ada piliha untuk Golput, tidak tahu dan
rahasia.  Sampai pada tanggal 27 Februari 1998, jejak pendapat tersebut
diikuti oleh 2.489 responden. Hasilnya adalah  10 besar partai, yakni : PAN
sebesar 884 pemilih (35,5%);  Partai Keadilan sebanyak 827 pemilih (33,2%);
PDI Perjuangan sebanyak 242 pemilih (9,7%); Golkar sebanyak 141 pemilih
(5,7 %); PRTWI sebanyak 135 pemilih (5,4%); PRD sebanyak 79 pemilih (3,2%);
PBB sebanyak 60 pemilih (2,4%); Aliansi Partai Reformasi sebanyak 23
pemilih (0,9%); PKB sebanyak 22 pemilih (0,88%); PPP sebanyak 13 pemilih
(0,5%).

Jadi, sangat jelas bahwa istilah partai besar adalah suatu mitos belaka,
namun setelah diadakan survey secara ilmiah mereka yang disebut-sebut
sebagai partai "besar" ternyata tidak diminati oleh responden. Memang jejak
pendapat ini tidak mencerminkan hasil pemilu nanti. Masih banyak faktor
lain, dari faktor yang sifatnya politis, tehnis dan sogokan. Apalagi pemilu
dilaksanakan oleh rejim Habibie, boneka Soeharto; dilakukan dengan UU yang
tidak demokratis; dan militer masih mencampuri urusan politik. Bahkan,
hasil suara Pemilu nanti biasa direkayasa atau bahkan tidak tertutup
kemungkinan merupakan hasil kesepakatan tertutup beberapa pimpinan partai
dengan militer. Semua hal bisa terjadi.

Namun, bagaimanapun tidak ada yang berhak menentukan siapa itu partai besar
atau partai kecil. Juga tidak ada suatu kelompok yang berhak melakukan
verifikasi sekalipun untuk menjadi acuan apakah suatu partai bisa ikut
pemilu atau tidak. Penilian oleh suatu Tim Kecil --Tim "Sebelas --  tiaak
bisa dipertanggungjawabkan kejujuran, keadilan dan ke-ilmiahannya !

Hasil Polling KOMPAS

No. Parpol        Nov'98       Jan'99
                              n=815        n=893
1.  PDI Mega            17,1         7,1
2.  PPP                         3,3         3,1
3.  PAN                         6,3         2,8
4.  Golkar                   1,7         1,0
5.  P. Keadilan          0,6         0,1
6.  PBB                         0,3         0,1
7.  Tidak pilih           2,1         3,1
8.  Tidak tahu           43          47
5.  Rahasia             24,5        35,6

Hasil Polling "Detikcom", hingga tanggal 27 Februari 1999
Syndicated.
2. Partai Keadilan  (827)
3. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (242)
4. Golongan Karya (141)
5. Partai Rukun Tetangga dan Warga Indonesia (135)
6. Partai Rakyat Demokratik (PRD)  (79)
7. Partai Bulan Bintang (PBB) (60)
8. Aliansi Partai Reformasi (23)
9. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)  (22)
10.Partai Persatuan Pembanguan  (13)
Jumlah seluruh Pemilih (2489)

Hasil Polling Laboratorium Ilmu Politik FISIP UI dan Soegeng Sarjadi
Syndicated

Kategori
Frekuensi               %

1. Partai yang dipimpin Megawati                   780                15,6
2. Partai Golkar (Akbar Tanjung)                        252
5,0
3. Tidak memilih pada pemilu   1999                214                  4,3
4. Partai yang dipimpin Amien Rais                  211                 4,2
5. Partai Persatuan Pembangunan                   165                 3,3
6. Lihat dulu programnya                                      127
2,5
7. Partai yang dibentuk warga NU   (PKB)        74                   1,5
8. Rahasia
45                    0,9
9. Partai Bulan Bintang  (Yusril Mahendra)   29                    0,6
10. PDI pimpinan Soerjadi                                      16
0,3
11. PUDI (Sri Bintang Pamungkas)                       15
0,3
12. Partai yang sama dengan agama saya    13                     0,3
13. Tergantung siapa pemimpinnya                   4
0,1
14. Partai Tionghoa                                                     2
0,0
15. Akan bikin partai sendiri                                   2
0,0
16. Partai SUNI (Abu Hasan)                                     1
0,0
17. Tidak tahu
2.186               43,7
18. Tidak menjawab                                                     789
15,8

"Tim Sebelas" adalah Musuh Bersama !

Penilaian oleh " Tim Sebalas", boneka Syarwan Hamid, jelas tidak ilmiah.
Kualitas suatu partai tidak bisa diukur oleh hal-hal yang sifatnya
admistratif dan yang remeh-remeh, seperti kemegahan kantornya. Tapi,
kualitas suatu partai adalah ditentukan oleh komitmen mereka untuk membela
rakyat, program-program mereka, kepemimpinan mereka pada rakyat dan yang
lebih penting keberanian mereka melawan musuh-musuh rakyat. Partai yang
kaya sudah pasti punya kantor yang megah dan peralatan yang canggih, tapi
belum tentu partai itu benar-benar membela rakyat. Kebanyakan partai yang
kaya mendapat dana dari kapitalis, yang justru menindas rakyat atau pasti
berpihak pada penindas. Partai yang kaya juga lebih gampang merekrut orang,
tapi biasanya mereka adalah orang-orang oportunis dan mereka adalah
orang-orang upahan, jadi mereka berpolitik untuk mencari uang. Sedang
partai yang benar-benar berpihak rakyat, tentu tidak punya uang untuk
menggaji orang, sehingga hanya mereka yang benar-benar punya komitmen pada
perjuangan lah yang mau menjadi pengurus partai tersebut.

Adanya seleksi partai-partai oleh  "Tim Sebelas" ini nyata-nyata merupakan
uapay menghambat partao-partai yang benar-benar berjuang untuk rakyat agar
tidak bisa ikut pemilu. Hanya partai-partai pro-kapitalis lah yang akan
diijinkan ikut pemilu. Inilah bentuk nyata dari "kapitalisme-politik" !!

Sehingga jelaslah,  "Tim Sebelas" dalah musuh utama kita. Partai-partai
radikal harus membuat aliansi untuk menentang hambatan untuk ikut pemilu.
Semua partai yang benar-benar menginginkan pemilu bebas, demokratis dan
jurdil harus mendesak agar "Tim Sebelas" membubarkan diri atau dibubarkan
oleh massa.

Kita harus sadar, bahwa "Tim Sebelas" adalah ancaman bagi demokrasi dan
reformasi total, sebab mereka telah membudakkan diri kepada Syarwan Hamid
dan menghambat adanya pemilu yang benar-benar bebas, demokratis dan jurdil.
Oleh karena itu, "Tim Sebelas" harus menjadi sasaran utama dan sasaran
bersama kita.

Yang lebih membahayakan lagi, tim ini terdiri dari orang-orang yang pernah
atau oleh media massa disebut-sebut sebagai pejuang demokrasi. Ini memang
strategi konsesi Syarwan Hamid, agar terkesan bahwa tim ini berpihak pada
perjuangan reformasi. Banyak isyu tentang tim sebelas ini, antara lain
sebagian dari mereka dijanjikan menjadi menteri dan diberi jabatan penting,
ada pula isyu  bahwa mereka disogok ratusan juta rupiah. Entah benar atau
salah istu ini, namun tim ini nyata-nyata menghambat proses demokratisasi,
oleh karenanya harus kita jadikan musuh bersama. Memang sebagain dari
mereka sudah dikenal sebagai portunis politik. Rama Pratama misalnya,
walaupun ia ketua senat UI dia dibenci oleh mahasiswa UI dan para
alumninya. Ini karena ia telah ditahui bekerjasam dengan Akbar Tanjung dan
Habibie, konon pernah mendapat danba satu Milyar oleh Habibie untuk
menyelewengkan gerakan mahasiswa. Sedangkan Anas Urbaningrum, ketua PB HMI
ini pernah dituntut mundur oleh HMI cabang Depok, karena menjadikan agama
sebagai alat politik dia. Sedangkan Andoyo, mantan Hakim Agung ini, tidak
lain juga seorang oportunis. Ia selama puluhan tahun setia kepada Soeharto,
dia baru kritis setelah digeser dari jabatannya sebagai Hakim Agung. Jadi,
dia kritis terhadap Soeharto karena kepentingan pribadi dia terancam.

Dari jejak pendapat ilmiah di atas terbukti bahwa mayoritas rakyat belum
menentukan pilihannya, artinya mereka tidak percaya terhadap partai-partai
yang dimitoskan sebagai "partai besar'. Artinya lagi, rakyat membutuhkan
banyak alternatif. Jika alternatif tersebut dijegal oleh Syarwan Hamid
dengan menggunakan "Tim Sebelas"-nya,  pemilu 1999 tidak  akan legitimate
dan semakin tajam pertentangan politik di tanah air. Artinya, "Tim Sebelas"
tersebut juga harus bertanggungjawab, jika terjadi huru-hara karena
massa-rakyat dan banyak partai politik yang tidak puas terhadap pemilu.

Memang, mustahil Pemilu nanti akan bebas, demokratis, dan Jurdil. Apalagi
ada yang namanya "Tim Sebelas". !***

------------------------------------------------------------
SYARAT-SYARAT  UNTUK  PEMILU  BEBAS, DEMOKRATIS DAN JURDIL :
1. Diselenggarakan di bawah pemerintahan sementara, Pemerintahan Koalisi
Demokratik !
2. Tidak ada Dwi Fungsi ABRI ; Tidak ada jatah kursi bagi ABRI di MPR, DPR,
DPRD I dan DPRD II !
3.  Tidak ada UU Politik dan Peraturan lain yang tidak demokratis !
4.  Semua tapol/napol dibebaskan tanpa syarat !
5.  Tidak ada penjajahan di Timor Leste; Tidak ada operasi militer di Aceh
dan Papua Barat !
6. Tidak ada pembatasan partai, baik dari segi asas, ideologi,  garis
politik,  apalagi pembatasan yang bersifat administratif seperti jumlah
pendiri dan jumlah cabang yang dimiliki !
7. Tidak ada seleksi terhadap parpol oleh lembaga yang tidak demokratis
seperti "Tim Sebelas";  hanya Rakyat melalui Pemilu itu sendiri yang berhak
menyeleksi parpol peserta Pemilu !
8. Tidak ada litsus/screening  dan diskriminasi untuk calon anggota
legislatif, terutama untuk bekas tapol/napol beserta keluarga kasus PKI,
DI/TII, Aceh, dll. !
9.  Panitia pelaksana Pemilu adalah badan independen yang dibentuk oleh
partai peserta pemilu, tanpa ada intervensi oleh pemerintah/ABRI;
dilakukan pengawasan massal oleh badan independen maupun kelompok partisan
!
10. Tidak ada "money-politics" dan "kapitalisme-politik", yang  mendistorsi
" Satu Orang Satu Suara"  menjadi "Satu Rupiah Satu Suara" !
11. Tidak ada pembatasan  isi  maupun  metode kampanye, selama tidak
merugikan rakyat dan bersifat Demokratis !
12.  Adanya kesempatan yang sama dan merata bagi semua partai peserta
Pemilu untuk memanfaatkan asset negara, seperti dana, alat komunikasi,
media massa negara, dll. !
13. Tidak ada pembatasan terhadap ekspresi dan ide politik : adalah tidak
senonoh jika seseorang/kelompok diteror/diculik/dipenjara dan dibantai
karena mempunyai ide/cita-cita politik, seperti:  mendirikan Negara Islam,
mendirikan Papua Barat Merdeka, mendirikan Aceh Merdeka maupun mendirikan
Negara Sosialis !
APAKAH SYARAT-SYARAT INI SUDAH  TERPENUHI ?
JIKA BELUM, JANGAN MIMPI BAHWA PEMILU 1999 AKAN BEBAS, DEMOKRATIS DAN JURDIL
!
-------------------------------------------------------------

PEMBEBASAN
Diterbitkan oleh : Partai Rakyat Demokratik (PRD)
Jl. Utan Kayu No.17 A, Jakarta Timur

E-mail : [EMAIL PROTECTED]
Web-page : http://www.pegasus.com.au/~prdint1

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Mar 1999 jam 09:06:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke