----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


PROVOKATOR SEHARGA RP 8,5 JUTA

        MEDAN (SiaR, 3/3/99), Isu kedatangan para preman provokator di Kota Medan
hingga kini masih menjadi bahan perbincangan yang hangat bagi warga Medan.
Walau sudah dilansir media massa lokal sebulan lebih, namun minat
masyarakat, khususnya warga keturunan Tionghoa terhadap isu kedatangan para
provokator itu tak juga kunjung padam. Tidak heran jika media massa lokal
hampir setiap hari
menyajikan isu tersebut.

        Namun  yang aneh, isu kehadiran para provokator tersebut justru diungkap
pertama kali oleh sumber intelejen di Kodam I/BB. Banyak spekulasi beredar
tentang pembocoran isu provokator itu. Menurut seorang wartawan senior di
Medan, hal itu dilakukan pihak aparat sebagai 'warning' terhadap para preman
yang
berniat hendak menggoyang Kota Medan. Apa pasalnya? "Tentara mengamankan pajak
judi yang nilainya bisa milyaran rupiah per hari," ujarnya. Dan para penjudi,
umumnya berasal dari kalangan warga keturunan Tionghoa.

        Menurut wartawan tersebut, pajak dari hasil judi di Sumut, merupakan
sumbangan  terbesar bagi anggaran ABRI. Jadi tidak heran jika ABRI merasa
berkepentingan untuk mengamankan warga keturunan Tionghoa di Medan.

        Entah benar atau tidak analisis tersebut, yang jelas semangat aparat
untuk menyebarkan isu kedatangan para provokator, memang tergolong cukup
intens. Contoh terbaru adalah seminar yang diselenggarakan oleh Resimen
Mahasiswa (Menwa) Batalyon A, USU Medan. Dalam memperingati HUT-nya yang ke
XXII, Menwa USU mengadakan seminar tengan topik "Di Balik Provokator".

        Rencananya, seminar itu akan menampilkan Rektor USU Prof. Chairudin Lubis,
Gubsu Rizal Nurdin, Pangdam I/BB Mayjen AR Gaffar dan Ketua Mapancas
(Mahasiswa Pancasila, sebuah organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan
OKP PP). Namun ketika acara seminar sedang menampilkan Prof. Chairudin
Lubis, sekelompok aktivis Dewan Mahasiswa Untuk Demokrasi (DMUD), berunjuk
rasa dengan mengecam acara tersebut. Para aktifis DMUD menggelar spanduk
mengecam ABRI. Mereka menuntut agar pasukan non-organik ABRI ditarik dari
Aceh, Dwifungsi ABRI dicabut dan mengecam Ratih. Para aktifis DMUD juga
meminta agar Menwa USU dibubarkan saja.

        Sudah tentu, sodokan aktifis DMUD ini membuat rektor dan panitia berang.
Buntutnya rektor segera meninggalkan ruang seminar. Panitia pun uring-uringan
dan segera mengontak Gubsu Rizal Nurdin dan Pangdam AR Gaffar untuk
membatalkan kedatangannya ke tempat seminar.

        Pihak Menwa USU sendiri segera mengecam kelakuan para aktifis DMUD. Lenny
Junita Manalu, ketua Panitia Seminar menyebut ulah aktifis DMUD sebagai tak
pada tempatnya. "Seharusnya mereka protes kepada Pangdam, bukan ke Rektor,"
ujar Lenny.

        Namun apa sebenarnya alasan DMUD berunjuk rasa pada acara seminar itu.
Seorang aktifis DMUD menuturkan bahwa seminar tersebut adalah pesanan Kodam
I/BB. "Saya tahu persis karena saya bekas anggota Menwa USU. Panitia dipesan
agar membuat seminar dengan teman provokator, dan mereka dikasih anggaran Rp 8,5
juta," tuturnya. Menurutntya, selama 5 tahun bergabung dengan Menwa USU, baru
sekali inilah Menwa menyelenggarakan kegiatan ilmiah seperti seminar.

        "Namun karena dipaksakan dan temanya direkayasa, akhirnya tercium para
aktifis mahasiswa USU. Akibatnya ya, demontrasi itu.....," ujarnya.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 3 Mar 1999 jam 12:03:10 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke