----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


GRANAT APARAT PEMBAWA DUKA

        MEDAN (SiaR, 3/3/99), Gara-gara menemukan benda aneh, Rizaldi (14)
harus merelakan tangan kiri (mulai dari ruas tangan) dan kelima jari
tangannya diamputasi. Jadi lah kini Rizaldi hanya bisa menggunakan tangan
kanan untuk segala aktifitasnya. Benda aneh itu memang bukan sembarangan
benda, karena hanya bisa dimiliki institusi tertentu di negara kita, yaitu
aparat keamanan. "Tahun 1994, dari sumur yang ada di rumah belakang, saya
menemukan benda itu. Ketika saya otak-atik, tiba-tiba benda itu meledak dan
membuat tangan saya berlumuran
darah," tutur Rizaldi di kantor LBH Medan.

        Benda aneh itu ternyata granat gas air mata yang tidak meledak. Siapa
pemilik granat itu, dan kenapa sampai nyasar di sumur milik orangtua Rizaldi?

        Menurut Asna Abdullah (47), orangtua Rizaldi, granat itu milik aparat
keamanan dari Kodim 0201/BS Kodya Medan. Asna bertutur bahwa tahun 1994,
kota Medan diguncang oleh demonstrasi besar-besaran yang dilancarkan kaum
buruh. Kawasan Brayan, di mana keluarga Asna Abdullah tinggal, merupakan
salah satu kawasan industri yang ikut bergolak.

        "Di depan kedai kopi saya, hampir setiap hari tentara mangkal dan
melempari para buruh dengan granat gas air mata," tutur Asna Abdullah.

        Rupanya ada aparat yang ngawur dalam melemparkan granatnya. Akibatnya,
ya, nyasar ke dalam sumur milik Asna Abdullah. Suatu hari, kunci tempat jualan
rokok Asna Abdullah jatuh ke dalam sumur. Rizaldi yang masih bocah berusia 9
tahun kala itu, bersama abangnya Adrizal, mencoba menyelam ke dalam sumur.
Selain kunci, rupanya Adrizal juga menemukan 'benda aneh' itu. Karena belum
pernah melihat benda aneh itu, Rizaldi tertarik dan memain-mainkannya.
Akibatnya fatal. Benda itu mengeluarkan asap, dan tiba-tiba mengeluarkan
ledakan keras. "Tangan saya berlumuran darah, saya kesakitan dan hanya bisa
menangis," tutur Rizaldi.

        Orangtua Rizaldi segera membawanya ke RS Marta Friska. Ada sekitar
3,5 jam Rizaldi mendapat pengobatan. Biaya yang harus dikeluarkan Asna
Abdulah Rp 304 ribu. Bagi keluarga seperti Asna Abdullah yang berjualan
kedai kopi dan indomie rebus, biaya tersebut tergolong sangat berat. Karena
itu, ia kemudian memindahkan Rizaldi ke RS Wulan Windi, dengan harapan
biayanya lebih murah karena di rumah sakit tersebut ada familinya yang
menjadi jururawat.

        Namun tak lama kemudian pihak Kodim 0201/BS mendatangi Asna Abdullah
dan memutuskan untuk segera memindahkan Rizaldi ke Rumkit Putri Hijau. "Waktu
itu Kodim 0201/BS berjanji akan membiayai pengobatan Rizaldi sampai selesai
dan mengganti semua biaya yang telah saya keluarkan,"tutur Asna Abdullah.
Namun keluarga Asna Abdullah dilarang untuk memberitahukan masalah tersebut
kepada siapa pun, termasuk pers. Bahwa granat itu milik Kodim 0201/BS, pihak
Kodim tidak menyangkalnya.

        Kapendam I/BB yang waktu itu dijabat oleh Letkol (Inf) Agus
Ramadhan, dalam surat No B/401/V/1994 mengakui bahwa Rizaldi adalah korban
kecelakaan
karena menemukan granat gas air mata sehubungan dengan perintah operasi
penanggulangan yang dikeluarkan Bakorstanasda Sumbagut tanggal 14 Februari
1994. Dalam surat yang ditujukan ke Kakesdam I/BB, diperintahkan agar
seluruh biaya perawatan Rizaldi diganti sampai anak tersebut sembuh. Pihak
Kodam I/BB menurut Asna Abdullah memang menanggung seluruh biaya pengobatan
anaknya.

        "Namun yang membuat saya sedih adalah bahwa anak saya harus diamputasi
tangan kirinya," tuturnya. Namun apa boleh buat, keputusan pahit itu harus
diambil. Sejak itu, Rizaldi hanya bisa menggunakan tangan kanannya. Beberapa
teman sekelasnya, waktu itu Rizaldi masih duduk di bangku SD, sering
mengejek-ejekinya. Melihat penderitaan anaknya, pada September 1998, Asna
Abdullah mencoba menemui Letkol Agus Ramadhan. "Waktu itu saya menuntut agar
Rizaldi diberi tangan palsu dan beasiswa sampai selesai kuliah dari perguruan
tinggi," kata Asna Abdullah.

        Namun kepastian itu tak diperoleh Asna Abdullah dari Kapendam I/BB.
Tangan palsu itu tak juga kunjung datang sampai sekarang. Bahkan beasiswa yang
dituntut juga tak kunjung direalisir. Akibatnya Asna Abdullah membawakan
perkara tersebut ke LBH Medan. "Saya ini orang miskin, mana mampu untuk
membuat tangan palsu," ujar Asna Abdullah.  Bagi Asna sendiri, musibah yang
dialami anaknya merupakan kecerobohan aparat keamanan. "Kenapa ada granat
yang jatuh ke sumur, kami tidak diberitahu?" ujarnya.

        Asna sendiri sudah berbulat tekad, jika tuntutan untuk mendapatkan
tangan palsu dan beasiswa bagi anaknya tidak berhasil, ia bertekad memperjuang-
kan tuntutan tersebut melalui jalur hukum.

        "Permintaan kami kan tidak banyak," tandasnya.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 3 Mar 1999 jam 12:36:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke