----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 08/II/4-10 Maret 99
------------------------------

AH, KOALISI TIGA KAKI

(POLITIK): Aliran Nasionalis Religius menyatukan PDI Perjuangan, PKP, dan
PKB. Calon presidennya dari ABRI?

Habibie dan Golkar bakal dapat ancaman serius dari rencana koalisi kabinet
versi PKP, PKB, dan PDI Perjuangan. Gus Dur, tak pelak lagi, adalah aktor
intelektual di balik strategi politik untuk menghancurkan aliansi
kepentingan ICMI dan KAHMI. Koalisi yang dijahit dengan mempertemukan aliran
nasionalis religius itu sebenarnya tidak mendadak muncul. Jauh hari Gus Dur
sudah membangun jaringan dua jalur, jalur pertama dengan Megawati dan PDI
Perjuangan, sementara jaringan kedua dengan militer sejak Benny Moerdani,
Try Sutrisno, hingga Edy Sudradjat. Sebetulnya masih ada jalur lain yang
masih dibina Gus Dur, tapi sekarang tidak begitu dimanfaatkan karena
posisinya yang tidak menguntungkan secara politik, yakni dengan putra-putri
Cendana; Mbak Tutut dan Bambang Tri.

Yang menarik adalah bisik-bisik di kalangan elit politik bahwa Pentagon,
Markas Besar Departemen Pertahanan Amerika Serikat turut bermain dalam
mempertemukan tiga partai ini. Kabar yang masih tergolong rumour itu
menyebutkan bahwa Duta Besar AS Stapleton Roy akan ditarik karena tugasnya
untuk 'mendidihkan' politik Indonesia sudah selesai dengan sukses. Roy yang
juga sukses memanaskan Rumania dan Kuba ini akan digantikan oleh dubes baru
yang bertugas melembagakan demokrasi di Indonesia, tentu saja dengan
mengakomodasi kepentingan modal dan politik Paman Sam. Sebelum Roy pergi,
dia harus bisa memperjelas peta politik Indonesia yang kacau-balau. Amerika
Serikat akan mendukung kekuatan moderat yang bisa menerima ekonomi liberal
internasional yang bersih dari KKN. Maka disusunlah konsentrasi kekuatan
moderat itu yang terpisah dari kekuatan kiri, sosialis dan komunis, dan juga
terpisah dari berbagai kubu Islam yang berhulu aliran Masyumi.

Dilihat dari basis politiknya seperti massa, infrastruktur, kemampuan
pemimpin, dan hubungan internasional, koalisi ini boleh disimpulkan saling
melengkapi dan cukup kuat untuk menghantam Habibie dan Golkar. PDI
Perjuangan punya massa besar dan infrastruktur partai yang memadai, tapi
dari segi kepemimpinan dan hubungan internasional, PDI masih lemah.

Pengurus PDI dengan Mega sebagai ketua selama ini lebih mengandalkan model
kepemimpinan kharismatik yang biasanya gagal di era yang menitikberatkan
profesionalisme dan manajemen organisasi saat ini. PKB boleh jadi yang
paling berimbang. Massanya besar, infrastrukturnya meski baru bisa
mendompleng punya NU, strategi dan taktik politik para pemimpin yang
notabene kyai dan intelektual NU ini cukup mengejutkan, dan hubungan
internasionalnya tidak sangat kuper. Sedangkan PKP, partai ini jelas yang
paling diuntungkan dengan koalisi. PKP tidak punya massa, infrastrukturnya
baru, tapi para eksponennya sangat kenyang pengalaman birokrasi politik dan
hubungan internasionalnya cukup bagus dengan operator-operator lihai seperti
Sutradara Ginting dan Bambang Warih Koesoemo.

"Koalisi ini tidak tertutup terhadap partai-partai baru yang punya visi dan
misi yang sama," kata Sekjen PKP Hayono Isman.  Untuk mewujudkan rencana
koalisi tersebut, khabarnya ketiganya telah membentuk Sekretariat Bersama
(Sekber) yang berkantor bareng di Lantai 18 Wisma Kosgoro Jl. Thamrin,
Jakarta Pusat. Tiap partai akan menunjuk wakil-wakilnya yang duduk dalam
kelompok kerja untuk membahas segala persiapan dan pemikiran mengenai pemilu
hingga Sidang Umum MPR 1999. Yang disebut-sebut diangkat sebagai koordinator
Sekber, adalah mantan anggota DPR yang juga Ketua Pimpinan Pusat Kolektif
(PPK) Kosgoro, Uncu M. Natsir.

Namun kabar pembuatan sekber koalisi tersebut dibantah keras oleh Ketua PKB
Matori Abdul Djalil. Menurutnya, walaupun memang ada ide koalisi, tapi belum
sampai pembuatan sekber.

Begitu pula Hayono Isman dan Wakil Sekjen PDI Haryanto Taslam  juga
mengungkapkan hal senada, bahwa rencana koalisi ini sebenarnya baru sampai
pada unsur-unsur partai, yaitu sekjen dan belum sampai keputusan lembaga.
Menurut rencana, dalam waktu dekat ketua umum ketiga partai, Matori Abdul
Djalil, Megawati, dan Edy Sudradjat akan mengadakan pertemuan.

Hayono dan Haryanto hanya basa-basi saja. Gus Dur, Mega, dan Edy telah
berkali-kali menjalin kontak untuk menyiapkan koalisi tersebut. Bahkan
kesepakatan untuk siapa yang duduk di kursi ketua MPR atau presiden pun
sudah dibicarakan. Sebelum PKP ada, rencananya bila PDI dan PKB bisa
menentukan suara di parlemen mendatang, maka Megawati akan dipilih menjadi
Ketua MPR dan Gus Dur jadi presiden. Tapi kini entah bagaimana, meski sudah
dicalonkan PKB jadi presiden, Gus Dur sekarang jadi enggan dan merestui
kursi-kursi eksekutif untuk eksponen PKP. Dan celakanya, kursi presidennya
dikembalikan ke ABRI, yakni Jendral Wiranto atau Try Sutrisno.

Yah, begitulah politik negeri ini masih menjadi milik elit yang jumlahnya
cuma segelintir orang. Transisi demokrasi di Indonesia memang masih panjang
untuk menjadikan politik benar-benar ditentukan rakyat, misalnya lewat
pemilu yang langsung memilih presiden. Selama ini ide itu terhambat karena
harus mengubah UUD'45. Bila diperlukan, mengapa tidak? Sehingga politik tak
lagi menjadi milik elit, seperti penyusunan koalisi tiga kaki di atas. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Mar 1999 jam 03:26:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke