----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 08/II/4-10 Maret 99
------------------------------

BUPATI PURNOMO SIDIK BELUM MUNDUR

(POLITIK): Bupati Banyuwangi, Kolonel HT. Purnomo Sidik, tampaknya tak bisa
menghindar dari tuntutan mundur masyarakatnya sendiri. Akankah ABRI
merelakan anak buahnya dicopot?

Gugatan masyarakat kepada Bupati Banyuwangi Purnomo Sidik sebenarnya telah
muncul setelah munculnya sejumlah peristiwa pembantaian ulama di Banyuwangi
bulan Oktober 1998. KH. Thoha Munthoha, seorang ulama muda Banyuwangi saat
itu dengan lantang meminta Bupati Banyuwangi mundur dengan alasan sudah
tidak bisa lagi mengayomi warganya.

"Terbunuhnya puluhan warga Banyuwangi dalam waktu singkat merupakan bukti
yang otentik ketidakmampuan Bupati menjamin keselamatan warganya," kata
pengasuh Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Kalibaru, Banyuwangi. Tapi saat
itu tuntutannya dianggap sepi oleh ulama lain yang sedang sibuk memproteksi
kalangan ulama dari ancaman pembunuhan.

Namun menjelang lebaran lalu, para tokoh NU Banyuwangi sudah kehilangan
kesabarannya. Apalagi tuntutan agar pihak militer memberikan pertanggung
jawabannya tidak menemukan hasil. Tetapi kegundahan ulama NU terobati dengan
digantinya Pangdam V/Brawijaya dari Mayjen Joko Subroto kepada Mayjend
Ryamizard Ryacudu.

Sejak saat itu, mulai marak upaya untuk menuntut pertanggung jawaban
pihak-pihak yang dianggap berkaitan dengan kasus Banyuwangi. Langkah pertama
adalah tuntutan agar Purnomo Sidik mundur dari jabatannya. Dengan berbekal
101 dukungan ulama Banyuwangi, para tokoh NU Banyuwangi menghadap Mendagri,
Syarwan Hamid. Berhasil? Belum. Langkah keduapun dirancang. Mereka
mendatangi Pangdam yang baru untuk menyampaikan tuntutannya. Gayung
bersambut, Mayjen Ryamizard memberikan respon.

"Salah satu pekerjaan yang ingin saya selesaikan pertama kali di Jawa Timur
adalah menuntaskan masalah Banyuwangi," kata Pangdam ketika berdialog dengan
pengurus NU Banyuwangi. Pas, memang.

Tetapi menjadi tidak pas ketika muncul suara lain yang justru menghendaki
Bupati Purnomo Sidik dipertahankan dengan alasan belum adanya bukti
keterlibatannya dalam kasus pembantaian itu. "Buktikan dulu melalui
pengadilan, kalau memang sudah terbukti, dia harus mundur. Upaya yang
dlakukan ulama-ulama itu bisa memancing anarkhi," kata KH. Thoha Munthoha
yang mengatas namakan beberapa LSM di Banyuwangi.

"Yang menutut mudur saya dari jabatan tidak tahu konstitusi. Tuntutan mereka
itu jelas tidak konstitusional," tambah Bupati Purnomo Sidik setelah
menghadap gubernur.

Pernyataan Kiai Thoha, tidak sendirian. Tidak lama kemudian, muncul
pernyataan dari kelompok yang mengatas namakan Masyarakat Pro Reformasi dan
Konstitusi. Dalam pernyataannya kelompok yang cenderung pro Bupati ini
menghendaki agar pengungkapan kasus pembantaian itu yang menjadi prioritas
utama.

"Kami khawatir kalau tuntutan pencopotan Bupati ini akan menjadi titik tolak
pengaburan pengungkapan para pelaku dan konseptor kasus pembantaian
Banyuwangi," kata Supono juru bicara kelompok ini.

Mendengar pernyataan seperti ini semakin membulatkan niat ulama NU
Banyuwangi mencopot Purnomo Sidik. "Kami mengakui, dulu kami inilah yang
menjadi pendukung utama naiknya Purnomo Sidik. Termasuk untuk masa jabatan
yang kedua. Tetapi saat ini kami menilai dia sudah cacat. Haram bagi kami
mendukung pemimpin yang telah terbukti cacat," kata KH. Hasyim Cholil dengan
tegas.

Pangdam V/Brawijaya tampaknya tanggap atas perkembangan pro-kontra sekitar
tuntutan ulama ini. Oleh karena itu menantu Try Sutrisno ini mengagendakan
pertemuan dengan para tokoh masyarakat Banyuwangi.

Ironisnya, DPRD Banyuwangi justru terkesan sangat lamban menanggapi dinamika
masyarakat ini. Lebih ironis lagi adalah komentar dari ketua FPP DPRD
Banyuwangi yang mengatakan DPRD Banyuwangi tidak punya kewenangan untuk
membahas tuntutan masyarakat yang menghindari pencopotan bupati. "Hanya
Mendagri yang punya kewenangan," katanya.

Di tengah maraknya tuntutan ulama, muncul isu adanya tawaran uang kepada
beberapa ulama yang dianggap sebagai motor 101 ulama. Tidak
tangung-tanggung, satu orang akan diberi 5-10 juta rupiah kalau mau menarik
tuntutannya. Siapa perantaranya? "Ah, Anda tahu sendirilah, tokoh NU juga.
Mereka berani menawarkan suap ini kepada Kiai Zarkasyi," kata H. Abdurahman,
Ketua Tim Pencari Fakta NU Banyuwangi.

Memang sejak awal ada indikasi munculnya gerakan penggembosan atas upaya 101
ulama ini. Dari satu sumber diperoleh informasi bahwa tokoh penggembosan ini
tidak lain adalah Ketua MUI Banyuwangi, yang juga kakak kandung KH. Nur
Muhammad Iskandar, Ketua Inkopontren Pusat. Ketika hal ini dikonfirmasikan
kepada KH. Zarkasyi Jaunaedi, Rois Syuriah PC NU Banyuwangi, tidak mendapat
jawaban yang tegas. Kiai Zarkasyi hanya tersenyum.

Tapi tampaknya 101 ulama telah bulat tekadnya. Bahkan tuntutan mereka
semakin garang. "Purnomo Sidik harus turun paling lambat akhir bulan
Pebruari ini," kata KH. Zarkasyi ketika berdialog dengan Pangdam V/Brawijaya
di Genteng, Banyuwangi. KH. Hasyim Cholil menambahkan kalau sampai pada
batas waktu yang ditentukan, Bupati Purnomo Sidik belum turun, ulama NU
tidak bertanggung jawab lagi atas keamanan Banyuwangi.

"Tuntutan kami sudah jelas. Pilih mempertahankan bupati dengan resiko
stabilitas keamanan Banyuwangi tidak terjamin, atau sebaliknya," kata
aktivis PKB ini pada kesempatan yang sama.

Tampaknya peryantaan 101 ulama NU bukan gertak sambal. Pasca pertemuan
dengan pangdam, Banyuwangi semakin marak dengan unjuk rasa menuntut
pengunduran diri bupati. Sasarannya pun tidak hanya Kantor Pemda Banyuwangi,
tetapi juga gedung DPRD Banyuwangi semakin sering didatangi pengunjuk rasa.
Unjung rasa yang terakhir adalah aksi masyarakat Kec. Glagah yang mengadakan
istighosah di depan kantor Pemda sambil menaburkan beras kuning di setiap
pojok kantor tersebut. "Ini simbol upaya pamungkas kami, kalau bupati masih
ngotot, saya nggak tahu lagi apa yang akan tejadi," kata Utomo Darwis,
koordinator aksi, yang juga aktivis GP Ansor Banyuwangi. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Mar 1999 jam 04:31:20 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke