----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 08/II/4-10 Maret 99
------------------------------

GINANDJAR DIGERTAK PARA BANKIR

(EKONOMI): Sejumlah bank akan membeberkan kekayaan pejabat tinggi jika bank
mereka ditutup. Ginandjar gentar dan memberi kesempatan agar sejumlah bank
itu tak dilikuidasi.

Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri, Ginandjar
Kartasasmita memang lagi pusing kepalanya. Ia dikecam banyak orang karena
mencampuri keputusan otoritas moneter: menunda likuidasi sejumlah bank.
Ginandjar memang main sendiri. Sehari menjelang pengumuman likuidasi yang
seharusnya dilakukan Sabtu, 27 Februari, ia memberi pernyataan, bukan dalam
konperensi pers yang dihadiri otoritas moneter, bahwa likuidasi ditunda dua
minggu lagi. Lazimnya, pengumuman penting seperti itu dilakukan dalam
konverensi pers yang minimal dihadiri Menteri Keuangan dan Gubernur Bank
Indonesia. Menteri Keuangan Bambang Subianto dan Gubernur Bank Indonesia
bahkan tak tahu likuidasi akan ditunda. Bank Indonesia sendiri sudah
menyusun daftar bank-bank yang akan ditutup akhir Februari lalu.

Ginandjar berdalih, proses evaluasi bank-bank swasta yang sudah diperiksa
tuntas (due diligence) belum selesai hingga membutuhkan waktu selama dua
minggu lagi untuk menuntaskan. Namun, Direktur Bank Indonesia, Subarjo
Joyomarto yang memberi keterangan pers beberapa jam setelah pernyataan
Ginandjar memberi alasan lain, yakni: masih ada delapan bank yang diberi
kesempatan memperbaiki rencana kerja yang belum memenuhi syarat. Salah satu
dari delapan bank itu adalah Bank Nusa Nasional (BNN), bank milik Aburizal
Bakrie, Sekretaris Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan (DPKEK).
Kalau likuidasi diumumkan akhir Februari lalu, BNN jelas masuk dalam daftar
likuidasi, karena rencana kerjanya tak memenuhi syarat. Aburizal sendiri
adalah kawan lama Ginandjar dan dekat dengan Habibie. Aburizal juga sedikit
dari pemilik bank yang pribumi. Jadi, sudah selayaknya ia dibantu, apalagi
Habibie tengah melakukan politik pribumiisasi pengusaha.

Kesempatan ini memang dimanfaatkan dengan baik oleh Aburizal. Ia mengatakan
akan memasok dana sebesar Rp 570 miliar ke Bank Nusa Nasional (BNN) sehingga
total injeksi modal akan mencapai Rp 770 miliar. Menurut Ical, dana itu
diperoleh dari hasil penjualan aset keluarga, bukan dana dari investor baru
yang masuk ke dalam BNN. Aset yang dijual Bakrie adalah Nirwana Resost di
Bali dan saham keluarganya di perusahaan minyak di Yaman, Timur Tengah.

Memang, alasan menolong Bakrie bukan satu-satunya. Ada banyak lobi yang
dilakukan para pemilik bank yang banknya terancam ditutup. Bahkan, menurut
sumber Xpos, para bankir mengancam akan membeberkan daftar para pejabat
tinggi negara yang mentransfer uangnya ke luar negeri belakangan ini. Sumber
itu mengatakan, menghadapi ancaman itu, Ginandjar keder. "Mungkin Ginadjar
juga mentransfer uang ke luar negeri," ujar sumber itu.

Transfer kekayaan para pejabat tinggi sebenarnya bukan hal yang aneh. Itu
telah terjadi sejak lama. Biasanya para pejabat Indonesia menstransfer
uangnya di Asian Currency Units (ACU) Bank Sentral Singapura. Dua tahun
lalu, menurut catatan Pusat Data Bisnis Indonesia, uang orang-orang
Indonesia, termasuk simpanan para pejabat Indonesia di ACU mencapai US$45
miliar, atau setara dengan bantuan IMF untuk Indonesia untuk mengatasi krisi
ekonomi. Belakangan, simpanan uang orang-orang Indonesia meningkat lagi
seiring dengan kekacauan yang terus berlangsung di negeri ini.

Ancaman itu memang bukan ancaman kosong. Sejumlah bank pernah mengaku
membantu mengeluarkan uang milik sejumlah pejabat, termasuk sejumlah
jendral, ke sejumlah bank di luar negeri. Kalau ini dibongkar, tentu saja
pemerintah Habibie tercoreng. Dan data transfer itu bisa saja tersebar ke
mana-mana, sama seperti tersebarnya rekaman percakapan telepon
Habibie-Gahlib yang menghebohkan itu.

Kembali ke soal likuidasi bank. Pemerintah kini nampaknya akan bekerja keras
untuk menekan sekecil mungkin jumlah bank yang akan dilikuidasi. Sumber Xpos
di Bank Indonesia menuturkan, sebenarnya ada 40 bank yang akan ditutup akhir
Februari lalu. Namun, setelah mundur dua minggu, menurut sumber itu, mungkin
akan berkurang. Para pejabat Bank Dunia dan IMF pun kabarnya tak setuju
dengan penundaan likuidasi itu. Ini bertentangan dengan pernyataan Ginanjar
yang mengatakan IMF dan Bank Dunia telah setuju penundaan itu. Jelas,
Ginandjar bohong dan menganggap penundaan itu hal yang remeh. Padahal apa
yang dilakukannya menimbulkan keragu-raguan di kalangan investor asing dan
mengoncangkan bursa saham. Apalagi, dengan penundaan itu, berarti pemerintah
harus menanggung sekitar Rp10 triliun, yakni biaya yang harus ditanggung
karena negative spread atau kerugian bank karena bungan pinjaman bank-bank
yang hendak dilikuidasi. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Mar 1999 jam 06:07:23 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke