----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: dulbehek
Republika Februari 05, 1999
Kesaksian Imam Masjid Al Fatah Ambon

                        Setelah 1,5 bulan berlangsung, kerusuhan di
Ambon hingga kini
                        belum juga padam. Banyak pihak yang menganggap
kecil
                        kerusuhan yang menurut versi ABRI telah menelan
korban 159
                        jiwa -- versi Posko Partai Keadilan lebih dari
seribu jiwa. Cerita
                        penderitaan rakyat Maluku itu pun masih simpang
siur. Bahkan,
                        menurut Imam Besar Masjid Al-Fatah Ambon H Abdul
Azis
                        Arby, banyak cerita yang ditutup-tutupi. Untuk
memperjelas
                        pemahaman tentang kasus Ambon, di bawah ini
penurutan
                        Abdul Azis seperti yang ia kemukakan kepada pers
di masjid
                        Al-Azhar, Jakarta, Kamis (4/3). Kisah ini
hanyalah sepenggal
                        kisah yang ada di pulau Maluku. Masih banyak
kisah lain yang
                        belum terungkap.

                        ''Kejadian Ambon membuat kita sangat-sangat
terpojok. Kita
                        berada di pihak yang selalu diserang. Umat Islam
tak pernah
                        memulai peperangan itu dari mulai terjadinya
penyerangan
                        pertama di Desa Wailette, di Desa Paimiri, dan
di Desa Airbah
                        sebelum Ramadhan. Tiga desa ini merupakan test
case. Mereka
                        menyerang umat Islam dan membakar
perkampungannya, tapi
                        umat Islam tidak bereaksi.

                        Bukan umat Islam tidak sanggup menyerangnya,
tapi selalu para
                        pejabat dan arapat di sana menyatakan tidak usah
dibalas
                        diserang biar mereka yang menanganinya. Tapi
karena tidak ada
                        pembalasan dari umat Islam, maka terjadilah
tragedi Idul Fitri
                        berdarah 1 Syawal 1409 H (19 Januari 1999) di
mana umat
                        Islam sedang merayakan Idul Fitri. Jadi kita
tidak tahu sama
                        sekali. Tiba-tiba kita dikejutkan dengan
serangan mereka.

                        Namun opini diputarbalikkan. Seakan umat Islam
yang memeras
                        sopir angkot bernama Yopie. Justru Yopie itulah
yang menyewa
                        angkot orang Islam dari orang Bugis dengan harga
dan waktu
                        yang telah disepakati. Tetapi ketika tiba
waktunya, dia
                        mengingkari untuk membayar. Akhirnya, Usman
kernet yang
                        ditugaskan untuk meminta uang, marah. Kemudian
kernet itu
                        diserang dan lari ke Batu Merah minta
pertolongan. Dua
                        pemuda kampung keluar menolong Usman. Tetapi
tiba-tiba
                        pemuda-pemuda lawan dari Kampung Mardika
menyerang
                        pemuda-pemuda Islam dengan panah beracun, tombak
beracun,
                        dan parang.

                        Pemuda-pemuda Islam keluar dengan tangan kosong
karena
                        tidak punya persiapan apa-apa. Setelah itu kita
pun melihat
                        serangan bertubi-tubi membabi-buta. Akhirnya
bambu di rumah
                        kita runcingkan, kayu pun kita runcingkan dan
batu pun kita
                        gunakan sebagai alat untuk membela diri.

                        Pada saat yang sama, itu terjadi pukul 16.00
sore,
                        perkampungan Islam Gang Diponegoro diserang.
Kemudian di
                        Jalan Baru di depan Masjid Agung Al-Fatah juga
diserang,
                        Waihong diserang, Cilale diserang, tanah lapang
kecil diserang
                        pada jam yang sama. Begitu juga Desa
Batugantung. Mereka
                        semuanya menyerang rumah umat Islam. Berarti
mereka sudah
                        mempunyai rencana betul-betul matang, sedangkan
umat Islam
                        tidak mempunyai persiapan apa-apa. Itulah yang
terjadi di
                        Ambon. Sedangkan aparat yang ada itu kebanyakan
bukan
                        orang Islam, di mana mereka menyerang kita. Kita
diperintahkan
                        untuk mundur dan masuk saja ke dalam
mempertahankan
                        kampung. Begitu kita masuk ke dalam, mereka pun
kembali
                        menyerang. Aparat-aparat membiarkan mereka
menyerang kita
                        seenaknya. Kita balas menyerang untuk membela
diri, kemudian
                        aparat-aparat itu menembaki kita. Jadi kita
sekarang
                        berhadapan dengan aparat. Kalau kita diserang
dan balik
                        menyerang, kita berhadapan dengan
senjata-senjata sedangkan
                        kita tidak mempunyai apa-apa.

                        Begitu juga kejadian terakhir di Amuru, Desa
Rejani. Umat
                        Islam betul-betul sedang melaksanakan shalat
Subuh, bukan
                        seperti yang dibicarakan dan disiarkan di media
massa. Jadi
                        mereka betul-betul sedang melaksanakan shalat
Subuh
                        kemudian dibantai aparat kepolisian. Dua orang
meninggal
                        langsung di dalam masjid, dan satu yang di
luarnya. Yang
                        meninggal adalah mahasiswa STAIN, yang menelepon
saya
                        adalah murid saya Abdul Rasyid namanya. Dua
orang meninggal
                        dalam masjid dan beberapa lainnya luka-luka.

                        Di samping itu juga, satu keluarga dibantai.
Tapi sebelum
                        dibantai habis diikat seluruh tubuhnya kemudian
dimasukkan ke
                        dalam lumpur baru kemudian dibantai di dalam
lumpur itu.
                        Saudara Abdul Rasyid ini yang mengambil
jenazahnya di
                        Kepolisian. Semuanya dalam keadaan berlumpur.
Itulah yang
                        terjadi di Ambon sebenarnya. Jadi kita bukan
pihak yang
                        menyerang, tapi pihak yang diserang.

                        Kemudian saya minta kepada ulama-ulama di sana,
bagaimana
                        caranya mengatasinya. Ulama-ulama harus
mengeluarkan
                        seruan. Tapi hanya ustazd Ali Fauzi yang berani.
Sedangkan
                        Majelis Ulama Indonesia sendiri, Pak Rusdi
Hasanuddin tidak
                        berani karena maklum Pak Rusdi adalah polisi.
Jadi beliau
                        berada di bawah perintah atasannya. Kalau Pak
Rusdi tidak
                        mau, ya ulama-ulama yang lainlah memberikan
seruan jihad.

                        Jadi kita bukan orang-orang Islam yang ekstrem,
tidak. Kita
                        selalu berada di pihak yang diserang. Kalau kita
diam saja kita
                        akan mati konyol. Membela diri hukumnya wajib.

                        Jadi ketika kejadian pertama, kita berada di
pihak yang diserang
                        dan tidak mempunyai senjata apa-apa. Banyak
saudara-saudara
                        kita yang kena panah beracun. Kemudian kita bawa

                        saudara-saudara kita ke rumah sakit umum yang
berada di Desa
                        Kuda Mati. Desa Kuda Mati adalah basis mereka.
Jadi saudara
                        kita yang kita bawa ke Kuda Mati untuk diobati,
ternyata
                        bukannya diobati, tetapi malah dibunuh.

                        Bahkan, semuanya pasien diperiksa KTP-nya satu
per satu. Bila
                        KTP-nya Muslim, maka mereka dihabiskan. Dan
banyak
                        ibu-ibu yang datang untuk melahirkan, tapi malah
dibunuh. ''

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Mar 1999 jam 10:33:21 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke