---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Assalamu'alaikum Wr Wb Asyik juga melihat saresehan alias pembicaraan di RCTI Senen malam, antara Bapak Thoufikurahman (ketua PKB), Yusril Ihza M (Ketua PBB) dan Baramuli (nah yg ini saya bingung sebab dia bilang dari Golkar....tapi dalam suatu kesempatan mengatas namakan ketua DPA). Cukup rumit juga mengajukan kriteria cara kampanye untuk Pemilu Juni mendatang, apa mau kampanye terbuka atau kampanye secara terbatas, terus lagi calon pemimpin harus menunjukkan program partainya dengan cara bagaimana. Memang kalau kampanye diadakan secara massal dan terbuka cukup rawan untuk bisa menimbulkan bentrokan massa antar partai, kalau mereka bertemu dijalan atau tempat2 terbuka, apalagi kalau "sang provokator" (yang sampai saat ini baru sebutannya dikenal masyarakat, sedang person atau wajahnya kayak apa......belum ada yg tahu, karena belum ada yg teridentifisir atau bahkan tertangkap) mulai berperan menyebar api kebencian. Menurut para pakar pada diskusi tersebut sebaiknya kampanye diadakan secara tertutup atau didalam gedung tertutup, bahkan diusulkan kampanye liwat TV dan hanya kampanye dijalan berupa bendera poster dan spanduk partai2. Memang cara itu cukup aman untuk situasi yang bergejolak saat ini, namun perlu kajian lebih teliti mengingat cara tadi kurang mencerminkan demokrasi dalam segi pandang internasional ( khan kita sudah menginjak era globalisasi, makanya pendangan orang luar perlu diperhatikan, walau bukan faktor penentu). Usulan agar para kandidat pemimpin negara mengadakan debat terbuka di forum media TV atau radio, kayaknya kok tidak pas........ Nah kalau si kandidat orangnya pendiam dan lugu, apa tidak mawut debat2an sama pokrol bambu alias tukang debat kusir, buat sang pokrol yang ditugaskan menjegal calon serius, nothing to loose.....jalankan tugasnya buat acara debat jadi terkesan konyol. Walahdalah rontok kamu ...... bikin pandangan masyarakat jadi negatip. Lhoh kok mesti pakai debat sih dalam mengutarakan programnya? Memang kita mau memilih jurudebat alias pokrol atau kita mau milih pemimpin alias negarawan? Belum tentu orang yang punya niat, program dan dedikasi baik pasti bisa berdebat, dan rasanya sih orang yang selalu mencari dalih nutup kebusukkannya yang berbakat jadi jago debat. Untuk ini saya setuju kalau tiap pimpinan partai atau calon pemimpin mengutarakan programnya secara sendiri2 di media TV/radio/cetak, nah biar rakyat yang menilai program serta pribadinya, khan semua ! sudah tau mana serigala mana yang bukan. Mana yang di orde lalu jadi pendukung kuat dan sekarang jadi reformis paling keras suaranya, hehehe emang bunglon.? Ada satu diacara tesebut yang mengganjal emosiku, yaitu makhluk yang bernama Baramuli, yang nota bene merupakan peninggalan orde lalu, dimana dimoment tersebut sebentar bilang selaku pengurus satu orpol tapi pada satu saat bilang selaku ketua DPA. Ini orang kayaknya mbahnya bunglon dan biang badak, lha dalam ributnya dengan tokoh Barisan Nasional pengacaranya bilang dia bicara di Sulawesi Selatan waktu itu (yang dilaporkan memfitnah dua tokoh Barisan Nasional) dalam kapasitas ketua DPA. Lhoh emang ketua DPA bisa keluyuran dengan biaya negara untuk memberi pengarahan dan cerita konyol buat pejabat daerah? Apa sih tugas DPA sebenarnya? Kok bunglon satu itu malang melintang umbar bacot sambil menggunakan dana negara? Apalagi dipenghujung acara tersebut makhluk tebal muka ini mengomentari kriteria calon presiden dari PKB dengan nada negatip ( sang badak bilang bahwa orang yang jujur dan sederhana tidak bisa memimpin negeri ini pada masa mendatang). Lho biarkan saja setiap partai punya kriteria yang dianggap pas buat mereka, ngapain memberi komentar negatip, bukankah itu hak masing2 dan biar rakyat yang menilai. Disambung lagi langsung sang badak meneriakkan calonnya keras2.......walah walah saking takut di persoalkan kreditnya barangkali ....... maka dia selalu menjadi pendukung yang lagi berkuasa mati2an. Itu dia kalau kita banyak borok, buntutnya disamping jadi pokrol bambu juga menjadi orang yang asal njeplak. Nah, bagaimana nanti kriteria kampanye dan calon pemimpin bangsa, terserah pada kita semua. Semoga kita bisa menentukannya dengan benar dan bukan memilih ular yang bakal membelit kita lagi selama 32 tahun mendatang. Wassalammu'alaikum Wr Wb Sidik Pamungkas (mau milih Ayu Azhari saja ah...... udah cakep terus pinter akting lagi) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 5 Mar 1999 jam 10:46:13 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
