---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- 48 Partai Peserta Pemilu PRD Kejutan, Banteng Adu Tanduk Reporter Budiono Darsono detikcom, Jakarta - Partai Rakyat Demokratik (PRD) sempat dituding komunis tapi lolos sebagai peserta Pemilu. Tiga PNI akan bertarung berebut massa marhaen. Umat Islam akan diperebutkan oleh 13 partai berbasis Islam. PDR yang dibentuk dengan tergesa-gesa pun lolos. Begitulah gambaran mengenai yang berhak mengikuti Pemilu yang dijadwalkan dilangsungkan pada 7 Juni 1999. Pengumumkan itu dilakukan Kamis (04/03/1999) di gedung LPU, Jl.Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Hasil verifikasi Tim 11 itu memang ada yang mengejutkan, namun ada juga yang memang sudah bisa diduga. Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan, Partai Keadilan dan Persatuan (PKP), PDI Perjuangan, sudah diduga sebelumnya bakal lolos dan berhak mengikuti Pemilu. Maklum, partai-partai ini memang memiliki nama yang cukup berkibar dengan didukung oleh sejumlah tokoh yang punya nama seperti Gus Dur, Megawati, Amien Rais, Edi Sudrajat, Yusril Ihza Mahendra, dll. Yang mengejutkan adalah lolosnya Partai Rakyat Demokratik (PRD) pimpinan Budiman Sudjatmiko. Budiman sendiri saat ini masih meringkuk di LP Cipinang, Jakarta Selatan. PRD sendiri mendaftarkan diri ke Departemen Kehakiman justru di saat-saat akhir batas akhir pendaftaran. Bahkan PRD nyaris tidak mendapatkan mengesahkan dari Departemen Kehakiman. Namun di luar dugaan, PRD mampu melengkapi berbagai persyaratan dan mengantongi pengesahkan dari Departemen Kehakiman. Maka ketika PRD lolos dari verfikasi Tim 11 dan berhak mengikuti Pemilu, banyak yang menilai hal itu sebagai kejutan. Apalagi dikaitkan dengan posisi PRD di masa pemerintahan Soeharto yang dicap bermuatan ajaran komunis. Tak lama setelah Tragedi Sabtu Kelabu 27 Juli 1996 - menyerbuan kantor DPP PDI dari tangan pendukung Megawati oleh pendukung Soerjadi - PRD dituduh sebagai dalang dalam aksi kerusuhan waktu itu. Budiman Cs kemudian diciduk, dan diadili. Pangab yang waktu itu dijabat Jenderal Feisal Tanjung, secara terbuka menuding bahwa PRD disinyalir berbau komunis. Jatuhnya Soeharto rupanya membawa angin perubahan yang signifikan. Beberapa tokoh PRD dibebaskan, kecuali Budiman. Dan saat ini Menteri Kehakiman Muladi sudah mengisyaratkan pembebasan Budiman dari LP Cipinang. Lolosnya PRD menjadi peserta Pemilu sekaligus juga membuktikan bahwa Budiman merupakan sosok handal. Dari balik teruli besi, ia ternyata masih mampu mengorganisir PRD. Yang tak kalah menariknya adalah lolosnya 3 PNI sebagai peserta Pemilu. Salah satunya adalah PNI Front Marhaenis yang dipimpin oleh Probosutedjo, adik tiri mantan Presiden Soeharto. Bisa dipastikan perebutan massa marhaen bakal seru. Marhaen yang juga identik dengan gambar banteng, sudah tentu akan saling sruduk dengan PDI Perjuangan pimpinan Megawati. Boleh jadi PDI Budi Harjono pun akan ikut adu tanduk. Tanduk siapa bakal patah? Dan yang tak kalah serunya, sudah tentu perebutan suara umat Islam. Betapa tidak! Ada 12 partai berbasis Islam yang lolos menjadi peserta Pemilu. Ke-13 partai itu adalah Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Keadilan, PKB, PBB, Partai Ummat Islam, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Ummat Muslimin Indonesia, Partai Kebangkitan Ummat, Partai Kebangkitan Muslim Indonesia, Partai Masyumi Baru, Partai Politik Islam Indonesia Masyumi, Partai Islam Demokrat dan Partai Syarikat Islam Indonesia. Dari ke-12 partai yang akan memperebutkan suara dari kalangan umat Islam itu, Partai Keadilan, PKB, PBB diramalkan akan mampu mengaet perolehan suara besar. Maklum PKB yang berbasiskan NU dimotori langsung oleh Ketua Umum PBNU, Gus Dur. Namun PKB bukannya tak perintang dalam merebut suara. Soalnya ada dua partai lainnya, yakni Partai Nahdlatul Ummat dan Partai Kebangkitan Ummat (PKU), yang sama-sama berbasiskan di NU. PKU misalkan dipimpin oleh Pak Ud, paman Gus Dur, sama-sama NU, namun berseberangan garis politik. Di basis Islam, Partai Daulat Rakyat (PDR) bisa jadi merupakan ancaman tersendiri. PDR yang didirikan dengan tergesa-gesa diluar dugaan juga lolos. Jika PDR bisa menjadi ancaman bagi partai berbasis Islam lainnya, tak lain karena di balik PDR ini tak lain adalah Adi Sasono. Adi adalah Menteri Koperasi yang juga dikenal sebagai Sekjen Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). PDR sebagai partai politik, menurut sumber detikcom, adalah merupakan sayap politik dari Ormas Persatuan Daulat Rakyat (PDR) yang dikomandani oleh Cacuk Sudaryanto. Cacuk sendiri dikenal sebagai mantan Dirut Telkom dan mantan Dirut Bank Mega. Cacuk melepas posisinya sebagai Dirut Bank Mega setelah direkrut Adi Sasono menjadi salah sati Dirjen di Departemen Koperasi. PDR sebagai Ormas bertujuan memajukan pengusaha kecil. Dalam programnya PDR ini akan membentuk jaringan informasi bagi pengusaha kecil di seluruh Indonesia. PDR beberapa waktu lalu sudah sempat menyelenggarakan Rakernas di Jakarta yang diikuti sekitar 300 orang dari seluruh Indonesia. Tidak hanya itu. Untuk mendukung gerakan PDR selaku Ormas maupun PDR sebagai sayap politik, PDR juga menerbitkan Tabloid Daulat Rakyat. Rencananya Tabloid ini sudah akan beredar pada awal pekan Maret ini. Calon pemimpin redaksinya, disebut-sebut adalah Eddie Aruman, wartawan Swa. Sedangkan Wakilnya adalah Mahmud F Rakasima, mantan wartawan Tabloid Detik. Sedangkan partai berbasis agama non Islam memunculkan dua partai yakni Partai Kristen Nasional Indonesia dan Partai Katolik Demokrat. Namun bisa dipastikan kedua partai tak gampang menggaet suara dari pemeluk Kristen maupun Katolik. Soalnya, partai-partai lain yang bercirikan kebangsaan seperti PAN yang dimotori Amien Rais, PKP pimpin Edi Sudradjat, atau bahkan PDI Perjuangan, akan bisa menjadi pilihan yang lebih menarik. Lantas bagaimana dengan nasib Sri Bintang Pamungkas? Lolos juga. Partai yang dipimpinnya, Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) lolos menjadi peserta Pemilu. Nampaknya hal ini merupakan peluang bagi Bintang untuk bertarung dalam ajang Pemilu. Soal menang atau kalah, itu urusan nanti. Apakah Cendana masih bermain? Jawabnya masih. Ini tentu saja jika dikaitkan dengan partainya Probo yakni PNI Front Marhaenis. Bahwa PNI yang ini akan dipakai sebagai kendaraan bagi keluarga Cendana untuk kembali berkuasa di Indonesia atau tidak, tentu hanya Probo sendiri yang tahu. Namun toh, sosok Probo sendiri sudah memunculkan spekulasi tentang hal itu. Spekulasi bakal meriah. Pertarungan merebut suara dipastikan seru adanya. Yang pasti, rakyat, yang kelak akan datang ke Tempat Pemungutan Suara, bakal terkesima. 30 tahun lebih terbiasa memilih 3 tanda gambar, kelak harus memilih 48 tanda gambar. Bingung! Hak Cipta ) detikcom Digital Life 1999 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 5 Mar 1999 jam 10:46:38 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
