----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Assalammu'alaikum Wr Wb

Rasanya kita mesti prihatin dan bersedih dengan  berlarutnya bentrokan di
Ambon, sudah banyak penderitaan yang menimpa anggauta masyarakat disana,
baik suku  Ambon/Maluku sendiri ( Muslim maupun non Muslim) juga masyarakat
pendatang yang beragama apapun.
Kita harus mulai mengkaji rangkaian kerusuhan dan bentrokan massa yang
terjadi mulai sejak
menjelang lengsernya Orba, yang nampaknya terangkai sambung menyambung
dengan sistematis dan cepat melanda wilayah2 Republik kita yang tercinta.
Mengapa itu mesti terjadi dalam tempo yang singkat, padahal selama kurun
waktu lebih dari 45 tahun (semenjak kemerdekaan 1945) belum pernah ada
kerusuhan massal yang menyebar secara cepat dan luas dalam waktu yang
singkat. Selama itu masyarakat kita bisa menerima pluralisme yang ada di
Republik ini, dan hidup berdampingan saling menghormati antara satu dengan
lainnya. Ada juga pernah terjadi gejolak kerusuhan, namun biasanya sporadis
dalam beberapa wilayah saja dan tidak sambung menyambung meluas (langsung
padam).

Dimulai dengan gelombang kerusuhan pra pemilu (SItubondo, RengasDengklok,
Tasikmalaya dll) yang disusul dengan kerusuhan Mei 1998 yang cukup telak
memukul jalannya roda ekonomi kita, kemudian dalam gelombang demo mahasiswa
terjadi drama penembakkan (setelah sebelumnya ada penculikan), yang kemudian
disusul dengan bentrokan/penjarahan massa sporadis dibeberapa propinsi, lalu
berubah bentuknya menjadi bentrokan yang mengarah/bertujuan ke SARA. Seperti
kasus pembunuhan apa yang disebut dukun santet (yang ternyata bukan dukun
santet),  Ketapang, Kupang, Ambon dan terakhir Kalimantan Barat (walau di
Kalbar bukan kerusuhan antar agama hanya antar suku yang nota bene beragama
sama). Dan hampir saja ditambah dengan meletusnya keributan di Timor Timur,
yang disebabkan opsi alternatip kemerdekaan Timtim yang disuarakan
pemerintah yang menimbulkan gelombang keresahan disana dan sudah menginjak
ke bentrokan pisik, untungnya tidak meluas dengan cepat. Cukup mencengangkan
pemberitahuan pe!
me!
rintah tentang opsi alternatip tentang kemerdekaan Timtim yang dikeluarkan
pada  waktu celah antara keributan Ketapang, Kupang dengan kerusuhan Ambon.
Apa tidak terpikir bahwa itu riskan akan kemungkinan menambah bara kerusuhan
dibumi pertiwi ini?

Kemudian lagi bara kerusuhan dan bentrokan dibumbui oleh sementara tokoh
dengan menyebutkan secara terbuka entah di TV atau radio atau mailing list
liwat kaki tangannya, tentang korban2 yang jatuh (yang kadang2 dibesarkan)
dan membakar hati masyarakat yang seiman atau sesuku atau satu kelompok
untuk ikut campur tangan (lho memang kerusuhan itu harusnya dipadamkan atau
malah di obok2 sih?). Ada yang merencanakan membentuk satuan khusus yang
akan diikutkan berjuang didaerah yang lagi rusuh, ada yang saling memaki dan
menyalahkan, aneh ah.......... seharusnya pejabat maupun tokoh harus
mengutamakan kesejukan  dan meredam keresahan dikalangan umat. Lebih penting
mencari jalan mengakhiri keributan itu, daripada tumpas menumpas. Kayaknya
mereka ini bisa dikategorikan provokator tingkat tinggi.
Keributan yang seharusnya mulai mereda, menjadi bergolak lagi akibat omongan
segelintir orang yang terpandang yang dianggap panutan, apalagi ditimpali
dengan aktivitas provokator lapangan (yang anehnya sampai detik ini tidak
pernah bisa terungkap wajah2nya, apalagi tertangkap).

Apa semua itu memang sengaja dibuat dalam rangka skenario besar alias
nasional? Kalau iya, apa tujuan sebenarnya? Lalu siapa yang mendapat
keuntungan dari skenario itu? Kalau yang dirugikan pasti rakyat/masyarakat
ditempat keributan, tidak perduli suku atau agama atau ras apapun.

Para petinggi negeri, jangan kalian hanya memikir kepentinganmu, jangan
memikir gengsimu dan jangan kalian ingkari sumpahmu tatkala kalian diangkat.
Kalau .......seandainya ..... memang kalian ikut berperan atau sudah pusing
karena meluasnya keributan, jangan segan untuk meminta bantuan tokoh2
masyarakat yang walaupun tidak termasuk dalam kelompokmu untuk ikut membantu
meredam bara kerusuhan. Barangkali mereka bisa membantu meredam gejolak yang
menyengsarakan rakyat. jangan malah dicegat dengan kalimat bahwa tokoh2 itu
bisa menggunakan moment tersebut untuk kepentingan politiknya.
Kejam......... kejam kau petinggi negara....kalau hanya karena ambisimu kamu
tega membuat rakyat menderita ber lama lama.

Marilah kita hentikan arogansi kelompok, arogansi kesukuan, arogansi
agama....... marilah kita bersama sama ikut menghentikan kebencian dan
keributan yang sedang berkecamuk. Seandainya  negeri dan bangsa ini
diibaratkan dengan tubuh, walau tangan kaki mata telinga dll berbeda bentuk
dan fungsinya namun itu semua menjadi satu untuk kesempurnaan kita. Kalau
jari mencolok mata (karena dianggap mata berbeda dengan jari), lalu mulut
menggigit kaki dengan alasan yang sama, apa mungkin kita (atau katakan
negeri ini) masih bisa hidup dengan sempurna?

Wassalam

Sidik Pamungkas
(Penyebar kebencian dan penindasan adalah iblis)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Mar 1999 jam 10:28:36 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke