----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Sdr. Redaksi SiaR,

Di  bawah  ini  nekrologi  drs. A.Sukrisno,  mantan  Dubes  RI
Presiden Soekarno, berupa transkrip dari kaset wawancara  saya
dengan  Almarhum. Drs. A. Sukrisno meninggal kemarin  siang  6
Maret 1999 di Amstelveen Nederland, dan akan dikebumikan  hari
Kamis tanggal 11 Maret 1999. Selamat Jalan Bung Krisno!

Hersri

                              ***

Drs. A. Sukrisno
Amstelveen 30 Juni 1997
_______________________

Kaset I

Side A
000-178: Masa kanak-kanak. Di desa.
     Cerita saya agak sulit. Mengingat saya ini tidak
kenal ibu dan bapak. Saya lahir, menurut uak saya, di
Palembang  tahun 1918. Hari bulan tidak  tahu.  Malah
saya  juga tidak mengenal ibu saya. Waktu saya  masih
orok,   masih  kecil,  dibawa  oleh  uak  saya   dari
Palembang.  Uak  ini  kakak  bapak  saya.  Dia   yang
membesarkan saya. Namanya Cokrodiwiryo. Dulu  bekerja
sebagai  keurmeester, yaitu pemeriksa  di  pemotongan
hewan.  Saya  besar dibawah asuhan  Pak  Cokro.  Ayah
sendiri  saya  tidak mengenal. Mengenal baru  setelah
saya  umur  13 tahun. Saya tidak mengenal  ibu,  yang
dikabarkan  juga  sudah meninggal di  Palembang.  Ibu
saya  seorang Tionghwa. Bapak saya beristerikan  dia.
Saya  sendiri tidak mengenal ibu dan juga bapak. Saya
berumur 13 tahun baru mengenal bapak saya. Dia ini di
jaman  Hindia Belanda dulu hidupnya lumayan,  gajinya
besar. Dia klerk KPM, lantaran pandai bahasa Inggris.
Dia  punya  kedudukan  lumayan, gajinya  135  gulden.
Banyak  sekali  itu. Tapi penyakit  dia  ini  kegila-
gilaan  main  rolet. Namanya Sukarya. Dia  sebetulnya
orang   Jawa.   Kakek   saya  orang   Jawa,   namanya
Cokrodiwiryo.  Sama dengan nama uak yang  membesarkan
saya  itu. Dia ini tidak punya istri. Jadi payah saya
ini.  Jadi  saya  tidak mengenal kecintaan  ibu.  Pak
Cokro  juga tidak punya istri. Seingat saya  kemudian
Pak Cokro kawin lagi dengan perempuan dari desa. Saya
lantas tinggal di Plered, lantaran dia punya istri di
desa. Plered ini desa termasuk Purwakarta. Saya masuk
sekolah desa, termasuk anak yang tidak bodoh.  Bahasa
pengantar  di  sekolah  Bahasa Sunda.  Orangtua  saya
keturunan  Jawa.  kakek saya orang  Jawa.  Tapi  saya
besar di Sunda.
      Saya  memang hidup di desa. Sebelum ke  sekolah
saya macul. Sesudah pulang sekolah macul lagi, karena
pekarangan  rumah  itu  luas sekali.  Pak  Cokro  ini
jurutulis  pada Asisten Wedana, gajinya tidak  besar.
Baru belakangan dia jadi keurmeester. Sebelumnya  dia
werkloos.  Kemudian  lantaran  kenal  dengan  seorang
Asisten Wedana, dia dibantu, boleh kerja di kantor AW
sebagai  jurutulis, sehingga saya bisa  disekolahkan.
Sekolah  Desa.  Sampai  klas tiga.  Jadi  saya  macul
memang  untuk  makan. Menanam singkong. Pekarangannya
memang  luas. Pak Cokro sendiri punya seorang  putri,
tapi  karena sudah cerai dengan istrinya,  maka  anak
putrinya itu tidak di situ. Jadi di rumah hanya  saya
dengan Pak Cokro. Tapi kemudian dia kawin lagi dengan
seorang  perempuan dari desa Ciganea, masih  termasuk
Plered, sekitar 20 km. jauhnya.
      Belum  sampai tamat Sekolah Desa 3  tahun  itu,
saya  diserahkan pada uak lain, adik  dari  uak  yang
memelihara  saya itu. Uak ini bekas camat.  Tapi  dia
karena   politiknya   dianggap  kiri,   diberhentikan
sebagai  camat.  Di  Cibarusa,  bilangan  Bogor,   di
pinggir  kali  Pamingkis. Di situ saya sekolah  lagi.
Sekolah  desa. Di pinggir sawah. Saya mulai  klas  3.
Cibarusa   ini   terkenal  kota   perampok.   Spesial
ditempatkan  satu  kesatuan polisi  Belanda,  semacam
Marsose lah. Polisi-polisi bersenjata itu orang-orang
Indonesia,  tapi komandannya orang Belanda.  Cibarusa
terletak  tidak jauh dari daerah-daerah  yang  banyak
perampoknya.  Banyak petani yang  berontak.  Cibarusa
ini wilayah ke-asisten-wedana-an. Tapi desa kami agak
jauh dari kotanya.
      Uak  ini  namanya, saya lupa. Lantaran dianggap
memihak  PKI, dia diberhentikan sebagai  camat.  Tapi
lantaran  agak pandai, dia bekerja mengumpulkan  batu
bangunan.  Dari situ dia hidup. Kemudian buka  warung
kecil.   Sederhana   sekali.  Sekedar   buat   hidup.
Pekerjaan  saya  meladeni di warung, sambil  sekolah.
Desa itu banyak ular welang. Istri uak saya meninggal
karena  digigit ular welang. Waktu itu  bulan  puasa.
Dia turun dari rumah panggung mau ke dapur. Di kolong
rumah panggung itu banyak ular welang. Bibi mau masak
buat  sahur. Begitu turun dari tangga rumah, terinjak
ular welang. Digigit. Tidak ada yang bisa menolong di
desa  itu. Di keasistenwedanaan ada mantri kesehatan.
Di  kirim orang ke sana untuk memanggilnya. Tapi bibi
sudah  mati sebelum orang itu datang kembali. Digigit
ular  belang  itu  dalam 10 menit  sudah  mati.  Saya
sendiri pernah hampir mengalami. Untung masih panjang
umur.  Juga bulan puasa. Turun dari rumah  hendak  ke
kamar  mandi.  Di bawah saya injak penghalang  pintu,
yang  ternyata ada ularnya di bawah penghalang  pintu
itu.  Untung saja ada penghalang! Banyak  orang  mati
digigit ular. Lantaran tidak ada pertolongan. Keadaan
miskin sekali.
      Dari Cibarusa saya sudah klas IV SR. Ini daerah
Sunda,  bilangan Bogor. Jadi rumah komunikasi  dengan
Paman  dan  Bibi dalam bahasa Sunda.  Uak  ini  punya
warung  kecil.  Warung desa. Ada  teh,  gula,  sabun,
kopi,  keperluan sehari-hari orang desa.  Kalau  pagi
pekerjaan  saya juga mengisi gentong  air  di  warung
itu.  Karena dari pedesaan sekitar situ banyak  orang
ke Cibarusa menjual hasil tanaman. Mereka capek haus,
suka istirahat minum di warung.
      Sekolah  saya itu di pinggir Kali  Cipamingkis,
yang banyak berbatu-batu besar. Besar sekali. Setelah
klas  III  di,  kalau tidak salah, dari sekolah  desa
itu, rupanya ada pemikiran bapak saya di Jakarta.

179-313: Masa kanak-kanak. Di Batavia.
       Maksudnya  supaya  saya  sekolah  di  Batavia.
Rupanya pikiran ayah saya sendiri, yang ingat  kepada
anaknya.  Sesudah  selama itu  diserahkan  pada  uak,
yaitu  kakak-kakaknya. Pertama yang  di  Plered,  dan
kemudian  yang di Cibarusa. Padahal bapak  yang  kaya
sekali!  Gajinya sebulan 175. Polisi bangsa Indonesia
jaman itu cuma 7,5 gulden. Tapi ayah saya itu kegila-
gilaan main rulet.  Jadi dari Cibarusa saya pindah ke
Jakarta, kota besar. Maklum anak desa! Pada satu pagi
hujan  besar.  Saya telanjang saja.  Lari  ke  jalan.
Waktu itu umur saya mungkin sekitar 11-12 tahun. Dari
desa  klas  III. Itu di Ciliwung, di dekat  Volksraad
dulu. Di jaman Belanda ada Raad van Indi�. Di sebelah
gedung   RvI   itu  mengalir  Sungai  Ciliwung.   Ada
jembatan. Saya anak desa Cibarusa. Tiba-tiba hidup di
kota  besar Batavia. Tiba-tiba pagi-pagi hujan besar.
Dasar  anak  desa. Telanjang saya lari  ke  jembatan,
nyemplung di sungai itu. Kebiasaan anak desa. Di desa
kami  lebih banyak mandi di sungai daripada di sumur.
Sungai  yang banyak batu-batunya besar-besar.  Bersih
memang.  Tapi  ini  di Batavia.  Orang  yang  melihat
tentunya  heran: hujan-hujan ada anak mandi telanjang
di sungai!
      Kami  tinggal di Pejambon, dekat Volksraad.  Di
belakang  itu dulu kampung. Jadi Volksraad, Raad  van
Indi�, Ciliwung, terus kampung. Kampung Pejambon.
      Oleh  bapak  saya  disekolahkan,  mula-mula  ke
sekolah  anak-anak Belanda. Mengingat bapak saya  kan
gede  gajinya,  klerk di KPM. Namanya anak  desa,  di
sekolah  anak Belanda. Calang-cileung, namanya.  Jadi
nggak serasi. Di Gedung Tanah, Wilhelminapark namanya
dulu.  Akhirnya saya dipindah ke Schakelschool, yaitu
sekolah  yang  bisa menampung anak-anak pribumi  yang
bisa   masuk,   ya   setingkat  dengan   HIS.   Kalau
Schakelschool  5  tahun, HIS 6 tahun.  Dari  klas  I.
Sekolah  itu di Petojo. Jauh dari rumah.  Saya  jalan
kaki  atau  naik sado. Uang saku saya banyak.  Sehari
suka   diberi  seperak  atau  seringgit.  Luar  biasa
memang.  Anak desa, pindah ke kota besar, punya  uang
lagi
      Saya  termasuk anak yang selalu nomor  satu  di
klas.  Gurunya  orang Belanda. Sebetulnya  saya  bisa
ujian  ke HBS, lantaran angka-angka saya baik.  Tujuh
ke atas. Dari Schakelschool dengan ujian bisa ke HBS.
Tapi  saya  akhirnya ke MULO. Tanpa  ujian,  langsung
bisa   masuk.  Untuk  ke  HBS  orangtua  mesti  punya
jabatan. Biasanya anak-anak patih. Di MULO teman saya
juga  ada  anak  patih. Dari Banten. Pandeglang.  Dia
tinggal di internaat J.P. Coen Stichting yang  sangat
elite. Mahal. Itu di Jalan Guntur. Saya pernah diajak
bermain ke situ. Waduh! Saya kan anak miskin.
      Saya selalu termasuk anak yang terpintar.  Tapi
ayah   ini,   karena  main  rulet,   jatuh.   Kerjaan
diberhentikan. Saya tidak bisa terus sekolah.  Sampai
klas III saya sudah harus drop-out. Lalu saya tinggal
pada  seorang Tante yang miskin di Meester  Cornelis.
Tante  dari pihak bapak. Dia kawin sama seorang Jawa,
kerja di Gemeente Meester Cornelis, sebagai tekenaar.
Agak  lumayan gajinya. Tapi kasihan. Anaknya  sendiri
dua. Maka Tante bikin kue macam-macam, untuk menambah
uang  belanja.  Tapi sudah punya rumah sendiri,  juga
ada kebunnya. Saya numpang di situ. Juga ada saudara-
saudara  lain  yang numpang di situ. Saya  tiap  hari
lapar. Kalau makan, bakul nasi itu ditaruh di lemari,
kalau  mau  tambah, pintu lemari itu  berbunyi  kalau
dibuka:  groook.  Saya malu toh? Jadi  saya  terpaksa
menahan lapar terus! Tiap hari nggak cukup makan.
      Di  MULO  saya  termasuk anak pandai.  Tapi  di
Meester  Cornelis  terpaksa tidak  sekolah.  Kemudian
saya kerja.

313-363: Mulai bekerja
      Sudah dari sekolah drop-out, saya ditolong oleh
suami keponakan saya, dari Pak Cokro yang membesarkan
saya itu. Anaknya kawin seorang Padang, yang kerja di
"Aneta". Dia ahli ketik cepat. Hebat. Pendeknya tidak
ada  taranya kecepatannya. Dia tinggal di Pasar Baru,
Gang  Kelinci.  Orang  Padang ini  pintar.  Dia  buka
kursus  ketik "The Speed", sambil kerja  di  "Aneta",
tukang ketik nomor satu, Kepala Bagian Ketik. Gajinya
besar  juga.  Melihat saya tidak  bekerja  dan  tidak
sekolah,  dia  menawari saya menjadi  guru  ketik  di
kursusnya  itu. Waktu itu kira-kira saya  umur  17-18
tahun.  Saya  terima usul itu. Saya  pandai  mengetik
cepat, juga belajar dari dia.
      Lantaran saya bisa mengajar 2 orang Cina,  yang
dalam  15 hari sudah pandai, dari mereka itu  masing-
masing saya mendapat hadiah vulpen dan arloji.  Bukan
main senang saya. Beli sendiri kan tidak mampu?!

363-435: Mulai masuk dunia pekabaran: "Aneta".
      Akhirnya di "Aneta" ada lowongan. Tukang ketik.
Ipar  itu  mengajak saya melamarnya. "Biar saja,  The
Speed  nanti  kita  jual saja", katanya.  Memang  ada
orang  dari Banten yang sudah menawarnya.  Lagi  pula
gaji  sebagai juru ketik di "Aneta" juga besar.  Enam
puluh  lima,  kalau tidak salah. Tukang ketik  malam.
Kantornya  di  dekat Pasar Baru,  Postweg  Besar.  Di
depan  Kantor  Pos  Besar, PTT itu.  Belakangan  jadi
kantor  "Antara". Lantaran drop-out  klas  III  MULO,
mengerti bahasa Belanda, jadi saya dipakai juga. Lagi
pula  saya bisa mengoreksi. Ketikan di sheet  stensil
itu  kan  perlu  diperbaiki.  Jadi  redaktur-redaktur
Belanda  itu  langsung  mengetik  di  sheet  stensil.
Menerjemahkan  berita-berita  dari  "Reuter",  "UPI",
"Expres" dan kantor-kantor berita lain-lain.  Kadang-
kadang  salah.  Sayalah  yang  memperbaikinya.  Tidak
jarang juga bahkan bahasanya pun salah. Saya pun bisa
memperbaikinya.  Jadi  saya mendapat  perhatian  dari
mereka.  Begitulah  pengalaman saya  pertama-tama  di
"Aneta".  Permulaan bekerja jadi wartawan. Jadi  saya
perhatikan kerja mereka itu. Tukang ketik  malam  dan
juga korektor.
      Saya  masuk kerja mula-mula jam 9 malam  sampai
pagi.  Kemudian terkadang jam 12 malam. Di situ saya,
ini   kebetulan,  PPPI,  yaitu  Perhimpunan  Pelajar-
Pelajar  Indonesia,  di mana Mr.  Sumanang  berperan,
membuka kursus jurnalistik dan pengetahuan umum. Yang
diterima  paling  sedikit  tamatan  MULO  atau   yang
setingkat. Saya ingin masuk, tapi baru klas III. Saya
temui Mr.Sumanang, dan saya terangkan seperti adanya.
Karena  menurutnya  saya sudah  berpengalaman  cukup,
maka   saya   diterima.  Kami  belum   saling   kenal
sebelumnya, tapi dia memang sudah tahu. Kegiatan saya
waktu  itu  dengan Sumarmo. Dia ini  terakhir  Kepala
Sensor  Film,  pejabat tinggi Deppen. Waktu  itu  dia
sudah  ternama  di kalangan pergerakan pemuda,  sebab
dia  salah  seorang  pendiri  Jong  Islamieten  Bond.
Bersama dia saya bersahabat. Saya bertemu dia sekitar
tahun  36. Tahun 38, berdua kami menghidupkan kembali
JIB, yang hidup tidak mati pun tidak.

435-613: Latar belakang keislaman.
       (HS.:   Pertemuan  dengan  Pak   Marmo   dalam
kesempatan  apa?  Kebetulan  saja,  atau   ada   yang
menghubungkan?)
      Saya  anak desa dari Pasundan. Di situ Islamnya
kuat. Saya terpengaruh Islam. Di Cibarusa malah hidup
saya  di langgar. Mesjid kecil kepunyaan kakek  saya.
Kalau  bulan Puasa saya selalu di langgar itu. Magrib
saya  pukul  beduk.  Asar saya pukul  beduk.  Tarawih
juga.  Saya  juga  ngaji. Kuran saya  hapal  di  luar
kepala. Langgar itu kepunyaan kakek, orang ternama di
desa  itu.  Cokrodiwiryo juga  namanya.  Kalau  tidak
salah bekas camat dia itu. Dia juga tuan tanah.  Saya
ngaji,   kuran  sudah  tamat,  sampai  "ditumpengin".
Dirayakan  lah,  dengan nasi kuning.  (HS.:  Kataman,
istilahnya di Jawa. Dari kata 'khatam'). Ya, kataman!
      Setelah ke Jakarta semuanya itu hilang, kecuali
Islamnya saja yang tidak hilang. Maka ketemu Sumarmo,
yang  saat  itu  masih muda. Ketika  itu  saya  belum
bekerja  di "Aneta", saya ketemu tahun 36, dan  kerja
di  "Aneta" tahun mulai 38. Tapi mungkin juga  sudah?
Tapi baru sebagai tukang ketik malam saja.
      Di  "Aneta" waktu itu ada Anom Putra,  Redaktur
Inheemse  Pers Afd. "Aneta". Saya masih tukang  ketik
malam, juga korektor. Anom Putra ini baik sama  saya.
Dia   tamatan  Mosvia,  C.A.,  Candidaat   Ambtenaar.
Melamar  menggantikan Saerun, sebagai  Hoofd  v/d  IP
Afd.  "Aneta". Saya kenal baik secara pribadi  dengan
Saerun.  Jarak umur dengan saya kira-kira agak  jauh.
Waktu  itu dia sudah tua, saya masih muda. Dia keluar
karena merasa sudah cukup, 2 tahun kontrak, dan tidak
mau  lagi  memperpanjangnya. Dia mau jadi  bisnisman.
Bukan alasan politik. Politik, dia tetap pro-Belanda.
      Anom  Putra  ini  seorang C.A. Tamatan  Mosvia.
Mantri  Polisi dia sebetulnya. Tapi dia mau  2  tahun
dulu  jadi jurnalis di "Aneta", jabatannya Hoofd  v/d
Inheemse  Pers  Afdeeling  "Aneta".  Satu  hari   dia
mengeluh  pada saya, pekerjaan di "Aneta"  tidak  ada
istirahatnya.  Dari kantor masih kerja, menerjemahkan
buat siaran Nirom, bikin berita, sore-sore ada telpon
lagi  dari  direktur, harus ke sana ke sini,  menemui
tokoh  ini-itu, hadir di rapat ini-itu,  cari  inside
information ... ik heb geen rust, katanya.  Saya  mau
kembali  jadi  bestuurs ambternaar.  Saya  kan  C.A.,
kalau saya berhenti dari "Aneta", masuk lagi jadi BB,
saya jadi Mantri Polisi ...
       Dia   minta   agar   saya   mau   menggantikan
kedudukannya.   Saya   terima   permintaannya.   Saya
langsung  bicara sama Direktur   "Aneta", Mr.  C.H.R.
De  Vries.  Dia sudah lama mengenal saya dan  pretasi
kerja saya. Langsung saya diterima. "Saya kenal Anda.
Saya   anggap  Anda  mampu  menggantikan  Anom  Putra
sebagai Hoofd v.d. Inheemse Pers Afd. 'Aneta'."  Jadi
dari  tukang ketik malam dan korektor, tiba-tiba saya
jadi  wartawan  penuh:  Kepala  Afd.  Inheemse  Pers.
Gajinya  juga  besar: 110 gulden. Sedang  Mas  Manang
sebagai Redaktur "Pemandangan" hanya 45 gulden!
      Waktu  itu  saya sudah tinggal di  Club  Gebouw
Indonesia, itu gedung bersejarah. Saya ini sebetulnya
banyak  mengalami peristiwa sejarah nasional.  Kepala
Club  Gebouw  itu  Dr.  Adnan Kapau  Gani.  Kira-kira
setahun di situ. Saya tinggal di hoofdgebouw-nya. Kan
mampu  saya  membayar. Gani kan hidupnya dari  kamar-
kamar  gedung  itu. Dia waktu itu baru tamat  sekolah
dokter. Dia tahu kegiatan saya, rasa kebangsaan  saya
... (HABIS).

Side B
000-074: (HS.: Dari mana rasa kebangsaan itu tumbuh?)
      Dari  pengalaman langsung ketika kecil. Petani-
petani  yang miskin di pedesaan, yang dari jauh  jual
hasil  cocok  tanam mereka, istirahat di warung  kami
minum  dari air gentong yang saya sediakan.  Kasihan.
Penghidupan  pedesaan dan kemiskinan  penduduk  desa,
saya  mengenal sejak masa kanak-kanak.  Sampai  istri
Paman    dipatuk    ular   belang,   tidak    berdaya
menyelamatkannya. Sedih itu. Karena kemiskinan. Orang
dipatuk ular, nunggu matinya saja! Sedih sekali  saya
kehilangan  Bibi yang mengurus saya  itu.  Saya  juga
bukan  anak  yang manja. Lantaran perlu  makan,  saya
juga  suka nangkap ikan. Bikin suakan, kemudian tawu.
Pernah saya digigit ular badut, yang saya kira  ikan.
Sampai gigi ular itu patah. Tapi, untung, ular  badut
bukan ular berbisa. Pada satu hari saya tangkap  lele
putih.  Saya dipatilnya, dan menjadi demam;  setengah
hari menggeletak di pinggir kali.
      (Hs.: Kakek dikatakan tuan tanah? Kenapa  hidup
miskin?)  Ya,  kemudian kakek itu meninggal.  Tinggal
Nenek,  yang masih muda. Dia orang Sunda. Kakek  saya
orang  Jawa. Jadi Kakek itu ketika sudah  tua,  kawin
lagi  dengan  perempuan Sunda yang masih  muda.  Anak
mereka banyak juga. Memang orang berada. Rumah  kakek
itu  rumah  paling besar di desa. Pekarangannya  juga
luas  sekali, di situ ada langgar tempat saya belajar
ngaji.
      (Hs.:  Kembali  ke Jakarta.  Ketika  jadi  guru
ketik.  Waktu itu sudah bersentuhan dengan  kehidupan
politik?)
        Bagaimanapun   juga   tidak   terlepas   dari
pertarungan    penjajah    dengan    rakyat.    Saya,
bagaimanapun, sebagai anak berpendidikan Mulo,  tentu
agak mengerti situasi barang sedikit. Malahan sebelum
jadi   guru  ketik,  saya  kerja  sebagai  katakanlah
pembantu  sekretaris di Sekretariat BBBS  (?),  yaitu
perkumpulan  pacuan  kuda  orang-orang   Belanda   di
Batavia. Pacuan kuda itu di lapangan Gambir. Ini  ada
kantornya,  di gedung Escompto, berseberangan  dengan
Istana  GG. Di lantai atas ternyata, saya tahu  waktu
itu,  ada  tempat orang main rulet. Juga  ada  bangsa
kita  yang  ikut main di situ, patih dan  orang-orang
gede  lah. Kacung lah pekerjaan saya itu! Sehari saya
dikasih  upah  50  sen. Pekerjaan saya  kirim  surat,
melayani minum Sekretaris dsb. Tapi dia melihat  saya
pandai berbahasa Belanda dan mengetik, maka saya lalu
terpakai.

074-157: Tentang Sumarmo dan JIB.
      Kembali  pada Sumarmo. Ketika itu  dia  sebagai
pemuda, tokoh JIB. Sedang saya membawa bendera Pemuda
Muslimin  Indonesia. Latar belakang saya  kan  Islam.
Hidup  di  Cibarusa, di langgar, tukang pukul  beduk,
tamat  Kuran  luar  kepala.  Ke  Jakarta,  kerja   di
"Aneta". Saya tidak ingat, di mana waktu itu  Sumarmo
bekerja.  Tapi sesudah saling kenal, suatu hari  saya
diajak  bersamanya membangun kembali JIB, yang  waktu
itu tinggal nama saja. Tidak salah dia mengajak saya,
karena  saya dari Pemuda Muslim Indonesia,  onderbouw
dari  PSII.  Saya anggap PSII, politik paling  berani
dalam  melawan  Belanda. Saya  masuk  Jakarta  dengan
membawa  semangat Islam. Tapi Islam yang  memberontak
terhadap  penjajahan.  Melawan  ketidakadilan.  Marmo
sudah tokoh pemuda Islam waktu itu.
     Untuk membangun kembali JIB itu kami berdua lalu
mengunjungi  tokoh-tokoh Islam: Mr. Moh. Rum,  Kasman
Singodimejo,  Yusuf  Wibisono  (belakangan   pemimpin
serikat  buruh  Islam,  yang politiknya  sama  dengan
Sukiman, yang melawan Moh. Natsir dan Burhanuddin dan
Sjafruddin  mendirikan  PRRI-Permesta),   juga   Agus
Salim.  Di  rumah Agus Salim. Karena Pak  Agus  Salim
berhalangan  atau sakit, kami diterima  anaknya,  Zus
Yet.  Suami Zus Yet ini orang terkenal dalam kelompok
Sjahrir.  Orang PSI tapi banyak peranannya dalam  ...
(HS.:  Djohan Syahruzah?) Ya! Djohan Syahruzah.  Tapi
dia  juga tidak ada di rumah waktu itu. Tapi pokoknya
Agus Salim menyambut baik gagasan kami itu.
     Akhirnya Kasman bersedia bicara. Rapat pendirian
kembali   JIB   itu  di  gedung  Unitas   Studiosorum
Indonesiensis, bukan PPI, tapi perhimpunan  mahasiswa
yang  elite lah. Kasman pidato dalam bahasa  Belanda.
Dia bilang tentang pentingnya para pemuda memperdalam
Islam.  Bukan hanya untuk memperkuat keyakinan,  tapi
juga  sebagai  ilmu perlu dipelajari,  sehingga  bisa
menjadi  bekal hidup para pemuda. Ketika  itu  Kasman
sudah sarjana hukum.

157-252: Saran-saran kembali ke Jakarta (ilustrasi).
      Maka Mas Marmo, sebelum meninggal, selalu kirim
surat  ke  mari. Tahun 84 datang ke sini bersama  Mas
Agung.  Karena  Mas  Agung agak sakit,  saya  usulkan
untuk  tusuk  jarum ke dokter Lie  Tjwan  Sien,  yang
waktu  itu  juga tinggal di Amstelveen. Karena  tidak
punya  waktu,  maka saya sendiri mencoba menolongnya.
Tidak dengan tusuk jarum, tapi dengan digarang, yaitu
memanasi  point-point  tertentu  seperti  pada  tusuk
jarum.  Ini  saya belajar dari Pak  Lie  Tjwan   Sien
juga.  Dia  merasa terbantu oleh itu. Maka dia  minta
supaya   saya  kembali  ke  Jakarta,  membuka   balai
akupungtur,  dan  dia  akan membantu  bikin  reklame.
Tidak.  Jawab  saya. Saya pasti akan  ditangkap  oleh
Suharto. Ah, itu bisa kita urus. Katanya.
      Saya memang berkali-kali ditawari begitu.  Juga
Pak Diro. Sudiro, bekas Walikota Jakarta. Waktu sakit
di  RS  Leiden, saya datangi. Dia minta saya  pulang.
Juga  menantunya, yang orang besar di Kemlu, orangnya
Suharto.   "Itu  beres.  Nanti  kita   ngomong   sama
Suharto!"  Dia  bilang. Ah, saya tidak  bisa  percaya
sama   Suharto.  Jawab  saya.  Begitu  banyak   orang
dibunuh.  Kemudian dikirim lagi Karna  Radjasa,  tahu
ya?  (HS.: Anak Pak Ali!) Ya. Dengan istrinya. Mereka
menemui  saya khusus, minta saya pulang  dan  menjadi
dosen  di  universitas  mereka  itu,  Universitas  17
Agustus. Saya jawab sama seperti terhadap Sudiro  dan
menantunya. Tapi mereka berusaha meyakinkan,  katanya
sudah  bicara  sama  ajudan Suharto  yang  waktu  itu
sedang  ada  di  Amsterdam,  mempersiapkan  kunjungan
Suharto  ke  Rumania. Tapi saya tetap tidak  percaya.
Suharto  yang sama Bung Karno bilang "Ya Pak!",  tapi
diam-diam dia ditikamnya dari belakang.
     (HS.: Tapi sudah begitu banyak orang yang berani
menjamin?)
      Tapi  hakikatnya kan supaya saya pulang,  untuk
ikut   mendukung  Suharto.  Pertama  Pak  Diro,  yang
dikirim oleh Suharto. Ngomong sama Suharto juga  dia.
Kedua,   Karna  Radjasa  dan  istrinya  yang  spesial
menemui  saya. Katanya sudah berunding dengan  ajudan
Suharto: "Sudah beres!", katanya.
       Penghidupan  ini  berliku-liku.   Sukar   saya
meninggalkan teman-teman. Kalau hanya memikirkan diri-
sendiri,  ya  ..., tapi akhirnya akan terjerat  dalam
lingkungan  mereka, dan betul-betul mesti jadi  anti-
rakyat. Saya tidak bisa itu. Lebih baik hidup di sini
begini,   daripada   megah-megah  tapi   mengkhianati
rakyat.
       (HS.:   Pulang  kan  tidak  sekaligus  berarti
pengkhianat?)
      Tapi kalau saya pasti akan ditangkap. Dan kalau
tidak  mau disekap terus, kan harus mengikuti mereka?
Kita  mesti kenal watak Suharto. Begitu banyak  orang
dibunuh  sudah.  (HS.: Suharyo,  misalnya.  Ditangkap
sebentar,  terus  dikeluarkan?) Empat  tahun.  Memang
begitu maunya Sumanang. Saya itu sama dia kan seperti
adik  sendiri. Dalam keadaan saya sulit, dia membantu
seluruhnya.  Seluruh rumahnya diserahkan  sama  kita.
Bukan  anak  saya saja. Juga 3 saudara-saudara  istri
saya, dia yang menampung. Tapi politik berbeda dengan
saya  sekarang.  Dia pengagum Suharto.  Sekarang  dia
sudah  meninggal. Politik berbeda,  tapi  saya  tetap
menghormatinya.  Memang tidak bisa  lain.  Dari  dulu
Sumanang memang tidak setuju sama politik Bung Karno.

252-616: "Aneta" - Dept.van Oorlog - "Antara".
     Kembali ke JIB. Akhirnya didirikan kembali. Saya
tidak  bersedia jadi pengurus. Bersama Sumarmo  tugas
kami  memang hanya menghidupkan kembali.  Ketika  itu
yang  sangat  aktif Ibu Subandi dan  Ibu  Sukatmirah,
yaitu  adik  istrinya Karim D.P. Kakak Ibu Sukatmirah
itu  Ibu Subandi, mereka ini aktivis-aktivis JIB. Itu
tahun   1938.  Saya  tidak  bersedia  jadi  pengurus.
Pekerjaan sebagai wartawan terlalu sibuk. Mulai tahun
38  saya diterima sebagai kepala afdeling di "Aneta",
menggantikan Anom Putra. Sampai Belanda menyerah saya
tetap  di  pos itu. Oleh pimpinan "Aneta" saya  malah
dimasukkan sebagai noodformatie Pemerintah HB.  Yaitu
formasi   darurat,   yang   dalam   keadaan   darurat
ditugaskan untuk bekerja terus. Dalam hal ini keadaan
pada  waktu  menghadapi perang dengan Jepang.  Ketika
itu   pekerjaan  saya  menterjemahkan,  dan   membuat
pemberitaan buat Radio Ketimuran dari NIROM. Yaitu di
Dept.van  Oorlog  di Bandung. Di  situ  saya  melihat
pesawat  terbang  Jepang yang  membomi  Bandung.  Dan
tidak  ada tembakan Belanda yang berhasil menjatuhkan
pesawat-pesawat Jepang itu. Pekerjaan saya  tetap  di
"Aneta",   tapi  saya  masuk  noodformatie,  sehingga
ditugaskan di Dept. van Oorlog di Bandung itu.  Sebab
Belanda  sudah meninggalkan Jakarta. Itu tahun  Maret
42.  Sekitar  2 bulan sebelum invasi saya  pindah  ke
Bandung dan kerja di Dept. van Oorlog.
     (HS.: Berapa besar personel "Aneta" ketika itu?)
       Kalau  wartawannya,  kepalanya  Van(?),  wakil
pemimpin redaktur E.W. Oost(?); kemudian ada Van  den
Brink,  Van Hoofddorp, kira-kira 7 wartawan  Belanda;
Indonesia cuma saya. Yang disebut Inheemse Pers  Afd.
itu kepalanya saya, dan tidak ada bawahan di afdeling
saya  itu.  Jadi dari Saerun, Anom Putra, lalu  saya.
Paman saya itu tetap tukang ketik malam saja.
     (HS.: Apa pekerjaan di "Aneta" pada pokoknya?)
       Membuat   berita-berita  buat   siaran   Radio
Ketimuran  NIROM, yaitu bagian Indonesia dari  siaran
radio  Hindia  Belanda. Selain itu menghadiri  rapat-
rapat   politik  dan  kegiatan-kegiatan  lain   untuk
pemberitaan  di pers Belanda. Tentu saja memberitakan
yang  baik-baik buat pemerintah Belanda.  Tidak  yang
menentang politik Belanda.
     (HS.: Di samping itu juga menerbitkan buletin?)
     Ya. Jadi kita umumkan yang baik menurut kacamata
nasionalisme.  Sudah  tentu  kita  juga   tidak   mau
diperalat.  Mereka juga mengerti, karena  ketika  itu
sudah   terancam  oleh  Jepang.  Tidak  lagi  terlalu
mengekang.
      (HS.:  Apa pengalaman terpenting selama bekerja
di "Aneta" selama 5-6 tahun itu?).
      Sejak  ngetik  mulai tahun 36. Jadi  sekitar  6
tahun.  Saya  perhatikan  tentang  organisasi  kantor
berita  ini. Adam Malik tiga kali ngomong sama  saya,
ketika saya masih kerja di "Aneta". tentang bagaimana
kalau  kita  membangun  atau menyusun  kantor  berita
nasional.  Dua  kali mengirim Pandu Kartawiguna,  dan
satu   kali   dia  sendiri  langsung  menemui   saya.
Kebetulan   saya  tinggal  di  Clubgebouw  Indonesia,
dengan  AK  Gani,  dan kemudian  dengan  Sumanang  di
Paseban  73.  Sedang  Sumanang  salah  seorang  tokoh
pendiri  "Antara". Ketika saya di Paseban  itu  Pandu
Kartawiguna dua kali dikirim Adam Malik bertemu saya,
dan  satu  kali  Adam Malik sendiri. Saya  terangkan,
yang  penting  selain  tenaga wartawan,  administrasi
dll.,  mesti  punya tenaga marconisten.  Mereka  yang
akan  menangkap berita-berita dari KB-KB dunia  lain,
seperti  Reuter,  UPI, Associated Press,  Hafaz,  itu
nama  KB  Perancis dulu, Kyodo, Domei,  dari  Vietnam
VNA.  Maka  dari  sekarang kita harus  menyusun  staf
markonisten. Di "Aneta" mula-mula 2-3 orang markonis,
tapi  kemudian  paling  sedikit  lima  orang,  sampai
tersusun satu staf markonis.
     (HS.: Pembicaraan itu sebelum "Antara" berdiri?)
      Ya. Sebelum "Antara" berdiri. Ketika saya sudah
bekerja  di  "Aneta", dan tinggal di rumah  Sumanang.
Sebelum   itu  saya  tinggal  di  salah  satu   kamar
Clubgebouw  Indonesia yang dipimpin  oleh  Gani,  dan
Sumanang  serta keluarganya di pavilyun  gedung  ini.
Suatu  hari mereka pindah ke Paseban, dan saya diajak
agar tinggal di pavilyun rumah mereka. Ketika itu Mas
Manang  kerja  selain  ketua Perguruan  Rakyat,  juga
pengurus Asuransi Jiwa Bumi Putera, guru Taman Siswa,
dan   banyak  kegiatan  sosial  lainnya.  Ketika   di
pavilyun   Mas   Manang  kemudian   tinggal   seorang
mahasiswa  Tapanuli, maka saya pindah ke hoofdgebouw.
Jadi  mereka  anggap seperti keluarga sendiri.  Waktu
Jepang masuk, saya masih tinggal di Bandung, pada oom
saya,  dokter Wisnuyudo. Ahli jantung. Itu  oom  saya
betul,  yang  sudah saling kenal lama.  Saya  disunat
juga  oleh bapaknya, di Bandung, dokter Samyudo. Jadi
ini dokter kepernah kakek saya. Ketika itu saya masih
tinggal pada uak di Plered. Sebelum dipindah  ke  uak
yang  di  Cibarusa. Uak itu kakaknya  Wisnuyudo.  Dia
bekas   Camat,   dipecat  karena   dituduh   terlibat
pemberontakan   Komunis  tahun  26.  Dipenjara   satu
setengah  tahun,  kemudian  bebas  dan  dipecat  dari
kedudukannya. Keluarga Kakek ini keturunan Arumbinang
yang tidak mengakui raja-raja Jogya-Solo itu.
      Saya disunat oleh kakek itu. Lantaran saya dari
keluarga  miskin,  ikut uak yang di Plered.  Akhirnya
dia   cari  pekerjaan  ke  Bandung,  lantaran   sudah
berhenti  sebagai jurutulis Asisten Wedana. Dia  sewa
rumah  di Tegalega. Di situ saya tinggal. Ketika  itu
saya disunat secara kedokteran.
       (HS.:  Kembali  ke  jaman  Jepang,  waktu   di
Bandung?)
      Ya,  di Bandung tinggal sama Wisnuyudo. "Aneta"
tutup.  Saya  tidak  bekerja.  Diberi  pesangon   300
gulden,  3  bulan  gaji; saya mau ke Jakarta.  Dompet
berisi uang hilang dicopet orang ketika saya mau beli
karcis.  Akhirnya  Mas Manang kirim kurir,  memanggil
saya  ke  Jakarta. Ketika itu dia sudah jadi pemimpin
redaksi harian "Pemandangan". Ketika di Bandung  saya
juga  kenal  baik  dengan  Mr.  Usman  Sastroamijoyo,
adiknya  Pak  Ali  Sastroamidjojo. Dia  itu  advokat.
Suatu  hari  dia  ngajak  saya menengok,  belakangan,
Mayor Jendral Sudibio, dulu dia kapten KNIL. Dia  ini
anak menantu Pak Samyudo. Dengan mobil openkap merah,
liwat  depan markas kenpeitai tidak berhenti.  Hampir
ditembak dia!
      Kembali  dengan Sumarmo, kami berdua mendirikan
kembali Jong Ilsmaiten Bond. (bersambung)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Mar 1999 jam 11:24:53 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke