---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Sdr. Redaksi SiaR, Di bawah ini nekrologi drs. A.Sukrisno, mantan Dubes RI Presiden Soekarno, berupa transkrip dari kaset wawancara saya dengan Almarhum. Drs. A. Sukrisno meninggal kemarin siang 6 Maret 1999 di Amstelveen Nederland, dan akan dikebumikan hari Kamis tanggal 11 Maret 1999. Selamat Jalan Bung Krisno! Hersri *** Drs. A. Sukrisno Amstelveen 30 Juni 1997 _______________________ Kaset I Side A 000-178: Masa kanak-kanak. Di desa. Cerita saya agak sulit. Mengingat saya ini tidak kenal ibu dan bapak. Saya lahir, menurut uak saya, di Palembang tahun 1918. Hari bulan tidak tahu. Malah saya juga tidak mengenal ibu saya. Waktu saya masih orok, masih kecil, dibawa oleh uak saya dari Palembang. Uak ini kakak bapak saya. Dia yang membesarkan saya. Namanya Cokrodiwiryo. Dulu bekerja sebagai keurmeester, yaitu pemeriksa di pemotongan hewan. Saya besar dibawah asuhan Pak Cokro. Ayah sendiri saya tidak mengenal. Mengenal baru setelah saya umur 13 tahun. Saya tidak mengenal ibu, yang dikabarkan juga sudah meninggal di Palembang. Ibu saya seorang Tionghwa. Bapak saya beristerikan dia. Saya sendiri tidak mengenal ibu dan juga bapak. Saya berumur 13 tahun baru mengenal bapak saya. Dia ini di jaman Hindia Belanda dulu hidupnya lumayan, gajinya besar. Dia klerk KPM, lantaran pandai bahasa Inggris. Dia punya kedudukan lumayan, gajinya 135 gulden. Banyak sekali itu. Tapi penyakit dia ini kegila- gilaan main rolet. Namanya Sukarya. Dia sebetulnya orang Jawa. Kakek saya orang Jawa, namanya Cokrodiwiryo. Sama dengan nama uak yang membesarkan saya itu. Dia ini tidak punya istri. Jadi payah saya ini. Jadi saya tidak mengenal kecintaan ibu. Pak Cokro juga tidak punya istri. Seingat saya kemudian Pak Cokro kawin lagi dengan perempuan dari desa. Saya lantas tinggal di Plered, lantaran dia punya istri di desa. Plered ini desa termasuk Purwakarta. Saya masuk sekolah desa, termasuk anak yang tidak bodoh. Bahasa pengantar di sekolah Bahasa Sunda. Orangtua saya keturunan Jawa. kakek saya orang Jawa. Tapi saya besar di Sunda. Saya memang hidup di desa. Sebelum ke sekolah saya macul. Sesudah pulang sekolah macul lagi, karena pekarangan rumah itu luas sekali. Pak Cokro ini jurutulis pada Asisten Wedana, gajinya tidak besar. Baru belakangan dia jadi keurmeester. Sebelumnya dia werkloos. Kemudian lantaran kenal dengan seorang Asisten Wedana, dia dibantu, boleh kerja di kantor AW sebagai jurutulis, sehingga saya bisa disekolahkan. Sekolah Desa. Sampai klas tiga. Jadi saya macul memang untuk makan. Menanam singkong. Pekarangannya memang luas. Pak Cokro sendiri punya seorang putri, tapi karena sudah cerai dengan istrinya, maka anak putrinya itu tidak di situ. Jadi di rumah hanya saya dengan Pak Cokro. Tapi kemudian dia kawin lagi dengan seorang perempuan dari desa Ciganea, masih termasuk Plered, sekitar 20 km. jauhnya. Belum sampai tamat Sekolah Desa 3 tahun itu, saya diserahkan pada uak lain, adik dari uak yang memelihara saya itu. Uak ini bekas camat. Tapi dia karena politiknya dianggap kiri, diberhentikan sebagai camat. Di Cibarusa, bilangan Bogor, di pinggir kali Pamingkis. Di situ saya sekolah lagi. Sekolah desa. Di pinggir sawah. Saya mulai klas 3. Cibarusa ini terkenal kota perampok. Spesial ditempatkan satu kesatuan polisi Belanda, semacam Marsose lah. Polisi-polisi bersenjata itu orang-orang Indonesia, tapi komandannya orang Belanda. Cibarusa terletak tidak jauh dari daerah-daerah yang banyak perampoknya. Banyak petani yang berontak. Cibarusa ini wilayah ke-asisten-wedana-an. Tapi desa kami agak jauh dari kotanya. Uak ini namanya, saya lupa. Lantaran dianggap memihak PKI, dia diberhentikan sebagai camat. Tapi lantaran agak pandai, dia bekerja mengumpulkan batu bangunan. Dari situ dia hidup. Kemudian buka warung kecil. Sederhana sekali. Sekedar buat hidup. Pekerjaan saya meladeni di warung, sambil sekolah. Desa itu banyak ular welang. Istri uak saya meninggal karena digigit ular welang. Waktu itu bulan puasa. Dia turun dari rumah panggung mau ke dapur. Di kolong rumah panggung itu banyak ular welang. Bibi mau masak buat sahur. Begitu turun dari tangga rumah, terinjak ular welang. Digigit. Tidak ada yang bisa menolong di desa itu. Di keasistenwedanaan ada mantri kesehatan. Di kirim orang ke sana untuk memanggilnya. Tapi bibi sudah mati sebelum orang itu datang kembali. Digigit ular belang itu dalam 10 menit sudah mati. Saya sendiri pernah hampir mengalami. Untung masih panjang umur. Juga bulan puasa. Turun dari rumah hendak ke kamar mandi. Di bawah saya injak penghalang pintu, yang ternyata ada ularnya di bawah penghalang pintu itu. Untung saja ada penghalang! Banyak orang mati digigit ular. Lantaran tidak ada pertolongan. Keadaan miskin sekali. Dari Cibarusa saya sudah klas IV SR. Ini daerah Sunda, bilangan Bogor. Jadi rumah komunikasi dengan Paman dan Bibi dalam bahasa Sunda. Uak ini punya warung kecil. Warung desa. Ada teh, gula, sabun, kopi, keperluan sehari-hari orang desa. Kalau pagi pekerjaan saya juga mengisi gentong air di warung itu. Karena dari pedesaan sekitar situ banyak orang ke Cibarusa menjual hasil tanaman. Mereka capek haus, suka istirahat minum di warung. Sekolah saya itu di pinggir Kali Cipamingkis, yang banyak berbatu-batu besar. Besar sekali. Setelah klas III di, kalau tidak salah, dari sekolah desa itu, rupanya ada pemikiran bapak saya di Jakarta. 179-313: Masa kanak-kanak. Di Batavia. Maksudnya supaya saya sekolah di Batavia. Rupanya pikiran ayah saya sendiri, yang ingat kepada anaknya. Sesudah selama itu diserahkan pada uak, yaitu kakak-kakaknya. Pertama yang di Plered, dan kemudian yang di Cibarusa. Padahal bapak yang kaya sekali! Gajinya sebulan 175. Polisi bangsa Indonesia jaman itu cuma 7,5 gulden. Tapi ayah saya itu kegila- gilaan main rulet. Jadi dari Cibarusa saya pindah ke Jakarta, kota besar. Maklum anak desa! Pada satu pagi hujan besar. Saya telanjang saja. Lari ke jalan. Waktu itu umur saya mungkin sekitar 11-12 tahun. Dari desa klas III. Itu di Ciliwung, di dekat Volksraad dulu. Di jaman Belanda ada Raad van Indi�. Di sebelah gedung RvI itu mengalir Sungai Ciliwung. Ada jembatan. Saya anak desa Cibarusa. Tiba-tiba hidup di kota besar Batavia. Tiba-tiba pagi-pagi hujan besar. Dasar anak desa. Telanjang saya lari ke jembatan, nyemplung di sungai itu. Kebiasaan anak desa. Di desa kami lebih banyak mandi di sungai daripada di sumur. Sungai yang banyak batu-batunya besar-besar. Bersih memang. Tapi ini di Batavia. Orang yang melihat tentunya heran: hujan-hujan ada anak mandi telanjang di sungai! Kami tinggal di Pejambon, dekat Volksraad. Di belakang itu dulu kampung. Jadi Volksraad, Raad van Indi�, Ciliwung, terus kampung. Kampung Pejambon. Oleh bapak saya disekolahkan, mula-mula ke sekolah anak-anak Belanda. Mengingat bapak saya kan gede gajinya, klerk di KPM. Namanya anak desa, di sekolah anak Belanda. Calang-cileung, namanya. Jadi nggak serasi. Di Gedung Tanah, Wilhelminapark namanya dulu. Akhirnya saya dipindah ke Schakelschool, yaitu sekolah yang bisa menampung anak-anak pribumi yang bisa masuk, ya setingkat dengan HIS. Kalau Schakelschool 5 tahun, HIS 6 tahun. Dari klas I. Sekolah itu di Petojo. Jauh dari rumah. Saya jalan kaki atau naik sado. Uang saku saya banyak. Sehari suka diberi seperak atau seringgit. Luar biasa memang. Anak desa, pindah ke kota besar, punya uang lagi Saya termasuk anak yang selalu nomor satu di klas. Gurunya orang Belanda. Sebetulnya saya bisa ujian ke HBS, lantaran angka-angka saya baik. Tujuh ke atas. Dari Schakelschool dengan ujian bisa ke HBS. Tapi saya akhirnya ke MULO. Tanpa ujian, langsung bisa masuk. Untuk ke HBS orangtua mesti punya jabatan. Biasanya anak-anak patih. Di MULO teman saya juga ada anak patih. Dari Banten. Pandeglang. Dia tinggal di internaat J.P. Coen Stichting yang sangat elite. Mahal. Itu di Jalan Guntur. Saya pernah diajak bermain ke situ. Waduh! Saya kan anak miskin. Saya selalu termasuk anak yang terpintar. Tapi ayah ini, karena main rulet, jatuh. Kerjaan diberhentikan. Saya tidak bisa terus sekolah. Sampai klas III saya sudah harus drop-out. Lalu saya tinggal pada seorang Tante yang miskin di Meester Cornelis. Tante dari pihak bapak. Dia kawin sama seorang Jawa, kerja di Gemeente Meester Cornelis, sebagai tekenaar. Agak lumayan gajinya. Tapi kasihan. Anaknya sendiri dua. Maka Tante bikin kue macam-macam, untuk menambah uang belanja. Tapi sudah punya rumah sendiri, juga ada kebunnya. Saya numpang di situ. Juga ada saudara- saudara lain yang numpang di situ. Saya tiap hari lapar. Kalau makan, bakul nasi itu ditaruh di lemari, kalau mau tambah, pintu lemari itu berbunyi kalau dibuka: groook. Saya malu toh? Jadi saya terpaksa menahan lapar terus! Tiap hari nggak cukup makan. Di MULO saya termasuk anak pandai. Tapi di Meester Cornelis terpaksa tidak sekolah. Kemudian saya kerja. 313-363: Mulai bekerja Sudah dari sekolah drop-out, saya ditolong oleh suami keponakan saya, dari Pak Cokro yang membesarkan saya itu. Anaknya kawin seorang Padang, yang kerja di "Aneta". Dia ahli ketik cepat. Hebat. Pendeknya tidak ada taranya kecepatannya. Dia tinggal di Pasar Baru, Gang Kelinci. Orang Padang ini pintar. Dia buka kursus ketik "The Speed", sambil kerja di "Aneta", tukang ketik nomor satu, Kepala Bagian Ketik. Gajinya besar juga. Melihat saya tidak bekerja dan tidak sekolah, dia menawari saya menjadi guru ketik di kursusnya itu. Waktu itu kira-kira saya umur 17-18 tahun. Saya terima usul itu. Saya pandai mengetik cepat, juga belajar dari dia. Lantaran saya bisa mengajar 2 orang Cina, yang dalam 15 hari sudah pandai, dari mereka itu masing- masing saya mendapat hadiah vulpen dan arloji. Bukan main senang saya. Beli sendiri kan tidak mampu?! 363-435: Mulai masuk dunia pekabaran: "Aneta". Akhirnya di "Aneta" ada lowongan. Tukang ketik. Ipar itu mengajak saya melamarnya. "Biar saja, The Speed nanti kita jual saja", katanya. Memang ada orang dari Banten yang sudah menawarnya. Lagi pula gaji sebagai juru ketik di "Aneta" juga besar. Enam puluh lima, kalau tidak salah. Tukang ketik malam. Kantornya di dekat Pasar Baru, Postweg Besar. Di depan Kantor Pos Besar, PTT itu. Belakangan jadi kantor "Antara". Lantaran drop-out klas III MULO, mengerti bahasa Belanda, jadi saya dipakai juga. Lagi pula saya bisa mengoreksi. Ketikan di sheet stensil itu kan perlu diperbaiki. Jadi redaktur-redaktur Belanda itu langsung mengetik di sheet stensil. Menerjemahkan berita-berita dari "Reuter", "UPI", "Expres" dan kantor-kantor berita lain-lain. Kadang- kadang salah. Sayalah yang memperbaikinya. Tidak jarang juga bahkan bahasanya pun salah. Saya pun bisa memperbaikinya. Jadi saya mendapat perhatian dari mereka. Begitulah pengalaman saya pertama-tama di "Aneta". Permulaan bekerja jadi wartawan. Jadi saya perhatikan kerja mereka itu. Tukang ketik malam dan juga korektor. Saya masuk kerja mula-mula jam 9 malam sampai pagi. Kemudian terkadang jam 12 malam. Di situ saya, ini kebetulan, PPPI, yaitu Perhimpunan Pelajar- Pelajar Indonesia, di mana Mr. Sumanang berperan, membuka kursus jurnalistik dan pengetahuan umum. Yang diterima paling sedikit tamatan MULO atau yang setingkat. Saya ingin masuk, tapi baru klas III. Saya temui Mr.Sumanang, dan saya terangkan seperti adanya. Karena menurutnya saya sudah berpengalaman cukup, maka saya diterima. Kami belum saling kenal sebelumnya, tapi dia memang sudah tahu. Kegiatan saya waktu itu dengan Sumarmo. Dia ini terakhir Kepala Sensor Film, pejabat tinggi Deppen. Waktu itu dia sudah ternama di kalangan pergerakan pemuda, sebab dia salah seorang pendiri Jong Islamieten Bond. Bersama dia saya bersahabat. Saya bertemu dia sekitar tahun 36. Tahun 38, berdua kami menghidupkan kembali JIB, yang hidup tidak mati pun tidak. 435-613: Latar belakang keislaman. (HS.: Pertemuan dengan Pak Marmo dalam kesempatan apa? Kebetulan saja, atau ada yang menghubungkan?) Saya anak desa dari Pasundan. Di situ Islamnya kuat. Saya terpengaruh Islam. Di Cibarusa malah hidup saya di langgar. Mesjid kecil kepunyaan kakek saya. Kalau bulan Puasa saya selalu di langgar itu. Magrib saya pukul beduk. Asar saya pukul beduk. Tarawih juga. Saya juga ngaji. Kuran saya hapal di luar kepala. Langgar itu kepunyaan kakek, orang ternama di desa itu. Cokrodiwiryo juga namanya. Kalau tidak salah bekas camat dia itu. Dia juga tuan tanah. Saya ngaji, kuran sudah tamat, sampai "ditumpengin". Dirayakan lah, dengan nasi kuning. (HS.: Kataman, istilahnya di Jawa. Dari kata 'khatam'). Ya, kataman! Setelah ke Jakarta semuanya itu hilang, kecuali Islamnya saja yang tidak hilang. Maka ketemu Sumarmo, yang saat itu masih muda. Ketika itu saya belum bekerja di "Aneta", saya ketemu tahun 36, dan kerja di "Aneta" tahun mulai 38. Tapi mungkin juga sudah? Tapi baru sebagai tukang ketik malam saja. Di "Aneta" waktu itu ada Anom Putra, Redaktur Inheemse Pers Afd. "Aneta". Saya masih tukang ketik malam, juga korektor. Anom Putra ini baik sama saya. Dia tamatan Mosvia, C.A., Candidaat Ambtenaar. Melamar menggantikan Saerun, sebagai Hoofd v/d IP Afd. "Aneta". Saya kenal baik secara pribadi dengan Saerun. Jarak umur dengan saya kira-kira agak jauh. Waktu itu dia sudah tua, saya masih muda. Dia keluar karena merasa sudah cukup, 2 tahun kontrak, dan tidak mau lagi memperpanjangnya. Dia mau jadi bisnisman. Bukan alasan politik. Politik, dia tetap pro-Belanda. Anom Putra ini seorang C.A. Tamatan Mosvia. Mantri Polisi dia sebetulnya. Tapi dia mau 2 tahun dulu jadi jurnalis di "Aneta", jabatannya Hoofd v/d Inheemse Pers Afdeeling "Aneta". Satu hari dia mengeluh pada saya, pekerjaan di "Aneta" tidak ada istirahatnya. Dari kantor masih kerja, menerjemahkan buat siaran Nirom, bikin berita, sore-sore ada telpon lagi dari direktur, harus ke sana ke sini, menemui tokoh ini-itu, hadir di rapat ini-itu, cari inside information ... ik heb geen rust, katanya. Saya mau kembali jadi bestuurs ambternaar. Saya kan C.A., kalau saya berhenti dari "Aneta", masuk lagi jadi BB, saya jadi Mantri Polisi ... Dia minta agar saya mau menggantikan kedudukannya. Saya terima permintaannya. Saya langsung bicara sama Direktur "Aneta", Mr. C.H.R. De Vries. Dia sudah lama mengenal saya dan pretasi kerja saya. Langsung saya diterima. "Saya kenal Anda. Saya anggap Anda mampu menggantikan Anom Putra sebagai Hoofd v.d. Inheemse Pers Afd. 'Aneta'." Jadi dari tukang ketik malam dan korektor, tiba-tiba saya jadi wartawan penuh: Kepala Afd. Inheemse Pers. Gajinya juga besar: 110 gulden. Sedang Mas Manang sebagai Redaktur "Pemandangan" hanya 45 gulden! Waktu itu saya sudah tinggal di Club Gebouw Indonesia, itu gedung bersejarah. Saya ini sebetulnya banyak mengalami peristiwa sejarah nasional. Kepala Club Gebouw itu Dr. Adnan Kapau Gani. Kira-kira setahun di situ. Saya tinggal di hoofdgebouw-nya. Kan mampu saya membayar. Gani kan hidupnya dari kamar- kamar gedung itu. Dia waktu itu baru tamat sekolah dokter. Dia tahu kegiatan saya, rasa kebangsaan saya ... (HABIS). Side B 000-074: (HS.: Dari mana rasa kebangsaan itu tumbuh?) Dari pengalaman langsung ketika kecil. Petani- petani yang miskin di pedesaan, yang dari jauh jual hasil cocok tanam mereka, istirahat di warung kami minum dari air gentong yang saya sediakan. Kasihan. Penghidupan pedesaan dan kemiskinan penduduk desa, saya mengenal sejak masa kanak-kanak. Sampai istri Paman dipatuk ular belang, tidak berdaya menyelamatkannya. Sedih itu. Karena kemiskinan. Orang dipatuk ular, nunggu matinya saja! Sedih sekali saya kehilangan Bibi yang mengurus saya itu. Saya juga bukan anak yang manja. Lantaran perlu makan, saya juga suka nangkap ikan. Bikin suakan, kemudian tawu. Pernah saya digigit ular badut, yang saya kira ikan. Sampai gigi ular itu patah. Tapi, untung, ular badut bukan ular berbisa. Pada satu hari saya tangkap lele putih. Saya dipatilnya, dan menjadi demam; setengah hari menggeletak di pinggir kali. (Hs.: Kakek dikatakan tuan tanah? Kenapa hidup miskin?) Ya, kemudian kakek itu meninggal. Tinggal Nenek, yang masih muda. Dia orang Sunda. Kakek saya orang Jawa. Jadi Kakek itu ketika sudah tua, kawin lagi dengan perempuan Sunda yang masih muda. Anak mereka banyak juga. Memang orang berada. Rumah kakek itu rumah paling besar di desa. Pekarangannya juga luas sekali, di situ ada langgar tempat saya belajar ngaji. (Hs.: Kembali ke Jakarta. Ketika jadi guru ketik. Waktu itu sudah bersentuhan dengan kehidupan politik?) Bagaimanapun juga tidak terlepas dari pertarungan penjajah dengan rakyat. Saya, bagaimanapun, sebagai anak berpendidikan Mulo, tentu agak mengerti situasi barang sedikit. Malahan sebelum jadi guru ketik, saya kerja sebagai katakanlah pembantu sekretaris di Sekretariat BBBS (?), yaitu perkumpulan pacuan kuda orang-orang Belanda di Batavia. Pacuan kuda itu di lapangan Gambir. Ini ada kantornya, di gedung Escompto, berseberangan dengan Istana GG. Di lantai atas ternyata, saya tahu waktu itu, ada tempat orang main rulet. Juga ada bangsa kita yang ikut main di situ, patih dan orang-orang gede lah. Kacung lah pekerjaan saya itu! Sehari saya dikasih upah 50 sen. Pekerjaan saya kirim surat, melayani minum Sekretaris dsb. Tapi dia melihat saya pandai berbahasa Belanda dan mengetik, maka saya lalu terpakai. 074-157: Tentang Sumarmo dan JIB. Kembali pada Sumarmo. Ketika itu dia sebagai pemuda, tokoh JIB. Sedang saya membawa bendera Pemuda Muslimin Indonesia. Latar belakang saya kan Islam. Hidup di Cibarusa, di langgar, tukang pukul beduk, tamat Kuran luar kepala. Ke Jakarta, kerja di "Aneta". Saya tidak ingat, di mana waktu itu Sumarmo bekerja. Tapi sesudah saling kenal, suatu hari saya diajak bersamanya membangun kembali JIB, yang waktu itu tinggal nama saja. Tidak salah dia mengajak saya, karena saya dari Pemuda Muslim Indonesia, onderbouw dari PSII. Saya anggap PSII, politik paling berani dalam melawan Belanda. Saya masuk Jakarta dengan membawa semangat Islam. Tapi Islam yang memberontak terhadap penjajahan. Melawan ketidakadilan. Marmo sudah tokoh pemuda Islam waktu itu. Untuk membangun kembali JIB itu kami berdua lalu mengunjungi tokoh-tokoh Islam: Mr. Moh. Rum, Kasman Singodimejo, Yusuf Wibisono (belakangan pemimpin serikat buruh Islam, yang politiknya sama dengan Sukiman, yang melawan Moh. Natsir dan Burhanuddin dan Sjafruddin mendirikan PRRI-Permesta), juga Agus Salim. Di rumah Agus Salim. Karena Pak Agus Salim berhalangan atau sakit, kami diterima anaknya, Zus Yet. Suami Zus Yet ini orang terkenal dalam kelompok Sjahrir. Orang PSI tapi banyak peranannya dalam ... (HS.: Djohan Syahruzah?) Ya! Djohan Syahruzah. Tapi dia juga tidak ada di rumah waktu itu. Tapi pokoknya Agus Salim menyambut baik gagasan kami itu. Akhirnya Kasman bersedia bicara. Rapat pendirian kembali JIB itu di gedung Unitas Studiosorum Indonesiensis, bukan PPI, tapi perhimpunan mahasiswa yang elite lah. Kasman pidato dalam bahasa Belanda. Dia bilang tentang pentingnya para pemuda memperdalam Islam. Bukan hanya untuk memperkuat keyakinan, tapi juga sebagai ilmu perlu dipelajari, sehingga bisa menjadi bekal hidup para pemuda. Ketika itu Kasman sudah sarjana hukum. 157-252: Saran-saran kembali ke Jakarta (ilustrasi). Maka Mas Marmo, sebelum meninggal, selalu kirim surat ke mari. Tahun 84 datang ke sini bersama Mas Agung. Karena Mas Agung agak sakit, saya usulkan untuk tusuk jarum ke dokter Lie Tjwan Sien, yang waktu itu juga tinggal di Amstelveen. Karena tidak punya waktu, maka saya sendiri mencoba menolongnya. Tidak dengan tusuk jarum, tapi dengan digarang, yaitu memanasi point-point tertentu seperti pada tusuk jarum. Ini saya belajar dari Pak Lie Tjwan Sien juga. Dia merasa terbantu oleh itu. Maka dia minta supaya saya kembali ke Jakarta, membuka balai akupungtur, dan dia akan membantu bikin reklame. Tidak. Jawab saya. Saya pasti akan ditangkap oleh Suharto. Ah, itu bisa kita urus. Katanya. Saya memang berkali-kali ditawari begitu. Juga Pak Diro. Sudiro, bekas Walikota Jakarta. Waktu sakit di RS Leiden, saya datangi. Dia minta saya pulang. Juga menantunya, yang orang besar di Kemlu, orangnya Suharto. "Itu beres. Nanti kita ngomong sama Suharto!" Dia bilang. Ah, saya tidak bisa percaya sama Suharto. Jawab saya. Begitu banyak orang dibunuh. Kemudian dikirim lagi Karna Radjasa, tahu ya? (HS.: Anak Pak Ali!) Ya. Dengan istrinya. Mereka menemui saya khusus, minta saya pulang dan menjadi dosen di universitas mereka itu, Universitas 17 Agustus. Saya jawab sama seperti terhadap Sudiro dan menantunya. Tapi mereka berusaha meyakinkan, katanya sudah bicara sama ajudan Suharto yang waktu itu sedang ada di Amsterdam, mempersiapkan kunjungan Suharto ke Rumania. Tapi saya tetap tidak percaya. Suharto yang sama Bung Karno bilang "Ya Pak!", tapi diam-diam dia ditikamnya dari belakang. (HS.: Tapi sudah begitu banyak orang yang berani menjamin?) Tapi hakikatnya kan supaya saya pulang, untuk ikut mendukung Suharto. Pertama Pak Diro, yang dikirim oleh Suharto. Ngomong sama Suharto juga dia. Kedua, Karna Radjasa dan istrinya yang spesial menemui saya. Katanya sudah berunding dengan ajudan Suharto: "Sudah beres!", katanya. Penghidupan ini berliku-liku. Sukar saya meninggalkan teman-teman. Kalau hanya memikirkan diri- sendiri, ya ..., tapi akhirnya akan terjerat dalam lingkungan mereka, dan betul-betul mesti jadi anti- rakyat. Saya tidak bisa itu. Lebih baik hidup di sini begini, daripada megah-megah tapi mengkhianati rakyat. (HS.: Pulang kan tidak sekaligus berarti pengkhianat?) Tapi kalau saya pasti akan ditangkap. Dan kalau tidak mau disekap terus, kan harus mengikuti mereka? Kita mesti kenal watak Suharto. Begitu banyak orang dibunuh sudah. (HS.: Suharyo, misalnya. Ditangkap sebentar, terus dikeluarkan?) Empat tahun. Memang begitu maunya Sumanang. Saya itu sama dia kan seperti adik sendiri. Dalam keadaan saya sulit, dia membantu seluruhnya. Seluruh rumahnya diserahkan sama kita. Bukan anak saya saja. Juga 3 saudara-saudara istri saya, dia yang menampung. Tapi politik berbeda dengan saya sekarang. Dia pengagum Suharto. Sekarang dia sudah meninggal. Politik berbeda, tapi saya tetap menghormatinya. Memang tidak bisa lain. Dari dulu Sumanang memang tidak setuju sama politik Bung Karno. 252-616: "Aneta" - Dept.van Oorlog - "Antara". Kembali ke JIB. Akhirnya didirikan kembali. Saya tidak bersedia jadi pengurus. Bersama Sumarmo tugas kami memang hanya menghidupkan kembali. Ketika itu yang sangat aktif Ibu Subandi dan Ibu Sukatmirah, yaitu adik istrinya Karim D.P. Kakak Ibu Sukatmirah itu Ibu Subandi, mereka ini aktivis-aktivis JIB. Itu tahun 1938. Saya tidak bersedia jadi pengurus. Pekerjaan sebagai wartawan terlalu sibuk. Mulai tahun 38 saya diterima sebagai kepala afdeling di "Aneta", menggantikan Anom Putra. Sampai Belanda menyerah saya tetap di pos itu. Oleh pimpinan "Aneta" saya malah dimasukkan sebagai noodformatie Pemerintah HB. Yaitu formasi darurat, yang dalam keadaan darurat ditugaskan untuk bekerja terus. Dalam hal ini keadaan pada waktu menghadapi perang dengan Jepang. Ketika itu pekerjaan saya menterjemahkan, dan membuat pemberitaan buat Radio Ketimuran dari NIROM. Yaitu di Dept.van Oorlog di Bandung. Di situ saya melihat pesawat terbang Jepang yang membomi Bandung. Dan tidak ada tembakan Belanda yang berhasil menjatuhkan pesawat-pesawat Jepang itu. Pekerjaan saya tetap di "Aneta", tapi saya masuk noodformatie, sehingga ditugaskan di Dept. van Oorlog di Bandung itu. Sebab Belanda sudah meninggalkan Jakarta. Itu tahun Maret 42. Sekitar 2 bulan sebelum invasi saya pindah ke Bandung dan kerja di Dept. van Oorlog. (HS.: Berapa besar personel "Aneta" ketika itu?) Kalau wartawannya, kepalanya Van(?), wakil pemimpin redaktur E.W. Oost(?); kemudian ada Van den Brink, Van Hoofddorp, kira-kira 7 wartawan Belanda; Indonesia cuma saya. Yang disebut Inheemse Pers Afd. itu kepalanya saya, dan tidak ada bawahan di afdeling saya itu. Jadi dari Saerun, Anom Putra, lalu saya. Paman saya itu tetap tukang ketik malam saja. (HS.: Apa pekerjaan di "Aneta" pada pokoknya?) Membuat berita-berita buat siaran Radio Ketimuran NIROM, yaitu bagian Indonesia dari siaran radio Hindia Belanda. Selain itu menghadiri rapat- rapat politik dan kegiatan-kegiatan lain untuk pemberitaan di pers Belanda. Tentu saja memberitakan yang baik-baik buat pemerintah Belanda. Tidak yang menentang politik Belanda. (HS.: Di samping itu juga menerbitkan buletin?) Ya. Jadi kita umumkan yang baik menurut kacamata nasionalisme. Sudah tentu kita juga tidak mau diperalat. Mereka juga mengerti, karena ketika itu sudah terancam oleh Jepang. Tidak lagi terlalu mengekang. (HS.: Apa pengalaman terpenting selama bekerja di "Aneta" selama 5-6 tahun itu?). Sejak ngetik mulai tahun 36. Jadi sekitar 6 tahun. Saya perhatikan tentang organisasi kantor berita ini. Adam Malik tiga kali ngomong sama saya, ketika saya masih kerja di "Aneta". tentang bagaimana kalau kita membangun atau menyusun kantor berita nasional. Dua kali mengirim Pandu Kartawiguna, dan satu kali dia sendiri langsung menemui saya. Kebetulan saya tinggal di Clubgebouw Indonesia, dengan AK Gani, dan kemudian dengan Sumanang di Paseban 73. Sedang Sumanang salah seorang tokoh pendiri "Antara". Ketika saya di Paseban itu Pandu Kartawiguna dua kali dikirim Adam Malik bertemu saya, dan satu kali Adam Malik sendiri. Saya terangkan, yang penting selain tenaga wartawan, administrasi dll., mesti punya tenaga marconisten. Mereka yang akan menangkap berita-berita dari KB-KB dunia lain, seperti Reuter, UPI, Associated Press, Hafaz, itu nama KB Perancis dulu, Kyodo, Domei, dari Vietnam VNA. Maka dari sekarang kita harus menyusun staf markonisten. Di "Aneta" mula-mula 2-3 orang markonis, tapi kemudian paling sedikit lima orang, sampai tersusun satu staf markonis. (HS.: Pembicaraan itu sebelum "Antara" berdiri?) Ya. Sebelum "Antara" berdiri. Ketika saya sudah bekerja di "Aneta", dan tinggal di rumah Sumanang. Sebelum itu saya tinggal di salah satu kamar Clubgebouw Indonesia yang dipimpin oleh Gani, dan Sumanang serta keluarganya di pavilyun gedung ini. Suatu hari mereka pindah ke Paseban, dan saya diajak agar tinggal di pavilyun rumah mereka. Ketika itu Mas Manang kerja selain ketua Perguruan Rakyat, juga pengurus Asuransi Jiwa Bumi Putera, guru Taman Siswa, dan banyak kegiatan sosial lainnya. Ketika di pavilyun Mas Manang kemudian tinggal seorang mahasiswa Tapanuli, maka saya pindah ke hoofdgebouw. Jadi mereka anggap seperti keluarga sendiri. Waktu Jepang masuk, saya masih tinggal di Bandung, pada oom saya, dokter Wisnuyudo. Ahli jantung. Itu oom saya betul, yang sudah saling kenal lama. Saya disunat juga oleh bapaknya, di Bandung, dokter Samyudo. Jadi ini dokter kepernah kakek saya. Ketika itu saya masih tinggal pada uak di Plered. Sebelum dipindah ke uak yang di Cibarusa. Uak itu kakaknya Wisnuyudo. Dia bekas Camat, dipecat karena dituduh terlibat pemberontakan Komunis tahun 26. Dipenjara satu setengah tahun, kemudian bebas dan dipecat dari kedudukannya. Keluarga Kakek ini keturunan Arumbinang yang tidak mengakui raja-raja Jogya-Solo itu. Saya disunat oleh kakek itu. Lantaran saya dari keluarga miskin, ikut uak yang di Plered. Akhirnya dia cari pekerjaan ke Bandung, lantaran sudah berhenti sebagai jurutulis Asisten Wedana. Dia sewa rumah di Tegalega. Di situ saya tinggal. Ketika itu saya disunat secara kedokteran. (HS.: Kembali ke jaman Jepang, waktu di Bandung?) Ya, di Bandung tinggal sama Wisnuyudo. "Aneta" tutup. Saya tidak bekerja. Diberi pesangon 300 gulden, 3 bulan gaji; saya mau ke Jakarta. Dompet berisi uang hilang dicopet orang ketika saya mau beli karcis. Akhirnya Mas Manang kirim kurir, memanggil saya ke Jakarta. Ketika itu dia sudah jadi pemimpin redaksi harian "Pemandangan". Ketika di Bandung saya juga kenal baik dengan Mr. Usman Sastroamijoyo, adiknya Pak Ali Sastroamidjojo. Dia itu advokat. Suatu hari dia ngajak saya menengok, belakangan, Mayor Jendral Sudibio, dulu dia kapten KNIL. Dia ini anak menantu Pak Samyudo. Dengan mobil openkap merah, liwat depan markas kenpeitai tidak berhenti. Hampir ditembak dia! Kembali dengan Sumarmo, kami berdua mendirikan kembali Jong Ilsmaiten Bond. (bersambung) ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 8 Mar 1999 jam 11:24:53 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
