----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Drs. A. Sukrisno
Amersfoort, 30 Juni 1997
________________________

Kaset 2

Side A
000-023: Kehidupan beragama
      Istri  saya dari Cirebon. Juga istri saya  yang
sekarang.  Sering  ngajak  sembahyang  kembali,  dsb.
Kalau  bulan Puasa masih tetap puasa. Tapi  saya  ini
sesudah  di  Jakarta,  apalagi sesudah  bekerja  jadi
wartawan  ...,  tinggal  Islamnya  saja  yang  masih,
sedangkan syariatnya sudah hampir tidak sama  sekali.
Kalau  puasa dua-tiga hari, dan sudah! Padahal  waktu
kecil  hidup  di  tengah masyarakat Islam  dan  agama
Islam,  dan  Islam saya jalankan juga. Ya puasa,  dan
sembahyang  di mesjid. Menjadi hilang semua,  mungkin
karena pekerjaan wartawan yang tak kenal waktu.
      (HS.: Tapi itu belum meyakinkan. Sebab Bung Asa
Bafagih  almarhum tetap taat? Walaupun pada  dia  dan
istri memang ada faktor keturunan Arab.)
      Tapi  bagaimanapun saya tidak lupa  al-Fatihah,
Qulhu,  tetap masih hafal, dan suka saya  baca  dalam
hati.  Sembahyang yang pokok sudah tentu  niat  dulu,
dan  bacaan Alhamdulillah, terus Qulhu. Juga  artinya
ayat itu. Tentang satunya Tuhan.
       Jadi  meninggalkan  Islam  juga  tidak,   tapi
sembahyang memang tidak saya lakukan.

024-199: Persiapan membangun kembali "Antara"
      Waktu  di  "Domei", di jaman Jepang  itu,  kita
memang  sudah  bersiap-siap untuk  membangun  kembali
"Antara".  Jepang juga tidak menghalangi  usaha  kita
itu.  Nama Jepang itu Matano. Kepala bagian Indonesia
di  "Domei".  Dia orang yang betul-betul berpandangan
jauh,  tahu bahwa Jepang tidak akan bisa menang.  Dan
Jepang  sendiri ketika itu berkepentingan  memelihara
hubungan  baik dengan kita. Matano ini orang politik.
Dia  juga  tahu, bahwa orang-orang "Antara"  yang  di
"Domei"   seperti  Adam  Malik,  Pandu   Kartawiguna,
Djawoto,  dll.  mereka  orang-orang  nasionalis  yang
sadar, punya pendirian dan punya perhitungan sendiri.
Bahwa  Jepang  tidak  akan mampu menghadapi  kekuatan
Amerika  Serikat dan sekutunya. Satu negara  industri
besar,  ditambah  persekutuannya dengan  Uni  Soviet,
yang menentukan dalam menghancurkan Jerman dan Italia
di  Eropa, dan juga pengaruhnya ke timur sudah  tentu
besar   sekali.   Jepang  negeri   yang   industrinya
terbatas,   sumber-sumber  produksinya   tidak   bisa
menandingi  Amerika,  sumber alamnya  terbatas,  besi
baja  tergantung  dari luar. Jadi  Matano  memelihara
hubungan baik dengan kawan-kawan Indonesia itu karena
memandang  jauh ke depan. Semakin baik hubungan  itu,
semakin  menguntungkan di masa depan. Makanya  Matano
selalu  korek terhadap kita. Sebaliknya,  Adam  Malik
ketika  itu juga menyusun "Domei" ke arah masa depan.
Walaupun  "Antara" dianslus "Domei", namanya  hilang,
tapi politik dsb tetap "Antara".
     (HS.: "Antara" berdiri tepatnya kapan?)
       "Antara"  didirikan  kembali  setelah   Jepang
menyerah,  dan  kemerdekaan  diproklamasikan.   Kalau
permulaan berdiri sudah sejak Desember 1937.
      (HS.:  Kenapa tidak sejak itu Pak Krisno  masuk
"Antara", tapi memilih bekerja pada "Aneta"?)
      "Antara" waktu itu berdiri praktis sekedar nama
saja.   Maka  sudah  ketika  itu,  sesudah   "Antara"
didirikan,  Adam  Malik menghubungi  saya.  Bagaimana
menyusun kantor berita nasional.
     (HS.: Siapa pendiri-pendiri "Antara"?)
      Adam  Malik, Sumanang, Sipahutar. Saerun tidak.
Dia kepala pers bagian dalam negeri "Aneta". Kemudian
diganti Anom Putra, lalu saya. Kantor "Antara"  waktu
itu di Buiten Tijgerstraat, di Jakarta Kota.
      (HS.:  Kenapa  Pak Krisno tidak tertarik  masuk
"Antara"?  Rasa kebangsaan belum cukup?  Atau  karena
soal gaji?)
      Tahun 36 saya sudah masuk "Aneta", tukang ketik
malam  dan  koreksi.  Lantaran "Antara"  masih  lebih
banyak  hanya  nama saja. Suratkabar  yang  langganan
"Antara"  juga  masih  terbatas.  Masih  belum   bisa
diterima.  "Tjahaja Timoer", misalnya. Buat  apa  itu
"Antara"? Katanya. Ini terutama Parada Harahap.
     (HS.: Karena mutunya, atau alasan lain?)
      Rupanya begitu. Karena, menurut Parada Harahap,
afdeling   dalam  negeri  "Aneta"  itu  sudah   cukup
memenuhi  kehendak  mereka. Keperluan  bisnis.  Tidak
melihat keperluan politik. Saya, meskipun bekerja  di
"Aneta",  jauh-jauh hari sudah dihubungi Adam  Malik.
Apalagi  saya tinggal sama Sumanang. Sebelumnya  sama
AK  Gani, orang Gerindo. Tentu tidak sembarangan  dia
menerima  saya untuk tinggal di Clubgebouw Indonesia,
tempat  para  pemuda nasional berkumpul  itu.  Pendek
kata,  saya  sebagai  pemuda, sudah  dilihat  sebagai
sudah memilih pihak.
      (HS.:  Pak Krisno ambil posisi kepala afdeling,
atas inisiatif pribadi? Bukan karena alasan politik?)
      Pribadi.  Tidak. Belum ada itu.  Walaupun  saya
ketika itu sudah masuk Pemuda Muslimin Indonesia yang
kiri   haluannya.  Saya  bergerak  di  Tanah   Abang,
mendirikan  kring  sendiri. Yang  aktif  ngajak  saya
Sumarmo. Untuk membangun kembali JIB.
      (HS.:  Jadi  "Antara" berdiri  sekedar  sebagai
kegiatan sampingan kaum muda nasionalis?)
      Memang  dirasa perlu mendirikan  kantor  berita
nasional.   Mengingat  "Aneta"  tidak  mungkin   akan
menyiarkan  berita-berita yang  bersifat  nasionalis.
Memang   "Aneta"  tidak  punya  kepentingan   tentang
nasionalisme  itu.  Bagaimanpun "Aneta"  adalah  satu
alat  kolonial,  untuk memperkecil arti  perkembangan
semangat kebangsaan.
       (HS.:  Itu  disadari  sejak  awal  mula,  oleh
"Antara"?)
       Disadari.  Sayang  disertasi  tentang  sejarah
"Antara" tidak bisa saya teruskan. Sejarahnya begini.
"Antara"  didirikan karena "Aneta"  tidak  menyiarkan
berita-berita    nasional.   Apalagi    berita-berita
politik,   berita-berita  sosial  saja  tidak.   Jadi
didirikan bukan hanya untuk mengimbangi "Aneta", tapi
juga  untuk  mempropagandakan  ide-ide  nasionalisme.
Sebetulnya  didirikan  dengan  pendorong-pendorongnya
Djohan Sjahruzah, Maruto Nitimihardjo, Sumanang.  Dia
anggota  PPI ketika itu. Juga orang PSI yang kemudian
jadi  Ketua  pertama Kongres Pemuda Indonesia,  siapa
itu.  Orang  sosialis kiri. Harus diakui  Adam  Malik
memang  orang yang berpandangan jauh ke  depan.  Yang
bergerak aktif waktu itu memang Sumanang, Adam Malik,
Sipahutar.  Tapi PPI, Perhimpunan Pelajar  Indonesia,
itu  juga  yang otaknya. Ini gerakan nasionalis  yang
ketika  itu  sangat  revolusioner. Banyak  anggotanya
yang dipenjara. Sjahruzah, Mas Prapto, itu juga tokoh-
tokoh  PPI.  Mr.  Suprapto itu guru bahasa  Indonesia
saya  di  Institut Jurnalistik dan Pengetahuan  Umum.
Sumanang  direkturnya, menggantikan Amir  Sjarifuddin
yang  dipenjara. Institut ini bertempat  sama  dengan
"Perguruan  Rakyat".  Pada tahap perjuangan  nasional
Sumanang   memang   hebat.  Tapi  terakhir   berpihak
Suharto. Dia memang kanan.

200-250: Pribadi Sumanang
      Terlepas  dari  sikap politiknya  itu  Sumanang
orang  yang baik sekali, bescheiden, menganggap  saya
sekeluarga  seperti saudara sendiri.  Dia  tahu  saya
orang  kiri,  tapi  itu tidak jadi soal.  Waktu  saya
kawin, tidak punya apa-apa. Dia yang memberi pakaian.
Seluruh  keluarga  saya diberi tempat  oleh  dia,  di
kampung   Beji  di  Yogya  waktu  itu,   ketika   dia
sekeluarga sudah kembali ke Jakarta.
     Terakhir dia memang kecewa sama saya. Saya tidak
mau menyetujui, ketika dia panggil supaya pulang. Dia
menerima   Suharto.   Tapi   bagaimana   saya    akan
menyerahkan diri sama Suharto? Saya di Beijing pernah
menulis  artikel, membelejeti Suharto, dan menyerukan
perlawanan dengan menyusun kekuatan di desa. Ini yang
berat.  Kekiri-kirian saya itu. Teori "desa mengepung
kota" Mao Zedong itu. Dangkal sekali saya ketika itu.
Saya  samakan saja seolah-olah yang bisa di Cina bisa
juga  di Indonesia. Pada hal Indonesia yang kepulauan
begitu, tidak bisa teori itu diterapkan begitu  saja.
Tapi di Filipina ternyata bisa tahan.
      HS.: Secara prinsip mungkin memang tidak salah,
karena  di  desa memang tempat kekuataan massa.  Tapi
pelaksanaannya,  mungkin  perlu  disesuaikan   dengan
situasi dan kondisi setempat?)

250-319: Jaman pendudukan Yogya
     Akhirnya ketahuan bahwa saya yang membuat berita-
berita  itu.  Masuklah  Harjokusumo,  dari  "Antara".
Ditangkap IVG dua  minggu. Untung dia tidak menyebut-
nyebut  saya.  Jadi  saya  selamat.  Tapi  tiga  hari
sebelum Belanda meninggalkan Yogya, sepasukan tentara
Belanda  dikirim  menggeledah rumah  saya.  Di  Beji.
Kebetulan saya di Kepatihan, sumber berita  di  Yogya
ketika  itu.  Pulang diberi tahu istri kejadian  itu.
Saya   mau   lari  sembunyi,  khawatir  rumah   malah
diteror. Mengingat tiga hari lagi mereka mau  mundur,
saya datangi kantor IVG. Bertemu Kapten Vosveld.  Dia
mengaku  mengirim  pasukan ke  rumah,  karena  alasan
pamflet-pamflet  itu. Tapi dengan  menunjukkan  kartu
wartawan  "Kengpo"  saya bantah tuduhannya  itu.  Dia
terima   alasan   saya,  mungkin   juga   terpengaruh
mendengar bahasa Belanda saya yang baik.
     (HS.: Darimana informasi mereka dapat?)
     Tidak tahu. Tapi sebelum saya ke IVG, saya temui
dulu  Sekretaris  pribadi Sultan,  Pangeran  Purboyo,
menanya  bagaimana nasihat Sultan. Apakah saya  perlu
keluar  kota menyembunyikan diri? Nasihat  yang  saya
segera dapat mengatakan tidak perlu, karena tiga hari
lagi Belanda akan mundur.
      Kemudian waktu KMB. Saya kan ikut ke  Den  Haag
untuk  meliput kejadian itu. Suatu hari  saya  jalan-
jalan  di lapangan Den Haag, dekat Tweede Kamer.  Ada
militer, kapten, turun dari sepeda, saluir pada saya.
Saya  heran,  tapi dia bilang: Saya  kapten  Vosveld,
yang  menerima  Anda  di  IVG.  Jawab  saya:  O,  ya.
Sekarang kita teman, ya!?

Tanggal 7 Juli 1997
320-617: Dua uak yang beda pendirian
      Waktu  uak itu tidak bekerja, dia dibantu  oleh
Asisten Wedana, sebagai orang kepercayaannya.  Sedang
uak   yang  tersebut  akhir,  dipenjara  satu   tahun
setengah  sebagai  Camat.  Ada  kontras  antara   dua
bersaudara ini. Yang tua, dibantu Asisten Wedana  dan
malah dikasih revolver, karena selalu merasa terancam
akan  dibunuh  oleh Komunis. Kalau tidur  di  langit-
langit. Ia orang kepercayaan AW. Karenanya, di  rumah
AW  yang  seperti raja kecil di desa itu,  saya  juga
diterima  dengan baik. Saya suka main dengan anaknya.
Belakangan,  sesudah dewasa, kami bertemu  di  Yogya.
Dia  jadi  mantri  polisi. Saya jadi  wartawan.  Saya
ingat,  ketika  suatu  hari  ada  telpon  dari  Patih
Purwakarta.  Sesudah selesai bicara,  Asisten  Wedana
itu  menutup telpon dan menyembah. Begitu  rupa  jiwa
pangreh-praja waktu itu. Dia itulah yang menolong Pak
Cokro, uak saya.
      Watak  dan  langgam hidup mereka berbeda.  Yang
Camat  itu,  setelah  bebas dari penjara,  di  daerah
Bogor,   dipecat  sebagai  Camat,  lalu  kembali   ke
Cibarusa  membuka warung kecil-kecilan  untuk  hidup.
Dia  kerja  keras, mengumpulkan batu untuk  bangunan.
Saya  meladeni  di  warung itu. Setiap  hari  pasaran
orang-orang  turun dari desa-desa  mereka  ke  pasar.
Menjual  hasil cock-tanam mereka, dan kembali membawa
barang kebutuhan hidup pembelian mereka. Pulang-pergi
mereka selalu mampir, istirahat dan minum air gentong
di  warung  uak saya. Pekerjaan saya mengisi  gentong
air itu.
      Dua uak ini tinggal berjauhan. Yang bekas Camat
di  Cibarusa, dan uak yang lain di Plered.  Ini  kota
asistenan kecil yang menghasilkan barang-barang tanah
liat.
     Mula-mula saya ikut pada uak yang di Plered yang
takut  Komunis.  Mungkin karena dia menjadi  informan
pemerintah untuk memata-matai orang Komunis.  Sebagai
pembantu  AW  dia mendapat rumah, lalu  kawin  dengan
perempuan  desa  yang  masih terlalu  muda.  Uak  ini
memang  suka kawin. Setelah dengan istri ini pun  dia
kawin  lagi.  Sedang uak yang bekas  Camat,  yang  di
Cibarusa,  tidak kawin lagi sejak istrinya  meninggal
dipatuk ular.
       Saya   tidak   tahu,  mengapa  saya   kemudian
diserahkan pada uak lain. Tapi ada kakak wanita  saya
yang  juga  sudah  lebih dulu ikut  uak  Plered  yang
dibantu  AW  itu. Ingat saya kakak ini kemudian  juga
ikut pindah ke Cibarusa. Di Cibarusa kecuali ada uak,
juga  di  situ ada kakek saya. Kakek ini kaya,  punya
tanah  luas,  di  situ didirikan langgar.  Kakak  ini
perempuan  yang  saya sebut tadi  kakak  betul-betul.
Kami memang dua bersaudara. Dia masih hidup sekarang,
umur  setahun  lebih tua dari saya.  Saya  dan  kakak
lahir di Palembang.
      Ayah  kaya.  Gajinya besar, 175 gulden.  Sedang
polisi Belanda cuma tujuh setengah. Gaji saya sesudah
jadi  kepala  bagian di "Aneta" pun cuma 110  gulden.
Jadi  gaji ayah itu besar sekali, lantaran ia  pandai
bahasa  Inggris, karena pernah merantau ke Singapura.
Maka bisa jadi klerk KPM.
     Kakak perempuan itu  kaka saya seayah-seibu. Ibu
saya  orang  Cina.  Itu menurut cerita  istri  kakek.
Katanya  ayah saya kawin dengan perempuan Cina,  lalu
mengembara  ke  Singapura, terus ke  Palembang.  Saya
dengar ceritanya juga, bahwa selagi saya masih  kecil
ibu  dilempar  oleh ayah. Saya dan  kakak  saya  lalu
diserahkan pada kakaknya, Pak Cokrodiwiryo, yang dulu
mantri  hewan dan kemudian keurmeester di  Tangerang.
Uak  ini  doyan  kawin  dan tukang  main.  Saya  tahu
tentang  ibu  saya hanya dari cerita itu.  Jadi  saya
tidak  punya  bayangan sama sekali tentang  ibu  saya
sendiri.  Uak yang satu lagi, yang Camat, tinggal  di
daerah Bogor.
     Pak Cokro juga sering mengembara, ke Bandung dan
lain-lain.   Maka  saya  disunat  juga  di   Bandung.
Kebetulan  saudara  kakek itu seorang  dokter.  Kakek
sendiri  bekas Asisten Wedana, mungkin di daerah  itu
juga.  Kaya,  tanah  luas, rumah besar,  dan  langgar
besar. Rumahnya yang terbesar di Cibarusa. Saya  suka
cari  burung  dengan ketepil di tanahnya yang  sangat
luas itu.
       Kemudian  Pak  Cokro  menyerahkan  saya   pada
adiknya,  yang  bekas  Camat  lantaran  memihak  kaum
Komunis yang memberontak tahun '26. (Habis)

Side B
000-033: Pindah ke Batavia
       Saya   dididik   mula-mula   oleh   uak   yang
antikomunis,  tidak  kerja tapi  menjadi  kepercayaan
Asisten   Wedana.   Kemudian  saya  diserahkan   pada
adiknya,  yaitu uak saya yang lain. Waktu di Jakarta,
saya  bertemu dan ikut lagi pada uak yang antikomunis
itu.  Dia tukang main, di samping tukang kawin.  Saya
sekolah di Mulo Manggarai. Uak itu di Tangerang. Tiap
jam  5  pagi  saya sudah harus berangkat ke  sekolah.
Mula-mula saya sekolah "Schakel", kemudian Mulo.
      Tamat  dari  sekolah  desa  Cibarusa,  saya  ke
Batavia untuk ke sekolah lanjutan. Lalu hidup bersama
ayah.   Mula-mula  ke  sekolah  rendah   Belanda   di
Wilhelmina  Park, dulu dikenal dengan sebutan  Gedung
Tanah, yang sekarang jadi masjid Istiqlal. Saya harus
mulai dari klas I lagi. Daripada hilang tahun terlalu
banyak,  saya  oleh ayah dipindah ke "Schakelschool".
Cuma  5  tahun. Sedang sekolah rendah Belanda  itu  7
tahun.  Lalu saya ujian masuk, lulus. Sesudah  tamat,
saya ujian masuk ke Mulo.

033-081: Jaman Jepang
       Ketika  di  Bandung,  di  jaman  Jepang,  saya
menganggur dan Mas Manang sudah jadi redaktur  Harian
Pemandangan. Lalu saya dipanggilnya untuk  pindah  ke
Jakarta.
         (Selanjutnya    ulangan    cerita    sekitar
pengangkatannya  sebagai  Kepala  Bagian  Pers  Dalam
Negeri "Aneta", sampai bekerja di Dept. van Oorlog di
Bandung sebagai "noodformatie").

081-210: Dari Pemandangan ke Domei
      Saya  tinggal,  sewaktu  kerja  di  "Dept.  van
Oorlog"   itu,  pada  keluarga  kepernah   Oom,   dr.
Wisnuyudo, yang spesialis paru-paru. Istrinya seorang
peranakan  Cina yang manis. Di situ juga tinggal  Mr.
Nirwonoyudo,  yang  tamatan RHS. Rumahnya  bagus  dan
besar.
      Sesudah  Jepang  menyerah  saya  nganggur.  Mas
Manang  sebagai  hoofd-redacteur Harian  Pemandangan,
direkturnya  Haji Junaidi. Seorang  kaya  yang  punya
onderneming  sitrunela, karet dan  macam-macam  lagi.
Ini  harian  yang  sudah terbit sejak  jaman  Belanda
dulu.  Masih  pada tahun 1942 Mas Manang sudah  harus
berurusan  dengan Kenpeitei waktu jaman  Jepang  itu.
Pada  hari  lahir  Tenno Heika,  untuk  merayakannya,
Harian  Pemandangan menurunkan sebuah  gambar  Kaisar
Jepang  itu   naik kuda di bawah Matahari.  Maksudnya
untuk  menjunjungnya sebagai keturunan Dewa Matahari,
Amaterasu,  tapi  Kenpeitei  menafsirkannya   sebagai
merendahkan  derajat Kaisar yang ada di  bawah  sinar
terik matahari.
      Mas  Manang  ditangkap. Ketika itu  saya  sudah
bekerja  membantunya sebagai wartawan di Pemandangan,
dan  juga  tinggal  kembali di  rumahnya.  Waktu  Mas
Manang  diperiksa,  ia minta saya  untuk  mendampingi
sebagai penerjemah bahasa Inggris. Sebenarnya  karena
dia  ingin supaya ada seorang saksi yang dia  percaya
saja.  Kami  semua  sudah  takut.  Apalagi  istrinya.
Untung  tidak  ada  penyiksaan.  Setelah  dua  minggu
ditahan  dan  diperiksa,  ada campur-tangan  pembesar
Kenpeitei.  Ia  menerima alasan yang kita  kemukakan.
Mungkin  juga karena pembesar Jepang itu tahu tentang
reputasi  Mas Manang di tengah kaum nasionalis.  Maka
akhirnya  Mas  Manang dibebaskan. Kami  masih  takut,
jangan-jangan  itu perangkap untuk  menerornya.  Maka
atas  permintaan  Mbakyu  Manang,  saya  menjemputnya
dengan becak, dari gedung Kenpeitei di sebelah Gedung
Gajah di Merdeka Barat.
      Saya  tidak lama bekerja di Harian Pemandangan.
Adam    Malik    datang   menemui    saya.    Menurut
perhitungannya  kekuasaan  Jepang  tidak  akan  lama.
Ketika  itu  Kantor Berita "Antara" tidak  ada  lagi,
semuanya,  termasuk  para personelnya  dicaplok  oleh
Kantor Berita Jepang, "Domei". Tapi kita harus selalu
menyiapkan diri untuk membangun kembali kantor berita
nasional.  Untuk itu Adam Malik minta  bantuan  saya.
Harian Pemandangan agar saya tinggalkan, karena tugas
di situ bisa diserahkan pada tenaga lain. Saya setuju
permintaan  Adam  Malik. Bersama saya  juga  Subakir.
Saya   diserahi  mula-mula  memimpin  bagian   kawat,
mengirim  berita-berita ke daerah-daerah.  Lalu  saya
diganti   Subakir.  Sesudah  Subakir,   Rinto   Alwi.
Kemudian   saya   ditunjuk  untuk   mengganti   Pandu
Kartawiguna,  sebagai Pemimpin  Redaksi.  Adam  Malik
pemimpin  umum.  Pandu  Kartawiguna  lalu  entah  apa
tugasnya, tapi formal termasuk anggota Dewan Direksi,
bersama Panghulu Lubis yang semula juga anggota Dewan
Direksi.

210-275: Sebagai Duta Besar; tenaga inti "Antara"
       Di  dalam  "Antara"  itu  saya  sangat  mereka
percaya.  Riwayat  saya jadi Dubes,  sebenarnya  atas
usul  Mr.  Moh.  Yamin. Saya anggota Dewan  Perancang
Nasional.  Pak  Yamin  Ketua, Pak  Ali  Sastroamijoyo
Wakil Ketua, juga Wiluyo Puspoyudo Wakil Ketua. Suatu
hari  Pak  Yamin bilang: Sesudah Adam Malik  diangkat
jadi  Dubes  di  Moskow, Diah di  Praha  kemudian  ke
London, demikian juga Anda harus segera menyusul.
     Saya kenal Pak Yamin sejak jaman Belanda. Ketika
saya  bekerja  di  "Aneta". Apalagi tinggal  saya  di
Clubgebouw    Indonesia,   gedung   yang   bersejarah
perjuangan  nasional.  Di  situ  tokoh-tokoh  penting
nasional  suka  berkumpul:  Amir  Sjarifuddin,  Adnan
Kapau   Gani  direktur  di  situ,  Suyono   Hadinoto,
Sumanang,  Abu Hanifah yang belakangan menjadi  tokoh
Masyumi, Wilopo dll. Tokoh-tokoh yang kemudian pegang
peran  penting dalam perjuangan nasional dan  sejarah
RI.  Tahun  39 saya sudah kerja di "Aneta", Mula-mula
tukang ketik malam dan korektor, memperbaiki stensil,
akhirnya juga korektor bahasa.
      Di  "Antara" ketika itu ada beberapa  afdeling:
Kawat,   Subakir;   Dalam  Negeri,  mula-mula   Pandu
Kartawiguna  kemudian  saya;  Luar  Negeri,  Djawoto;
Suroto, edisi Inggris.

       (275-291:  Cerita  ulangan  tentang  pertemuan
dengan  Adam Malik, di jaman Belanda, tentang rencana
meningkatkan  usaha  KB nasional,  antara  lain  usul
tentang menyiapkan tenaga markonis).

291-332: "Antara" di jaman Jepang
      Di jaman Jepang "Antara" dianslus "Domei". Nama
"Antara"  tidak  ada,  tapi hakikatnya  yang  bekerja
tetap   "Antara".  Jepang  tidak  terlalu  mencampuri
pelaksanaan  pekerjaan sehari-hari.  Hakikatnya  Adam
Malik  yang mimpin. Jepang pegang otoritas tertinggi,
tapi  dalam  pelaksanaan  tidak  turut  campur.  Nama
Jepang  itu  H.  Matano.  Juga  ada  Watanabe,   nama
depannya saya lupa, lalu satu lagi kalau tidak  salah
Susuki.  Itulah  tiga  orang  pembesar  Jepang   yang
dipercaya pemerintahnya. Kepala langsung "Domei",  H.
Matano. Dia tidak mau mendikte kita harus begini atau
begitu.
      Ada  lagi  tenaga Indonesia, Ketua Bagian  Luar
Negeri,   Sutaryo,  dulu  dari  Taman   Siswa.   Tapi
hakikatnya ketua bagian luar negeri Pak Djawoto. Mula-
mula  saya  kepala  bagian kawat,  kemudian  Subakir,
sesudah  itu Rinto Alwi. Tugas bagian kawat  mengirim
dan   menyusun   berita-berita  untuk  daerah-daerah.
Misalnya  untuk  suratkabar-suratkabar  di  Semarang,
Surabaya, Domei di daerah, juga ke Sumatra.

333-613: "Antara" sekitar Proklamasi
     Berita tentang proklamasi kemerdekaan RI, Jepang
tentu  saja  tidak berkepentingan.  Memang  lalu  ada
perjuangan  juga  dalam "Antara". Ada  keberanian  di
pihak  kita,  baik  redaksi maupun  bagian  markonis,
untuk  menyiarkan  berita proklamasi  itu.  Markonis-
markonis kita itu, sayang saya lupa nama-nama mereka.
      Jalannya  merekrut  personel,  begini  rupanya.
Sudah  sejak  semula tumbuh teman-teman  yang  memang
bertekad  untuk  membangun KB Nasional.  Pada  mereka
timbul  kesdadaran,  bahwa  Jepang  tidak  akan  lama
berkuasa.   Maka  selama  itu  banyak   pemuda   yang
mempersiapkan diri untuk Indonesia merdeka,  termasuk
di bidang kantor pekabaran nasional.
       Dana   "Domei"  tentu  saja  dari   pemerintah
pendudukan   Jepang.   Sesudah   Jepang   kapitulasi,
"Antara"  lahir kembali, tetap sebagai  lembaga  yang
berdiri  sendiri. Tapi dana didapat dari  Kementerian
Keuangan  di Yogya. Juga "Antara", sesudah pindah  ke
Yogya, bekerja seluruhnya untuk mengabdi pada RI.
     "Antara" ikut pindah ke Yogya. Karena hakikatnya
bekerja sebagai alat propaganda kemerdekaan RI,  maka
tidak  akan aman jika tetap berkedudukan di  Jakarta.
Dalam  pada  itu  "Aneta" berdiri  lagi.  Ada  cerita
sehubungan dengan ini.
      Seminggu sesudah Yogya diduduki Belanda, datang
bertemu saya di Yogya Hans Martinot, pemimpin redaksi
"Aneta" di Jakarta. Saya tinggal di rumah Mas Manang,
di  Taman  Ibu Jalan Beji. Ketika itu kantor "Antara"
di  Jalan  Tugu,  sebelah Toko "Oen". Dia  mengatakan
diutus  oleh Direksi "Aneta" dan ANP Den Haag,  untuk
minta saya menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin
redaksi.  Karena  dia tahu saya  dulu  kepala  bagian
dalam  negeri KB yang sekarang dipimpinnya  itu.  Dia
sendiri  akan  kembali  ke  Belanda.  "Aneta"   sudah
bekerja  kembali  di Jakarta segera  sesudah  Belanda
masuk dan menduduki Jakarta. Tapi tidak sesegera  itu
mengontak  saya  lagi, tentunya karena   mereka  tahu
saya orang yang berpihak pada RI.
      Pada  waktu  "periode bersiap",  saya  mendapat
revolver  dari  Adam  Malik  berikut  dengan  delapan
pelurunya.  Waktu  itu saya masih  tinggal  di  Jalan
Paseban.   Tidak  semua  personel  "Antara",   diberi
pestol.   Setahu   saya   cuma   saya   saja.    Yang
menyampaikannya orang kepercayaan Adam  Malik,  Abdul
Hakim,  dulu  wartawan  "Kengpo"  dan  juga  wartawan
"Antara"    sejak   masih   berkantor    di    Buiten
Tijgerstraat.  Sementara itu di Paseban  saya  memang
menjadi   pimpinan  lasykar  pemuda   kampung,   yang
semuanya  hanya bersenjata alat tajam.  Kami  mencari
kekebalan pada seorang kiai di kampung Paseban  situ.
Suatu malam, tengah malam, saya dimandikan dengan air
kembang,  dan  dijajal kekebalan saya oleh  kiai  itu
dengan  tikaman  sebuah golok.  Memang  tidak  mempan
golok itu. Saya lupa nama Pak Kiai itu.
      Ketika itu saya sudah punya anak seorang.  Saya
mimpin lasykar pemuda Kampung Paseban dengan kekuatan
20  orang pemuda. Satu sore dengan sebuah truk,  saya
bersenjata   revolver  dan  para  pemuda   berklewang
Jepang, kami hendak menyerbu serdadu-serdadu jaga  di
depan  istana Rijswijk. Kami hentikan truk pada jarak
kejauhan, bertiarap untuk mendekati sasaran. Ternyata
Belanda  sudah  tidak  di  situ  lagi.  Rupanya  para
penjaga  itu ditarik kalau sore. Untung saja  Belanda
tidak  ada.  Kalau ada tentu kami mati konyol,  hanya
dengan  satu  pestol menyergap musuh yang  bersenjata
lengkap dan modern. Itu masih tahun 45. Karena  tahun
46  "Antara" lalu ikut pindah ke Yogya. Jakarta sudah
tidak lagi aman untuk kami.
      Ketika itu saya juga dipilih menjadi Sekretaris
KNI  Daerah  Gang  Tengah. Ketuanya Somad,  pengusaha
beras.   Kami   mengorganisasi  para   pemuda   untuk
mendatangkan  beras  berbal-bal  dari  luar  Jakarta:
Krawang,  Cikampek  dan  sekitarnya.  Untuk   kampung
sendiri, dan kampung-kampung lain. Karena ketika  itu
di Jakarta beras tidak ada atau sangat sulit didapat.

(HABIS)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Mar 1999 jam 12:20:38 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke