---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Drs. A. Sukrisno Amersfoort, 30 Juni 1997 ________________________ Kaset 2 Side A 000-023: Kehidupan beragama Istri saya dari Cirebon. Juga istri saya yang sekarang. Sering ngajak sembahyang kembali, dsb. Kalau bulan Puasa masih tetap puasa. Tapi saya ini sesudah di Jakarta, apalagi sesudah bekerja jadi wartawan ..., tinggal Islamnya saja yang masih, sedangkan syariatnya sudah hampir tidak sama sekali. Kalau puasa dua-tiga hari, dan sudah! Padahal waktu kecil hidup di tengah masyarakat Islam dan agama Islam, dan Islam saya jalankan juga. Ya puasa, dan sembahyang di mesjid. Menjadi hilang semua, mungkin karena pekerjaan wartawan yang tak kenal waktu. (HS.: Tapi itu belum meyakinkan. Sebab Bung Asa Bafagih almarhum tetap taat? Walaupun pada dia dan istri memang ada faktor keturunan Arab.) Tapi bagaimanapun saya tidak lupa al-Fatihah, Qulhu, tetap masih hafal, dan suka saya baca dalam hati. Sembahyang yang pokok sudah tentu niat dulu, dan bacaan Alhamdulillah, terus Qulhu. Juga artinya ayat itu. Tentang satunya Tuhan. Jadi meninggalkan Islam juga tidak, tapi sembahyang memang tidak saya lakukan. 024-199: Persiapan membangun kembali "Antara" Waktu di "Domei", di jaman Jepang itu, kita memang sudah bersiap-siap untuk membangun kembali "Antara". Jepang juga tidak menghalangi usaha kita itu. Nama Jepang itu Matano. Kepala bagian Indonesia di "Domei". Dia orang yang betul-betul berpandangan jauh, tahu bahwa Jepang tidak akan bisa menang. Dan Jepang sendiri ketika itu berkepentingan memelihara hubungan baik dengan kita. Matano ini orang politik. Dia juga tahu, bahwa orang-orang "Antara" yang di "Domei" seperti Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Djawoto, dll. mereka orang-orang nasionalis yang sadar, punya pendirian dan punya perhitungan sendiri. Bahwa Jepang tidak akan mampu menghadapi kekuatan Amerika Serikat dan sekutunya. Satu negara industri besar, ditambah persekutuannya dengan Uni Soviet, yang menentukan dalam menghancurkan Jerman dan Italia di Eropa, dan juga pengaruhnya ke timur sudah tentu besar sekali. Jepang negeri yang industrinya terbatas, sumber-sumber produksinya tidak bisa menandingi Amerika, sumber alamnya terbatas, besi baja tergantung dari luar. Jadi Matano memelihara hubungan baik dengan kawan-kawan Indonesia itu karena memandang jauh ke depan. Semakin baik hubungan itu, semakin menguntungkan di masa depan. Makanya Matano selalu korek terhadap kita. Sebaliknya, Adam Malik ketika itu juga menyusun "Domei" ke arah masa depan. Walaupun "Antara" dianslus "Domei", namanya hilang, tapi politik dsb tetap "Antara". (HS.: "Antara" berdiri tepatnya kapan?) "Antara" didirikan kembali setelah Jepang menyerah, dan kemerdekaan diproklamasikan. Kalau permulaan berdiri sudah sejak Desember 1937. (HS.: Kenapa tidak sejak itu Pak Krisno masuk "Antara", tapi memilih bekerja pada "Aneta"?) "Antara" waktu itu berdiri praktis sekedar nama saja. Maka sudah ketika itu, sesudah "Antara" didirikan, Adam Malik menghubungi saya. Bagaimana menyusun kantor berita nasional. (HS.: Siapa pendiri-pendiri "Antara"?) Adam Malik, Sumanang, Sipahutar. Saerun tidak. Dia kepala pers bagian dalam negeri "Aneta". Kemudian diganti Anom Putra, lalu saya. Kantor "Antara" waktu itu di Buiten Tijgerstraat, di Jakarta Kota. (HS.: Kenapa Pak Krisno tidak tertarik masuk "Antara"? Rasa kebangsaan belum cukup? Atau karena soal gaji?) Tahun 36 saya sudah masuk "Aneta", tukang ketik malam dan koreksi. Lantaran "Antara" masih lebih banyak hanya nama saja. Suratkabar yang langganan "Antara" juga masih terbatas. Masih belum bisa diterima. "Tjahaja Timoer", misalnya. Buat apa itu "Antara"? Katanya. Ini terutama Parada Harahap. (HS.: Karena mutunya, atau alasan lain?) Rupanya begitu. Karena, menurut Parada Harahap, afdeling dalam negeri "Aneta" itu sudah cukup memenuhi kehendak mereka. Keperluan bisnis. Tidak melihat keperluan politik. Saya, meskipun bekerja di "Aneta", jauh-jauh hari sudah dihubungi Adam Malik. Apalagi saya tinggal sama Sumanang. Sebelumnya sama AK Gani, orang Gerindo. Tentu tidak sembarangan dia menerima saya untuk tinggal di Clubgebouw Indonesia, tempat para pemuda nasional berkumpul itu. Pendek kata, saya sebagai pemuda, sudah dilihat sebagai sudah memilih pihak. (HS.: Pak Krisno ambil posisi kepala afdeling, atas inisiatif pribadi? Bukan karena alasan politik?) Pribadi. Tidak. Belum ada itu. Walaupun saya ketika itu sudah masuk Pemuda Muslimin Indonesia yang kiri haluannya. Saya bergerak di Tanah Abang, mendirikan kring sendiri. Yang aktif ngajak saya Sumarmo. Untuk membangun kembali JIB. (HS.: Jadi "Antara" berdiri sekedar sebagai kegiatan sampingan kaum muda nasionalis?) Memang dirasa perlu mendirikan kantor berita nasional. Mengingat "Aneta" tidak mungkin akan menyiarkan berita-berita yang bersifat nasionalis. Memang "Aneta" tidak punya kepentingan tentang nasionalisme itu. Bagaimanpun "Aneta" adalah satu alat kolonial, untuk memperkecil arti perkembangan semangat kebangsaan. (HS.: Itu disadari sejak awal mula, oleh "Antara"?) Disadari. Sayang disertasi tentang sejarah "Antara" tidak bisa saya teruskan. Sejarahnya begini. "Antara" didirikan karena "Aneta" tidak menyiarkan berita-berita nasional. Apalagi berita-berita politik, berita-berita sosial saja tidak. Jadi didirikan bukan hanya untuk mengimbangi "Aneta", tapi juga untuk mempropagandakan ide-ide nasionalisme. Sebetulnya didirikan dengan pendorong-pendorongnya Djohan Sjahruzah, Maruto Nitimihardjo, Sumanang. Dia anggota PPI ketika itu. Juga orang PSI yang kemudian jadi Ketua pertama Kongres Pemuda Indonesia, siapa itu. Orang sosialis kiri. Harus diakui Adam Malik memang orang yang berpandangan jauh ke depan. Yang bergerak aktif waktu itu memang Sumanang, Adam Malik, Sipahutar. Tapi PPI, Perhimpunan Pelajar Indonesia, itu juga yang otaknya. Ini gerakan nasionalis yang ketika itu sangat revolusioner. Banyak anggotanya yang dipenjara. Sjahruzah, Mas Prapto, itu juga tokoh- tokoh PPI. Mr. Suprapto itu guru bahasa Indonesia saya di Institut Jurnalistik dan Pengetahuan Umum. Sumanang direkturnya, menggantikan Amir Sjarifuddin yang dipenjara. Institut ini bertempat sama dengan "Perguruan Rakyat". Pada tahap perjuangan nasional Sumanang memang hebat. Tapi terakhir berpihak Suharto. Dia memang kanan. 200-250: Pribadi Sumanang Terlepas dari sikap politiknya itu Sumanang orang yang baik sekali, bescheiden, menganggap saya sekeluarga seperti saudara sendiri. Dia tahu saya orang kiri, tapi itu tidak jadi soal. Waktu saya kawin, tidak punya apa-apa. Dia yang memberi pakaian. Seluruh keluarga saya diberi tempat oleh dia, di kampung Beji di Yogya waktu itu, ketika dia sekeluarga sudah kembali ke Jakarta. Terakhir dia memang kecewa sama saya. Saya tidak mau menyetujui, ketika dia panggil supaya pulang. Dia menerima Suharto. Tapi bagaimana saya akan menyerahkan diri sama Suharto? Saya di Beijing pernah menulis artikel, membelejeti Suharto, dan menyerukan perlawanan dengan menyusun kekuatan di desa. Ini yang berat. Kekiri-kirian saya itu. Teori "desa mengepung kota" Mao Zedong itu. Dangkal sekali saya ketika itu. Saya samakan saja seolah-olah yang bisa di Cina bisa juga di Indonesia. Pada hal Indonesia yang kepulauan begitu, tidak bisa teori itu diterapkan begitu saja. Tapi di Filipina ternyata bisa tahan. HS.: Secara prinsip mungkin memang tidak salah, karena di desa memang tempat kekuataan massa. Tapi pelaksanaannya, mungkin perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat?) 250-319: Jaman pendudukan Yogya Akhirnya ketahuan bahwa saya yang membuat berita- berita itu. Masuklah Harjokusumo, dari "Antara". Ditangkap IVG dua minggu. Untung dia tidak menyebut- nyebut saya. Jadi saya selamat. Tapi tiga hari sebelum Belanda meninggalkan Yogya, sepasukan tentara Belanda dikirim menggeledah rumah saya. Di Beji. Kebetulan saya di Kepatihan, sumber berita di Yogya ketika itu. Pulang diberi tahu istri kejadian itu. Saya mau lari sembunyi, khawatir rumah malah diteror. Mengingat tiga hari lagi mereka mau mundur, saya datangi kantor IVG. Bertemu Kapten Vosveld. Dia mengaku mengirim pasukan ke rumah, karena alasan pamflet-pamflet itu. Tapi dengan menunjukkan kartu wartawan "Kengpo" saya bantah tuduhannya itu. Dia terima alasan saya, mungkin juga terpengaruh mendengar bahasa Belanda saya yang baik. (HS.: Darimana informasi mereka dapat?) Tidak tahu. Tapi sebelum saya ke IVG, saya temui dulu Sekretaris pribadi Sultan, Pangeran Purboyo, menanya bagaimana nasihat Sultan. Apakah saya perlu keluar kota menyembunyikan diri? Nasihat yang saya segera dapat mengatakan tidak perlu, karena tiga hari lagi Belanda akan mundur. Kemudian waktu KMB. Saya kan ikut ke Den Haag untuk meliput kejadian itu. Suatu hari saya jalan- jalan di lapangan Den Haag, dekat Tweede Kamer. Ada militer, kapten, turun dari sepeda, saluir pada saya. Saya heran, tapi dia bilang: Saya kapten Vosveld, yang menerima Anda di IVG. Jawab saya: O, ya. Sekarang kita teman, ya!? Tanggal 7 Juli 1997 320-617: Dua uak yang beda pendirian Waktu uak itu tidak bekerja, dia dibantu oleh Asisten Wedana, sebagai orang kepercayaannya. Sedang uak yang tersebut akhir, dipenjara satu tahun setengah sebagai Camat. Ada kontras antara dua bersaudara ini. Yang tua, dibantu Asisten Wedana dan malah dikasih revolver, karena selalu merasa terancam akan dibunuh oleh Komunis. Kalau tidur di langit- langit. Ia orang kepercayaan AW. Karenanya, di rumah AW yang seperti raja kecil di desa itu, saya juga diterima dengan baik. Saya suka main dengan anaknya. Belakangan, sesudah dewasa, kami bertemu di Yogya. Dia jadi mantri polisi. Saya jadi wartawan. Saya ingat, ketika suatu hari ada telpon dari Patih Purwakarta. Sesudah selesai bicara, Asisten Wedana itu menutup telpon dan menyembah. Begitu rupa jiwa pangreh-praja waktu itu. Dia itulah yang menolong Pak Cokro, uak saya. Watak dan langgam hidup mereka berbeda. Yang Camat itu, setelah bebas dari penjara, di daerah Bogor, dipecat sebagai Camat, lalu kembali ke Cibarusa membuka warung kecil-kecilan untuk hidup. Dia kerja keras, mengumpulkan batu untuk bangunan. Saya meladeni di warung itu. Setiap hari pasaran orang-orang turun dari desa-desa mereka ke pasar. Menjual hasil cock-tanam mereka, dan kembali membawa barang kebutuhan hidup pembelian mereka. Pulang-pergi mereka selalu mampir, istirahat dan minum air gentong di warung uak saya. Pekerjaan saya mengisi gentong air itu. Dua uak ini tinggal berjauhan. Yang bekas Camat di Cibarusa, dan uak yang lain di Plered. Ini kota asistenan kecil yang menghasilkan barang-barang tanah liat. Mula-mula saya ikut pada uak yang di Plered yang takut Komunis. Mungkin karena dia menjadi informan pemerintah untuk memata-matai orang Komunis. Sebagai pembantu AW dia mendapat rumah, lalu kawin dengan perempuan desa yang masih terlalu muda. Uak ini memang suka kawin. Setelah dengan istri ini pun dia kawin lagi. Sedang uak yang bekas Camat, yang di Cibarusa, tidak kawin lagi sejak istrinya meninggal dipatuk ular. Saya tidak tahu, mengapa saya kemudian diserahkan pada uak lain. Tapi ada kakak wanita saya yang juga sudah lebih dulu ikut uak Plered yang dibantu AW itu. Ingat saya kakak ini kemudian juga ikut pindah ke Cibarusa. Di Cibarusa kecuali ada uak, juga di situ ada kakek saya. Kakek ini kaya, punya tanah luas, di situ didirikan langgar. Kakak ini perempuan yang saya sebut tadi kakak betul-betul. Kami memang dua bersaudara. Dia masih hidup sekarang, umur setahun lebih tua dari saya. Saya dan kakak lahir di Palembang. Ayah kaya. Gajinya besar, 175 gulden. Sedang polisi Belanda cuma tujuh setengah. Gaji saya sesudah jadi kepala bagian di "Aneta" pun cuma 110 gulden. Jadi gaji ayah itu besar sekali, lantaran ia pandai bahasa Inggris, karena pernah merantau ke Singapura. Maka bisa jadi klerk KPM. Kakak perempuan itu kaka saya seayah-seibu. Ibu saya orang Cina. Itu menurut cerita istri kakek. Katanya ayah saya kawin dengan perempuan Cina, lalu mengembara ke Singapura, terus ke Palembang. Saya dengar ceritanya juga, bahwa selagi saya masih kecil ibu dilempar oleh ayah. Saya dan kakak saya lalu diserahkan pada kakaknya, Pak Cokrodiwiryo, yang dulu mantri hewan dan kemudian keurmeester di Tangerang. Uak ini doyan kawin dan tukang main. Saya tahu tentang ibu saya hanya dari cerita itu. Jadi saya tidak punya bayangan sama sekali tentang ibu saya sendiri. Uak yang satu lagi, yang Camat, tinggal di daerah Bogor. Pak Cokro juga sering mengembara, ke Bandung dan lain-lain. Maka saya disunat juga di Bandung. Kebetulan saudara kakek itu seorang dokter. Kakek sendiri bekas Asisten Wedana, mungkin di daerah itu juga. Kaya, tanah luas, rumah besar, dan langgar besar. Rumahnya yang terbesar di Cibarusa. Saya suka cari burung dengan ketepil di tanahnya yang sangat luas itu. Kemudian Pak Cokro menyerahkan saya pada adiknya, yang bekas Camat lantaran memihak kaum Komunis yang memberontak tahun '26. (Habis) Side B 000-033: Pindah ke Batavia Saya dididik mula-mula oleh uak yang antikomunis, tidak kerja tapi menjadi kepercayaan Asisten Wedana. Kemudian saya diserahkan pada adiknya, yaitu uak saya yang lain. Waktu di Jakarta, saya bertemu dan ikut lagi pada uak yang antikomunis itu. Dia tukang main, di samping tukang kawin. Saya sekolah di Mulo Manggarai. Uak itu di Tangerang. Tiap jam 5 pagi saya sudah harus berangkat ke sekolah. Mula-mula saya sekolah "Schakel", kemudian Mulo. Tamat dari sekolah desa Cibarusa, saya ke Batavia untuk ke sekolah lanjutan. Lalu hidup bersama ayah. Mula-mula ke sekolah rendah Belanda di Wilhelmina Park, dulu dikenal dengan sebutan Gedung Tanah, yang sekarang jadi masjid Istiqlal. Saya harus mulai dari klas I lagi. Daripada hilang tahun terlalu banyak, saya oleh ayah dipindah ke "Schakelschool". Cuma 5 tahun. Sedang sekolah rendah Belanda itu 7 tahun. Lalu saya ujian masuk, lulus. Sesudah tamat, saya ujian masuk ke Mulo. 033-081: Jaman Jepang Ketika di Bandung, di jaman Jepang, saya menganggur dan Mas Manang sudah jadi redaktur Harian Pemandangan. Lalu saya dipanggilnya untuk pindah ke Jakarta. (Selanjutnya ulangan cerita sekitar pengangkatannya sebagai Kepala Bagian Pers Dalam Negeri "Aneta", sampai bekerja di Dept. van Oorlog di Bandung sebagai "noodformatie"). 081-210: Dari Pemandangan ke Domei Saya tinggal, sewaktu kerja di "Dept. van Oorlog" itu, pada keluarga kepernah Oom, dr. Wisnuyudo, yang spesialis paru-paru. Istrinya seorang peranakan Cina yang manis. Di situ juga tinggal Mr. Nirwonoyudo, yang tamatan RHS. Rumahnya bagus dan besar. Sesudah Jepang menyerah saya nganggur. Mas Manang sebagai hoofd-redacteur Harian Pemandangan, direkturnya Haji Junaidi. Seorang kaya yang punya onderneming sitrunela, karet dan macam-macam lagi. Ini harian yang sudah terbit sejak jaman Belanda dulu. Masih pada tahun 1942 Mas Manang sudah harus berurusan dengan Kenpeitei waktu jaman Jepang itu. Pada hari lahir Tenno Heika, untuk merayakannya, Harian Pemandangan menurunkan sebuah gambar Kaisar Jepang itu naik kuda di bawah Matahari. Maksudnya untuk menjunjungnya sebagai keturunan Dewa Matahari, Amaterasu, tapi Kenpeitei menafsirkannya sebagai merendahkan derajat Kaisar yang ada di bawah sinar terik matahari. Mas Manang ditangkap. Ketika itu saya sudah bekerja membantunya sebagai wartawan di Pemandangan, dan juga tinggal kembali di rumahnya. Waktu Mas Manang diperiksa, ia minta saya untuk mendampingi sebagai penerjemah bahasa Inggris. Sebenarnya karena dia ingin supaya ada seorang saksi yang dia percaya saja. Kami semua sudah takut. Apalagi istrinya. Untung tidak ada penyiksaan. Setelah dua minggu ditahan dan diperiksa, ada campur-tangan pembesar Kenpeitei. Ia menerima alasan yang kita kemukakan. Mungkin juga karena pembesar Jepang itu tahu tentang reputasi Mas Manang di tengah kaum nasionalis. Maka akhirnya Mas Manang dibebaskan. Kami masih takut, jangan-jangan itu perangkap untuk menerornya. Maka atas permintaan Mbakyu Manang, saya menjemputnya dengan becak, dari gedung Kenpeitei di sebelah Gedung Gajah di Merdeka Barat. Saya tidak lama bekerja di Harian Pemandangan. Adam Malik datang menemui saya. Menurut perhitungannya kekuasaan Jepang tidak akan lama. Ketika itu Kantor Berita "Antara" tidak ada lagi, semuanya, termasuk para personelnya dicaplok oleh Kantor Berita Jepang, "Domei". Tapi kita harus selalu menyiapkan diri untuk membangun kembali kantor berita nasional. Untuk itu Adam Malik minta bantuan saya. Harian Pemandangan agar saya tinggalkan, karena tugas di situ bisa diserahkan pada tenaga lain. Saya setuju permintaan Adam Malik. Bersama saya juga Subakir. Saya diserahi mula-mula memimpin bagian kawat, mengirim berita-berita ke daerah-daerah. Lalu saya diganti Subakir. Sesudah Subakir, Rinto Alwi. Kemudian saya ditunjuk untuk mengganti Pandu Kartawiguna, sebagai Pemimpin Redaksi. Adam Malik pemimpin umum. Pandu Kartawiguna lalu entah apa tugasnya, tapi formal termasuk anggota Dewan Direksi, bersama Panghulu Lubis yang semula juga anggota Dewan Direksi. 210-275: Sebagai Duta Besar; tenaga inti "Antara" Di dalam "Antara" itu saya sangat mereka percaya. Riwayat saya jadi Dubes, sebenarnya atas usul Mr. Moh. Yamin. Saya anggota Dewan Perancang Nasional. Pak Yamin Ketua, Pak Ali Sastroamijoyo Wakil Ketua, juga Wiluyo Puspoyudo Wakil Ketua. Suatu hari Pak Yamin bilang: Sesudah Adam Malik diangkat jadi Dubes di Moskow, Diah di Praha kemudian ke London, demikian juga Anda harus segera menyusul. Saya kenal Pak Yamin sejak jaman Belanda. Ketika saya bekerja di "Aneta". Apalagi tinggal saya di Clubgebouw Indonesia, gedung yang bersejarah perjuangan nasional. Di situ tokoh-tokoh penting nasional suka berkumpul: Amir Sjarifuddin, Adnan Kapau Gani direktur di situ, Suyono Hadinoto, Sumanang, Abu Hanifah yang belakangan menjadi tokoh Masyumi, Wilopo dll. Tokoh-tokoh yang kemudian pegang peran penting dalam perjuangan nasional dan sejarah RI. Tahun 39 saya sudah kerja di "Aneta", Mula-mula tukang ketik malam dan korektor, memperbaiki stensil, akhirnya juga korektor bahasa. Di "Antara" ketika itu ada beberapa afdeling: Kawat, Subakir; Dalam Negeri, mula-mula Pandu Kartawiguna kemudian saya; Luar Negeri, Djawoto; Suroto, edisi Inggris. (275-291: Cerita ulangan tentang pertemuan dengan Adam Malik, di jaman Belanda, tentang rencana meningkatkan usaha KB nasional, antara lain usul tentang menyiapkan tenaga markonis). 291-332: "Antara" di jaman Jepang Di jaman Jepang "Antara" dianslus "Domei". Nama "Antara" tidak ada, tapi hakikatnya yang bekerja tetap "Antara". Jepang tidak terlalu mencampuri pelaksanaan pekerjaan sehari-hari. Hakikatnya Adam Malik yang mimpin. Jepang pegang otoritas tertinggi, tapi dalam pelaksanaan tidak turut campur. Nama Jepang itu H. Matano. Juga ada Watanabe, nama depannya saya lupa, lalu satu lagi kalau tidak salah Susuki. Itulah tiga orang pembesar Jepang yang dipercaya pemerintahnya. Kepala langsung "Domei", H. Matano. Dia tidak mau mendikte kita harus begini atau begitu. Ada lagi tenaga Indonesia, Ketua Bagian Luar Negeri, Sutaryo, dulu dari Taman Siswa. Tapi hakikatnya ketua bagian luar negeri Pak Djawoto. Mula- mula saya kepala bagian kawat, kemudian Subakir, sesudah itu Rinto Alwi. Tugas bagian kawat mengirim dan menyusun berita-berita untuk daerah-daerah. Misalnya untuk suratkabar-suratkabar di Semarang, Surabaya, Domei di daerah, juga ke Sumatra. 333-613: "Antara" sekitar Proklamasi Berita tentang proklamasi kemerdekaan RI, Jepang tentu saja tidak berkepentingan. Memang lalu ada perjuangan juga dalam "Antara". Ada keberanian di pihak kita, baik redaksi maupun bagian markonis, untuk menyiarkan berita proklamasi itu. Markonis- markonis kita itu, sayang saya lupa nama-nama mereka. Jalannya merekrut personel, begini rupanya. Sudah sejak semula tumbuh teman-teman yang memang bertekad untuk membangun KB Nasional. Pada mereka timbul kesdadaran, bahwa Jepang tidak akan lama berkuasa. Maka selama itu banyak pemuda yang mempersiapkan diri untuk Indonesia merdeka, termasuk di bidang kantor pekabaran nasional. Dana "Domei" tentu saja dari pemerintah pendudukan Jepang. Sesudah Jepang kapitulasi, "Antara" lahir kembali, tetap sebagai lembaga yang berdiri sendiri. Tapi dana didapat dari Kementerian Keuangan di Yogya. Juga "Antara", sesudah pindah ke Yogya, bekerja seluruhnya untuk mengabdi pada RI. "Antara" ikut pindah ke Yogya. Karena hakikatnya bekerja sebagai alat propaganda kemerdekaan RI, maka tidak akan aman jika tetap berkedudukan di Jakarta. Dalam pada itu "Aneta" berdiri lagi. Ada cerita sehubungan dengan ini. Seminggu sesudah Yogya diduduki Belanda, datang bertemu saya di Yogya Hans Martinot, pemimpin redaksi "Aneta" di Jakarta. Saya tinggal di rumah Mas Manang, di Taman Ibu Jalan Beji. Ketika itu kantor "Antara" di Jalan Tugu, sebelah Toko "Oen". Dia mengatakan diutus oleh Direksi "Aneta" dan ANP Den Haag, untuk minta saya menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin redaksi. Karena dia tahu saya dulu kepala bagian dalam negeri KB yang sekarang dipimpinnya itu. Dia sendiri akan kembali ke Belanda. "Aneta" sudah bekerja kembali di Jakarta segera sesudah Belanda masuk dan menduduki Jakarta. Tapi tidak sesegera itu mengontak saya lagi, tentunya karena mereka tahu saya orang yang berpihak pada RI. Pada waktu "periode bersiap", saya mendapat revolver dari Adam Malik berikut dengan delapan pelurunya. Waktu itu saya masih tinggal di Jalan Paseban. Tidak semua personel "Antara", diberi pestol. Setahu saya cuma saya saja. Yang menyampaikannya orang kepercayaan Adam Malik, Abdul Hakim, dulu wartawan "Kengpo" dan juga wartawan "Antara" sejak masih berkantor di Buiten Tijgerstraat. Sementara itu di Paseban saya memang menjadi pimpinan lasykar pemuda kampung, yang semuanya hanya bersenjata alat tajam. Kami mencari kekebalan pada seorang kiai di kampung Paseban situ. Suatu malam, tengah malam, saya dimandikan dengan air kembang, dan dijajal kekebalan saya oleh kiai itu dengan tikaman sebuah golok. Memang tidak mempan golok itu. Saya lupa nama Pak Kiai itu. Ketika itu saya sudah punya anak seorang. Saya mimpin lasykar pemuda Kampung Paseban dengan kekuatan 20 orang pemuda. Satu sore dengan sebuah truk, saya bersenjata revolver dan para pemuda berklewang Jepang, kami hendak menyerbu serdadu-serdadu jaga di depan istana Rijswijk. Kami hentikan truk pada jarak kejauhan, bertiarap untuk mendekati sasaran. Ternyata Belanda sudah tidak di situ lagi. Rupanya para penjaga itu ditarik kalau sore. Untung saja Belanda tidak ada. Kalau ada tentu kami mati konyol, hanya dengan satu pestol menyergap musuh yang bersenjata lengkap dan modern. Itu masih tahun 45. Karena tahun 46 "Antara" lalu ikut pindah ke Yogya. Jakarta sudah tidak lagi aman untuk kami. Ketika itu saya juga dipilih menjadi Sekretaris KNI Daerah Gang Tengah. Ketuanya Somad, pengusaha beras. Kami mengorganisasi para pemuda untuk mendatangkan beras berbal-bal dari luar Jakarta: Krawang, Cikampek dan sekitarnya. Untuk kampung sendiri, dan kampung-kampung lain. Karena ketika itu di Jakarta beras tidak ada atau sangat sulit didapat. (HABIS) ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 8 Mar 1999 jam 12:20:38 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
