----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Karena saya bodoh, saya ingin penghargaan orang,
karena saya kampungan, saya ingin nampak kotaan,

Dan karena saya ini anak gang yang terkena gegar
budaya di negeri orang, saya jelas mencoba juga
menjadi " gegar intelek " dengan memperlihatkan
sebuah dimensi berpikir yang lain dalam menulis
di internet, lihat bagaimana saya sering menyelipkan
bahasa inggris dalam tulisan, lihat bagaimana saya
mencopot pemikiran tokoh besar dan menaruhnya diantara
pemikiran diri sendiri, seolah saya ini ikutan menjadi
pemikir ulung, kadang kadang saya berpikir kenapa
saya tidak masuk jadi anggota ICMI yang takabur
itu saja? Saya kan juga sudah pantas dibilang cendikiawan?

Cendikiawan nenekmu gundul...

Boleh saja anda bilang, saya ini kampungan.
Tapi gini gini saya pecinta musik klasik seperti
Gus Dur, Ya saya harus maklumatkan kecintaan
ini supaya saya nampak berselera elit dan intelek.
Kan cuma orang orang beken yang berduit yang
menyukai musik klasik. Atau orang orang miskin
yang memaksakan diri supaya nampak berkelas,
Biar tidak dibilang ketinggalan, biar dianggap oke.

Jelas bukan seperti si Dur yang tahunya cuma
Shymphony no:9 Beethoven, saya banyak menyimak
beberapa komposisi musik yang lebih varian ,
Dengan segala intelegensi dan rasa seni tinggi ( hehehe)
Saya bisa berjam jam duduk mendengarkan Dvorak,
Vivaldi, Grieg sambil duduk menyedu red wine di musim
dingin ini ( ingat Red Wine untuk kalangan intelek,
jangan beli anggur cap orang tua )

Keseringan mendengarkan musik Intelek ini ada
juga gunanya, misalnya saya akhirya tahu bahwa
pencipta lagu " Dari Sabang Sampai Marauke "
itu menyontek penggalan" 1812 Overture " Tchaikovsky.
Juga lagu " Yesus Juru Slamat" yang sering di dendang
kan para christian di tanah air, mem-plagiat " Lullabys"
nya Brahms.

Orang intelek yang humanis seperti saya ini
gampang sekali tersentuh ( ini juga ciri ciri cendikiawan)

Ketika mendengarkan " Meditation from Thais "
karya Massenet, saya merasa melihat masa depan
Indonesia yang begitu suram.

Ketika " Barcarolle" Offenbach mengalun, dada saya
bergetaran, saya merasakan iman dan moral tumbuh
perlahan. Saya terguggah.

Dan jelas " 1812 Overture " itu membuat semangat
revolusi menggulingkan Golkar dan Habibie makin
menyala, Betapa inginnya saya membubarkan
Indonesia, agar bangsanya tidak sengsara,
Betapa inginnya kita terpecah tapi makmur, dari
pada bersatu dalam kehancuran.

Dan lagu" Dari Sabang Sampai Marauke " itu tiba
tiba hilang dalam pikiran digantikan dengan
" Dari Anyer Sampai Panarukan " karena
setelah dari  Sabang sampai Marauke Merdeka,
Indonesia yang tinggal cuma sebingkah pulau
yang namanya Jawa. A lonely and sad Island..

Perlu juga anda tahu, bahwa selain saya
inetelek dan berwawasan, hati saya juga
penuh iman.Dan konon 10 tahun yang lalu
tampang saya masih lumayan , makanya
biar miskin masih sering pacaran...

Untuk nampak intelek anda harus mengikuti
cara saya, pertama jangan kalah ilmiah dalam
menulis, kedua cintai musik Jazz dan Classic,
hindari musik musik tradisional , gambus dan
dangdut, perbanyak memakai istilah istilah
asing (Deformasi untuk perubahan,Degrasi
untuk penurunan, Stagnansi untuk kemacetan,
pokoknya yang pakai si si..)

Hindari juga memakai baju kotak kotak,
Laki laki jangan pakai giwang, cukur itu kuncir,
Hey, jangan makan di Warteg,itu memalukan
pergilah dinner di  Restaurante Italiente atau
French Kicthen dan telan itu roti dan babi walaupun
rasanya seperti ban sepeda...

Jangan naik motor silly, muka anda bisa
berminyak seperti Amien Rais, Hindari peci,
karena anda jadi mirip anak pesantren  yang pertama
kali piknik  ke Jakarta dan  foto foto di sekitar Monas.

Jangan bergaul dengan manusia yang setiap
kali menyebut  motor dengan " montor"
Kendaraan dengan " gandaran " atau mengatakan
Yess dengan" La iyak " seperti penduduk asli Bekasi.
Ingat bahasa slang seperti itu adalah racun yang
bisa membunuh image intelektual anda.

Jangan sekalipun nonton itu film film produk
dalam negeri, apalagi mencoba menamatkan
soap opera murahan dengan dubbing murahan
dari Amerika Latin yang sering di tayangkan televisi,

Dan untuk melengkapi ke cendikiawanan anda,
janganlah lupa, setiap kali melihat Harmoko,Sudomo
Baramuli dan Habibie di layar televisi, matikan itu
televisi, pergilah tidur dan bangunlah sepagi mungkin,
Ucapkan mantera ini didepan kaca untuk mempertebal
Iman dan percaya diri,

Every Morning when you look at yourself  in the mirror
You Say " Thanks God I dont look like those lossers !"


Hasan Basri

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Mar 1999 jam 01:46:45 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke