---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 09/II/11-17 Maret 99 ------------------------------ JEJAK BURUK TIM 11 (PEMILU): Hasil kerja Tim Sebelas dipertanyakan. Ada partai yang cuma bermodal mesin ketik dan faks, ternyata lolos seleksi. Pemilu akan jadi dagelan? Selain menghadapi risiko gugatan dari partai politik yang gagal masuk seleksi, hasil kerja Panitia Persiapan Pembentukan Komisi Pemilihan Umum (P3KPU) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tim Sebelas bentukan Depdagri ternyata masih menyisakan banyak pertanyaan. Dalam waktu yang sangat singkat, tanpa infrastruktur yang memadai, Tim yang dipimpin cendekiawan Nurcholish Madjid sanggup meloloskan 48 partai untuk ikut berkompetisi dalam Pemilu. Sisanya, tak kurang dari 93 partai, apa boleh buat, harus kalah sebelum bertanding. Bagaimana sih cara kerja Tim Sebelas ini? Itulah pertanyaan yang belum terjawab secara jelas. Wajar, begitu tim mengumumkan hasil kerjanya, beberapa partai yang tak lolos langsung berniat banding. "Pemilu ini masih bergaya Orde Baru. Kami mempertanyakan cara kerja P3KPU yang hanya punya waktu 36 jam untuk bekerja di 10 propinsi," kata Balkan Kaplale, Ketua Umum Partai Mencerdaskan Bangsa yang gagal ikut pemilu. Pentahapan cara kerja Tim Sebelas barangkali sudah benar. Pertama, mereka meneliti dulu kelengkapan administrasi masing-masing partai. Hasilnya, 60 partai dari 106 partai yang mendaftar lulus ujian. Saringan kedua, verifikasi di lapangan. Nah, tampaknya, saringan kedua ini lah yang kedodoran. Dibagi dalam dua gelombang keberangkatan, akhir Februari dan 2-3 Maret, sebelas anggota tim itu disebar ke 19 propinsi. Artinya, ada 8 propinsi yang tidak disentuh. "Termasuk propinsi Irian Jaya," kata salah seorang anggota Tim Sebelas. Hasilnya, ya itu tadi, 12 partai rontok lagi. Dengan jatah waktu yang cuma 36 jam, pada gelombang kedua verifikasi, cara kerja Tim Sebelas memang layak dipertanyakan. Itu sebabnya, ada kecurigaan, pengumuman partai lolos seleksi lebih bersifat politis ketimbang ilmiah. Justru karena itu, barangkali banyak pengurus partai yang berhak ikut pemilu, sekarang senyum-senyum geli. Tak menyangka kalau partainya bakal ikut pemilu. Sebut saja Partai Kristen Nasional Indonesia (Krisna) pimpinan Ny CML Sitompul Tambunan yang beberapa pengurusnya juga bermarga Sitompul. Setelah dicek, alamat mereka ternyata sama, ya di rumah Ny Sitompul itu. Atau Partai Solidaritas Pekerja Suluruh Indonesia (PSPSI), yang punya hubungan dekat dengan Ibnu Hartomo -adik bekas Presiden Soeharto- dengan bangga malah mengaku cuma bermodal mesin ketik dan faksimili, tapi ternyata lolos seleksi. Pengurus pusatnya, menurut sumber Xpos, sama sekali tak kenal dengan pengurus cabang-cabang di daerah. Lebih konyol lagi adalah PDI pimpinan Budi Hardjono. Kalau mau jujur, partai boneka pemerintah Orde Baru ini sebenarnya sama sekali tak layak ikut berkompetisi. Pasalnya, menurut sumber Xpos di Depdagri, setelah diverifikasi, anggota tim tak bisa menemui para pengurusnya. "Mungkin mereka takut atau justru memang sama sekali tak ada pengurusnya di tingkat cabang," kata sumber tadi. Ini masuk akal, lebih-lebih dengan beberapa peristiwa memalukan yang menimpa Budi Harjono ketika melawat di daerah. Di Lampung, misalnya, Budi harus rela babak belur dihajar massa. Begitu pula di Ponorogo, Jawa Timur, ia dan beberapa pengurus pusat lainnya terpaksa lari tunggang langgang dikejar pendukung PDI Perjuangan. Tapi PDI Budi Hardjono harus lolos seleksi. Karena kalau tidak, ini tentu akan mempermalukan pemerintah, terutama Mendagri Syarwan Hamid yang dulu mati-matian mendepak Megawati. "Pertimbangannya memang politis," lanjut sumber tadi. Tak bisa dibayangkan, dengan cara kerja tim yang kedodoran seperti itu, bagaimana bisa pemilu Juni mendatang mampu menghasilkan wakil-wakil rakyat yang berkualitas. Masalahnya, selain mekanisme penyaringan yang tampak asal-asalan, banyak di antara partai yang lolos seleksi sengaja didirikan hanya sekadar untuk mengeruk keuntungan. Dari total dana yang dikucurkan United Nation Development Program (UNDP) untuk pemilu di Indonesia yang berjumlah tak kurang dari US$30 juta, misalnya, sebagian di antaranya memang jatuh ke partai-partai tersebut. Ini belum termasuk partai-partai ajaib yang menyusu ke Ibnu Hartomo. "Itu kan proyek," kata seorang pengamat politik UGM. "Kasihan partai-partai yang serius seperti PDI Perjuangan, PAN atau PKB," tambahnya. Pemilu Juni mendatang pasti memusingkan. Setidaknya bagi para pemilih. Betapa tidak, ada 48 partai yang harus diteliti satu per satu, sebelum seseorang menentukan pilihannya. Padahal tidak semuanya merupakan partai serius. Ada yang cuma ndagel. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 13 Mar 1999 jam 20:32:54 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
