---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- KOLOM Arwah Perwira Alengka. Surat Kepada Empu Supo. 14 Maret 1999. Jam 12.00 WBBI Yang saya hormati dan saya banggakan, Empu Supo. Maafkan Arwah Perwira Alengka kali ini menggunakan jalur umum untuk berdialog dengan Empu, sebab banyak substansi politik yang harus kita sosialisasikan, dan bukan hanya jadi pemikiran kita berdua. Hemisphere otak sebelah kanan sudah penuh, daya analisis sudah mulai stagnan, sehingga Arwah Perwira Alengka perlu mengambil jarak sementara waktu terhadap masalah perpecahan anak bangsa ini, untuk selanjutnya dibagi bagikan kepada para netters untuk secara bersama sama memikirkannya dengan lebih jernih dan tenang. Pertama tama perlu Arwah Perwira Alengka tegaskan bahwa Amerika bukanlah musuh Neo Alengka, dan gambit Sadam terlalu kejam dampaknya bagi kehidupan rakyat Neo Alengka. Karena itu---, segala upaya untuk memprovoke sentimen anti Amerika dan Australia yang mengarah ke variant Gambit Sadam dengan jihadnya---, untuk sementara harus dihentikan. Mohon Empu Supo mensosialisasikan pemikiran ini via semua jaringan yang ada. Mungkin mundur selangkah untuk menang--- lebih baik dari pada salah kaprah dan bangsa Neo Alengka ini jadi terpecah belah. Pluralisme Neo Alengka rasanya tidak sama dengan Irak atau Libya, apalagi sejarah KKN nya juga sangat berbeda. Pemerintahan mereka bersih dan didukung sepenuhnya oleh rakyatnya---, sehingga dengan membangkitkan insting ultra nasionalismenya--- mereka mampu bertahan dengan variant gambitnya. Tetapi situasi Neo Alengka sangat berbeda. Sentimen anti pemerintah nan KKN membuat posisi politik Neo Alengka kini sangat fragile. Seperti yang Empu ketahui----, Ambon, Aceh, Irian dan Tim Tim serta Riaw dan Kalimantan Barat adalah trigger point untuk efek domino collaps nya Neo Alengka. Begitu juga Empu---, dengan dikebiri dan dipasungnya Neo TDA dengan issue issue universal human right yang di dengung dengungkan ---, habislah sudah perekat bangsa ini. Mozaik mozaik itu kini tercerabut dari akarnya dan mulai berserakan. Tidak ada lagi organisasi massa yang betul betul solid selain Neo TDA yang justru anehnya---, sampai saat ini masih terus di hujad oleh sebagian anak bangsa ini tanpa sadar bahwa mereka sedang di adu domba. Frankly speaking Empu ---, sebenarnya kita cuma tinggal tunggu waktu. Mau di apakan kerajaan Neo Alengka ini oleh kaum invader dari utara ( baca barat ). Mau di former Jugoslavonyankan atau di former Unisovyetkan--- belum jelas. Tetapi arahnya kelihatannya kita harus bersiap siap jadi Tweede Bosnia. Seorang saudara liar kita---, saat ini sedang mainkan gambit politik versi Sudan dengan mengemis politik kemana mana. Sebetulnya Empu----, hal ini juga sangat memalukan Alengka,s Dignity. Tapi sudahlah----, semua orang punya cara sendiri sendiri. Sebagai bangsa yang baru 50 tahun merdeka --- kita belum bisa sepenuhnya terlepas dari mental van der cooli. Kita ikuti saja dulu permainan gambit politik versi Sudan nya saudara liar kita itu---, toh gambit ekonomi Sudan yang mengundang IMF dan WB juga sudah berlangsung lama. Kita lihat saja bagaimana reaksi anak bangsa terhadap gambit politik Sudan ini. Yang perlu Empu Supo pikirkan adalah analisis analisis lanjutan seperti gambit gambit Tazhikistan, Ukraina, Latvia, Estonia dll ---, dimana negara negara tersebut terpaksa jual perangkat senjata nuklir sisa USSR mereka, demi kebutuhan hidup setelah lepas dari Uni sovyet--- yang di Neo Alengka artinya adalah jual BUMN, jual bank dan jual semua potensi alam dan bahan tambang yang ada secara forward trading alias ijon. Mohon analisis yang dalam dari Empu. ( Perlu diperkenalkan Empu Supo ini adalah seorang Kiai Metal muda usia---, Ahli Tasawuf---, sekaligus ahli analisis rasional yang berdasarkan educated guest . Beliou seorang Tiangloo Ciganjur yang ahli strategi. Dia ada dimana mana tetapi tidak suka mucul di media massa. Siapa dia-----? Tanya patih Djadja Suparman ) Kecemasan lain saat ini adalah pinjaman asing yang semakin menggunung. Sementara tujuan taktis pemerintah adalah ambil semua bank beserta asset dan hutang piutangnya dengan segala taktis dan tekniknya---yang merupakan inti bisnis di Alengka, dengan harga yang sangat murah. Ini taktis teorinya. Tetapi--- jika kerusuhan tetap terjadi dan berlarut larut sehingga ekonomi macet---, investasi asing tertunda, import bahan baku sulit---, buruh demonstrasi---, sehingga tidak terciptanya iklim bisnis yang sehat di Alengka---, ini akan mengakibatkan seperti membeli pepesan kosong---, sementara cepat atau lambat pinjaman pinjaman luar negeri Neo Alengka ini akan jatuh tempo tanpa kita sanggup bayar. Lalu bisa Empu Supo bayangkan bahwa hutang hutang tersebut akan default dan collaps lah Neo Alengka. Dan selanjutnya yang terjadi adalah Neo Alengka yang take over dan Neo Alengka yang dilikuidasi oleh negara asing. Setelah itu, fase selanjutnya adalah----, seolah olah tuntutan provinsional dalam negeri--- padahal di picu oleh pemberi pinjaman terbesar---, Neo Alengka dituntut untuk dimerger ulang---- dimana beberapa propinsi Kristen digabung jadi satu kerajaan baru dan banyak propinsi Islam lainnya digabung jadi kerajaan lain lagi. ( Walau prosesnya tidak sesederhana itu ) Alasan mereka untuk intervensi dan take over Neo Alengka sangat sederhana---Empu Supo. Jika Neo Alengka dengan 240 Milyard dollar hutang luar negerinya sampai default dan collaps, sementara keamanan dalam negeri Neo Alengka juga kacau balau----, maka sekian banyak lembaga keuangan dunia diperkirakan juga akan ikut collaps. ( Ingat collapsnya Perigrine di Hongkong ). Dan ini tidak diinginkan oleh luar negeri (walaupun sebenarnya inilah jebakan dan pancingan mereka--- ). Dan demi alasan menghindari collapsnya perekonomian dunia ( tepatnya resesi global ) maka kasus Neo Alengka ini akan di blow up / dramatisir untuk selanjutnya dijadikan kuda Troya yang masuk ke Neo Alengka untuk menggebuk Presiden Habibie atau siapapun raja setelah itu. Semoga saja Arwah Perwira Alengka salah Empu Supo----, soalnya Arwah Perwira Alengka baru baca sejarah berakhirnya Uni Sovyet. Sejarah--- yaaa sekali lagi sejarah--- bagi anak sekolahan ---- tidak berarti apa apa, kecuali pengulangan nama-tempat---, dan tanggal. Namun bagi Arwah Perwira Alengka sejarah itu adalah patron yang harus dikaji ulang----, mengingat para inteligen asing juga selalu menggunakan patron lama dengan sedikit menambahkan variant baru. Maka--- Empu Supo, dengan pandangan yang tidak memihak--- Arwah Perwira Alengka coba melakukan kilas balik sejarah. Semuanya dimulai dengan diberlakukannya UUD RIS tahun 1949 dimana situasi Alengka cukup resah saat itu akibat pro dan kontra UU produk Belanda itu. Masih dalam frame yang sama tetapi pandangan berbeda , timbul APRA Westerling tanggal 23 January 1950 yang dengan 800 prajuritnya menimbulkan kerusuhan di Bandung dan coba menyusup ke Jakarta untuk membunuh beberapa mentri kabinet RIS. Tiga bulan kemudian timbul perlawanan Andi Aziz di Ujung Pandang pada tanggal 5 April 1950. Masih pada bulan yang sama, tepatnya 25 April 1999, RMS Soumokil mengguncang Ambon ( modus ini coba di ulang lagi di tempat yang sama saat ini ). Enam bulan kemudian, yaitu 10 Oktober 1950, perlawanan Ibnu Hajar terjadi di Kalimantan Selatan. Baru setahun tenang Empu--- ( sebetulnya tidak pernah tenang---, sebab pergolakan pergolakan diatas meninggalkan benih benih dendam yang tidak pernah terkuburkan dan rata rata pergolakan ini diselesaikan dalam waktu yang cukup lama), lalu muncul perlawanan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan. Dua bulan berikutnya, tanggal 5 Desember 1951 perlawanan Yon 426 / DI TII muncul di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Belum selesai sampai di situ----, muncul Daud Beureuh di Aceh pada tanggal 20 September 1953. Pergolakan pergolakan ini memakan waktu---, tenaga----, pikiran----, uang----, dan nyawa baik kaum militer---, maupun warga sipil yang cukup besar---, yang saat ini sepertinya hilang begitu saja dari ingatan kaum muda Neo Alengka. Sementara keadaan ekonomi terus memburuk dan keseimbangan pendapatan pusat dan daerah terus menjadi sorotan---, pada tanggal 20 Desember 1956, Berdirilah Dewan Banteng di Sumbar dan Dewan Dewan lainnya secara bersamaan. Dan pada 15 January 1958 timbullah perlawanan PRRI / Permesta di Sumbar dan Sulut yang mendapat bantuan setengah hati dari Amerika. Setelah sekian lama dalam ketidak pastian--- Empu Supo---, barulah 7 Juli 1959 muncul dekrit presiden. Sayang Presiden dan dekritnya juga terlalu euphoria dengan politik luar negerinya sehingga Alengka tetap terombang ambing antara politik kiri - politik kanan dan rencana perekonomian yang tidak jelas. Untuk tanggal tanggal diatas---- Arwah Perwira Alengka tidak terlalu pasti---, sebab dari sekian banyak referensi yang Arwah Perwira Alengka baca---, terdapat perbedaan tanggal atas kasus yang sama. Ada penulis yang memuat tanggal saat awal gerakan, ada yang mencatat tanggal puncak gerakan, ada juga yang memuat tanggal diselesaikannya perlawanan. Arwah Perwira Alengka tidak ingin mengulangi pelajaran sejarah. Seperti yang Empu Supo tahu---, kita sudah bosan dan muak dengan pertumpahan darah. Yang ingin Arwah Perwira Alengka angkat dari pengulangan sejarah ini adalah substansi dari pergolakan itu sendiri. Apa yang menyebabkan mereka bergolak. Apa untungnya bagi mereka dan apa ruginya bagi Alengka. Dan berapa besar economic cost dan social cost nya. Tolong Empu Supo analisis dan buatkan skema patronnya dengan educated guest / tesis analisis kualitatif----, bukan instingtif atau intuisi semata----! Dan yang paling menarik---, semua kerusuhan diatas---, umumnya melibatkan militer yang masih terpecah belah dan sangat heterogen saat itu dimana merasa tidak puas dengan kondisi daerah asalnya---, sehingga mereka membentuk perlawanan. Namun situasi dahulu dan saat ini sangat berbeda. Militer saat ini sangat solid---, tetapi justru kesolidan ini dipasung dan dikebiri oleh universal human right Menurut Empu----, mampukan Neo TDA menyelesaikan kasus kasus perpecahan anak bangsa kini--, dibalik pasungan universal human right tersebut? Cukup kuatkah Neo TDA untuk melakukan Tien An Men ke II dimana untuk sementara waktu kita lupakan pasungan universal human right itu dan demi kesatuan Neo Alengka ini kita hancurkan setiap pemicu keributan itu dengan tegas. Mampukah kita ciptakan kondisi seperti itu tanpa menimbulkan keresahan dan anti pati di kalangan rakyat Neo Alengka. Cukupkah sosisalisasi waktu dua bulan untuk melaksanakan semua ini. Apa resikonya bila Neo TDA melakukan hal tersebut. Apa beda patronnya bila Neo Alengka di take over by foreigners et causa bed debt dengan Neo Alengka di take over by Neo TDA et causa chaos --- sementara take over by Neo TDA akan dilanjutkan dengan pembentukan presidium yang diperluas. ( ini kalimat conditional ) Atau jika hal ini terlalu riskan bagi masa depan rakyat Neo Alengka---, bisakah kita berbicara dengan Amerika, Eropah, Australia dan negara lainnya---- sebagai sahabat sejati----!!!!. Dari pada kita harus menempatkan mereka dalam posisi saling hadap dan saling curiga dengan kita?. Itu jauh lebih baik dari pada kita menyebut mereka dengan sebutan provokator asing--- atau invader dari utara. Selain itu Empu Supo---, bagaimana kita tetap bisa menjaga Alengka,s Dignity tanpa harus mainkan variant gambit Sadam, Gambit Sudan dan gambit Ukraina segala. Menurut Empu---, apakah yang mereka inginkan dari kita, yang masih bisa kita akomodir dalam nilai nilai Alengkawi -tanpa mengurangi Alengka,s Dignity?. Konsesi baru----?. Perpanjangan konsesi lama---?. Merger cultural---?. Atau bentuk pemerintahan yang lebih moderat dengan American Oriented?. Mungkin ini terlalu berat bagi Empu untuk dipikirkan sendiri---, tetapi di kelompok kita---kan masih ada Khalil Gibran, Aurang Zeb dan si Alay Gray Span. Begitupun--- kalau Empu Supo rasa kelompok lima ini masih terlalu kecil untuk PR sebesar ini--- maka menurut Arwah Perwira Alengka--- , kita tidak boleh sok intelektualis dan menjadikannya hanya PR kita berlima. Biarlah pertanyaan pertanyaan diatas menjadi PR bagi para netters semua---, sebagai wujud tanggung jawab moral mereka menjadi warga negara kerajaan Neo Alengka ini. Kita berlima hanyalah satu sel dari suatu sistem organisasi Neo Alengka yang begitu luas. Kita ini tidak ada arti apa apa----. Alangkah bahagianya satu orang Arwah Perwira Alengka---, saat ini masih dibantu dengan 4 orang pemikir sipil --- yang bahu membahu berpikir demi keselamatan Neo Alengka dengan basis Neo TDA sebagai dasar organisasi. Pemikiran model Ayatollah Khomeini yang mendesign cultur pemerintahannya mundur 20 tahun kebelakang untuk pelan pelan bergeser ke tengah seperti yang dilakukan Khatami saat ini rasanya tidak cocok untuk Neo Alengka yang pluralistik. Untung kita masih punya beberapa pilihan cadangan lain yang terlalu sensitif untuk di bicarakan di milis ini. Empu Supo yang saya hormati dan saya banggakan. Yang Arwah Perwira Alengka ingin tekankan pada seluruh rakyat Alengka saat ini adalah--- : Walau Neo TDA bergabung dengan seluruh LSM, seluruh partai politik, seluruh konglomerat, seluruh birokrat, seluruh teknokrat dan seluruh umat Islam bahu membahu jadi satu dengan seluruh umat Kristen-------, untuk melawan satu negara kecil seperti Singapura saja --- dalam perang ekonomi----, kita tidak akan menang. Apalagi dalam kondisi amburadul seperti saat ini----. Karena itu sangat riskan untuk mengembangkan sentimen anti asing atau tepatnya sentimen anti barat pada saat saat kritis begini. Kesombongan kita menolak IGGI dan merobahnya menjadi CGI adalah kemenangan sesaat--- tetapi membuat pihak asing mengambil keputusan untuk mendesign jebakan baru----, yang baru kita rasakan delapan tahun kemudian--- yaitu saat ini. Karena itu Empu Supo----, bila dalam kondisi amburadul seperti saat ini ---, kita masih bicara soal jihad---, maka Arwah Perwira Alengka tidak ragukan soal keberanian kita untuk mati----, sebab mati memang adalah kebanggaan kita sebagai kaum Muslim---, tetapi tidakkah lebih baik--- bila kita berpikir lebih strategis---, yaitu bagaimana caranya untuk bertahan hidup dalam posisi terjepit. Yasser Arafat boleh terlunta lunta dan terhina hina---, tetapi tidak Palestina. Yasser Arafat boleh terjepit antara faksi faksi garis keras Abu Nidal, George Habas , Al Fatah dll, tetapi Palestina tetap harus go international tanpa dipasung oleh cacat cacat universal human right. Mengapa---, karena Yasser Arafat mengerti posisi peta geo politik nya. Tidak seperti Achmad Sumargono alias Gogon dan yang lainnya yang main di sayap kanan. Bagi orang yang mengerti sejarah terorist Palestina---, George Habash adalah seorang terorist Palestina beragama Kristen---, yang memperjuangkan hak hak nya sebagai warga Palestina secara radikal / garis keras dengan melakukan rangkaian kegiatan teror yang sangat menakutkan pihak Barat. Adakah yang tahu bahwa George Habash, tokoh terorist terkenal Palestina tersebut beragama Kristen? Adakah perbedaan nuansa Islam-Kristen dalam perjuangan mereka ini----?. Bagi saudara kita yang inward looking--- Empu Supo---- yah memang ada. Palestina itu identik dengan Islam--, Israel itu identik dengan Kristen. Padahal agama kaum Bani Israil ini bukan Kristen. Dan tidak seluruh warga Palestina itu Islam. Dan jika Empu Supo dan para netters di milis ini baca The Jakarta Post dua hari yang lalu, ada seorang gadis Arab yang menjadi ratu kecantikan di Israel--- tentu adalah hal yang mengejutkan. Sementara bagi yang outward looking----, semua itu adalah biasa biasa saja--- tergantung prinsip individunya atas paham kebangsaan dan kenegaraannya---, bukan paham keagamaannya. Sekarang kita bicara Ambon. Apa bedanya Ambon ini dengan Lebanon dahulu. Buka sejarah Lebanon yang merupakan Monaconya Timur Tengah dengan pantai yang penuh bikini. Suatu sorga dunia di Timur Tengah. Dan mereka mulai porak poranda ketika pengungsi Palestina masuk dan merobah posisi keseimbangan Kristen Islam--- disana, dimana pada awalnya Kristen sedikit lebih dominan yang kemudian berbalik arah. Ketika Lebanon hancur akibat masalah yang sangat complicated seperti Ambon----, sedikit sekali warga Alengka yang mengerti akar permasalahannya dan melulu menganggap itu perang Islam lawan Kristen. Padahal masalahnya is not that,s simple bukan?. Begitu juga akar masalah konflik Ambon ini. Faktor agama hanyalah salah satu predisposing factor. Bukan faktor utama. Jika kemudian pemisahan terjadi berdasarkan kelompok agama--- itu adalah pemisahan instingtif yang terjadi kemudian. Pola pengelompokan paling gampang. Kita balik kebelakang dan tinjau posisi emosi kita saat awal permasalahan bakar dan jarah ini dimulai dari Situbondo---, Tasik Malaya----, Ujung Pandang--- , Pekalongan---, Banyuwangi---, Medan---, Jakarta---, Solo dll dll dll sampai Kerawang dan Ketapang. Ketika yang kena bakar dan kena jarah adalah etnis Cina dan gereja gereja---, kita diam saja. Kenapa---? Karena mereka triple minority. Sudah Cina---, pendatang---, Kristen----, kaya lagi---!. Dan persoalannya kita diamkan saja sampai disitu. Dan para Cina ini dalam takutnya juga diam. ( Maaf para netters--- "Cina" adalah sebutan yang lebih terhormat dari pada Tiong Hwa yang penuh Euphemisme ). Mereka diam---, mereka tahan pukul---, mereka tahan gebuk karena mereka sadar mereka memiliki triple minority. Yang ribut malah Huaren Organisation dan Overseas Chineses yang melakukan gemboran di seluruh penjuru dunia. Dalam konteks situasi yang sama----, ketika di Ambon muncul pendatang Sulsel dengan double minority---- ( bukan triple ), yaitu mereka non Kristen dan mereka jadi kaya----di daerah Kristen, maka pola kerusuhan yang selama ini provokator lokal lihat di Televisi----, mereka hafalkan ----, dan juga mereka terapkan didaerahnya---!. Bagi yang beragama Kristen--- sikat pendatang yang bukan Kristen sekaligus balas dendam kasus Ketapang dan bagi Ambon yang beragama Islam---, lakukan balas dendam atas kematian teman Pam Swakarsa mereka tewas di Cililitan. Pokoknya saling balas dendam. Menurut mereka--- paling jauh situasinya cuma seperti penjarahan toko toko Cina, yang kemudian berakhir aman aman saja. Namun reaksi yang terjadi ternyata sangat berbeda dari target di ramalkan. Nasi telah menjadi arang . Pertarungan yang terjadi sangat keras, sebab masing masing pihak merasa indigenous, origin atau tepatnya native di daerah tersebut. Dan model reaksi beginilah yang tidak diduga provokator lokal yang Ciganjuran itu. ( Arwah Perwira Alengka dapat kabar YR di bacok---- apa bener ? )Tetapi kondisi beginilah yang sangat di dambakan oleh kaum provokator international. Mereka justru menginginkan adanya perang jihad / yang menurut mereka adalah perang salib--- dimana puluhan ribu umat Islam menyerbu Ambon justru yang sangat mereka harapkan.. Provokasi atas provokasi---, dimana pemain lokal akhirnya selalu di tunggangi oleh pemaing asing. Jika penyerbuan jihad ini terjadi----, dimana posisi kaum Kristen terdesak---, RMS akan resmi berdiri----!!! Pihak asing tidak perlu hitung harga berapa nyawa yang melayang. Yang penting targetnya tercapai. Setelah sampai batas tertentu dimana sekian ribu nyawa orang Kristen telah hilang---- dan dunia sudah terguncang dengan blow up nya CNN, maka UN Peace Keeping Force pun bisa masuk Neo Alengka dengan alasan kemanusiaan. Telah terjadi genocide atas ribuan warga Kristen. Dan Neo TDA bertindak tidak adil. Neo TDA telah berpihak dengan membiarkan---, bahkan membantu kaum Muslim menghilangkan nyawa kaum Kristen dll dll dll. Suatu psy war yang sudah bisa diramalkan. Lalu dengan dasar ini mereka paksakan referendum--- dan seperti skenario biasa----, "Ambon akan merdeka di bawah bendera RMS--- atau dibawah salah satu bintang di bendera Amerika". Suatu skenario yang akan membuat para provokator lokal akan menyesal seumur hidup--- melihat permainan adu gundunya ---- ternyata ditangan pihak asing bisa dikemas menjadi permainan Playstation Tomb Rider III yang luar biasa variantnya. Peperangan sampai titik darah yang penghabisan. Bukankah demikian---- Empu Supo?. Untuk itulah Empu Supo--- melalui pesan kepada Madam Albright---, Arwah Perwira Alengka sampaikan---: "Dalam azas universal human right yang selalu disebut sebut Madam Albright----, berilah rakyat Neo Alengka ini kesempatan untuk menjalankan dasar dasar universal human right itu---, yaitu self determination". Tanyalah seluruh anak bangsa Alengka ini terlebih dahulu---, apakah mereka ingin bentuk kerajaan yang unitaris atau federalis. Jangan dengar suara satu dua atau orang saja yang merupakan suara vokal minority. Sejarah dan survey telah membuktikan --- berlakunya RIS selama 10 tahun di Alengka---, dari tahun 1949 sampai 1959 telah meninggalkan banyak bekas bekas noda kesalahberpihakannya Amerika yang sampai saat ini masih kuat membekas. Allan Pope---, dan dropping senjata untuk PRRI tidak bisa di hilangkan atau dilupakan begitu saja dari catatan sejarah. Walaupun semua itu telah kami lupakan---- dan Amerika adalah sahabat kami---, tidakkah kehilangan tongkat dua kali sangat menyakitkan bagi Uncle Sam. Telah secara jelas terbukti bahwa rakyat Alengka menolak bentuk kerajaan federalis. Walau alam demokrasi dalam suasana federalis memang sangat indah----, penuh kebebasan--- tetapi nyaris tanpa konsep pembangunan ekonomi sama sekali. Kabinet jatuh bangun tiap bulan. Konstituante bubar tiap saat. Sehingga tiada suatu kepastian akan masa depan. Jika hal ini yang Madam Albright inginkan bagi Neo Alengka---, jika pembodohan ini yang Madam Albright anggap sebagai solusi dari sebuah ancaman munculnya negara Islam terbesar di dunia---, rasanya staf ahli Madam Albright soal Alengka itu perlu di ganti. Dia tidak memahami ipoleksosbud etnis Alengka suku per suku----!!!. Mereka main hitung global saja----, Mereka membedakan Neo Alengka ini seperti membedakan etnis Hutu dan Tutsi belaka----!!! Padahal yang namanya Katolik saja di Neo Alengka ini ada yang Jesuit ada yang Fransciscan. Apalagi Islam, Kristen Hindu dan Buddha. Ini belum bicara suku. Dan bila model Hutu dan Tutsi yang ingin diterapkan--- jelas ini tidak sejalan dengan universal human right yang Madam Albright sering gemborkan itu. Begitu juga---- Empu Supo----, Madam Albright yang penuh keibuan ini juga sering bicara tentang Nelson Mandela yang typical seorang guru dan Slobodan Milosevic yang contoh Tiran. Dalam konteks ini Arwah Perwira Alengka ingin bertanya--- bagaimana peran negara Paman Sam kini---?. Akan menjadi guru yang baik bagi kita kaum Alengkawi----, seperti Nelson Mandela yang merasa setara dan sejajar--- saling transfer ilmu dan transfer know how ---- tanpa intervensi dan arogansi yang merendahkan Alengka,s Dignity----, atau bersikap seperti Slobodan Milosevic---, sang Tiran Agung yang sepertinya selalu mengancam dan memaksakan kehendak yang bertujuan menarik keuntungan dari kita kaum Alengkawi. Kaca mata instingtif rakyat Neo Alengka kok melihatnya ---- lebih sebagai calon Tiran---, dari pada sebagai guru bangsa. Koreksi Arwah Perwira Alengka bila salah. Maka--- karena itu---, dengan segala kerendahan hati---- kepada Mr Stapleton Roy--- mohon sosialisasikanlah nilai nilai Amerika corak baru yang menyejukkan dan friendly bagi kami dimana selanjutnya Amerika dan NATOnya ----, dapat kami jadikan pegangan dalam melaksanakan reformasi ini. Koko Handoko pernah bilang mungkin Mr Stapleton Roy perlu baca Seven Habits nya Stephen R Convey---, sehingga Mr Stapleton bisa meyakinkan kami--- bangsa Neo Alenga--- bahwa Amerika adalah benar benar teman kami---, dalam susah dan senang. Selama ini---, cara cara penyelesaian kasus diktator seperti Shah Iran, Marcos, Daniel Ortega, Papa Doc, dan banyak kasus lainnya sudah tertanam sangat jelek di image kami---, walau kejahatan para diktator itu memang lebih jelek lagi. Tetapi kami bosan dengan sifat munafik habis manis sepah dibuang. Tidak dapatkah kita buatkan sebuah skenario yang lebih indah dan manusiawi di mata dunia kini---, dimana untuk para Diktator mantan binaan Amerika ini---, janganlah lagi habis manis sepah ditendang---, tetapi sebaliknya---- sisa sisa sepah itu kan masih dapat manfaatkan---, di press---, dijadikan sebagai bahan baku pembuat kertas. Kertas yang ber eko labeling--- sehingga bermanfaat bagi kita semua tanpa menimbulkan dendam dendam baru. Sejujurnya--- Empu Supo---, sebagai Warga Neo Alengka yang memegang teguh Alengka,s Dignity----, walau bagaimanapun sejelek jelek nya Eyang Suharto dan HBB---, mereka adalah mantan raja dan raja kita saat ini. Jika kita kita yang menghujad mereka---- , ( Arwah Perwira Alengka mohon maaf atas artikel kemarin kepada Bapak Habibie dan Patih Ghalib atas telepon gaibnya ) itu urusan dalam negeri kerajaan Neo Alengka kita. Tetapi jika Madam Albright dan Amerika ikut ikutan campur tangan dalam hal ini---, itu sangat melanggar rasa Alengkawi Dignity---!!! Dan -----, apa bedanya nanti antara Madam Albright atau Mr Cohen atau tepatnya Mr Clinton dengan Slobodan Milosevic--- sang Tiran Agung. Begitupun---, bagi segenap slagorde Neo TDA---, sekali lagi Arwah Perwira Alengka tegaskan bahwa Amerika dan segenap warga Utara dan Barat---bukanlah musuh Neo Alengka---, melainkan sahabat sahabat kita disaat susah dan senang. Bila ada pimpinan Alengka yang kurang beres saat ini--- dan coba memprovoke gambit gambit kejam itu, tinggal beri tahu kami----, biar Neo TDA yang membereskan nya. Menurut para netters katanya Neo TDA bodoh bodoh. Tidak apalah. Yang penting lambat laun semua urusan coba kita selesaikan. Jika dulu VOC untuk menjalankan verenigingnya perlu klerk klerk inlanders----, maka mereka dirikanlah Tweede School yang artinya sekolah ongko loro, maka saat ini---, WTO dalam rangka menjalankan world tradenya membutuhkan menejer menejer pribumi, maka mereka dirikanlah program S2 menejemen atau S loro. Adakah bedanya----, antara dahulu dengan sekarang----, antara tamatan ongko loro dan S loro. Rasanya tidak ada. Toh tetap sama saja---, kita semua tetap saja bertikai. Kita tetap saja berantem. Mana itu menejemen konflik--- yang umumnya dikuasai dan dipelajari oleh semua kaum S2 di Neo Alengka ini. Sementara pimpinan Neo TDA---, yang tidak pernah belajar menejemen konflik ---, atau organizational behaviour segala--, harus bertanggung jawab atas setiap konflik yang mereka buat. Dan anehnya--- kami selalu dituduh terlambat---, tidak siap---, bodoh bodoh dsb dsb. Aneh. Siapa yang lebih bodoh. Kaum intelektual Neo Alengka yang provokator atau Neo TDA. Sekarang soal telik sandi. Jika rakyat Neo Alengka menginginkan aparat intel yang lebih siap dari kaum provokator---, maka dengan kalimat "conditional if " Arwah Perwira Alengka mohon semua telephone selular model GSM dihapus dan diganti dengan sistem AMPS saja agar mudah disadap. Juga undang undang penyadapan telepon minta diratifikasi sehingga oknum oknum yang kami duga provokator dapat kami sadap dan ketahui gerak geriknya. Juga semua media cetak, radio dan televisi yang membingungkan dengan statement statement nya baikan di tutup sehingga semua berita kembali streamline seperti dahulu. Juga semua internet provider minta di tutup sehingga tidak ada lagi informasi menarik seperti yang ada di milis ini. Jika semua ini dapat dilakukan--- bisa para netters lihat---, bagaimana para intel Neo TDA nanti bekerja. Sekali lagi semua ini adalah " if nya conditional ". Bila dalam memperjuangkan ekonomi kerakyatan--- kita perlu keberpihakan---, maka untuk mendukung terlaksananya ekonomi kerakyatan ini---, kan Neo Alengka butuh stabilitas---!!!. Dan stabilitas itu kami jamin dapat kami berikan bila hal hal diatas dapat di terapkan kembali. Mohon bapak Adi Sasono memperjuangkan pembubarab pers bebas--, pembatasan internet---, pembatasan penggunaan hand phone dan pemberdayaan culik dan bunuh kembali. Dan ---, yang paling penting bagi bagi duit pada kami dong. ( Bagaimana CIA, LSM LSM, kaum reformis --- boleh kan---- ???) Saat ini sepertinya intel nya Gus Dur lebih mengakar dan lebih kuat dari pada intelnya Neo TDA dan seringkali Arwah Perwira Alengka---, terpaksa harus tanya ke agen agen di Ciganjur dari pada ke BIA--- karena informasi mereka lebih tajam, cepat dan akurat . Ketika dua kaki struktural dan cultural--- salah satu mengalami kemacetan--- maka fungsi itu akan diambil alih secara otomatis. Saat ini jalur struktural agak macet--- maka yang main adalah jalur cultural. Jadi tidak heran jika Gus Dur dengan jalur informasi cultural akar rumputnya---, menguasai jalur informasi yang lebih tajam terpercaya. Cuma sayang tidak ada bukti. Ini kacaunya. Karena itu, walau statement statement Gus Dur ini kebanyakan kontroversial, kami tetap menganggapnya bagian dari peringatan agar orang yang disebutnya tidak neko neko lagi sebab sudah jadi sorotan publik. Dan soal pembatasan pembatasan pers dan sarana komunikasi--- lupakanlah. Walaupun disebut bodoh---, lambat dsb --- semua pembrangusan itu tidak akan kami lakukan. Jika itu Neo TDA lakukan---- hanya untuk disebut tidak bodoh-----, maka anak bangsa ini akan kembali ke Flin Stone, zaman batu lagi. Maukah kita begitu-----Empu Supo?. Makanya mohon Empu sampaikan pada anak anak ---, jangan begitu mudah menuduh segalanya bahwa Neo TDA lambat---, bodoh dsb-----, tanpa melihat persoalan secara utuh. Saat ini semua orang memiliki handy talky mini misalnya VR 1 Yaesu yang All Band yang bisa mendeteksi semua pembicaraan polisi---, militer----, radio----, TV ----dll. Sementara kemampuan organisasi Neo TDA untuk membeli telephone selluler sekaligus biaya pulsanya terbatas hanya pada Perwira Menengah. ( Bersambung ) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 16 Mar 1999 jam 05:34:55 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
