----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


KEDAULATAN RIAU DEKLARASIKAN

        PEKANBARU (SiaR, 16/3/99), Acara pendeklarasian kemerdekaan Riau urung
dilakukan oleh tokoh Prof Dr Tabrani Rab, Senin (15/3) lalu. Acara di
kediamannya Jalan Pattimura Pekanbaru itu akhirnya hanya pembacaan
kedaulatan Riau.

        "Riau berdaulat itu artinya, Riau mencari alternatif-alternatif lain,
selain pusat," ungkap Tabrani yang ketika pembacaan kedaulatan didampingi
sekitar 30 pendukungnya.

        Ia menganggap pendeklarasian kedaulatan ini lebih penting sebelum dilakukan
deklarasi kemerdekaan.  "Kita menghadap presiden beramai-ramai, sebab beda
dengan Irian, kita sudah bacakan kita punya kedaulatan, Daulat Riau," katanya.

        Karena hanya pernyataan berdaulat, maka ia menolak ketika ditanya mengenai
bagaimana struktur negara yang dijanjikan. Ia berjanji setelah konggres yang
akan dilakukan dalam waktu dekat struktur itu akan diumumkan.

        "Sebab kita kongres dulu. Dan ke mana kita akan bersatu kita akan tentukan
lewat referendum. Kita nak melekat kepada tujuh option yang mungkin dicapai.
Yaitu sebagai negara kesatuan, negara otonomi, negara otonomi luas atau
negara federal. Yang ke lima konfederasi, ke enam sangat mungkin bergabung
dengan yang lainlah. Ke tujuh risiko yang paling minim kita bikin kita tidak
ingin
kemerdekaan," tuturnya.

        Namun dalam perbincangannya kemarin Tabrani lebih condong untuk bergabung
dengan negara lain. Terutama dalam urusan  politik, luar negeri, Hankam dan
sebagainya itu kasihkan ke negara lain. Amerika Serikat terutama. "Dan kita
lebih mau mengurus kesejahteraan," katanya.

        Ia beralasan kenapa AS dipilih sebagai negara yang menaungi Riau, sebab AS
telah mempunyai perusahaan besar di Riau yaitu Caltex. Selain itu dari segi
pengalaman, kata Tabrani, AS telah mampu menyelesaikan persoalan secara
politis dan juga secara kekuatan.

        Tabrani menyatakan bahwa kedaulatan yang ia deklarasikan itu bukan berarti
kemerdekaan bagi Riau. Karena menurutnya, kemerdekaan bagi Riau tidak
penting karena yang palingh dipentingkan adalah kesejahteraan.

        "Saya tidak mengatakan ini proklamasi kemerdekaan. Sebab kemerdekaan itu
sebenarnya separatis. Kita tidak mencari separatis, kita hanya mencari
alternatif, bergabung dengan negara lain. Ini bukan deklarasi kemerdekaan,
tapi deklarasi kedaulatan," tuturnya berfalsafah.

        Menurut Tabrani, rakyat Riau sudah cukup lama menderita. Sudah 50 tahun
lebih wilayah yang meruah dengan minyak ini kenyataannya justru minyak tak
menetes.

        "10 persen tidak pula dapat. Kita tahu pusat punya masalah yang kompleks.
You tahu APBN kita 60 triliun untuk bayar utang luar negeri. Lebih 40 persen
itu. Cuma 13 triliun pada APBN tahun lalu untuk 27 provinsi," kata Tabrani.

        Dengan kenyataan itu, menurut Tabrani negosiasi untuk kesejahteraan rakyat
Riau dengan pusat, tidak mungkin lagi dilakukan lantaran Jakarta terkendala
oleh utang-utang luar negeri yang besar itu.

        Hal senada juga diungkapkan Al Azhar SH MA. Menurut tokoh yang
disebut-sebut pelontar awal ide Riau merdeka ini, sudah saatnya Riau
menyatakan merdeka dan melepaskan diri dari negara kesatuan Republik
Indonesia. Keinginan ini terutama didasarkan pada pengalaman selama
bergabung dengan Republik Indonesia dan perkembangan terakhir negeri ini
yang seakan semakin tidak menentu.

        "Berdasarkan pengalaman selama puluhan tahun bergabung dalam negara
kesatuan Republik Indonesia, kita bisa merasakan bahwa sebenarnya
pemerintah Pusat (Indonesia, red.) tidak mampu mengurus negeri ini. Kita
tidak juga mengalami kemakmuran. Malah kita dihimpit oleh utang luar negeri
yang bertumpuk. Tidak usah jauh-jauh, kita bandingkan saja dengan
negara-negara tetangga yang serumpun, kita sangat jauh tertinggal. Ini
menunjukkan pemerintah memang tidak mampu mengurus negeri ini. Jika
demikian, lebih baik kita memisahkan diri agar tidak ikut terperosok lebih
dalam," katanya pada wartawan di Riau, Senin (15/3).

        Menurut Azhar, perkembangan-perkembangan terakhir, lebih mempertegas lagi
ketidakmampuan pemerintah Indonesia. Misalnya, berbagai insiden  yang
terjadi di berbagai pelosok tanah air tidak satu pun dapat  diselesaikan
dengan tuntas.

        "Termasuk janji Presiden BJ Habibie yang akan memberi jawaban terhadap
tuntutan masyarakat Riau yang minta 10% hasil minyak bumi, hingga kini belum
ada kejelasan. Padahal ia berjanji akan memberikan jawaban dalam waktu dua
bulan. Sekarang sudah masuk bulan keempat. Jika seorang presiden tidak dapat
membuat kepastian, jika kata-kata presiden sudah tidak dapat dipegang, kita
mau percaya pada siapa lagi di negeri ini?" paparnya.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Mar 1999 jam 20:11:53 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke