----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


PREMAN EKS KETAPANG DI BALIK INSIDEN HAILAI

        JAKARTA (SiaR, 16/3/99), Para preman eks peristiwa Ketapang berada dibalik
insiden di diskotik Hailai, Ancol, Jakarta Utara Rabu (10/3) malam lalu.
Saat itu, seperti dilansir salah satu tabloid mingguan, Bambang Trihatmojo
(putra mantan Presiden Soeharto), Yapto Suryosumarno, dan Yoris Raweyai
nyaris terbunuh setelah diserang sekelompok pemuda Ambon tak dikenal.
Ketiganya diselamatkan oleh para bodyguard-nya, setelah insiden yang
mencederai salah seorang dari antara bodyguard tersebut.

        Ketiga tokoh pemuda itu memang pelanggan diskotik Hailai, dan ketika
diserang, menurut sejumlah saksi mata, para pemuda Ambon itu hanya
berkomunikasi singkat untuk memastikan apakah satu diantara ketiga orang itu
adalah Yapto Suryosumarno.

        "Kamu yang bernama Yapto," begitu ucapan singkat para penyerang
sebelum mengayunkan senjata-senjata tajamnya.

        Akibat penyerangan tersebut, salah seorang bodiguard Bambang Tri, Roberto
mengalami luka-luka akibat sabetan pedang kelompok penyerang. Roberto
dirawat di RS Sint Carolus. Penyerangan terhadap Bambang Tri, Yapto, dan
Yoris memang luput dari liputan pers, sehingga pihak Polres Jakarta Utara
yang dihubungi SiaR sempat berkomentar menyampaikan keheranannya.

        "Gawat gajah-gajah bertarung kok luput dari perhatian orang�," ucap
seorang perwira reserse di Polres Jakarta Utara.

        Kemungkinan adanya penyerangan dan pembunuhan terhadap Bambang Tri, Yapto
dan Yoris ini sebenarnya telah diungkapkan SiaR dalam pemberitaannya lebih
sebulan lalu (SiaR, 26/1/99). Dalam investigasi seusai Peristiwa Ketapang,
dan ketika ramai-ramainya kerusuhan Ambon, SiaR yang mewawancara sejumlah
preman Ambon eks peristiwa Ketapang asal Cengkareng, Kwini, dan Tanjungpriok
mengutip ucapan mereka yang mengancam akan melakukan "perhitungan" dengan
Yoris yang dianggap aktor intelektual dibalik kedua peristiwa tersebut.

        Nama Yoris dan Yapto disebut-sebut, karena dikaitkan para preman tersebut
dengan nama Milton, seorang preman Ambon yang cukup disegani, yang hingga
kini masih "buron" karena dicari-cari para pemuda Ambon di Jakarta, karena
dianggap sebagai tokoh kunci pemicu kerusuhan Ketapang. Milton juga yang
disinyalir sebagai provokator lapangan kerusuhan Ambon yang membawa serta
ratusan provokator dari Jakarta menuju Ambon pada akhir Desember 1998 lalu
untuk mempersiapkan kerusuhan di Ambon. Milton dikenal dekat dengan Yoris,
dan konon cukup disegani oleh Yapto sekalipun.

        "Saudara deng saudara baku belah di Ambon. Ini ulah Yoris deng Milton. Beta
tidak peduli deng Milton atau Yoris, kalau perlu deng Yapto sekalian, beta
belah," demikian ucap Rahakbauw dan Kifta, dua preman eks Ketapang asal
Tanjungpriok yang merasa diperalat ketika peristiwa Ketapang, dan marah
akibat terjadinya kerusuhan Ambon yang dianggap memecah-belah rakyat Maluku
itu. Pernyataan itu seperti dikutip SiaR lebih sebulan lalu sebelum
terjadinya insiden di diskotik Hailai.

        Sasaran para preman Ambon ini sebenarnya juga ditujukan kepada mantan
Pangkostrad Prabowo Subianto yang kini bermukim di Amman, Yordania. Sehingga
Ketua Umum PB NU, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengungkap
kemungkinan Prabowo dicegat dan dibunuh setibanya di Bandara Cengkareng oleh
para preman Ambon Cengkareng, jika memberanikan diri untuk datang ke Indonesia.

        Para preman tersebut merasa diperalat ketika peristiwa Ketapang terjadi,
dan yakin kerusuhan Ambon direkayasa, didalangi, dan didanai oleh sejumlah
oknum elite di Jakarta, dengan mengambil isu agama sebagai pemicunya setelah
didahului persoalan sepele antar preman setempat. Mereka percaya Yoris dan
sejumlah nama lain, serta oknum elite Jakarta sebagai aktor intelektual,
dengan dana berasal dari keluarga Cendana.

        Sementara itu, SiaR menemukan ketidak-cocokan dari daftar nama para
provokator yang dikeluarkan tim pencari fakta kerusuhan Ambon yang
dikeluarkan Des Alwi. Dari data yang dimiliki Des Alwi, yakni sebanyak 82
nama provokator, preman eks peristiwa Ketapang itu ternyata --berdasarkan
investigasi SiaR-- sebagian diantaranya tetap berada di Jakarta pasca
peristiwa Ketapang, dan tidak pernah ikut beserta ratusan provokator yang
berangkat ke Ambon pada akhir bulan Desember 1998 lalu.

        Dari pelacakan SiaR, ternyata dalam daftar nama provokator Des Alwi
tersebut justru tak memasukkan sejumlah nama yang menjadi koordinator
lapangan para preman eks peristiwa Ketapang, seperti Milton, Sadrak Mustamu,
atau Henki Lapii. Juga nama aktor intelektual lainnya seperti Ongen Sangaji
yang dikenal memiliki kedekatan dengan Keluarga Cendana, juga dengan tokoh
KISDI, Ahmad Sumargono, serta dengan tokoh Partai Bulan Bintang Eggy
Sudjana. Selain dekat dengan Yoris, Ongen juga dekat dengan Wakil Ketua
DPR/MPR Abdul Gafur.

        Baik Ahmad Sumargono, Eggy Sudjana, maupun para pejabat pemerintah seperti
Menko Polkam Feisal Tanjung, dan Mentrans/Pemukiman Perambah Hutan,
Hendropriyono berkali-kali menyebutkan pihak Republik Maluku Selatan (RMS)
sebagai dalang kerusuhan Ambon. Padahal warga masyarakat Ambon sendiri
menolak tudingan tersebut, dan balik menuding para penuding RMS itu sebagai
dalang kerusuhan Ambon, karena pernyataan-pernyataannya.

        "Kebetulan atau tidak, kenyataannya, nama-nama provokator dalam lis Des
Alwi justru menghilangkan nama-nama preman atau tokoh yang dekat dengan
Yapto, Yoris, dan keluarga Cendana, serta dekat dengan Sumargono dan Eggy
Sudjana. Ini menimbulkan kecurigaan, barangkali mereka-mereka itu justru
yang menjadi aktor intelektual kerusuhan-kerusuhan yang terjadi selama ini.
Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mengembalikan kekuatan status quo di
tanah air," kata seorang tokoh pemuda Ambon kepada SiaR.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Mar 1999 jam 20:38:38 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke