---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: merdeka bonar Bung Ahmad Sudirman yth., Ass.WW., Terlepas dari ekspresi kata-kata Sdr.Hasan Basri yang kotor,keras dan berbau pelecehan,barangkali ada sebagian dari ungkapan perasaannya patut kita renungkan. Terlepas dari fakta bahwa Sdr.Hasan Basri ini sering berganti-ganti rupa (bunglon kali ya???).Di Forum PAN dia sebagai Basri Hasan dengan email [EMAIL PROTECTED],dan mengaku sebagai pengurus DPP PAN.Sangat provokatif dengan artikelnya yang berjudul AMBON CASE. Kita seyogianya (salam untuk Bung Aswat di Yogia) melakukan perenungan terhadap sikap kita terhadap kaum Kristen,Katholik,Budha,Hindu,Kong Hu Cu dlsb.Kita sebaiknya berhenti untuk mengobarkan permusuhan yang bersifat SARA. Karena kalau kita tidak berhenti untuk bersikap seperti itu maka akan di jadikan komoditi politik oleh BIROKRASI dan ABRI. Lihat saja kasus AMBON,ABRI ingin menunjukkan bahwa tanpa ABRI, AMBON tidak akan aman. Coba kalau kita (muslim) dan kristen dalam keadaan akur-akur saja, ABRI tidak perlu ke Ambon dan Ambon tidak perlu jadi DOM (Daerah Operasi Militer) seperti Aceh dan Tim-Tim. Kita harus realistis dan belajar dari sejarah Mataram,Majapahit dan kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia sebelumnya,bahwa persatuan dan kesatuan tanpa memperhatikan masalah SARA,tidak akan langgeng, sebagaimana tidak langgengnya kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Gajah Mada. Dalam menentukan strategi pembangunan ekonomi,SARA harus dibahas secara tuntas dan jangan disimpan sebagai barang tabu dan sensitif.Satistik SARA harus dipakai untuk memonitor penguasaan asset secara nasional.Tanpa itu maka persoalan keadilan akan terus muncul.Amerika Serikat yang telah 200 tahun lebih merdeka,masih menggunakan statistik SARA untuk melihat penguasaan asset nasional.Dalam formulir tax yang pernah saya lihat ada kolom : Afro-American,Asian-American,Indian American,hispanic,Jews. Data ini digunakan untuk melihat sampai dimana perkembangan pertumbuhan pendapatan golongan-golongan ini dari waktu ke waktu. Kita tidak dapat memakai azas meritokrasi secara murni.Azas tersebut hanya dapat diterapkan apabila semua orang dari berbagai suku dan agama berdiri pada posisi yang sama dan seimbang,serta memperoleh kesempatan yang sama dalam meng-akses atau memperoleh pendidikan,pekerjaan dan berbagai fasilitas lainnya.Padahal fakta menunjukan bahwa banyak bagian dari bangsa kita yang masih terkebelakang seperti suku kubu,badui luar,dan sebagian dari saudara kita di Irian Jaya.Penerapan azas meritokrasi akan menyebabkan mereka semakin tertinggal jauh. Oleh karena itu menganggap SARA sebagai suatu hal yang tabu dan sensitif dan tidak boleh dibahas secara transparan dan terbuka,maka dalam jangka panjang SARA akan tetap menjadi atau dijadikan komoditas politik bagi kaum opportunis,yang sementara ini saya lihat dipakai secara canggih oleh ABRI dan BIROKRASI yang sangat pro Status Quo. Kembali saya ingin mengingatkan musuh Islam bukanlah kristen,katolik,budha,hindu atau kong hu cu, tapi musuh yang sebenarnya adalah diri kita sendiri.Contoh kita tidak senang kaum missionaris menyebarkan agama dengan iming-iming makanan atau memberi fasilitas pendidikan,tapi dari sisi kita apa yang dapat dan telah kita lakukan???Memangnya orang Islam miskin semuanya???Hati-hati lho,kalau mengaku miskin,nanti dimiskinkan benar-benar oelh ALLAH SWT. Lihat Suharto,sebagai seorang muslim,berapa yang diberikannya untuk siar Islam dan berapa yang telah dinikmatinya untuk dirinya pribadi dan keluarganya. Baru-baru ini keluarga Cendana menjual propertinya di London seharga 11 juta poundsterling.Kalau duit sebanyak 11 juta poundsterling dipakai untuk membangun sekolah madrasah didesa terpencil,berapa banyak madrasah yang dapat dibangun.Ini cuma sebagian yang di London,bagaimana dengan yang dibagian dunia yang lain???Itu baru Suharto,bagaimana dengan Ginanjar?Habibie?Wiranto?Hartono?dan daftar ini dapat lebih panjang lagi.Yang saya tahu mereka memang ada meneteskan uang untuk organisasi islam tertentu,tapi bukan untuk mengembangkan potensi ummat,tapi untuk menyebarkan sentimen-sentimen anti kristen,anti katolik dsb.dsb.Mereka menggunakan tetesan-tetesan duit haram tersebut untuk menunggangi umat Islam,bukan dengan hati nurani yang dalam dan jujur,yang semata-mata cinta kepada agama,cinta kepada umat. Mereka cinta kekuasaan dan untuk itu mereka tidak segan-segan menunggangi umat Islam dengan slogan-slogan mereka yang sok sebagai pahlawan pembela agama,pembela rakyat dsbnya. Wsalam. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 17 Mar 1999 jam 06:45:07 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
