----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Subject: Ternyata....

Bahu-Membahu Muslim-Kristiani Suatu sore di sebuah warung kopi di
Kota Ambon. Belasan orang terlihat memenuhi warung kopi-sebutan untuk
restoran di sana-yang terbesar di kota itu. Sejumlah laki-laki
berkulit gelap, dengan rambut bergelombang, duduk melingkari meja.
Sedangkan lelaki berkulit agak terang, dengan rambut lurus, mengikuti
berita di pesawat televisi. Di dekat pintu masuk, terlihat seorang
lelaki berkulit kuning, dengan mata sipit, asyik menikmati makannya.
Masing-masing sibuk dengan keperluan mereka. Mestinya tak ada yang
istimewa dari pemandangan itu, sebagaimana dituturkan seorang periset
yang baru saja balik dari sana. Tapi setting biasa tadi berlangsung di
sebuah kedai kopi yang terletak di Jalan Sultan Babulah, kurang lebih
300 meter dari Masjid Alfatah, tempat konsentrasi masyarakat muslim
Ambon. Dan yang menarik, "potret" tersebut berlangsung di awal bulan
ini, ketika kerusuhan atas nama suku yang berlanjut dengan perseteruan
atas nama agama masih meminta korban. "Tak ada Islam, tak ada Kristen,
tak ada soal suku, kami makan dengan tenang," kata mereka, seperti
direkam sumber TEMPO itu. Apakah penggalan "adegan" di atas cermin
pela gandong yang kabarnya mulai rontok? Mungkin ya, mungkin tidak.
Tapi ada sederet cerita yang mengungkap sisi lain dari peristiwa
kekerasan yang sedang mengharubirukan masyarakat yang menghuni kawasan
dengan sebutan seribu kepulauan tersebut. Tak banyak pihak yang
memberikan perhatian khusus terhadap sisi plus yang perlu dijaga. Tak
percaya? Coba simak kejadian di Desa Poka, di Leihitu, di bagian
barat Pulau Ambon, yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Ada
beberapa penduduk Islam tinggal di sana. Tapi di desa ini tak pernah
terjadi bentrokan. Kalaupun ada orang Kristen dari desa lain yang
hendak menyerang warga muslim Desa Poka, penduduk Kristen di desa
itulah yang maju menghadang mereka. Hingga kini pun beberapa masjid
dan gereja di desa ini masih tegak berdiri. Unik juga yang tercatat
di Desa Larike, di ujung barat Pulau Ambon. Jumlah penduduk Islam dan
Kristennya hampir berimbang. Ketika peristiwa Ambon pecah, penduduk
desa itu saling melindungi. Jika ada orang Kristen yang datang untuk
menyerang warga pemeluk Islam, warga desa yang beragama Kristenlah
yang maju menghadang penyerang. Ketika giliran ada orang Islam yang
akan menyerang, warga Islamlah yang menghadangnya.  Alhasil,
bentrokan tak terjadi di desa ini. Masjid dan gereja tak diusik.
Contoh lain terjadi pada 20 Februari lalu di Kampung Air Besar, di
Kota Ambon. Warga Kristen yang ada di kampung tersebut tiba-tiba
diserbu oleh warga Islam yang datang dari kampung tetangga. Tapi
rombongan penyerbu ini akhirnya bisa dihalau karena kedatangan mereka
sudah ditunggu oleh sekelompok warga Islam Air Besar di sebuah
jembatan yang tak jauh dari kampung itu. Serangan pun urung dilakukan.
Begitu pula masyarakat di Desa Wakal, yang komposisi penduduk Islam
dan Kristennya hampir sama. Mereka saling melindungi. Kalau ada
serbuan yang dilakukan oleh pihak Kristen, yang menghadang adalah
orang Kristen. Dan kalau ada serbuan yang dilakukan orang Islam, yang
menghadang adalah orang Islam. Masjid dan gereja di tempat ini pun tak
tersentuh bara kemarahan. Cerita yang lebih dramatis terjadi di Dusun
Wahatu, Desa Wakal, yang umumnya dihuni masyarakat asal Buton yang
beragama Islam. Di dusun ini bermukim tiga keluarga beragama Kristen.
Salah satu di antaranya guru SD di dusun itu. Sebelum 20
Januari-tanggal penyerbuan balasan oleh warga Islam-keluarga Kristen
tadi diberi tahu bahwa mereka akan diserang. Karena itu, warga Buton
menganjurkan agar mereka mengungsi. Untuk sementara ketiga keluarga
tadi disembunyikan di rumah tiga orang Buton muslim. Namun, sikap warga
Wahatu asal Buton itu diketahui oleh para penyerang. Karena itu, pihak
penyerang, yang juga beragama Islam, mencaci-maki orang Buton di
Wahatu dan mengancam akan melanjutkan penyerangan. Khawatir ancaman
itu benar-benar dilakukan, beberapa warga dusun ini lalu memindahkan
keluarga Kristen itu ke rumah-rumah mereka yang ada di kebun-kebun di
perbukitan. Keluarga Kristen tadi akhirnya diselamatkan oleh petugas
keamanan yang datang setelah dipanggil oleh warga Buton itu. Konflik
yang terjadi di Ambon agaknya memang tak bisa dilukiskan secara
hitam-putih. Masih banyak sisi lain yang mungkin tak begitu digubris
pers: kerukunan warisan lama tradisi pela gandong yang tersisa di
sudut-sudut desa. Tapi tak ada seorang pun yang bisa meramal, akankah
nilai-nilai luhur tradisi ini bakal berumur panjang, meski cuma di
secuil desa. Apalagi jika sumbu konflik makin kerap dinyalakan dengan
api kemarahan yang kian panas. Situasi keseharian yang terus mencekam
bisa jadi pertanda buruk. Sebut saja peristiwa "Subuh Berdarah" tempo
hari. Jika tak dijelaskan duduk perkara sesungguhnya, itu niscaya
bakal memperburuk keadaan. Dari gerakan Islam, mereka masih saja
ngotot bahwa penembakan terjadi "di dalam masjid", meski dibantah
berdasarkan keterangan resmi pemerintah setempat. Di sisi lain,
kalangan Kristen malah mengungkit betapa pihaknya tak kalah menderita.
"Tapi jangan sampai kerusuhan di Ahuru-Rinjani itu didramatisasi
untuk kepentingan politik," kata Ketua Klasis Gereja Protestan Maluku
(GPM) Kota Ambon, Pdt. A.Z.E. Pattinaya. Ia menegaskan, warga
jemaatnya tak pernah dan tak akan menyerbu sesama bangsanya.
"Peristiwa itu musibah yang tak terpikirkan sebelumnya," kata
Pattinaya. Mungkin Pattinaya benar. Tapi di sejumlah desa yang
sentimen suku dan agamanya menggumpal, maut tetap saja menghadang.
Pendatang masih kerap ditanyai soal identitas agama dalam kartu
penduduknya. "Saya masih takut memasuki kawasan Kristen. Pernah saya
masuk ke kantong penduduk muslim, tapi mereka tak yakin, sampai saya
disuruh membaca syahadat," ujar seorang wartawan senior Antara yang
telah bertahun-tahun bertugas di Ambon. Dari cerita di atas, tak
mengherankan jika salah seorang anggota Kontras, divisi antikekerasan
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, yang dikirim ke Ambon belum
lama ini, berpendapat bahwa kekerasan yang terjadi bukanlah perang
agama, melainkan lebih merupakan frustrasi sosial yang menjadikan
agama sebagai identitas "pihak sana" lawan "pihak sini".

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Mar 1999 jam 06:53:31 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke