----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: iwans

Pengantar
Netters Yth.
Apakah anda sudah membaca Penpol Seri I tentang gagasan koalisi tiga
partai berbasis massa besar yaitu PAN, PDI Perjuangan dan PKB untuk
mencegat upaya Golkar memegang tampuk kekuasaan lagi ? Tulisan
Pendidikan Politik seri I itu sebetulnya untuk menanggapi posting Bung
Ronny tentang anti Pemilu, tetapi kemudian disiarkan bebas. Nah, berikut
ini Penpol seri II untuk anda para calon pemilih agar tidak bingung ikut
pemilu nanti dan agar memilih partai tidak seperti memilih kucing dalam
karung. Bagi yang belum sempat membaca Pendidikan Politik Seri I-nya,
saya persilahkan japri saya ke : [EMAIL PROTECTED] dan pada subyek
tuliskan : Penpol I. Nanti akan saya kirimkan untuk anda. Serial Penpol
ini disarikan dari hasil kajian Institut of Public Affairs pimpinan Heri
Akhmadi.
------------------------
Memenangkan Pemilu, Hitung-hitungan Kekuatan

    Salah satu kebijakan politik yang membuat Orde Soeharto bertahan
begitu lama di panggung politik nasional adalah kebijakan politik massa
mengambang (floating mass). Upaya depolitisasi masyarakat ini sedemikian
berhasilnya sehingga masyarakat di berbagai kota kecil dan pedesaan di
Jawa menjadi sedemikian apatis dalam soal politik. Iklim tersebut
diperparah lagi dengan proses pembatasan parpol yang dipaksakan serta
proses de-ideologisasi dengan mengarahkan masyarakat pada satu ideologi
tunggal, Pancasila. Ini jelas pemerkosaan makna karena Pancasila
tersebut tak akan berarti tanpa pelaksanaan prinsip Bhinneka Tunggal
Ika.
    Dengan situasi seperti itu tak heran bila iklim politik Indonesia
selama lebih dari tiga dasawarsa beku bagai dikungkung salju dan telah
mengakibatkan sistem kepartaian dan perwakilan yang ada tidak lagi mampu
menampung aspirasi rakyat. Perkembangan kemudian berjalan ke dua arah.
    Di satu sisi, pemerintah bersikeras menyelenggarakan Pemilu dan
memenangkannya dengan berbagai cara untuk memperoleh keabsahan
prosedural. Dalam enam Pemilu Orde Baru yang diadakan sejak 1971, dengan
dukungan absolut dari ABRI dan birokrasi maka Golkar dapat meraih suara
mayoritas tunggal. Tetapi keabsahan yang diperoleh melalui sistem koersi
itu sebetulnya palsu, karena dukungan diberikan karena takut atau ingin
menyenangkan penguasa saja.
    Di sisi lain, masyarakat yang selama ini merasa aspirasinya
diabaikan, tidak lagi memandang serius partai dan lembaga perwakilan.
Ketidakseriusan masyarakat itu menjadi sebuah gejala kebudayaan yang
sinis terhadap kegiatan politik. Jumlah pemilih (turn-out) selama ini
diakui memang sangat tinggi. Pada Pemilu terakhir (1997) bisa mencapai
94,6 %, tetapi itu lebih karena ketakutan kepada aparat dan manipulasi
perhitungan terutama pada suara-suara yang Golput dan rusak. Suara
Golput biasanya dimanipulir menjadi suaranya Golkar.
    Dua perkembangan tersebut yang berlawasan arah mengakibatkan
pemerintah dan masyarakat teralienasi dalam lingkungan masing-masing,
serta kemudian melahirkan dualisme otoritas. Pemerintah yang semakin
lama semakin teralienasi secara de jure masih menguasai seluruh
perangkat negara. Tetapi pemakaian kekuatan birokrasi dan militer secara
eksesif selama ini telah mengakibatkan secara politik pemerintah tidak
efektif dan kehilangan legitimasi. Di dalam masyarakat muncul organisasi
dan pemimpin, yang sekalipun tidak diakui oleh pemerintah, tetapi de
facto merupakan kekuatan yang menjadi rujukan masyarakat.
    Mayoritas reformis menaruh harapan bahwa Pemilu 1999 bulan Juni
mendatang dapat mengakhiri dualisme otoritas diatas. Pemilu yang jujur
dan adil akan menyatukan atau menjadikan kekuatan de facto menjadi de
jure. Karena itu, sejak bulan Juni 1998 yang lalu, orang ramai
mendirikan partai politik. Ada 178 partai politik yang dideklarasikan.
Selanjutnya, 148 diantaranya didaftarkan ke Depdagri, dan 141 akhirnya
ditetapkan sebagai badan hukum setelah memasukkan AD/ART dan susunan
pengurusnya ke Departemen Kehakiman termasuk Partai Seni dan Dagelan
(Parsendi).
    Dari 141 partai yang resmi sebagai badan hukum ternyata hanya 89
diantaranya yang sanggup dan siap mendaftarkan diri untuk ikut Pemilu
Juni 1999. Dan setelah diverifikasi loloslah 48 partai yang lambangnya
dan profil singkat partai tersebut sudah dipublikasikan kemana-mana.
    Sayangnya, euforia menyambut keterbukaan politik menjadikan orang
sering lupa pada realitas politik. Sibuk mengurusi partai baru dan
bertikai satu dengan yang lainnya. Para pemimpin partai baru kurang
memperhitungkan bahwa kekuatan status-quo masih sangat kuat. Dan
kekuatan yang sampai kini masih mendominasi pemerintahan dan parlemen
itu mempunyai potensi besar untuk bertahan. Selama 32 tahun, mesin
politik Golkar telah berhasil menggalang 12 juta kader dengan 30 juta
pemegang kartu tanda anggota Golkar (weleh, weleh, weleh).
    Untuk Pemilu 1999 mendatang maka anggota MPR dapat dibedakan menjadi
dua. Pertama, wakil partai yang dipilih melalui Pemilu, jumlahnya 462
orang atau 66 %. Dan kedua, anggota yang diangkat dengan jumlahnya
sebesar 238 orang atau 34 % yaitu terdiri dari 38 orang (5,4 %) ABRI
yang juga sekaligus anggota DPR, 135 orang (19,3 %) utusan daerah dan 65
orang (9,3 %) utusan golongan.
    Padahal untuk memenangkan kursi Presiden, suatu kekuatan politik
harus mengumpulkan mayoritas sederhana 51 %, atau paling kurang 351
suara di MPR. Di masa lalu Golkar dapat memperoleh suara tersebut dengan
mudah. Tetapi tidak demikian dalam MPR hasil Pemilu 1999 mendatang.
Suara mayoritas di MPR hanya bisa diraih dengan melalui koalisi. Dan itu
sebuah keharusan. Tidak bisa tidak.
    Mengacu pada hasil Pemilu 1955, Pemilu yang dianggap paling bersih,
adil dan jujur karena hampir semua perwakilan ideologis diperbolehkan
ikut serta serta perkembangan afiliasi politik pemilih pada enam pemilu
Orde Baru diperkirakan hanya akan tampil 4-6 partai besar saja dengan
perolehan masing-masing kurang dari 125 kursi. Agar dapat membentuk
pemerintahan yang kuat (dengan mayoritas besar) diperlukan koalisi
antara 3-4 partai besar.
    Padahal pada saat suara partai terpecah kecil-kecil, maka kelompok
anggota yang diangkat memiliki suara yang lebih bulat. Bersama-sama
ABRI, utusan daerah dan utusan golongan maka anggota yang diangkat ini
akan menguasai 34 % suara dan hanya membutuhkan 18 % suara atau 126
kursi MPR dari partai untuk memenangkan Pemilu. Nah, masuk akal tidak
kalau dikatakan bahwa Pemilu mendatang masih tetap memberikan kans buat
Golkar untuk menang.
    Suara di MPR besar kemungkinan masih akan disuarakan oleh fraksi.
Hal tersebut tersirat dalam Pasal 9 ayat 1 UU Nomor 4 Tahun 1999 tentang
Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD. Tetapi aturan yang lebih
terinci masih akan dituangkan dalam peraturan tata tertib MPR. Bila
benar suara disampaikan melalui fraksi, maka kelompok fraksi diangkat
(FABRI, FUD dan FUG) akan merupakan kelompok paling kuat dan menentukan.
Ketergantungan pada ABRI dan kawan-kawan baru bisa dilepaskan bila
koalisi partai mampu menghimpun paling kurang 45 % atau 315 kursi dan
suara lewat fraksi ditiadakan. Dan sekali lagi sebagaimana Pendidikan
Politik seri I, koalisi paling ideal dan menjanjikan adalah koalisi
antara PAN, PDI Perjuangan dan PKB.
    Kenapa menjanjikan ? Karena massa pendukung koalisi ini tidak saling
berhimpitan dan bersaingan satu sama lain. Orang Muhammadiyah
(santri-perkotaan) tidak mungkin akan memilih partai-nya orang NU yaitu
PKB atau memilih partai orang abangan PDI Perjuangan. Orang NU juga
begitu. Mereka pasti akan taat pada sang kiai yang taat pada Gus Dur dan
PBNU untuk memilih PKB. Dan orang abangan nggak akan bersedia memilih
partai kaum santri. Orang abangan ini juga setia dan pengagum Bung Karno
sehingga mereka pasti ramai-ramai mencoblos partai puterinya, PDI
Perjuangan.

bersambung Seri III

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Mar 1999 jam 06:57:01 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke