----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


TALITAKUM 3, Maret-April (nasional):

AWAS ORANG ASING NANTI DIKIRA WARTAWAN

        Saya lebih takut pada satu pena musuh dari pada seribu pedang musuh, kata
Napoleon Bonaparte. Suatu ungkapan kekhawatiran terhadap pera wartawan.
Rejim Orde Baru juga sadar akan hal ini, sehingga telah mengisolasi
permasalahan Timor-Timur. Namun, sering kali salah menangkap orang asing
karena dikira wartawan. Sering terjebak pada eteriotipe. Lalu bagaimana
setelah reformasi ini?
        Sejarah telah menunjukkan peran para wartawan dalam memberikan
gambaran tentang suatu peristiwa akan berdampak pada pengembangan opini
mengenai keadaan sesungguhnya. Hal itulah yang membuat para petinggi Jakarta
sejak awal pencaplokan telah menyadari akan hal tersebut.
        Dengan demikian segala bentuk upaya telah diterapkan untuk menutup
pemberitaan tentang masalah Timor-leste. Kematian beberapa wartawan asing
yang mencoba untuk melakukan investigasi tentang persoalan Timor-leste,
sesungguhnya merupakan bukti dari ketakutan rejim Orde Baru terhadap
wartawan. Di satu pihak tidak mau menunjukkan kelemahan managemen Integrasi
kepada rakyat Indonesia, di lain pihak berupaya untuk menutupi hal-hal yang
telah direkayasa kepada dunia luar dan rakyat Indonesia. Metode seperti
ditempuh dengan maksud agar; rakyat Indonesia tidak boleh secara langsung
melukukan kontrol terhadap managemen intergrasi, karena telah diketahui
bahwa ternyata permasalahan Timor-leste merupakan suatu proyek besar dari
beberapa jenderal arsitek "pengintegrasian Timor-leste". Di sini terlihat
upaya para jenderal berlindung dibalik institusi ABRI dalam mengembangkan
segala bentuk rekayasa dalam mengamankan proyek-proyek besar mereka
diTimor-leste. "Ratusan milyar telah dihamburkan untuk proyek
pengintegrasian tersebut, namun apa hasilnya?"  tanya seorang mahasiswa
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dalam suatu diskusi beberapa waktu
lalu di LKBH-UI (Lembaga Keadilan Bantuan Hukum-Universitas Indonesia)
Yogyakarta secara sinis. Menanggapi hal tersebut Hortencio Pedro Viera salah
seorang aktiviis Timor-leste yang juga sebagai Ketua Bidang Pendidikan
Politik dan Aksi dari DPP Impettu se-Indonesia yang kebetulan tampil sebagai
salah satu pembicara menanggapinya secara diplomatis bahwa "hasil adalah
darah dan rekayasa. Pedro mungkin benar karena sensus penduduk yang
dilakukan pemerintah setelah  3 tahun pencaplokan itu, ternyata telah
menimbulkan berkurangnya dua pertiga penduduk Timor-leste dari sensus
sebelumnya.

Misteri Meninggalnya Empat Wartawan Australia
        Sekitar tanggal 12 Oktober 1975 tiba di Dili dua orang wartawan dari
Australia. Kedatangan mereka secara langsung dijemput oleh  Ramos Horta,
yang kal itu ditugasi oleh Nicolao Lobato untuk berurusan dengan para
diplomat asing, lembaga-lembaga kemanusiaan seperti ICRC dan para wartawan.
Ke dua wartawan tersebut adalah Malcolm Rennie (28 tahun)  dan Brian Peters
(29 tahun) yang bekerja pada televisi Channel 9 Australia serta.
        Mereka kemudian diantar oleh Ramos Horta ke Balibo, suatu kota kecil
yang berjarak 8 mill dari perbatasan dengan Timor Barat (indonesia). Di sana
kemudian merek bertemu dengan tiga wartawan asing lebih dulu tiba yaitu;
Greg Shackleton (29 tahun) dari televisi Melbourne HSV7, Tony Steward (21
tahun) dan Gary Cunningham (27 tahun), ia berasal dari New Zealand yang
bekerja sebagai juru camera pada HSV7 Mel- bourne. "Mereka ingin membuat
film tentang kejadian nyata dan membuktikan laporan kami tentara Indonesia
terlibat dalam pertempurn, bukan hanya tenaga suka rela seperti yang
diberitakan Indonesia", kata Ramos Horta saat dikonfirmasikan Reporter
Talitakum di Lisabon tentang maksud ketiga wartawan yang berada di Balibo
sejak awal pergolakan tersebut. Mereka semuanya kemudian dibunuh oleh ABRI
seperti pengakuan seorang mahasiswa  asal Balibo yang ketika itu mengetahui
kedatangan para wartawan di daerahnya. Namun hal tersebut dibantah oleh
pihak ABRI bahwa mereka terjebak dalam pertempuran. Kini telah banyak orang
yang memberikan kesaksian tetapi pihak ABRI terus membantah. Mariano Sabino
(Ketua DPP Impettu se-Indonesia) mengatakan bahwa "ini hanyalah sebagai
suatu misteri yang sifatnya sementara, suatu saat semuanya akan jelas."
        Lebih jauh dijelaskan bahwa "beruntung pada waktu peristiwa 12
Nopember 1991 di Santa Cruz Dili masih ada wartawan yang selamat sehingga
meloloskan film tentang pembantaian yang kemudian dapat membuka mataAmerika,
Australia dan dunia tentang kebrutalan ABRI". Meski diakuinya bahwa  "reaksi
Australia pada waktu hanya memberi tekanan pada pelanggaran HAM dan tidak
merubah sikap politiknya tentang Timor-Leste, namun paling tidak telah
membuka mata publik Australia tentang kebrutalan ABRI dan pelanggaran
Konvensi Genewa tentang perlindungan terhadap wartawan dan lembaga-lembaga
kemaanusiaan", jelas Mariano menutup penjelasannya..

Peristiwa 12 Nopember 1991
        Peristiwa 12 Nopember 1991, adalah contoh yang lain tentang ekspresi
ketakutan terhadap wartawan asing. Sehingga ketika melihat beberapa orang
bule (orang asing) yang berada ditengah masa demonstran, anggota ABRI
ataupun  para intel yang bertugas langsung panik.
        Kepanikan mereka kemudian diekspresikan dengan tembakan pertama kepada
seorang pemuda pekerja LSM bernama Camal Bamadatj, warga negara New Zealand
keturunan Malasyah. "Sayang! peluru yang menghunus dada pemuda itu langsung
mencabut nyawanya sehingga kisah petualangannya ditengah bahaya itu tidak
banyak kita tahu", keluh salah seorang saksi peristiwa 12 Nopember yang
tidak mau disebut namanya.
        Pemuda naas itu ternyata bukanlah seorang wartawan. Dia telah mati
karena pandangan yang keliru tentang wartawan asing. Anggota ABRI yang
bertugas di Timor Timur telah terjebak dalam gambaran sebuah steriotipe
wartawan asing. Di mana wartawan asing itu pasti seorang bule, rambutnya
piran, bawa kamera, bawa tas dan yang suka menonton demonstrasi. Dengan
gambaran seperti inipula sehingga seringkali mereka gampang curiga kepada
setiap orang asing yang datang ke Timor Timur. Bahkan kadang-kadang bagi
mereka (intel) yang tidak pernah melihat beberapa petugas ICRC di Dili
seringkali membuntuti para petugas itu karena dikira sebagai wartawan yang
baru tiba.
        Di lain sisi memang peristiwa Santa Cruz itu telah menjadi meyebar
ke seluruh dunia  karena selain terjadi korban secara besar-besaran di
kalangan demonstran juga karena kehadiran beberapa orang asing di Dili dan
beberapa mejadi korban Alain Neirt warga Amerika yang mengalami luka dan
Camal yang tewas di tempat kejadian.

Steriotipe Wartawan Asing Dalam Era Reformasi
        Danrem 164/Wira Dharma Tono Suratman menyatakan, pendeportasian dua
wartawan asing asal Australia dari Timor-leste terpaksa dilakukan karena
dalam melakukan tugas mereka dinilai "sudah melampaui batas". Danrem
mengatakan, salah seorang wartawan itu bernama Robert Wesley Smith. Namun
yang seorang lagi tidak disebutkan namanya, demikian pula nama media mereka.
Berita ini kemudian dikutib berbagai media nasional dari kantor berita
Antara. Namun setelah dihubungi Talitakum  Robert yang telah ditudu sebagai
wartawan itu membantah semuanya. Pertama bahwa dia (Robert) bukanlah seorang
wartawan tetapi hanya sebagai seorang pekerja LSM. Kedua dia dideportasi
seorang diri bukan seperti yang diberitakan kantor berita Antara yang
menurutnya sebagai propagandis pemerintah yang hanya mengutamakan covernya
dari investigasi.  Ketiga dia tidak sedang melakukan kegiatan seperti yang
dituduhkan pihak Danrem, namun hanya didasarkan pada data (black list).
        Dijeslakan oleh Tono Suratman "mereka tidak hanya melakukan kegiatan
jurnalistik, tetapi hal-hal di luar kapasitasnya sebagai seorang wartawan",
jelas Tono Suratman. Lebih lanjut dikatakan bahwa "perbuatan mereka
cenderung menimbulkan dampak yang kurang baik bagi masyarakat di daerah
ini". Untuk menghindari hal-hal yang kurang baik itulah yang membuat
pihaknya bersama pihak imigrsi Dili bertindak tegas dan melakukan
pendeportasian itu", katanya. Ketika didesak tentang penyimpangan apa yang
telah dilakukan kedua wartawan itu, Tono tidak menanggapinya secara terbuka,
namun dileskan bahwa, "tindakan pendeportasian tersebut diakukan setelah
melalui rapat dan pertimbangan yang matang." Aparat tidak bertindak gegabah
dalam mendeportasi kedua wartawan tersebut, katanya menegaskan.
        Lebih lanjut dikatakan, perbuatan kedua wartawan itu selama beberapa
hari ini di Dili juga pernah dilakukan beberapa bulan yang lalu, sehingga
yang bersangkuta sudah dalam daftar hitam.
        Dampak dari pemberian dua opsi bagi penyelesaian persoalan Timor-leste itu
telah menimbulkan banyaknya wartawan baik domestik maupun internasional yang
datang ke Timor-leste untuk melihat reaksi masyarakat. Apalagi telah terjadi
teror-menteror dalam kalangan masyarakat, menimbulkan keinginan para wartwan
untuk melakukan pengusutan lebih lanjut.
        Kedua wartawan itu diketahui kemudian dideportasi melalui darat
lewat Kupang, karena tidak ada pesawat di Dili pada hari itu. (Demetrio
Amara-Yogyakarta)


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Mar 1999 jam 22:02:44 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke